
Sore Hari.
"Sayang aku pulang, kau dimana?" teriak Abian masuk kedalam rumah.
"Dimana anak itu" gumam Abian melihat rumah begitu sunyi. Abian pun memutuskan untuk mengecek kedalam kamar.
.
.
.
.
Dikamar.
Abian masuk kedalam dan mendapati Maya yang sedang tertidur pulas dikasur.
"Sayang" panggil Abian duduk ditepi kasur sembari mengelus surai rambut Maya.
"Eum..." Maya yang merasa terusik langsung bangun dari tidurnya.
"Kakak udah pulang?" tanya Maya dibalas anggukan oleh Abian.
"Aku lapar, bisa masakan sesuatu untukku?" pintah Abian tersenyum tipis.
"Iya Maya masakin dulu" ucap Maya sedikit dingin lalu pergi meninggalkan Abian.
"Kenapa dengan dia?" batin Abian merasa bingung dengan sifat Maya yang sedikit berubah.
Skip-!!.
Meja makan.
Abian dan Maya sedang makan. Keduanya hanya diam dan fokus memakan makan malam mereka.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kau diam saja?" tanya Abian menatap Maya dengan tatapan selidiknya.
"Ya Allah Maya takut...." batin Maya gemetar ditempat duduknya.
"Maya" panggil Abian melihat Maya hanya diam.
"Kakak Abi makan aja yah, Maya masuk kamar dulu" ucap Maya berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Abian dimeja makan.
"Ga temani aku makan dulu?" tanya Abian namun Maya tak menggubrisnya dan terus berjalan menjauhi Abian.
"Ada apa dengannya? kenapa sifatnya tiba tiba berubah?" batin Abian.
.
.
.
.
.
.
Abian melihat Maya yang hendak melangkah menuju tangga.
"Sayang" panggil Abian namun Maya hanya diam seolah tak melihat keberadaannya disana.
"Sayang" panggil Abian lagi menahan tangan Maya agar berhenti melangkah.
"Lepasin tangan Maya!" teriak Maya menepis tangan Abian.
"Maya sebenarnya kau itu kenapa?!" tanya Abian yang sudah muak karena merasa diabaikan oleh Maya.
"Maya gapapa!" jawab Maya dengan ketus.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau mengabaikan ku semenjak kemarin malam?!" tanya Abian mengeraskan suaranya..
"MAYA BILANG MAYA GAPAPA!!" teriak Maya membuat Abian terdiam.
"Maya mau kekamar! kalau kakak Abi mau makan, Maya udah siapin dimeja makan!" pungkas Maya kembali melangkah meninggalkan Abian.
Semenjak kejadian itu, Maya dan Abian sudah tak pernah saling menyapa lagi. Bahkan Maya tidur dikamar lain membuat Abian begitu bersedih dijauhi oleh sang kekasih.
Sudah seminggu penuh Maya tak mau berbicara kepada Abi. Bahkan Abi pun sama tak pernah menyapa Maya lagi.
Pagi ini, dimana Maya sedang duduk dikasurnya sembari menatap kearah jendela. Ia bersandar dikepala kasur.
"Aku merindukan kakak Abi, tapi aku takut dengannya" gumam Maya ingin menangis.
Ceklek.
Maya mendengar seseorang masuk kedalam kamarnya. Maya terkejut melihat Abian datang dengan wajah yang begitu bersedih.
Abian naik kekasur lalu berbaring dipaha Maya. Maya hendak bangun untuk menghindari Abian namun Abian menghalanginya.
"Tidak sayang, seperti ini dulu sebentar saja" pintah Abian meneteskan air mata. Maya yang merasa iba tak tega melihat Abian bersedih pun memutuskan untuk tak bangun dari duduknya.
"Maya, kenapa kau menjauhi ku?" tanya Abian dengan nada pilunya.
"Maya ga ngejahuin kakak" elak Maya.
"Lalu kenapa kau terus mengabaikan ku? apa karna aku ini mafia??" "Maya.... sebenarnya aku juga ingin kehidupan normal. Aku tak ingin seperti ini, aku tak ingin menjadi mafia tapi situasi memaksa ku untuk menjadi seperti ini" jelas Abian menangis miris dipangkuan Maya.
"Kakak Abi jangan menangis" pintah Maya merasa kasihan.
"Aku tidak punya siapa siapa Maya, yang ku punya hanya kamu, aku tidak sanggup jika kita harus berjauhan seperti ini" ucap Abian semakin menangis.
"Maafin Maya, Maya hanya takut..."
Bersambung.
__ADS_1