
-Maya-
Aku berjalan ke arah balkon kamarku...
Lalu menatap bulan yang bercahaya diatas langit.
Sesekali aku berbisik kepada diriku sendiri.
"Kenapa aku disini?"
Aku hancur.
Tapi aku tidak tau kenapa aku bisa hancur.
Aku ingin seseorang memelukku dari belakang, tapi siapa orang itu?
Aku pandai dalam segi apapun, tapi aku tak pandai dalam mengingat.
Aku hanya bisa mengatakan.
"Selamat tinggal kenangan, dan selamat datang diriku yang sekarang"
Kenapa? kenapa aku tiba tiba merindukan seseorang, tapi aku tak tau siapa orang itu.
Aku ingin sekali memeluknya tapi dia siapa? dia ada dimana? aku tak mengenal wajahnya, aku tak tau dia siapa, yang intinya aku merindukannya.
-Maya End-
6 tahun berlalu.
"Mommy! Keenan mau ke taman!" teriak Keenan berlari kecil kearah Maya.
"Jangan lari lari, nanti jatuh!" tegur Maya kepada putranya.
"Hehehe i'm sorry mommy" ucap Keenan tersenyum kikkuk.
"Kamu mau ke taman hm? ajak paman Aidan juga" perintah Maya mengusap kepala Keenan.
"Siap mommy!" ucap Keenan hormat bat tentara.
Keenan pun melangkah kearah Aidan yang sedang duduk membaca koran harian.
"Paman... Ayo kita ketaman bersama mommy" pintah Keenan menarik narik baju Aidan.
"Paman sibuk Ken, sama mommy mu aja sana" jawab Aidan.
"Huh! paman selalu gitu, sibuk terus!" ucap Keenan cemberut.
"Hehehe kan Keenan tau kalau paman ini seorang pengusaha, pasti sibuk dong setiap hari" balas Aidan.
"Yaudah! tugas paman jaga rumah, aku yang akan pergi bersama mommy" ucap Keenan pergi dengan kaki yang ia hentak hentakan ke lantai.
__ADS_1
Aidan tersenyum menatap sayu kearah Keenan.
"Lihatlah kak... putramu sudah besar, kapan kau kembali dan mencari mereka" batin Aidan.
"Mommy, paman lagi sibuk, Ayo kita pergi" pintah Keenan kepada Maya.
"Eumm yaudah, mommy ambil tas dulu. Aidan kamu jaga rumah baik baik yah awas aja kalau sampai ada maling yang masuk!" gerutu Maya.
"Iya Maya" jawab Aidan.
Beberapa saat kemudian.
"Ayo berangkat!" ucap Maya menggendong Keenan.
"Aku udah besar mommy, aku bisa jalan sendiri! turunin aku" pintah Keenan.
"Kamu ini kenapa sih, dari kecil ga pernah manja" gerutu Maya menurunkan putranya.
"I don't know mommy hehehe" jawab Keenan tertawa manis.
"Anak ini baru berusia 6 tahun, tapi kenapa pikirannya melebihi orang dewasa" batin Maya menatap Keenan.
.
.
.
.
"Ayo kesana" ucap Maya menggenggam tangan Keenan lalu melangkah menuju kedai eskrim.
-Di kedai eskrim-
"Pak, eskrim vanilla nya dua yah" ucap Maya kepada mas penjual eskrim.
"Oh baik, tunggu sebentar" jawab mas penjual eskrim tersebut.
"Mommy jangan lupa beliin paman juga" pintah Keenan dibalas anggukan oleh Maya.
(Seseorang datang kebelakang Maya....)
"Pak, pesanan saya sudah jadi?" teriak seorang pria yang berada di belakang Maya.
Maya yang mendengar suara yang tak asing itu langsung menoleh ke belakang.
"Dia..." batin Maya terdiam melihat wajah pria itu.
"Maya..." lirih pria itu menatap Maya dengan tatapan berkaca-kaca.
Mata pria itu beralih menatap kearah Keenan. Pria itu tak kuasa menahan tangisan saat melihat putranya yang sudah besar.
__ADS_1
"Apa dia anakku?" gumam Abian namun masih terdengar oleh Maya.
"Iya dia anakmu" ucap Maya membuat Abian yang mendengarnya langsung melotot.
"Maya apa apaan ini?! kamu mengingat semuanya?!" tanya Abian kaget.
"Kenapa? kau terkejut aku mengingat semuanya? hahaha! aku sudah melarangmu untuk menghapus ingatan ku tapi kenapa kau memaksaku untuk meminum ramuan itu!" teriak Maya hampir menangis.
"Maya... jangan menangis" lirih Abian menatap sayu kearah istrinya.
"Dijauh sebelumnya saat kau ingin pulang, aku menulis kenangan kita dibuku harian ku. Awalnya sangat sulit untuk mengingat semuanya namun aku sangat berusaha" desis Maya sudah berlinang air mata.
"Sayang aku minta maaf, aku benar benar menyesal telah melakukan itu" pintah Abian menangis.
"Kenapa kau berada disini?! bukankah kau sekarang sudah menjadi seorang mafia?" tanya Maya menyeka air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
"Aku sudah lama pulang dari Spanyol. Saat itu mansion utama diserang oleh musuh. Pamanku memintaku untuk mencari kalian sebelum ia ditembak mati oleh musuh" jawab Abian.
"Sayang sekali, padahal kau sudah banyak berkorban untuk derajat mafia mu itu" ucap Maya dengan dingin.
"Maya, beri aku kesempatan untuk memulai kehidupan baru bersama mu" pintah Abian memegang tangan Maya.
"Maaf.... kita tidak akan bisa bersama lagi" ucap Maya melepas tangan Abian yang menggenggam tangannya.
"Apa yang kamu bicarakan Maya, kamu masih mencintai ku kan?" tanya Abian.
"Cinta itu sudah lama mati saat kau meninggalkan ku dengan keadaan yang sedang hamil" ucap Maya.
"Sebelumnya maaf telah bertindak dengan tidak sopan kepada mu! aku harap kita tidak akan bertemu lagi Abian" lanjut Maya menggenggam tangan Keenan dan hendak pergi dari tempat itu.
Abian menghadang Maya. Lalu berlutut dihadapan nya.
"Hei!" desis Maya melihat Abian yang berlutut dihadapan nya.
"Maaf..." lirih Abian menangis.
"Beri aku kesempatan untuk membesarkan anak kita bersama" pintah Abian yang masih berlutut.
"Mommy, dia mirip dengan paman, apa dia Daddy Keenan?" tanya Keenan kepada Maya.
Keenan mengingat perkataan Aidan, dimana setiap kali Keenan ingin tau wajah ayah kandungnya maka Aidan akan mengatakan "Tataplah wajah paman, Daddy mu sangat mirip dengan ku" ucap Aidan.
"No! dia bukan Daddy mu! Daddy mu sudah lama mati!" ucap Maya dengan sadis.
Deg.... Abian terdiam mendengar ucapan Maya. Abian semakin menangis ia tak sanggup menghadapi istrinya yang sudah berubah karna ulahnya sendiri.
"Ayo kita pulang, paman mu pasti sedang menunggu dirumah" ucap Maya menarik tangan Keenan pergi dari sana.
"Daddy...." lirih Keenan menatap Abian yang sedang menangis. Entah darimana perasaan itu berasal, tapi Keenan yakin bahwa Abian adalah ayah kandungnya selama ini.
Bersambung.
__ADS_1
s3 ya gaes๐๐