
Masih ditempat yang sama. Dimana Maya dan Abian terbaring dikasur.
"Kakak Abi" panggil Maya memeluk Abian.
"Hemm?" dehemnya sembari mengusap surai rambut Maya.
"Stay with me" ucap Maya mengecup pipi Abian.
...... Abian terdiam, ia tak mampu menjawab perkataan Maya.
"Kakak! tetap bersama ku!" ucap Maya dengan tegas.
"Iya sayang" jawab Abian.
"Janji?" tanya Maya. Namun lagi lagi Abian terdiam.
"Kakak kenapa.... dari tadi sedih mulu, kakak ga senang kalau aku hamil?" tanya Maya.
"Kamu itu bicara apa? masa istri ku hamil aku malah sedih" gerutu Abian.
"Trus kenapa kakak diam aja!" omel Maya cemberut.
"Aku mengantuk sayang" balas Abian mencari alasan.
"Eumm yaudah, kakak tidur aja hehehe, Maya juga udah ngantuk" ucap Maya semakin mempererat pelukan.
"Aku mencintaimu Maya, aku sangat mencintaimu" ucap Abian dengan lirih.
"Iya kakak, Maya juga cinta kakak" balas Maya mulai menutup mata.
"Aku mencintaimu..." gumam Abian menangis dalam diam sembari menatap wajah istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Keduanya pun tertidur dan saling berpelukan.
.
.
.
.
-Abian-.
Sudah lama sejak kajadian dimana paman ku tau bahwa aku memiliki istri. Paman ku terus menerus memberiku peringatan bahwa aku harus menceraikan Maya secepatnya.
Aku tidak mungkin menceraikan Maya dimana dia sedang mengandung anakku. Aku memohon sembari menangis dihadapan paman ku agar aku diberi waktu untuk tetap bersama Maya dalam 8 bulan ini.
Setidaknya setelah aku pergi meninggalkan Maya. Aku ikut mengurusnya waktu dia sedang hamil.
8 bulan adalah waktu yang sangat singkat bagiku. Tak terasa perut Maya sudah membuncit dan ia akan segera melahirkan putra ku.
Putra? Yap! anak ku berjenis k3lamin laki laki, saat kandungan Maya 7 bulan, aku sendiri yang mengantarkan nya ke rumah sakit untuk tes USG.
Betapa bahagianya aku melihat putraku yang begitu sehat di janin ibunya. Aku bangga dan juga sedih karna aku tau aku tak akan bisa menemani Maya untuk bertaruh nyawa melahirkan putraku.
__ADS_1
Yang ku khawatir kan adalah, setelah aku pergi siapa yang akan menjaga Maya dan putraku?
Disaat aku berfikir dan merenung, aku mengingat Aidan saudara kembar ku. Dengan segera aku menghubungi nya untuk meminta bantuan.
________
"HAH! kenapa paman begitu gila sekali!" pekik Aidan mengusap wajahnya frustasi.
Sepertinya Aidan juga ikut bersedih saat tau apa yang dialami oleh Abian.
"Aku tidak bisa melawan, paman terlalu keras, dia bisa melukai Maya kapan saja" lirih Abian.
"Tapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi, istri kakak sedang hamil! tidak masuk akal jika kakak meninggalkan dia begitu saja!" teriak Aidan tak terima.
"Aku tau... waktu ku hanya 3 hari lagi, aku meminta tolong kepadamu agar kau menjaga istriku di mansion, aku mohon jaga dia dan temani dia disaat dia melahirkan" pintah Abian.
"Aku tidak akan sanggup melakukannya kak, dia istri kakak, seharusnya kakak yang menemani dia sampai dia melahirkan" pungkas Aidan.
"Demi aku Aidan, aku mohon" pintah Abian mulai menangis.
"Kenapa ini semua terjadi sama kakak" tangis Aidan ikut pecah melihat kehidupan kakaknya yang begitu berantakan.
Aidan sudah menyarankan Abian untuk meminta bantu kepada sang ayah, namun Abian menolak karena ia takut jika pamannya akan ikut melukai ayah dan juga ibunya.
"Setelah aku pergi, aku menitipkan istriku kepada mu, tolong jaga dia baik baik, pastikan putra ku sehat ditangan mu" ucap Abian tersenyum miris.
