
Malam hari Lidia sampai di rumah dan langsung mengistirahatkan tubuh nya, karena besok mereka akan kembali konser jadi harus fit.
Berbeda di mansion utama pria itu menatap handphone yang di genggam karena biasanya perempuan Itu mengabarinya atau lebih tepatnya banyak pesan yang Lidia kirim namun tak di balas. Membuatnya sedikit gelisah.
Begitupun dengan Lidia, ingin meminta maaf karena membentak Dion. Dan memutuskan untuk datang ke esok hari karena perjalanan pulang balik dari bandara dan mengendarai mobil sendiri yang ia tinggalkan di parkiran bandara. Membuat badannya lelah.
"Nek Lidia pergi dulu ya, maaf semalam nggak ngabarin nenek" ucap lidia penuh sesal dan meminta maaf saat di ruang makan. Karena Tak ingin membebankan neneknya.
"Iya nggak apa-apa, tapi sarapan dulu" ucap sang nenek dengan penuh perhatian dan langsung di patuhi.
"Lihatlah...anak kalian ini sudah dewasa" gumamnya dalam hati sembari tersenyum dan mengusap kepala cucunya. Membuat Lidia menoleh dan bertanya namun hanya di balas gelengan.
"Nek, Lidia pergi dulu ya, bik Rina Jagan neneknya kalau ada apa-apa langsung kabarin" ucapnya memeluk dan menyalami sang nenek dan bik Rina yang sudah ia anggap seperti neneknya.
.
.
"Lidia... nanti jadikan" ucap rose dan di balas dengan anggukkan.
Setelah perkejaan selesai lidia memutuskan pergi sebentar sebelum pergi.
"Pak, Dion nya ada" tanya Lidia ke pada penjaga gerbang.
"Ada non" sembari membuka gerbang dan tersenyum karena Lidia mengucapkan terimakasih.
Tok
Tok
"Di.." ucap Lidia setelah pintu itu di buka dengan otomatis.
"Maaf soal kemarin" ucap lidia menunduk tak enak hati. "Dan maaf semalam aku nggak kabarin kamu." Lanjutnya.
"O..iya aku bawa makan malam"ucap Lidia sembari meletakan makanan. Namun pria itu tetap diam.
__ADS_1
"Em.. kalau gitu aku pulang ya" pamit Lidia melangkah ke arah pintu.
"Kamu nggak lupa dengan tugasmu?" Tanya dion setelah melihat Lidia melangkah.
Membuat Lidia tersenyum dan kembali duduk membuka makanan dan menyuapi bayi besarnya.
"Kenapa?" Tanyanya sembari mengerut keningnya namun hanya di balas dengan gelengan, membuatnya fokus handphone yang di genggam.
Sebenarnya Dion sudah mendapatkan kabar tentang Lidia oleh orang suruhan. Dan semalam Dion tak berselera makan. Entah kenapa makan terasa hambar berbeda dengan di suap Lidia makanan terasa lezat.
"Lid...kok kamu lama banget?" Tanya Keyla curiga dengan tak sabaran.
"Kepo" balas Lidia membuat Keyla mengendus sebal membuat Lidia terkekeh.
"Baik sekarang kita berangkat" ucap Clara menengahi dan berangkat.
Mereka akan berkemah di dekat pedesaan. Perjalanan begitu menyenangkan sambil berbicara mereka memutuskan untuk satu mobil dan berganti menyetir.
.
.
"Udah cinta banget ya sama dia?" Ejek lidia. Namun bukannya tersindir malah di angguk - angguk membuat Lidia gemas sendiri.
Namin ia berpikir apa bedanya Keyla Dangan dirinya. Bahkan keluarga besarnya sudah setuju, mereka mengira dion sudah menemukan tambatan hati.
tiba - tiba ia ingat tak memberi tau kemana dia hari ini. Dion mengatakan jika harus mengabarinya kemanapun ia pergi.
