
Tampak seorang gadis merenung, menatap langit-langit kamarnya. Seolah begitu banyak beban yang ia tanggung.
" Kenapa harus aku?" tanyanya pada dirinya sendiri. Sembari mengingat masa - masa kecilnya di habiskan untuk berkerja, mengalami kejadian yang tak menyenangkan.
Contohnya dia ingat waktu masih sekolah dasar ia sering di bully karena tubuhnya seperti tak terurus, hampir saja di lecehkan oleh preman. Hingga ia bertemu dengan pria yang menolongnya menjadi temannya, namun lagi- lagi kenyataannya tak berpihak padanya karna temannya meninggalkannya untuk selama - lamanya. Membuat ia merasa bersalah.
Hingga sekarang setelah ia sukses juga pria yang ia cintai justru memanfaatkannya demi mendapat perempuan yang di cintai pria nya.
" Mam...pah...Lia kangen sama kalian, Lia capek.... banget!!..." lirihnya menangis sembari memukul dadanya terasa sangat sesak. apalagi orang yang paling membuatnya bertahan dan ia berjuang. Justru mendapat ancaman dari pria ia cintai.
" kapan kesedihan ini berakhir...kapan" lanjutnya sembari meremas rambutnya.
" Ada apa tuan? " tanya Justin.
" Dimana dia"
" maksud...tuan nona Lidia" tanyanya lagi. Namun hanya di balas dengan deheman saja.
" nona sudah pulang tuan" jawab Justin dan kembali keruangan ya setelah mendengar perintah atasan nya.
" Dasar cengeng" gumam dion. Karena ia sudah beberapa kali menelepon namun tak dia angkat dan mengirimkan sebuah pesan.
"em..." merasa terganggu karena ponselnya bergetar, namun itu tak berlangsung lama. Melihat begitu banyak panggilan tak terjawab.
" Aduh... gimana nih" ucap Lidia panik, melihat beberapa panggilan dari pria ia cintai nya tak ia angkat. Karena setelah menangis tadi ia begitu ngantuk dan tertidur.
" tring"
setelah membaca sebuah pesan singkat. ia langsung buru - buru bersiap dan pergi.
" nggak makan dulu?" tanya sang nenek melihat cucunya melewatkan makan siangnya. Namun hanya di balas dengan gelengan.
__ADS_1
sesampai di loby parkiran ia langsung merapikan pakaiannya dan berjalan ke ruangan cek sekaligus pemilik perusahaan.
sesampai di ruangan CEO terlihat sepi dan tak ada siapapun.
" nyonya" ucap Justin tiba - tiba datang entah darimana. Membuat lidia terkejut.
" ini nyonya " ucap Justin memberikan paper bag. Malam ini mereka akan menghadiri pesta dan gaunnya akan senada dengan pakaian Dion ucap Justin menjelaskan dan pergi dari ruangan.
Sepeninggalan justin, Lidia hanya berdiam menatap ruangan yang sudah beberapa bulan ia datangi. pandanganya berhenti di salah satu rak buku yang begitu rapi.
ternyata yang di ambil lidia adalah foto album. Terlihat hadiah kado ulang tahun bertulisan "happy birthday mommy son " membuat Lidia menyinggung senyuman. Terlihat foto - foto masa kecil hingga dewasa. Lidia jadi gemas sendiri melihat foto Dion sewaktu bayi dengan pipi tembem dengan wajah belepotan.
Namun senyuman itu seketika hilang ketika melihat pria di hadapannya dengan tatapan tajam.
" Ternyata anda sangat tidak memiliki etika dan sopan santun" ucap Dion menatap sinis dan menarik dari tangan Lidia.
"maaf tadi aku bosan" ucap Lidia. Merasa bersalah karena tak meminta ijin kepada pria di hadapannya.
Setelah kejadian siang itu Lidia hanya berdiam di sofa Tampa melakukan apapun sesuai dengan perintah. Tiga jam berlalu, membuatnya mengantuk, entah sudah berapa kali ia menguap dan mengucek mata hingga tertidur. kejadian itu tak lepas dari pengamat Dion, yang sesekali melirik membuatnya menyinggung senyum tipis yang tak terlihat dari bibir tebal itu.
