
"Eh? berarti ibu kakak masih hidup? jadi kenapa dong kakak bisa sampai sesedih ini?" tanya Maya penasaran dan merasa sedikit bersalah.
"Aku rasa kau tidak perlu tau tentang hal itu" pungkas Abian kembali menenggelamkan wajahnya di leher Maya.
"Biasakah aku meminta tolong kepada mu?" tanya Abian dengan wajah yang sudah menyelip di leher Maya.
"Apa itu kak?" tanya Maya.
"Aku ingin tidur tapi tidak bisa, tolong usap kepala ku agar aku cepat tidur yah?" pintah Abian berharap Maya ingin melakukan apa yang ia inginkan.
"Baiklah, kalau itu kemauan kakak" ucap Maya mulai mengelus kepala Abian.
Dengan cepat Abian langsung tertidur sembari memeluk Maya dengan erat. Selama ini Abian tak pernah tidur dengan nyenyak, karna dirinya yang begitu sangat kesepian. Tak ada seorang ibu stay pun ayah yang mampu memeluknya di tengah malam membuat Abian hidup dalam kondisi kekurangan kasih sayang.
Hadirnya Maya dalam hidup Abian membuat Abian kembali merasakan apa itu kasih sayang yang sebenarnya.
"Hoaamm ngantuk" ucap Maya menguap. Maya pun ikut tertidur menyusul Abian ke alam mimpi.
Skip-!! Keesokan harinya.
"Eumm..." leguh Maya bangun tidur. Maya bangun dan duduk. Matanya menatap ke arah Abian yang sedang bersiap siap, sepertinya dia akan ke kantor hari ini.
"Kau sudah bangun?" tanya Abian saat melihat Maya dengan posisi duduk di atas kasur.
"Kakak mau kemana?" tanya Maya menatap ke arah Abian dengan wajah bantalnya.
Bangun saja masih cantik apa lagi kalau sudah mandi? ga kepikiran sih kenapa Abian bisa suka sama Maya.
"Kau ini kenapa selalu memasang wajah bodoh seperti itu? apa kau tidak tau kau itu sangat menggemaskan!" pungkas Abian terkekeh. Ia melangkah mendekati Maya lalu mengecup kening nya berkali kali.
"Aku ada urusan sebentar. Sore nanti aku akan pulang lalu kita pergi berbelanja pakaian untuk mu" lanjut Abian di balas anggukan oleh Maya.
"Aku sendiri dong disini?" gerutu Maya cemberut.
"Kau tidak sendiri, di bawah ada bibi Dita, dia yang akan menemani mu disini" balas Abian tersenyum tipis melihat Maya yang cemberut.
"Disini ada seseorang selain kakak? tadi malam aku tidak melihat siapapun di rumah ini" ucap Maya.
__ADS_1
Memang benar, saat Abian membawanya ke tempat itu, Maya tak melihat ada siapapun disana.
"Kau benar, aku baru saja memperkerjakan nya untuk menemani mu disini, sekarang mandilah dan bersiap siap untuk sarapan" perintah Abian.
"Siap komandan!" seru Maya hormat seperti sedang upacara.
Maya pun pergi ke kamar mandi meninggalkan Abian yang terkekeh gemas melihat tingkah nya.
Skip-!!
"Kau tetap disini dan jangan kemana-mana sebelum aku pulang, kau mengerti?" ujar Abian kepada Maya. Maya mengangguk pertanda ia mengerti ucapan Abian.
Posisi mereka sedang berada di depan pintu mansion. Setelah berpamitan dengan Maya, Abian mengecup kening nya lalu beranjak pergi dari mansion itu.
Di dalam perjalanan, mobil mewah Abian ikut membela jalan raya. Tampak jalan itu begitu macet karena hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi para pekerja.
Skip-! Sesampainya di mansion utama. Abian masuk ke dalam. Dengan wajah dingin dan datar Abian langsung menaiki tangga dan menuju kesebuah kamar.
"Ceklek" Abian membuka pintu, dan mendapati ayahnya sedang terbaring lemah di kasur.
"Maaf membuat kalian menunggu, ada apa kalian memanggil ku?" tanya Abian dengan nada dinginnya.
"Langsung ke intinya saja! aku sedang sibuk sekarang, tidak ada waktu untuk berbasa basi dengan kalian" ucap Abian.
