Cintai Aku Dion

Cintai Aku Dion
part 33


__ADS_3

"Oh, ****" Dion merasa benar-benar kesal dan bingung bersama. Sudah di pastikan rencana yang ia susun pasti berantakan kalau sudah Daddy yang bertidak langsung.


"Tok"


"Tok"


"Tuan hari ini kita ada pertemuan dengan perusahaan Ferguson" ucap Justin menyampaikan kegiatan tuanya yang di laksanakan hari ini.


"Mmm... Kita kesana sekarang" ajak Dion tak ingin membuang - buang waktu. Ia hanya berharap rencana ini tak diketahui Daddy nya.


"Baik tuan" mengikuti tuannya dari belakang.


Sesampainya salah satu restoran mewah di ruangan VVIP yang sudah di pesan. Terlihat seorang patuh baya dan asisten berdiri di belakang tuanya menuggu tamu penting.


Tak lama kemudian tamu tersebut datang bersama asisten nya dari belakang tuannya.


"Selamat datang tuan" ucap paruh baya dengan tegas.


"Ya" singkat.


Setelah meeting selesai mereka saling berjabat menandakan sepakat menjalin kerja sama antara perusahaan.


"Terimakasih atas kebaikan anda" ucap pria paruh baya dengan senyuman tipis. Merasa lega perusahaan mendapatkan dana untuk mengembalikan perusahaan. Dan tentunya tak bisa tinggal diam saat perusahaan peninggalan papanya jatuh begitu saja.


"Semoga hubungan anda dengan nyonya Lidia sampai di pelaminan" lanjut paruh baya dengan tulus walaupun nada tegas.


"Terima kasih begitu dengan anak anda" jawab Dion tak kalah tegas. Namun tidak ada yang tau ucapan itu hanya belaka kebohongan.


Ya, tuan Alex ikut membantu perusahaan peninggalan sang papanya. Walaupun sekarang sudah ia serahkan kepada anak satu - satunya putranya dan dua saudara perempuan sedang fokus mengejar mimpinya.


Di mobil Dion merasa ada yang hilang, namun ia tak tau apa. Bahkan entah sudah berapa kali melihat layar handphone, hal itu tak luput dari pandangan Justin sang asisten sedang menyetir mobil.


.


.


Berbeda dengan Lidia yang tampak sibuk bermanja - manja dengan nenek tercinta nya. Sudah lama ia tak mengabiskan waktu dengan nenek tercinta.


"Nek...dulu pertama kali ketemu sama kakek dimana" tanya Lidia penasaran dan menikmati usapan lembut dari nenek.


"Pertama kali di sekolah menengah keatas. Dulu nenek kelas satu dan kakek kelas tiga" mulai bercerita tentang pertemuan dirinya dengan almarhum suami tercinta. Sembari terus mengelus kepala cucu penuh kasih sayang.

__ADS_1


Sesekali mereka tertawa mendengar cerita Kakek punya sifat random. Lidia juga ikut senyum - senyum mendengar kisah cinta nenek dan kakek tampak romantis.


"Kalau mama sama papa, dimana nek?" Tanya Lidia lagi merasa penasaran kisah cinta kedua orangtuanya.


"Dulu kata mama kamu ketemu pertama kali di kantin tempat mereka kuliah" jawab nenek mengingat anaknya begitu dulu antusias menceritakan kisah percintaannya.


"Ah...so sweet"


"Iya dong, kalau cucu nenek lebih sweet lagi dong!!" Goda sang nenek.


Membuat Lidia terdiam seakan mengerti sesuatu terjadi "Nenek yakin kamu pasti lebih bahagia" timpal nenek tersenyum membuat Lidia duduk dan langsung memeluk erat neneknya.


"Makasih nek" lirih Lidia. Hanya itu yang bisa Lidia katakan seakan keluh mengatakan sesuatu yang sebenarnya terjadi.


"Nenek senang dengar nya nak" ikut memeluk cucu kesayangannya "kalau gitu tenang ninggalin kamu nanti."


Refleks Lidia terdiam mendengar ucapan sang nenek. Merasa dadanya sesak namun ia juga tak tau penyebabnya apa.


"Nenek..." Suaranya parau mendengar "nek jangan ngomong gitu" Isak Lidia tak sanggup membayangkan hal itu terjadi.


"Hei.... sayang" ikut sedih sembari mengusap air mata berjatuhan di pipi cantik cucunya. "Semua orang pasti akan kesana, kita nggak tau giliran kita kapan" menatap dalam Lidia yang sudah berjuang keras demi mereka berdua.


