
Babafemi yang mendapati perilaku tidak beres dari gurunya tersebut hanya bisa menjauh dan segera pergi dari sana. Seouli yang mendapati respon seperti itu langsung mengancam Babafemi seperti ini. "Hei nak beritahu saja asalmu darimana jika tidak aku akan memotong poin nilaimu dari kelas yang kuajarkan di sini." ancamnya.
Babafemi hanya bisa mengelus dadanya. Ia benar-benar menyadari bahwa guru-guru di sekolahnya selalu saja tingkahnya tidak ada yang beres. "Saya berasal dari Kairo Mesir dan saya sangat berharap seonsangnim
untuk tidak memotong poin saya hanya karena masalah sepele seperti ini." ucapnya dengan pasrah.
Seouli tertawa keras begitu mendapati respon muridnya tersebut. Ayolah anak-anak muda ini benar-benar masih sangat polos diancam sedikit saja langsung menurut. "Baiklah aku tidak akan memotong poinmu. Terima
kasih karena sudah merespon pertanyaanku." katanya senang.
Babafemi kemudian kembali ke tempat duduknya dengan langkah gontai. Ia sadar bahwa hari-harinya di sekolah ini tidak pernah berjalan dengan normal sekalipun. Mungkinkah sekolah ini merupakan bagian dari karma bagi anak-anak nakal sepertiku dulu? katanya dalam hati.
__ADS_1
Seouli menepukkan tangannya lalu berbicara seperti ini di depan kelas dengan suara nyaring. "Perhatian semuanya. Karena hari ini adalah hari pertamaku mengajar maka dari itu aku ingin kalian semua menunjukkan senjata milik kalian masing-masing!" perintahnya pada anak-anak kelas A.
Tidak seperti anak-anak kelas lainnya anak-anak kelas A dibekali senjata pribadi masing-masing. Dan kebanyakan dari senjata pribadi yang mereka punya adalah pistol dan senapan. Terkecuali untuk Ipeh dan Kurumi yang menggunakan panahan. Entah mengapa baik Ipeh maupun Kurumi keduanya tidak mau menggunakan senjata selain panahan. Meskipun tampaknya mereka berdua bisa menggunakan senjata selain panahan.
Semua anak-anak kelas A kemudian mengeluarkan senjata kepunyaan mereka masing-masing dengan rasa bangga. Seouli yang melihat senjata-senjata tersebut berdecak kagum. Rupa-rupanya anak kelas A sangatlah mahir dalam menggunakan senjata-senjata berlaras tersebut. Seouli bahkan dapat melihat seorang anak perempuan bertubuh paling kecil dalam ruang kelas tersebut tengah memegang Thunder 50 BMG.
"Wah... wah tampaknya kalian sangat mahir dalam menggunakan senjata ya. Hm, aku dapat melihat si mungil itu memegang pistol yang cukup mengerikan." ucapnya bangga. Namun setelah ucapan tersebut tiba-tiba saja Seouli merubah nada suaranya menjadi terdengar sangat tidak menyenangkan. "Sayangnya diantara kalian rupanya masih ada yang memakai senjata kuno seperti itu." Seouli menunjuk ke arah Ipeh dan Kurumi yang memegang panahan milik mereka. "Dengan senjata seperti itu kalian berdua bisa apa? Memangnya kalian ingin berburu ayam hutan? Bisa-bisa kepala kalian yang jadi buruan musuh." ujarnya sarkas.
Ipeh yang tidak terima langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia lalu berkata seperti ini dengan lantang di depan Seouli. "Seonsangnim bukankah sangat tidak sopan meremehkan seperti itu. Seonsangnim tidak berhak untuk meremehkan senjata kami berdua. Apa hanya karena senjata kami bukan senjata berjenis senapan ataupun semacamnya seonsangnim berhak untuk mengatai kami!" katanya dengan suara lantang.
"Memangnya apa yang bisa kau banggakan dari senjata kuno itu nak. Jika berada di medan tempur senjata tersebut hanya tampak seperti mainan anak kecil. Jangan mengada-ada pistol dan senapan adalah senjata yang paling terbaik." ujar Seouli.
__ADS_1
Ipeh menggeram kesal. Saking kesalnya ia pun menunjuk ke arah guru barunya tersebut dengan tidak sopan. "Seonsangnim... saya ingin menantang anda untuk melawan saya dan Kurumi-san untuk membuktikan bahwa senjata kami berdua tidak kalah jauh hebat dari senjata yang seonsangnim sebutkan tadi." tantang Ipeh. Ipeh benar-benar tidak menerima perlakuan buruk dari gurunya tersebut. Seorang guru seharusnya tidak berhak untuk meremehkan anak didiknya sendiri.
"Aku tidak tertarik pada tantanganmu. Kalau kau merasa ingin membuktikan kemampuanmu yang sebenarnya kau harus bisa memenangkan permainan ini." ucap Seouli.
"Permainan?" Seketika kening milik Ipeh berkerut begitu mendengar ucapan gurunya tersebut.
"Baiklah semuanya untuk tugas pertama kalian bersamaku. Khusus hari ini kalian harus memenangkan permainan yang aku buat untuk kalian semua!" Seouli mengumumkan sebuah permainan untuk kelas pertamanya mengajar.
"Permainan?!" Satu kelas serempak mengucapkan hal tersebut.
Seouli tersenyum. "Permainan ini akan menguji kemampuan bertahan kalian dari serangan musuh serta menguji kekompakan anggota tim kalian masing-masing."
__ADS_1
Berkat ucapan Seouli tersebut membuat anak-anak kelas A saling berpandangan satu sama lain. Entah mengapa tiba-tiba saja perasaan mereka semua menjadi tidak enak.
Seouli tersenyum lalu melep