Cintai Aku Dion

Cintai Aku Dion
part 34


__ADS_3

Di dalam lift khusus untuk CEO. Lidia hanya diam namun air mata nya terus mengalir.


"Huh" menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan sembari memperbaiki pakaian dan rambut ya yang terlihat berantakan.


"Ting"


Pintu lift terbuka setelah Lidia selesai memakai kacamata hitam. Menutup matanya yang sembab dan memakai masker agar bekas pipi nya merah Tak terlihat.


Lidia tetap menyahut dengan melambaikan tangan dari karyawan yang menyapa nya. Tampa berbicara sepatah katapun karena jika ia bersuara sudah pasti suara nya akan terdengar berbeda dari biasanya. Lidia begitu tampak sangat profesional seolah tak terjadi apapun.


Bahkan menyapa wartawan yang menunggu nya dengan beberapa pose. Tanda ia menghargai orang - orang yang sudah menunggu.


Tiba di suatu tempat yang biasa ia kunjungi, tempat segala pengaduan dan kesedihan yaitu tempat ibadah setiap hari Minggu yaitu Gereja.


Member red white tak pernah melewatkan ibadah mereka sesuai dengan agama mereka masing - masing. Inilah yang membuat para penggemar salut kepada mereka sebab saat ibadah berlangsung,mereka tak memperlihatkan mereka seperti artis terkenal. Malahan mereka ikut menyapa, layaknya orang biasa - biasa saja.


Setelah selesai Lidia kembali ke rumah dengan perasaan lega. Menatap sang nenek terlihat sibuk dengan tanaman yang sengaja ia beli. Karena ia tau betul neneknya memliki hobi bercocok tanam.


"Kenapa berdiam di situ" panggil sang nenek.


"Greb"


"Kangen" ucap Lidia manja memeluk erat sang nenek.


"Hahaha....cucuku yang sangat manja" terkekeh melihat kelakuan cucunya dan pada akhirnya mereka tertawa.


Lidia merasa senang bisa seperti dulu bermanja - manja dengan sang nenek tercinta.


.


.

__ADS_1


Berbeda di ruangan luas yang tadi begitu bersih dan rapi tapi sekarang tak terbentuk lagi ruangan.


"Tuan" ucap Justin merasa sedih melihat tuanya yang dingin dan datar terlihat kacau.


Justin membiarkan tuannya melampiaskan segala emosi. Namun jika sampai lewat batas ia akan langsung bertindak. Sebab ia sudah sangat hafal dengan sifat tuannya.


"Keluar!!" hanya itu yang terucap dari bibir Dion. Seakan tau tuanya butuh sendiri Justin memutuskan meninggal ruangan. Setelah memastikan keadaan tuanya.


Sepeninggalan Justin. Dion hanya berdiam bak patung menatap arah jendela. Seakan menghimpit begitu sesak yang ia tak tau mengapa dan apa penyebabnya.


"kalau aku yang lebih duku mati apakah kamu sedih!!"


Perkataan Lidia terus terngiang - ngiang di kepalanya. Tak sadar mengepal ke-dua tangannya kuat, tanpa mempedulikan luka yang kemarin mengeluarkan darah kembali.


"Kenapa sakit sekali!!" Dion memegang dadanya yang terus merasa sesak.


"Kenapa?" Bahkan Dion beberapa kali memukul dadanya yang terasa sesak.


Dion berteriak ia juga tak mengerti dengan dirinya sendiri.


"Prang"


"Prang"


Di dalam ruangan itu Dion meluapkan segala emosi. Membanting barang - barang berharap agar sesak di dadanya berkurang, namun tak kunjung berkurang.


Pagi hari Lidia nonton tv setelah selesai membuat cemilan ala Lidia sendiri.


"Syukur lah" gumam Lidia merasa ikut senang juga perusahaan Alex Ferguson stabil kembali.


Namun tidak dengan Dion terlihat pria itu baru saja bangun dengan beberapa luka di kening dan lengannya.

__ADS_1


"Daddy" lirihnya pelan. Ia tau jika ini pasti ikut campur Daddy. Melawanpun tak ada gunanya jika sudah Daddy turun tangan.


"Rencana 2" ucap Dion singkat. Setelah panggilan di angkat oleh asistennya.


Membuat Justin baru saja selesai sarapan hanya bisa menghela nafas "tuan Dion benar - benar sudah menggila" umpatnya merasa ia juga ikut geram sendiri.


"Jangan mengumpat ku atau hukuman mu akan di tambah"


"Eh....jangan tuan" sahut Justin dengan cepat.


Hukuman yang sangat mengerikan bagaiman tidak Justin di perintahkan ke peternakan ayam.


Bahkan ada hal yang lebih mengerikan dan sekaligus memalukan Justin di perintahkan menghitung semua anak - anak ayam begitu banyak.


"Ini baru selesai sarapan" cerocos Justin sembari menatap layar ponsel pintarnya. Setelah panggilan berakhir sebelah pihak dari tuannya.


Malu sudah pasti Untung saja ia memakai masker dan topi. Berharap tidak ada yang mengenalinya, namun ia tetap mematuhi perintah tuannya.


"Huf...hukuman ini lebih mengerikan di banding kan berkelahi" keluh Justin.


Setelah selesai sarapan Justin langsung pergi pulang ke apartemen sebab hari ini ada meeting penting.


"Huf....badan ku wangi sekali sampai tak bisa di Jabarkan" Justin benar - benar merasa kesal.


Lain hal nya dengan Dion merasa puas bisa mengerjai asistennya. "Ini hukuman bagi penghianat" Gumamnya pelan dengan seringai tipis di bibirnya. Rasa kesalnya terganti setelah mendapatkan foto - foto Justin dari anak buah suruhannya.


Ya, tentu saja jika selama ini ia tau Justin dan mommy kerja sama mendekati dirinya dengan Lidia.


Entah kenapa setiap mengingat atau mendengar nama itu membuatnya sedikit kepikiran.


Entahlah hanya dirinya lah yang tau atau lebih tepatnya tak mengerti dengan perasaannya sendiri dengan Lidia.

__ADS_1


__ADS_2