
Yuna segera mencari ojek untuk menuju Rumah Sakit AULIA. Entah lah fikirannya kacau.antara menyesal dan khawatir.
setelah sampai Yuna menuju tempat informasi.
"permisi apa disini ada pasien yang hari ini masuk namanya Heri?"kata yuna kepada petugas Rumah sakit.
"tunggu sebentar ya "kata petugas itu. sambil mengecek nama pasien.
"nama lengkapnya siapa ya bu,soalnya disini ada 3 orang yang bernama Heri"kata petugas.
"yang hari ini pingsan"kata Yuna
"maaf bu nama lengkapnya saja"kata petugas lagi.
"oooh ya udah bu makasih"kata Yuna kemudian lama nih orang mending telpon aja. kemudian Yuna menelpon ke nomer Heri. Dan akhirnya telpon diangkat.
"hallo"kata Yuna
"sayang, kamu jangan selingkuh ya nanti aku bisa mati dan aku ga mau kita putus"kata Heri dan Yuna mengenali suaranya Heran kemudian mengecek hpnya. beneer nomer Heri.kemudian ditempelkan lagi ke telinga.
"haaah maksudnya katanya sakit, beneran apa nggak? trus sekarang ada di mana?"kata Yuna kesal.
"hallo hallo ini mb my sweet ya?kok diam aja"kata seseorang membuyarkan lamunan Yuna.
"oooh iya... maaf mas saya udah dirumah sakit AULIA,
Heri ada dimana?"kata Yuna.
"ini mb ada di UGD,kesini aja mb"kata orang itu. jantung Yuna berdetak kencang mendengar kata UGD. dan Yuna segera menuju UGD. dan mencari sosok Heri .
Akhirnya dia melihat seorang pria yang terbaring di ranjang sedang di pakaian alat untuk nafas dan ada seorang pria dan seorang wanita cantik bersamanya.
"permisi saya mencari pasien yang pingsan di Selly Center"kata Yuna.
"oooh iya kamu may sweet ya,sebelah sini"kata cowok itu mengarahkan Yuna untuk mendekati Heri yang masih blom sadar.
"kamu istrinya ya"kata Gadis cantik itu pada Yuna.
"bukan bukan"kata Yuna lagi hah apa dia pacarnya Heri atau siapanya yah
"oooh pacarnya ya?"kata Gadis cantik itu lagi
"aah sebenernya saya temenya"kata Yuna akhirnya.
"ooooh, ga apa-apa yang penting kenal kan sama dia"kata Gadis itu akhirnya
"iyah soalnya kami nggak tahu nomer keluarganya hanya lihat panggilan terakhir ke my sweet aja, kalo gitu kamu aja yang hubungin keluarganya,kami harus pergi ya"kata cowok itu oh ternyata mereka pasangan aku kira cewek itu pacar Heri.
"iya maaf ya kami harus tinggalin ya"kata gadis cantik itu
"kami pamit yah ini hpnya"kata cowok itu memberikan hp Heri pada Yuna
"oooh iyah terrimaksih ,saya akan segera hubungi keluarganya"kata Yuna padahal aku juga nggak tahu keluargannya.
kemudian cewek dan cowok itupergi meninggalkan Yuna .entah kenapa Yuna juga tak bisa berkata apa-apa padahal dia juga nggak tahu harus berbuat apa?. didekatinya Heri yang masih blom sadar. Di cexnya kontak Heri. dicari nama mama atau papa tetapi tidak muncul kemudian ayah ibu ga ada juga lalu nyokap bokap,apa mungkin father mother.
"ah apa mungkin dia ga punya orang tua"kata Yuna di sebelah Heri. Ditatapnya wajah tampan dan imut Heri. kenapa ga sadar-sadar sih. Yuna berinisiatif memegang tangan Heri dan digenggamnya dengan malu-malu.