Malam hari tiba. Dion dan Lidia dalam perjalanan, pandangan Lidia melirik Dion yang tampak sedikit pucat. Namun ia tak berani bertanya sebab kejadian tadi ia di larang berbicara.
Tampak acara pesta ini penting terbukti pengawasan ketat dan banyak bodyguard berjaga di luar dan di dalam. Jujur ia sering sendiri menghadiri acara - acara ketika mewakili brandnya hingga bersama member red white, namun kali ini sangat berbeda dari biasanya.
" selamat malam tuan" ucap beberapa pengusaha bisnis dengan hangat. Mereka sangat senang bisa bertemu dengan pengusaha sukses yang paling di senangi di negara hingga mendunia. Apalagi kekayaan turunan menurun mereka sangat berjaya.
Banyak sekali wanita yang menggoda dan merayu Dion. Walaupun terlihat jelas pria itu sudah memiliki kekasih tepat di sampingnya. Namun berakhir pengusiran yang mereka terima.
"ssh" desis Dion memegang kepalanya yang terasa berkunang - kunang.
"Kita pulang ya" tanya lidia begitu khawatir dan di angguk.
__ADS_1
" Justin...kamu saja yang menggantikan saya" ucap Dion. Mau bagaimanapun tetap harus profesional.
Di dalam perjalanan tampak dion memejamkan mata. Sebelumnya tadi saat Dion hendak menyetir namun di tahan Lidia.
" di...kamu udah makan" tanya Lidia namun hanya di balas gelengan.
Sesampainya di mansion, Lidia langsung beralih ke dapur untuk membuatkan makanan walaupun sudah di larang kepala pelayan.
" Sekarang kamu makannya" ucap Lidia begitu perhatian dan hendak menyuapi. Tiba - tiba keringat dingin membasahi tubuh Dion membuat Lidia panik.
" sebenarnya ada dok" tanya Lidia. Dimana kejadian tadi langsung menelepon dokter pribadi keluarga Dion one Alexander.
Dokter pun menjelaskan bahwa Dion kecapean sehingga tubuhnya dehidrasi dan juga ia memakan udang yang membuat alergi nya kumat, jelas dokter.
" Jadi dia alergi udang" ucapnya dalam hati. merasa bersalah sembari menatap wajah pucat Dion. Tertidur akibat obat yang di berikan dokter sebelum ia pergi.
" Aku bahkan tak tau kalau kamu alergi terhadap sesuatu" lirihnya merasa insecure, Karen sebagai kekasih ia tak tau dalam tentang pria di depannya.
merasa tak di butuhkan Lidia lantas mengambil tas nya dan hendak pergi. Namun sebuah tangan kekar menggenggam tangannya.
" jangan pergi" ucap Dion pelan dengan mata terpejam " jisoo" sembari menggeleng kepalanya dan mengeratkan genggamannya. seolah sangat takut kehilangan.
" deg"
" lagi" ucap Lidia. kejadian ini terulang kembali ketika ia merawat Dion. Bohong kalau ia tak sakit hati dan cemburu melihat kekasihnya menyebut perempuan lain. Walaupun ia hanya pacar kontrak atau lebih tepatnya budak dari ucapan pria itu.
" iya kau disini" gumamnya dalam hati sembari mengusap kepala Dion dengan penuh kasih sayang.
" sampai titik lelah ku hingga saat itu juga aku pergi" lanjut Lidia menatap Dion dengan penuh ketulusan.
Ya, dia bertekad untuk mendapatkan hati kekasihnya walaupun pria itu hanya menjadikan dirinya sebagai alat untuk mendapat wanita yang di cintai kekasihnya.
__ADS_1
Namun ia berjanji untuk lebih ekstra berjuang apalagi 2 Minggu ke depan tak ada jadwal dan kegiatan untuk member red white. Malam itu Lidia sibuk mencari cara agar mampu meluluhkan pria lewat internet yang ia baca dan lewat video yang ditonton.
Hingga tak terasa waktu terus berjalan, namun Dion tak melepas genggaman malahan semakin erat. Membuat matanya tak tahan lagi dan akhirnya tertidur di samping pria itu.