"Kita pasti akan ketemu lagi nanti di sana.." lanjut sang nenek tersenyum ikut merasa sedih.


"Makanannya sudah siap non" ajak bik Rian datang. Suasana yang sedih berganti tawa saat perut Lidia tak bisa dibajak kompromi.


"Hahaha" tawa mereka bertiga walaupun Lidia sebenarnya malu, namun ikut tertawa mengurangi rasa sedikit malunya.


Lidia menatap gedung menjulang tinggi di depannya. Ya, setelah selesai makan siang tadi sang nenek membujuk nya memberi makanan. Jujur sebenarnya ia sedikit malas, namun perintah neneknya maka ia datang kembali kekantor Dion.


"Tok"


"Tok"


"Masuk" ucap Dion sudah tau siapa yang datang sebab sudah di info anak buahnya.


"Hai Dion.."


Dion langsung menoleh mendengar suara itu, namun ada hal lain membuat ia mengerutkan kening melihat mata perempuan di hadapan nya sedikit sembab.


"Em...ini aku bawa makanan" ucap Lidia sambil mengerjakan tugasnya seperti biasanya.

__ADS_1


"Ehm...." Deheman seseorang yang datang tanpa mengetuk terlebih dahulu. Membuat kedua insan menoleh, jika Lidia terkejut melihat seseorang datang maka Dion tidak sama sekali.


Di ruangan itu tampa ke tiga manusia berbeda usia duduk diam di sofa ruangan Dion yang luas.


"Daddy sudah menentukan tanggal pernikahan kalian" ucap Daddy Albert dengan tegas memulai percakapan terlebih dahulu.


Mendengar hal itu mendadak Lidia terdiam sembari menatap kedua pria beda usia di hadapannya.


"Daddy....beri kami waktu dulu saling mengenal lebih dalam" menyela Dion yang ingin berucap sembari memegang tangan Dion.


"Berapa lama lagi!!" Tanya mom Jesica tiba - tiba datang membuat ketiga menoleh bersama.


"Mom" lirih Dion pelan merasa pusing dan pasti akan sesuatu terjadi.


"Beri kami waktu tiga bulan lagi mom...dad" jawab Lidia dengan cepat membuat ketiganya menatap. Namun tatapan dion sedikit berbeda di antara kedua paruh baya.


"Untuk lebih mengenal lebih dalam dalam" lanjut Lidia. Entah apa maksud dari tujuan itu, namun sudah pasti ada hal yanga akan terjadi.


"Baiklah!!" Pada akhirnya mereka sepakat. Berbeda dengan Dion hanya diam tanpa mengatakan apapun.


Setelah kedua paruh baya pergi, Dion langsung menekan tombol otomatis pintu ruang terkunci.


"Apa maksudmu? hah!!!" Bentak Dion mencekam pipi Lidia dengan kuat.


Lidia hanya menatap menunggu perkataan Dion selanjutnya. "Bahkan sampai mati pun aku tak sudi menikah dengan perempuan murahan seperti mu" ejek Dion menatap tajam perempuan yang amat berani mengatakan hal yang tak akan pernah ia lakukan dengan perempuan mana pun apalagi wanita di hadapannya.


"Duar"


Bak tersambar petir, hancur dan amat terasa sakit mendengar perkataan menyakitkan ini. Air mata yang ia tahan sejak tadi berjatuhan tampa diminta.


"Sakit!" Lirih Lidia.


"Apa yang sakit?Hem.." Bukannya melepaskan cengkraman. Dion justru semakin mencekam kuat.


"Semua nya dion.... semua" teriak Lidia dalam hati.


Bagaimana tak sakit hati cintanya bertepuk sebelah tangan apalagi di tambah dengan perkataan menyakitkan dari pria yang ia cintai dan ada satu lagi lebih menyakitkan, ia alat untuk mendapatkan perempuan di cintai Dion.


"Enyahlah...dari hadapanku" menghempas tumbuh Lidia.


"Bruk"

__ADS_1


Tubuh Lidia jatuh terhempas ke lantai. Lidia hanya diam menikmati segala sakit yang sudah biasa dari dulu ia dapat. Lidia mencoba bangkit, walau tubuh dan wajahnya terasa sakit.


Saat hendak pergi setelah Dion menekan tombol membuka kunci pintu. Namun sebelum itu Lidia mengucapkan sesuatu membuat Dion tertegun mendengar kata - kata ucapan lidia.


__ADS_2