
"Mungkin jika melupakan hal yang mudah nggak kan sesakit ini melihat dia tersenyum dengan yang lain" By. Dion
mommy Jessica mengajak Lidia keluar rumah. Tepat di taman depan terdapat tempat duduk di temani dengan air pancur.
"sayang gimana hubungan kalian?" tanya Jessica namun hanya dibalas gelengan kepala, membuat Jessica menghembuskan nafas.
"mom berharap,jika Dion akan melupakan jisoo nak". ucapnya sambil menatap lurus dengan mata berkaca-kaca.
Hati ibu mana yang tega, melihat anaknya tersiksa untuk melupakan cinta pertamanya. Bahkan selalu membantu wanita yang ia cintai.
Namun Jesicca tak tau kalau anaknya akan merebut berlahan jiwanya denhan cara yang licik.
"mom aku akan berusaha sebisa ku mungkin"
"sebelum masa kontrak ku habis." ucap Lidia. Namun ucapan terakhir hanya di dalam hati. sambil memegang tangan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"mom percaya sama kamu!"Ucap Jessica membalas genggaman gadis cantik di sampingnya.
"Mom Lidia mau cari Dion dulu ya" ucap lidia tersenyum tulus dan pergi.
"Mom yakin kamu bisa nak, berjuanglah mom bantu dari belakang" gumamnya dalam hati menatap punggung gadis calon mantu nya.
.
.
"Hai Dion!" Ucap Lidia. Sebenarnya tadi ia kebingungan tak menemukan Dion dan ia bertanya salah satu pelayan.
Pria itu hanya menoleh sebentar dan kembali menatap handphone yang lebih penting menurutnya. Membuat gadis itu tersenyum samar dan duduk di kursi dekat pria ia cintai.
"Aku nggak nyaka kalau Cleo itu udah tamat kuliah. Soalnya wajah kayak anak SMA" ucap lidia. Sebenarnya juga ia juga Bingung mencari topik. Namun pria di sampingnya acuh.
.
__ADS_1
.
Seperti biasa hening, tak ada percakapan di antara Mereke berdua. Setelah acara Mereka pulang.
Tiba - tiba di pertengahan jalan. Dua mobil menghadang jalan mereka.
"Dion...jangan keluar" ucap Lidia karena jalan sepi mungkin karena larut. Sambil memegang tangan Dion. Namun langsung di tepis pria itu dan keluar melawan. Terjadilah perkelahian 1 melawan 10 orang.
Dengan mudahnya Dion menjatuhkan musuhnya. Namun tiba - tiba beberapa mobil datang dan menyerang Dion membuatnya kewalahan.
"****, seperti mereka segaja" ucapa dion dalam hati. Dion buka orang bodoh Mereka segaja mengulur waktu agar lawannya lengah.
Jujur Lidia benar- benar takut dan panik menjadi satu. Takut pria ia cintai nya terluka tapi panik mengingat kejadian masa lalu. Membuatnya kepanikan nya bertambah, namun berusaha menutupi nya.
Tiba - tiba beberapa mobil datang untuk membantu Dion. Ya, sebelum ke acara datang ke acara Dion tau pergerakannya di awasi dan benar saja. Dion menelepon Justin sebelum acara selesai.
"Maaf tuan kami telat datang" ucap Justin sesal karena kerjaan belum selesai dan bergabung melawan dengan mudah mereka menjatuhkan lawan.
"Dion...kamu nggak apa - apa?" Ucap Lidia langsung keluar membantu Dion namun pria menepisnya.
"Tunggu biar aku obati dulu" ucap lidia namun pria itu tetap menepisnya membuat Lidia emosi.
"Aku bilang aku mau obati, itu lukanya cukup parah Dion!!" Bentak Lidia emosi membuat mobil itu menjadi hening. Namun Lidia tetap sibuk mengobati tangan dion dengan berlinang air mata.
Selama di perjalanan tidak ada percakapan. Lidia memejamkan mata karena kepala terasa pusing dan Dion fokus menyetir setelah kejadian tadi atau menang lebih tepatnya selam bersama hanya keheningan. Hanya Lidia selalu memulai topik.
"Terimakasih" ucap Lidia dan pergi. Bukan karena tak kasihan melihat wajah Dion. Namun kepalanya semakin terasa pusing.
"Huf... Untung aja nenek udah tidur" ucap Lidia pelan . Sembari merebahkan tubuhnya ke tempat tidurnya.Tak terasa air matanya kembali berjatuhan mengingat kejadian kelam masa lalu.
"Hiks...maaf" ucap Lidia sambil mendekap mulutnya agar tak di dengar dari luar. Hanya tangisan memenuhi malam.
.
__ADS_1
.
.
"Rina...Lidia belum bangun?" Tanya sang nenek kepada wanita paruh baya. Bingung karena biasanya cucunya itu lebih cepat bangun untuk olahraga pagi.
Ya, Rina paruh baya, pelayan yang bekerja di rumah lidia. Sedangkan 2 pelayan lagi kerja paruh waktu. Lidia segaja agar nenek tak merasa kesepian di rumah.
"Tidak buk, non Lidia sudah pergi pagi - pagi sekali" ucap bik Rina. Karena pagi - pagi sekali Lidia pergi katanya ada urusan mendadak.
"Tumben nggak pamitan" gumam sang nenek.
" Kalau gitu kita berangkat ke pasar, saya juga bosan di rumah " ucap sang nenek. Karena Mereke berdua terlihat begitu akrab. Mungkin karena sama paruh baya.
.
.
Seorang gadis berdiri di sebuah makam. Menatap makam yang rela mengorbankan diri demi membantunya.
"Maaf kak Al" ucap Lidia menangis mengingat pria yang menolong nya dari beberapa preman yang hampir melecehkannya.
Ya,gadis itu adalah Lidia. Pagi - pagi sekali dia pergi dari rumah ke kampung halamannya.
"Kak sekarang Lidia udah menepati janjinya Lia" ucapnya pelan sambil mengusap makam tersebut.
"Maaf ya, Lidia jarang datang ke sini" ucapnya pelan. Setelah puas mencurah kan kesedihannya.
Setelah puas Lidia memutuskan untuk datang yang ia sering kunjungi bersama pria bernama Alex. Pria yang selalu ada bersamanya dalam suka maupun duka.
"Pemandangannya masih sama belum berubah" ucap Lidia pelan sambil duduk di rumah pohon yang selalu di bersihkan oleh orang bayarnya.
"Pohon nya juga udah besar" ucapnya sambil tersenyum tak terasa air matanya membasahi pipinya.
__ADS_1
Setelah puas melihat - lihat dan lega dia pergi. Namun ia tak menyadari sepasang mata melihat dari jauh sembari tersenyum.