Dion mengatakan harus mengabarinya agar orang tak curiga. Aneh, tapi itu lah pria dingin yang irit bicara itu.
sejenak ia teringat pesan yang tak ia kenal, membuat ia sedih. Apa benar pria itu memanfaatkan dirinya agar bisa mendapatkan perempuan yang ia cintai. Mengingat ia tak sengaja mendengarkan percakapan Dion dengan Justin.
Lamunnya bubar melihat Keyla sibuk dengan cemilan yang gadis itu bawa. Bahkan wajahnya merah karena memakan cemilan pedas. Sungguh jika ada para penggemar melihat nya pasti tak menyangka. Keyla yang selalu menjaga penampilan justru sekarang hilang arah karena patah hati. Walaupun ia di kanal penggemar bar - bar.
"lid...pedas banget!!" pekiknya keyla heboh membuat Lidia tertawa antara senang dan kasihan.
__ADS_1
"nih" sembari memberi minuman kepada Keyla. Melihat mata Keyla berkaca - kaca membuatnya kasihan.
"hahaha" rose dan Clara tertawa bagaimana wajah Keyla merah seperti bon cabai. membuat si empunya mengerucut bibir, menandakan ia kesal.
"kebersamaan ini belum tentu terulang kembali" batin Lidia tersenyum sembari menatap teman - temannya.
Malam hari pun tiba, mereka telah selesai makan malam dan tidur. Namun Lidia tak dapat tidur justru ia keluar dengan pelan. Agar tak menganggu dan duduk melihat pemandangan yang begitu indah.
Ia ingat ketika waktu SMP acara kemping nyasar di hutan karena ia di jahili teman - temannya yang tak suka dengan nya. Membuat guru selaku bertanggung jawab panik.
Jujur saat itu Lidia benar - benar takut. apalagi tengah malam, namun seorang pria penyelamatan datang. pria kakak angkatan kelas tiga sedangkan ia kelas satu.
"kamu nggak apa-apa" ucap Alex sambil memeluknya membuat Lidia menangis ketakutan.
Setelah kejadian itu para teman - teman yang suka mem-bully-nya di pindah kan ke sekolah lain. Jika tidak maka di keluarkan.
"kakak kok tau aku di situ?" tanya Lidia penasaran sambil memakan roti yang di berikan pria yang sudah ia anggap kakak.
"kakak tak sengaja dengar suara kamu sat pencarian kamu" ucapnya sembari menatap gadis manis di sampingnya.
"sekali lagi makasih ya kak" ucap Lidia dengan tulus. Gadis dengan tatapan polos dengan tersenyum manis. Membuat siapa saja pasti terpesona.
Tak terasa air matanya jatuh di pipi cantik itu. kejadian di mana itu hampir di lecehkan para preman dengan mabuk. Dan pria yang menolongnya merenggang nyawa. Setelah di bawa ke rumah sakit di kota. Ia bahkan tak sempat mengantarkan Alex, karena acara tertutup.
"kak terimakasih sudah menjadi orang terbaik. Aku akan selalu mengingat kebaikan kakak." ucapnya dalam hati. Mengingat sebelum di bawa ke rumah sakit di kota. Pria itu mengatakan "jangan bersedih dan merasa bersalah." itulah yang membuatnya harus menepati janji.
setelah puas menenangkan diri. Lidia masuk ke tenda dan tidur dengan pulas mungkin karena capek menangis.
Sedangkan tak jauh dari perkemahan itu, seorang pria mengabari perintah tuannya. Untuk menjaga perempuan itu dari jarak jauh sesuai dengan perintah tuannya dan pergi dari sana.
"Aku pasti kembali" ucap seorang pria duduk di kursi kebesarannya sembari menatap foto gadis yang ia sukai sejak pertama kali berjumpa dan melanjutkan pekerjaannya yang harus ia selesaikan.
Dan tak menggubris perempuan di sampingnya. Karena ia sudah memiliki tambatan hatinya sejak masa remaja dulu.
Walaupun gadis itu cantik dan lembut tak membuat hatinya bergetar sedikitpun. Malah ia melihat dengan tatapan penuh kebencian dengan perempuan dengan senyuman manis di hadapan nya dengan wajah muak.
__ADS_1