
pagi - pagi sekali Lidia sudah sibuk di dapur dengan di temani beberapa pelayan karena ia bersikukuh untuk membuatkan makanan.
" Jadi makanan favorit Dion itu Bana" ucap Lidia bertanya kepada kepala pelayan mengorek - ngorek informasi.
" Iya non, karena tuan bisanya sedang sakit meminta menu itu" jawab kepala pelayan dengan sopan. Dan pembicaraan pun selesai setelah makanan semua di hidangkan di atas meja dengan rapi.
" bik ini nggak salah" tanya Lidia begitu terkejut melihat begitu banyak makanan tertera di meja bahkan ia tak sadar jika itu akan di hidangkan. Lidia berpikir jika masakan yang banyak untuk pekerja sendiri namun ternyata hal yang di luar prediksi.
" Tidak non" ucap kepala pelayan karena mereka sudah bisa melihat tuannya hanya makan makanan yang hanya dia suka sisanya akan menjadi menu makan para pelayan dan pekerja di mansion.
tok
tok
Entah sudah berapa kali Lidia mengetuk namun tak ada jawaban.
clek
" pintunya juga belum di tutup" gumamnya mencari keberadaan Dion namun tempat tidur kosong dan ternyata pria itu sedang mandi terdengar suara gemericik kan air.
Setelah sekian lama akhirnya pria yang di tunggu-tunggu keluar juga namun Lidia langsung menutup mata karena pria di hadapannya hanya menggunakan handuk sebatas pinggang nya. Jika kebanyakan orang merasa tergiur dengan tubuh sick pack berbeda dengan Lidia yang sedikit gemetar.
" Kenapa diam saja? ambilkan pakaian ku" ucap Dion dengan santai dan hendak melanjutkan perkataannya namun lidia sudah lebih dulu berlari ke arah walk in closed .
membuat dion sedikit mengerut kening dan tak peduli. Di dalam walk in closed Lidia terus mengumpat walaupun ia sering melihat hal itu Lidia akan menunduk dan tak berani menatap.
Lidia teringat beberapa hari lalu saat mereka syuting dan bermain air di pinggiran pantai terlihat alvino membuka baju saat ingin berenang. namun Lidia tetap menjaga pandangan mata bahkan berusaha bersikap baik - baik saja padahal kalau di perhatikan kembali terlihat jika tubuhnya sedikit gemetar.
Setelah sekian lama ia berdiam diri akhirnya mengambil pakaian untuk di pakai.
__ADS_1
Ya,pria itu tetap ingin berkerja walaupun Lidia sudah melarang. Sembari menunggu Dion mata tertuju pada satu foto dinding yang terpanjang namun ia tak terlalu memperhatikan.
" foto ini kan " Lidia ingat betul sewaktu ia main ke ruangan jisoo. jisoo bercerita tentang masa kecil mereka sembari memperlihatkan album foto mereka. Ternyata kedua orang tua mereka sepakat ingin menjodohkan mereka namun ketika beranjak dewasa semua itu hanyalah angan saja. Sebab Kim - jisoo sudah menjatuhkan hati kepada pria yang sekarang menjadi kekasihnya.
" aku ingin makan di kamar saja" ucap Dion membuat Lidia bergegas mengambil dan kembali sembari menyuapi Dion.
Jujur Dion melakukan ini karena ia malu di suap oleh Lidia di lihat para pelayan namun entah mengapa dia selalu ingin dji suao oleh perempuan di sampingnya.
.
.
" Nggak pulang?" tanya Dion yang merasa Lidia lebih agresif dari biasanya.
" Enggak " ucapnya dengan singkat sebab menahan perutnya sakit tapi Dion tak peduli dan menatap ke arah handphone yang digenggam ya.
Bosnya orang yang paling sangat suka dengan menyendiri dan pendiam namun jika bersama nona jisoo semua akan berbeda.
Lidia hanya berdiam sambil memegang perut ya terasa sakit entah kenapa. Dion dan asistennya sedang meeting meninggalkan Lidia Tampa sepatah kata.
" duh...aku kenapa ya" gumamnya pelan bingung dan teringat sesuatu membuat terkejut berlari kecil ke arah kamar mandi khusus pribadi punya Dion.
" Astaga!! gimana ini" pekik Lidia terkejut melihat decak darah di rok yang ia pakai. Dan yang lebih parahnya ia lupa membawa yang seharusnya ia bawa untuk berjaga-jaga.
Suara pintu ruangan terbuka membuat Lidia mengintip dengan menyembulkan kepalanya.
" Justin"
" Nona" ucap Justin sedikit kaget dan makin kaget lagi saat dengan ucapannya nyonya nya. Tadi Justin ingin meletakkan berkas yang sudah ia kerjakan setelah selesai meeting dan tuannya masih di ruang meeting membicarakan sesuatu yang dia sendiri pun tidak tau.
__ADS_1
" tapi..." belum siap ia mengatakan sesuatu namun sudah di marah - marahin namun tak membuat nya terkejut karena sewaktu adiknya mentruasi sama persis.
" aduh lama benget sih" gumam lidia sembari mondar-mandir di kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan membuat Lidia merasa lega dan berterima kasih.
" syukur lah" sembari membuka pintu dan ia terkejut melihat pria ia cintai sudah dalam begitu dengan Dion namun wajahnya tetap datar ia pikir perempuan di hadapannya sudah pulang karena tasya pun tak ada lagi.
Namun Dion tak bertanya apapun dia tetap melanjutkan perkejaan yang sedang menumpuk apalagi sekarang dia harus mengurus perusahaan keluarga besar milik one Alexander.
Lidia begitu senang karena pria dingin ini terus menguyah masakan yang ia masak tadi pagi. Bahkan terus mencari topik untuk berbicara karena yang ia lihat dari tadi pria itu hanya bermain handphone.
" bisa diam" suara dingin yang Mampun membuat orang sekitarnya merasa merinding. Membuat lidia langsung kincep.
" clek"
pintu terbuka membuat si empunya marah namun tak jadi karena melihat orang di depannya dengan senyuman.
" Mulai" ucap Dion dia akan terus di goda dengan sang mommy tercinta.
Ya, orang yang masuk itu adalah nyonya utama dan sekali Gus istri tercinta dari sang Daddy.
" Aduh...mommy ganggu ya" goda mom Jesica tersenyum sambil cipika cipiki dengan calon mantu.
Entah kenapa melihat sang mommy tercinta lebih peduli dengan orang lain ia merasa tersisihkan. mom Jesika merasa seseorang menatap nya membuat ia tersenyum melihat lirik kan putranya ia tau betul bagaimana sewaktu putranya masih tinggal di mansion. sang suami dengan putranya akan berebutan atau memang lebih tepatnya keluarga klan besar one Alexander memiliki sifat posesif sekali pun ia bersama dengan perempuan.
" kayaknya ada yang cemburu" bisik sang mo Jesika kepada calon menantunya membuat ia menoleh ke arah Dion dan benar saja wajah pria itu sedikit cemberut membuat ia tersenyum.
" Anak mommy..." ucapnya sambari menghampiri dan memeluk putra tunggalnya yang amat ia sayangi. Namun yang di peluk hanya diam jujur ia malu ada orang melihatnya. Entah siapa pun itu namun jika di mansion beda halnya.
" Kenapa? malu" bisik sang mommy namun bukan berbisik melainkan sedikit berteriak agar Lidia bisa mendengar. Walaupun dalam hati Dion malu namun ia tetap memperhatikan wajah datarnya.
__ADS_1