"aku minta maaf,kamu sadar donk sekarang,aku ga tahu harus berbuat apa,aku ga,tahu cara ngubungin keluarga kamu,kalau kamu kenapa-napa aku harus bagaimana, ayo sadar donk,kamu tahu gak? aku sempat bahagia jadian sama kamu,walau cuma sebentar, tapi jangan ninggalin aku seperti ini,aku ga mau melihat orang mati didepan mataku"kata Yuna terdengar agak berat dan bergetar karena menahan air mata. Tiba-tiba Heri menarik genggaman tangan kedadanya. dan duduk perlahan. Yuna sedikit terkejut namun membiarkan tangannya di genggam ke dada Heri.
"kamu tenang saja aku tidak akan mati di depan matamu"kata Heri tersenyum. sesaat Yuna Ragu kalau Heri pinsan jangan-jangan dia denger semua omongan aku? namun wajahnya Heri tampak pucat sekilas membuat Yuna hanya tersenyum getir.
"kamu sudah sadar, tolong lepasin tanganku, dan beri tahu aku nomer orangtuamu biar aku hubungi mereka sekarang"kata Yuna menarik tangannya namun genggaman Heri cukup kuat.
"kamu bisa gunain tangan kirimu itu buat telpon,tangan yang ini milikku"kata Heri tersenyum nakal. sambil memindahkan tangan Yuna ke pipinya dan kelehernya. Yuna nyengir namun merasakan suhu badan Heri cukup panas.
__ADS_1
"aaah lehermu panas sekali nanti tanganku bisa melepuh nanti"kata Yuna garing supaya Heri melepaskan tangannya. Benar saja kalimat itu mampu melepaskan tangannya.
"aku baik-baik saja sebaiknya kita segera pergi dari sini"kata Heri berbicara agak berbisik kearah Yuna.
"kenapa ?bagaimana dengan orang tuamu biarkan aku mengabari mereka"kata Yuna
"kemarilah"kata Heri meminta Yuna mendekat kearahnya. kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Yuna.
"jangan membuat banyak orang khawatir,lagi pula aku tak punya uang banyak,sebaiknya kita segera pergu dari sini sebelum tagihan membengkak"kata Heri berbisik di telinga Yuna.
"tapi..."kata-kata Yuna terhenti tatkala ada dokter dan suster mendekati mereka.
"selamat siang, ooh sudah sadar rupanya, saya periksa dulu sebentar yah"kata Dokter itu kemudian memeriksa Heri.
"gimana dok saya bisa keluar sekarang kan?"kata Heri antusias.
"oooh begini sebelumnya saya harus menyampaikan beberapa hal penting apa ini kerabat anda"kata Dokter Rehan
"sebentar dok"kata Heri dan tangannya mengarah ke Yuna untuk mendekat padanya. kemudian bibir Heri mendekat ke telinga Yuna. lagi lagi dia membuat telingaku merah.
"tolong belikan aku celana ***m"kata Heri. Mulut Yuna langsung terbuka agak kesal.
"tolonglah rasanya gatal kalau nggak langsung ganti,sepertinya basah aku rasa aku ***l beliin sekarang"kata Heri agak memaksa.
"oke...oke"kata Yuna sambil mengangguk dan nyengir karena permintaan Heri yang aneh.
"aah dokter saya permisi dulu,ada hal yang urgent"kata Yuna.
"apa tidak bisa menunggu penjelasan saya"kata dokter Rehan
"tidak bisa dokter ini sangat mendesak sekali "kata Heri sambil menggoyangkan pantatnya membuat Yuna Risih dan ilfil. dan langsung pergi meninggalkan Heri dan dokter Rehan.
"silahkan dokter,katakan sekarang yang ingin anda sampaikan"kata Heri .Dokter Rehan sepertinya tahu kalau Heri sengaja menggunakan alasan untuk mengusir Yuna.
"baiklah dari hasil pemeriksaan tadi anda mengalami *** gejala dari penyakit *** "kata dokter Rehan dan Heri tersenyum.
