Class 10 A

Class 10 A
00. Prologue


__ADS_3

Manda menarik pelatuk pistol Smith & Wesson 500 Magnum miliknya. Melihat keadaan semakin kacau Manda sadar bahwa ia dan teman-temannya akan semakin terpojok.


Manda kemudian melirik ke arah teman-temannya yang kini tengah sibuk menyebar ke berbagai sudut dalam ruangan besar nan gelap tersebut.


Dan dari salah satu teman-temannya yang tengah terpojok itu ada salah satunya yang bernama Sunwo yang terkenal sangat pengecut dan terkenal tidak bisa melakukan apa-apa hanya diam di salah satu sudut ruangan.


"Sial bagaimana mungkin aku bisa bergerak dalam keadaan gelap seperti ini, ditambah pula aku benar-benar tidak memiliki senjata apa pun untuk melawan." gerutunya pada diri sendiri.


Sunwo yang sibuk menggerutu tidak sadar bahwa ada sebuah benda berukuran besar tengah melayang ke arahnya.


BRUAK


Sebuah meja kayu berukuran besar melayang ke arah Sunwo namun sebelum meja itu tepat mengenai dirinya Xunlie berhasil menangkap meja tersebut lalu melempar balikan meja besar itu ke arah lawan.


Xunlie menengok ke arah Sunwo dan berusaha memastikan bahwa temannya tersebut dalam keadaan baik-baik saja.


"Sunwo apa kau baik-baik saja?" tanya Xunlie memastikan teman laki-lakinya tersebut.


Sunwo mengangguk. Kemudian matanya tak sengaja menangkap pemandangan ketika salah satu temannya yang lain kini nyaris meregang nyawa.


"Xunlie coba lihat di sana! Bukankah itu Sheery?" Sunwoo menunjuk ke arah Sheery yang kini telah terbaring lemah di bawah lantai dengan keadaan mulut yang mengeluarkan darah.


Xunlie yang langsung mendengar arahan Sunwoo sangat terkejut ketika mendapati teman sekelasnya itu dalam kondisi memprihatinkan. Tanpa pikir panjang Xunlie langsung berlari ke arah Sheery dan berusaha untuk menolongnya namun sayang belum sempat ia menolong Xunlie telah terlebih dahulu terkena dua tembakan senjata api di perutnya.


BRUAK


Xunlie langsung tumbang di depan mata Sunwo. Sunwo yang melihat teman itu telah jatuh tumbang membuatnya menjadi sangat panik dan nyaris tidak bisa berpikir apa-apa lagi.

__ADS_1


"XUNLIEEE!" jerit Sunwo. Sunwo menangkap tubuh temannya tersebut lalu membaringkannya di pangkuan. Dengan tangan yang gemetaran Sunwo terus menepuki pipi Xunlie berharap ia dapat membangunkan temannya yang tengah sekarat itu.


Xunlie yang kini telah di batas ambang kesadaran hanya bisa menatap lemah Sunwo lalu mengucapkan kata-kata terakhirnya dengan suara yang teramat pelan dan nyaris tak terdengar.


"Sunwo... kumohon tolong kau tinggalkan saja aku dan segeralah pergi selamatkan Sheery." katanya dengan suara yang terdengar sangat lemah.


Sunwo sangat ingin mengabulkan permohonan Xunlie namun sayang ia  merasa tidak sanggup bila meninggalkan Xunlie. Dengan air mata yang menetes Sunwo memeluk erat temannya tersebut. "Xunlie bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini. Kumohon Xunlie bertahanlah." pinta Sunwo.


Xunlie tiba-tiba saja batuk darah. Saat ini Xunlie berusaha untuk mempertahankan kesadarannya yang kian menipis. "Kumohon Sunwo ini adalah permintaan terakhirku padamu. Kau tahu sangat persis bukan bahwa aku sangat mencintai Sheery... kuharap kau dapat menyelamatkan gadis itu sebagai bentuk permohonan terakhirku padamu." ucapnya sebelum akhirnya ia memejamkan matanya. Rasa sakit yang kian semakin tak tertahankan telah meruntuhkan batas kesadaran yang dimiliki Xunlie.


Melihat Xunlie yang telah memejamkan matanya, Sunwo terdiam membatu di tempatnya. Permohonan terakhir teman akrabnya itu semakin mengiang begitu keras di dalam kepalanya. Dengan tangan yang masih gemetar Sunwo menurunkan tubuh Xunlie dari pangkuannya. Kemudian setelah ia menurunkan tubuh temannya tersebut Sunwo bangkit berdiri lalu dengan pikiran yang sangat kacau ia berlari meninggalkan tubuh Xunlie yang kini sudah ia tutupi dengan almamater sekolahnya.