"Aku akan melakukannya dengan sebaik mungkin kak" balas Aidan menyeka air matanya.
-Abian-
Ya Allah... begitu sakit rasanya jika aku harus berpisah dengan istriku. Jujur aku belum siap untuk meninggalkan nya, namun ini harus aku lakukan untuk keselamatan Maya.
Aku tak mau jika pamanku sampai turun tangan dan melukai istri dan anakku. Lebih baik aku memilih untuk berpisah daripada harus melihat istri dan anakku menderita.
-Abian End-
3 hari kemudian.
Malam hari dimansion. Abian dan Maya sedang berpelukan dikasur empuk.
"Kalau kamu melahirkan nanti jangan lupakan aku yah sayang. Tetap ingat aku, tetap ingat wajahku agar kamu kuat saat melahirkan nanti" pungkas Abian mengusap kepala istrinya.
"Kakak Abi temenin Maya melahirkan nanti kan?" tanya Maya mengerutkan kening karena merasa bahwa Abian mengatakan itu seolah akan pergi darinya.
"Itu pasti" ucap Abian berbohong.
"Terus ngapain ngomong gitu?! kakak ga bakal pergi ninggalin Maya kan? kakak udah janji loh tetap berada disisi Maya sampai maut memisahkan!" ucap Maya merasa gelisah.
"Kalau aku tiba tiba ga ada gimana?" tanya Abian.
"Maka Maya dan Abian kecil ikut ga ada" jawab Maya.
"Ga boleh ngomong gitu" ucap Abian.
"Pokoknya kakak harus janji tetap berada disisi Maya! ga boleh pergi dari Maya!" omelnya memeluk Abian dengan erat seolah takut jika Abian benar benar pergi darinya.
__ADS_1
Din dong... Din dong.... (bel pintu berbunyi)
"Ada tamu jam segini?" tanya Maya kebingungan saat mendengar suara bel.
"Biar aku yang membuka pintunya" ucap Abian turun dari kasur, beranjak pergi darisana.
Pov Abian.
Abian membuka pintu dan sudah dia duga yang datang adalah sepupu jauhnya dari Spanyol.
"Kau sudah siap?" tanyanya kepada Abian.
"Beri aku waktu, aku mohon" pinta Abian.
"Tidak bisa, paman sudah memberimu waktu selama 8 bulan, kau harus pulang ke Spanyol malam ini" ucapnya membuat Abian menangis tak siap untuk berpisah dengan Maya.
"Tapi istriku sedang hamil" lirih Abian.
"Jangan memohon kepadaku, tugasku hanya datang untuk menjemput mu" ucapnya.
"Jemput? kakak Abi mau pergi kemana?" tanya Maya tiba tiba datang, Abian yang mendengar suara istrinya langsung menyeka air matanya. Ia tak mau jika Maya tau kalau dia sedang menangis.
"Berpamitanlah kepada istrimu, aku akan menunggu mu diluar" ucap nya keluar dari mansion.
"Kakak mau kemana?" tanya Maya penuh selidik.
"Ke...." Abian tak bisa menjawab, mulutnya terasa kaku untuk mengatakan bahwa ia akan pergi selama lamanya.
"KAKAK JAWAB!" teriak Maya mulai curiga.
"Ke Amerika sayang" jawab Abian berbohong.
"Kenapa kakak pergi kesana?" tanya Maya.
"Urusan bisnis" jawabnya.
"Berapa lama?"
"2 Minggu"
"Itu lama banget kakak Abi" ucap Maya dengan sedih.
"Aku akan kembali secepat mungkin sayang" ucap Abian meyakinkan Maya.
"Kapan kakak pergi?" tanya Maya.
"Besok"
"Jangan lama lama yah perginya, kakak jaga kesehatan disana, jangan sampai ngelupain Maya" ucapnya memeluk Abian.
"Aku tidak akan pernah melupakan mu" jawab Abian membalas pelukan Maya.
"Disaat Maya tetidur nanti, aku akan pergi secara diam diam, aku tak sanggup jika harus berpamitan dengan dia" batin Abian memeluk Maya dengan erat.
"Kenapa aku merasa kakak berbohong kepadaku?" batin Maya terlihat gelisah di pelukan Abian.
__ADS_1
bersambung.