"aku hanya tak mau membuatnya khawatir saja"kata Heri lagi dokter Rehan tersenyum
"untuk itu perlu pemeriksaan lanjutan ,agar lebih jelas untuk memutuskan tindakan apa yang harus diambil"kata Dokter Rehan.
"tidak perlu dokter,saya baik-baik saja,saya ingin keluar sekarang"kata Heri.
"anda masih harus istirahat, satu atau dua hari ini ,jika keluar hari ini kami tidak bertanggung jawab bila terjadi sesuatu" kata Dokter Rehan.
"iya saya tahu dokter, saya sangat sehat sekarang saya mau pulang sekarang,meskipun saya harus buat pernyataan"kata Heri Dokter Rehan tertegun melihat pasien yang keras kepala.
"baiklah,suster tolong ambil darahnya"kata dokter hendak pergi.
"baik dok"kata Suster Heni. kemudian hendak mengambil darah Heri.
"suster saya mau diambil darahnya tapi saya harus keluar sekarang"kata Heri.
"bapak yakin, dokter aja nyuruh anda buat istirahat 1 atau 2 hari"kata Suster Heni
"iya sus,saya akan istirahat di rumah 2 hari"kata Heri lagi
"kalo begitu bapak harus buat pernyataan" kata Suster.
"iya"kata Heri
"tunggu sebentar ya pak saya akan sampaikan kepetugas administrasi untuk menyiapkan segala sesuatunya"kata Suster Heni kemudian meninggalkan Heri. tak berapa lama Suster Heni kembali bersama seorang petugas administrasi membawa kertas dan setelah menulis pernyataan dan menandatanganinya diatas materai kemudian suster Heni kembali dan mengambil darah Heri.
"bapak bisa pulang sekarang,sebelumnya bapak ke apotek dulu dan kekasir untuk menyelesaikan administrasinya ya pak"kata suster Heni.
"terima kasih suster"kata Heri.
__ADS_1
sementara itu sebelumnya. Yuna sedikit kesal dengan permintaan Heri yang menurutnya aneh. kemudian menuju mini market terdekat. mengambil barang yang diminta oleh Heri sambil memperhatikan sekeliling apa ada yang memperhatikannya. setelah Itu dia ambil beberapa air mineral dan biskuit. saat membayar dikasir sang kasir senyum-senyum kearahnya. Yuna jadi malu-malu. setelah selesai membayar dia kembali masuk kerumah sakit. sambil membuka kantong kresek.
"yang bener aja, masa gue beli beginian,emank gue istrinya apa? lagian aneh kok bisa-bisanya mendadak minta beliin celana ***m kenapa bukan makanan coba,atau jangan-jangan ,dia sengaja nyuruh aku keluar supaya aku ga denger diagnosa dokter,awas aja"kata Yuna berjalan sambil terus menggerutu. dan saat Yuna sampai suster Heni selesai berbicara pada Heri dan melepaskan alat banru pernafasan pada Heri. lalu Heri mendapati Yuna sampai langsung bangun.
"ayo kita pulang"kata Heri namun Yuna cemberut dan menatap tajam.kearah Heri.
"ini tadi yang kamu minta,ganti dulu sana"kata Yuna menyerahkan plastik dari mini market.
"aaah eee iya,aku ganti dulu"kata Heri salah tingkah lalu membuka kantong kresek.
"kenapa membeli air mineral dan biskuit,kamu malu ya beliin celana ***m"kata Heri meledek dan yuna menutup telinganya dengan kedua telunjuknya.
"air sama biskuit punyaku,ambil saja yang punyamu,udah sana buruan ganti,dasar ga tahu malu emank, seorang lelaki dewasa ***l,atau kamu memang berbohong padaku untuk menyembunyikan sesuatu"kata Yuna menyindir sinis lalu menatap tajam kearah Heri.
Heri nyengir lalu segera mengeluarkan air mineral dan biskuit. dan membawa celana *** masuk kamar mandi. Heri berdecak .