Tanpa pikir panjang Sunwo menembus beberapa orang bersenjata tajam dengan sangat gesitnya. Meski pun ia tidak memiliki senjata sama sekali ia tetap nekat berusaha menolong Sheery. Dalam pikirannya hanya ada dua kata yaitu menolong Sheery.


Setelah berhasil menembus beberapa orang bersenjata Sunwo akhirnya berhasil mendatangi gadis tersebut. Dengan segera Sunwo mengangkat tubuh Sheery lalu memposisikan tubuh gadis tersebut senyaman mungkin agar mudah ia bawa dalam gendongannya.


Akhirnya dengan tergesa-gesa Sunwo berusaha mendatangi tempat Manda dan saat ia hampir berhasil mencapai tempat tersebut muncul dua orang berjas hitam serta bertubuh besar menghadangnya dengan pistol api.


Sunwo yang terpojok hanya bisa mundur secara perlahan-lahan. Saat ini ia sama sekali tidak memiliki senjata apa pun dan ditambah pula saat ini ia sedang membawa Sheery yang sedang dalam keadaan terluka parah.


"Sial jika begini terus aku akan semakin terpojok...." gumamnya pada diri sendiri. Mau tidak mau akhirnya Sunwo harus memilih untuk tetap nekat menembus pertahanan dari dua pria bertubuh besar tersebut.


Sunwo mengambil ancang-ancang lalu berlari ke arah dua pria besar tersebut dan berhasil melaluinya berkat celah yang diciptakan oleh kedua tubuh besar pria tersebut.


DOR


Mengetahui lawannya berhasil lolos begitu saja akhirnya salah satu dari kedua pria bertubuh besar itu menarik pelatuk pistolnya dan menembakan isinya tepat ke arah bocah laki-laki yang kini tengah berjuang untuk kabur sambil membawa temannya.

__ADS_1


Peluru itu meleset dan kebetulan juga Sunwo berhasil melewatinya karena dengan gesitnya ia berhasil menghindari peluru tersebut.


Merasa tembakannya lepas sasaran akhirnya kedua pria tersebut mengejar Sunwo yang kini larinya semakin kian melambat akibat tenaganya yang semakin terkuras habis.


Dengan keadaan tubuh yang semakin melemah akibat kelelahan Sunwo tetap memaksakan dirinya untuk berlari. Padahal ia sendiri tahu bahwa sudah hampir tidak memungkinkan lagi dirinya akan selamat. Ditambah pula ia sedang membawa Sheery dalam gendongannya.


DOR


Kali ini satu peluru kembali melesat dan berhasil mengenai salah satu bagian anggota tubuh Sunwo.


BRUAK


Sunwo tumbang dan Sheery yang dalam gendongannya pun juga ikut terjatuh secara bersaaman dengan dirinya. Darah terus mengucur deras dari kaki Sunwo yang berhasil terkena tembakan dari ulah si pria bertubuh besar. Meski pun kini Sunwo sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi namun ia masih belum mau menyerah. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang masih berada di tubuhnya Sunwo mencoba menyeret paksa dirinya untuk semakin mendekat dengan salah satu pria dari kedua pria bertubuh besar tersebut.


Dengan nekatnya Sunwo semakin mendekat tanpa rasa takut sama sekali pada dirinya yang sudah terpojokkan.


Sunwo menyeret paksa tubuhnya dan ketika ia sudah dekat dengan salah satu pria tersebut Sunwo langsung menggigit betis dari pria tersebut. Hanya satu-satunya cara perlawanan inilah yang bisa dilakukan oleh Sunwo.


"Sudah dikasih hati malah minta jantung. Dasar kau bocah bodoh!" umpat pria tersebut lalu menodongkan pistolnya ke arah kepala Sunwo.


Dengan wajah tersenyum penuh kemenangan pria itu menjambak rambut Sunwo agar dapat membuat remaja laki-laki itu melihat wajahnya dengan jelas.


"Apa kata-kata terakhirmu bocah?" tanyanya.


Sunwo tersenyum mengejek lalu dengan susah payah ia menunjukkan jari tengahnya pada si pria berjas hitam. "Wajahmu sungguh sangat jelek. Aku ingin muntah melihatnya." kata Sunwo tanpa rasa takut sedikit pun.


Si pria tentulah merasa sangat geram tanpa pikir panjang pria tersebut lalu menarik pelatuk dan menembakan peluru panas tersebut ke arah kepala remaja laki-laki malang itu.

__ADS_1


__ADS_2