"Nak, jangan berbicara seperti itu kepada mommy mu, kau boleh membenci Daddy tapi tidak dengan mommy mu, mommy tidak tau apa apa" lirih Dave menatap sayu ke arah putra nya.
"Jika aku tahu kalian memanggil ku hanya untuk berbasa basi, maka aku tidak akan pernah datang kesini lagi!" ucap Abian dengan angkuh.
Abian berbalik dan hendak pergi dari ruangan itu.
"Nak, tidak bisakah kau memaafkan Daddy?" tanya Dave ingin menangis melihat putranya yang seperti orang asing baginya.
Abian yang mendengar itu resfleks menghentikan langkahnya.
"Tanpa meminta maaf aku sudah memaafkan mu, tapi luka yang kau taruh di dalam hati ku belum sembuh sepenuhnya" pungkas Abian dengan dingin.
"Abian sebegitu sakit hatinya kau dengan Daddy?" tanya Dave meneteskan air mata.
__ADS_1
"Hati mana yang tidak sakit, saat seorang anak yang berulang tahun ke 7 tahun kalian malah mengirimnya ke Spanyol? Hati mana yang tidak sakit saat seorang ayah dengan sengaja memisahkan anak dari ibu nya? apa kau tau bagaimana rasanya Daddy? hah! kenapa aku harus memanggil mu Daddy? sedangkan kau tak menganggap ku sebagai seorang anak"
Abian mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal kuat berusaha menahan air mata yang hendak keluar membasahi pipinya.
"Itu Daddy lakukan karna dad-" ucapan Dave terpotong saat Abian langsung berkata.
"Karna warisan dari kakek buyut? begitu?! Hahaha lihat kau sudah berhasil mendidik ku sebagai mafia yang tak mengenal kasih sayang! hanya karna warisan bodoh itu kau membuat ku sampai menderita seperti ini? coba katakan! untuk apa kedudukan seperti ini jika aku tak bahagia!! KATAKAN!!" teriak Abian dengan murka membuat Dave terdiam.
Amanda menangis melihat suami dan anaknya seperti orang asing. Bahkan lebih tepatnya seperti musuh yang tak mempunyai hubungan darah.
"Abian sudah cukup, Daddy mu sedang sakit!" ucap Amanda menangis.
"Aku tahu dia tidak bisa mengatakan nya! pada akhirnya aku semakin membenci mu jika aku mengingat kejadian itu!" pungkas Abian pergi dari ruangan itu.
"Sayang, apakah aku ayah yang buruk bagi kedua anak kita?" tanya Dave menangis di pelukan Amanda.
"Tidak Dav, Abian hanya butuh waktu untuk memahami kondisi seperti ini" jawab Amanda menenangkan suaminya.
"Abian membenci ku sayang, dia sangat membenci ku, bodoh! ayah macam apa aku!" ucap Dave semakin menangis.
Amanda hanya bisa mengelus rambut Dave agar ia tenang dan tak memikirkan kejadian tadi. Amanda takut jika demam Dave semakin tinggi.
Sesungguhnya Amanda juga sedih, ia tahu bahwa Dave hanya ingin menjalankan tugas sang kakek buyut untuk mendidik Abian dengan keras. Namun didikan itu membuat Abian membenci Dave.
Pov Abian.
Saat ini Abian sedang menuruni tangga mansion. Langkahnya terhenti saat melihat adik nya.
"Kakak, kau sudah pulang?" tanya Aidan terkejut melihat kedatangan Abian di mansion utama.
"Aidan, kakak percaya kepada mu, tolong rawat mommy dan Daddy baik baik. Aku tidak akan kembali ke mansion ini lagi, mansion ini sudah tampak asing bagi ku" ujar Abian menepuk pundak sang adik.
"Tapi kenapa kak?" tanya Aidan. Aidan menangkap kesedihan di wajah kakaknya.
"Aku membenci kehidupan seperti ini Adian, aku sangat membencinya. Aku ingin kehidupan normal tapi takdir berkata lain. Takdir tak mengizinkan aku untuk bahagia" ucap Abian tersenyum miris.
Dari sini kita tau, bahwa didikan keras dari Dave membuat Abian tersiksa dan kehilangan kasih sayang dari keluarga.
__ADS_1
Bersambung.