"apa benar perlu ganti,tapi nanti dia curiga,baiklah sebaiknya aku ganti,aku hargai ketulusannya"kata Heri kemudian membuka bungkus celana ***m
"haaaah"
tak berapa lama Heri keluar kamar mandi dengan muka masam dan entah seperti malu-malu nggak jelas.
"ada apa melihatku seperti itu"kata Yuna sambil memegang air mineral.
"celananya kebesaran,kenapa kamu beliin aku size 3xl"kata Heri berbisik ketelinga Yuna sambil menggigit giginya. membuat Yuna tertawa terpingkal-pingkal.
"ssssst jangan berisik ini rumah sakit" meletakkan telunjuk ke bibir Yuna.
"trus di pake ga"kata Yuna sambil menahan keatawanya.
"yah terpaksa aku pakai"kata Heri lagi membuat Yuna ketawa lagi.
"memangnya beli nggak lihat dulu sizennya,kira-kira donk ukuran"kata Heri
"mana sempat lihat ukurannya, mana aku tahu ukuran celanamu"kata Yuna melirik kearah celana Heri sambil membuka air mineral dan meminumnya.
"ooooh, jadi kamu mau tahu ukurannya,mau aku tunjukkan sekarang"kata Heri menggoda Yuna hendak membuka celananya namun... byur wajah Heri tersembur air mineral dari mulut Yuna.
"sorry ga sengaja"kata Yuna kemudian berjalan dan Heri terdiam mengusap wajahnya yang basah dengan tanganya. lalu menyusul Yuna menuju.
Yuna tersenyum dan berbalik.
"katanya mau pulang,malah berdiri disitu"kata Yuna menutup mulutnya. Heri mengerarkan giginya sambil mengumpat "dasar"
"tunggu aku harus ke kasir"kata Heri kemudian.
"ya udah aku tunggu disana ya"kata Yuna masih senyum puas.
Heri kemudian ke kasir dan Apotik yang bersebelahan.
"ini obatnya, semuanya 206 ribu sama materai tadi., habis mandi ya mas "kata petugas kasir sambil menyerahkan obat saat melihat Heri yang basah kuyup. Heri hanya senyum dan menoleh kearah Yuna yang terus senyum-senyum kearahnya. lalu membayarnya dan menghampiri Yuna yang masih senyum-senyum kearahnya. Kemudian mereka berjalan keluar dari Rumah sakit.
"senang kamu yah,"kata Heri kemudian timbul keisengan.
"ya sudah ,biar kamu tahu ukurannya ini bawa celana bekasku,jadi nggak perlu bayangin ukurannya"kata Heri sambil menyerahkan bungkus plastik pada Yuna. Uek...uek.. Yuna melemparkan kantong plastik ke jalan. Heri ketawa padahal sesungguhnya diapun tidak mengganti celananya.
"aku tidak benar-benar memberimu celana kotor"kata Heri memungut kembali kantong itu.
"aku tahu,aku tahu kau berbohong padaku"kata Yuna berhenti dan menatap Heri.
"kamu menyuruhku pergi, membeli celana ,supaya aku tak mendengar diagnosa dokter kan?"kata Yuna hah apa dia mendengar percakapanku dengan dokter yah pikir Heri menatap Yuna dengan sedikit khawatir.
"aku tahu tahu kamu berpura-pura sakit, dan takut aku mendengarnya dari dokter kan" kata Yuna lagi Heri bernafas lega.
"tapi tak apa dengan begitu aku tahu perasaanku sesungguhnya padamu"kata Yuna lagi.
__ADS_1
"oh ya,kalau begitu bagaimana perasaanmu sekarang kepadaku"kata Heri berjalan mendekati Yuna dan membuat Yuna mundur beberapa langkah.
"aku ...benar-benar sangat....marah,kesal,jengkel kepadamu"kata Yuna sambil memukul dada Heri dan gantian membuat Heri mundur.