
Khusus untuk anak laki-laki mereka semua tidur di dalam gudang bekas di sekolah mereka. Gudang bekas itu disulap menjadi kamar khusus untuk anak laki-laki kelas A. Karena tidak diberikan kamar asrama akhirnya
anak laki-laki kelas A saling bekerjasama menyulap gudang bekas milik sekolah mereka menjadi sebuah kamar yang bisa ditinggali dengan cukup nyaman.
Jujur saja ketimbang anak perempuan yang harus tidur di dalam kelas yang disekat untuk dijadikan kamar. Anak laki-laki sedikit lebih beruntung karena mempunyai tempat tinggal yang cukup layak. Ketimbang
dengan kamar kelas yang dihuni oleh anak perempuan.
Meskipun begitu gudang bekas yang ditinggali anak laki-laki juga sama memiliki kekurangan yaitu letaknya cukup jauh dari ruang kelas A. Mereka harus terlebih dahulu melewati lapangan besar untuk menuju tempat tinggal mereka. Namun beruntunglah karena mereka semua adalah laki-laki tulen tentulah hal ini bukan menjadi masalah besar. Justru berkat hal inilah mereka bisa meningkatkan kebugaran fisik mereka dengan berolahraga.
"Malas juga sih kalau berjalan cukup jauh hanya untuk pulang ke kamar. Tapi ya kalau dipikir-pikir rasanya kamar kita lebih layak ketimbang anak perempuan." kata Deimos membuka pembicaraa. Saat ini dirinya dan Bian tengah berjalan bersama-sama menuju kamar mereka.
"Iya." jawab Bian dengan singkat. Mood Bian tampak sedang buruk berkat insiden Mary tadi.
Deimos mendecak kesal ia lalu dengan sengaja memukul bokong Bian lalu menggodanya seperti ini. "Ck. Sudahlah lupakan saja yang tadi. Kau ini kenapa sih gampang sekali murung." katanya.
Bian hanya bisa mengoceh kesal kemudian mengacak-acak rambut Deimos yang bertubuh jauh lebih pendek dari dirinya. "Berisik cebol! Jangan sok dulu, tubuhmu itu masih pendek." ucap Bian tak kalah usilnya dengan yang dilakukan oleh Deimos sebelumnya.
"Kau yang harusnya sadar diri raksasa. Badanmu itu tidak sesuai pertumbuhan. Terlalu besar untuk ukuran remaja, kau itu lebih mirip dengan om-om preman pasar." ejek Deimos tak mau kalah.
"Tinggiku 180 cm di usiaku sekarang sangatlah normal Deimos. Lagi pula aku inimasih di masa pertumbuhan. Seharusnya kau yang lebih memperhatikan pertumbuhanmu. Kurasa kau masih agak pendek tinggimu saja
hanya 170 cm, bisa-bisa kembaranmu yang perempuan itu nanti menyusul tinggi badanmu." Bian tak mau kalah dengan ejekan Deimos.
Saking kesalnya mendengar ejekan Bian, Deimos langsung menendang tulang kering milik Bian. Dan alhasil remaja laki-laki itu kesakitan dan langsung memegangi kakinya.
"KAU INI KENAPA SIH, DIEJEK SEDIKIT SAJA LANGSUNG SENSITIF!" jerit Bian sembari menahan rasa sakit di kakinya.
Deimos tertawa puas. Bukannya malah meminta maaf, Deimos justru menjulurkan lidahnya keluar. Mengejek Bian yang tengah merasa kesakitan luar biasa. "******. Salah sendiri, ejekanmu itu benar-benar
keterlaluan." katanya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Bian hanya bisa mengomel kesal pada dirinya sendiri. Namun ia sama sekali tidak berniat membalas Deimos karena ia yakin Deimos akan semakin menjadi-jadi. Deimos akan berubah menjadi sangat mengerikan ketika batas kesabarannya sudah berada di ambang. Meskipun dia terlihat palingfeminin di kelas A namun jangan salah karena sebenarnya Deimos cukup ditakuti oleh anak laki-laki lainnya.
Penampilan luarnya terlihat feminin namun di dalamnya ia tetaplah seorang laki-laki jantan berparas cantik.
Bian yang notabenenya termasuk paling jantan kadang juga merasa malas ia sendiri harus berurusan dengan Deimos.
"Cengeng. Payah sekali kau ini." ejek Deimos dengan kekanakan.
Bian hanya bisa menabahkan hatinya dan memaklumi sifat temannya yang satu ini.
**********
Hari sudah semakin larut malam dan Manda belum bisa tidur. Sementara anak-anak perempuan lainnya sudah tertidur cantik dengan pose berjejer
bak ikan sarden.
Manda yang belum bisa tidur memutuskan untuk pergi keluar untuk mencari angin segar. Yah meskipun dia tahu yang ia cari bukanlah angin segar melainkan masuk angin.
Dengan perlahan Manda berjalan mengendap-ngendap, menggeser triplek pembatas kemudian membuka pintu kelas lalu segera keluar dari ruangan pengap tersebut.
CKLEK
Kini Manda sudah menutup pintu kelas. Dan berdiri di teras kelasnya.
__ADS_1
"Kau tidak pergi tidur?" tegur seseorang.
Manda terkejut kemudian ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah asal suara. Dan ketika matanya mengenali sosok tersebut dengan cepat Manda langsung membalasnya. "Kau sendiri juga sedang apa di sini Filip?
Bukankah ini sudah larut malam."
Filip kemudian berjalan ia lalu mendatangi Manda yang sedang berdiri di teras kelasnya. "Aku tidak bisa tidur. Dan biar kutebak kau pasti juga mengalami hal yang sama denganku." tebaknya.
Manda menjentikkan jarinya kemudian berkata seperti ini. "*That's right baby." * Manda kemudian menatap Filip sebentar lalu tersenyum sumringah. "Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat yang
mengasyikan?" tawarnya.
Tiba-tiba saja wajah Filip memerah. Ia mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ya tidak bisa disalahkan juga sih, Filip kan remaja laki-laki normal yang sehat ditambah pula yang mengajaknya pergi adalah seorang gadis. Jadi Filip mulai berpikiran bahwa mereka akan melakukan suatu hal 'lebih' untuk ukuran anak remaja.
Tanpa menunggu persetujuan dari Filip, Manda kemudian menarik tangan
Filip mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat yang mengasyikan baginya.
Sementara itu Filip hanya bisa berdoa pada Tuhan, agar dirinya tidak
kebablasan merusak masa depan seoseorang.
**********
"Asyik bukan? Kalau saja setiap hari aku bisa mengunjungi tempat ini,
pasti rasanya hidupku akan semakin menyenangkan." kata Manda dengan
perasaan senang.
kecewanya. Sungguh di luar ekspetasi. Tempat mengasyikan yang
dimaksudkan oleh Manda tak lain tak bukan adalah sebuah warung kecil
yang terletak tidak jauh dari kawasan sekolah mereka. Meskipun Filip
sangat hapal letak lokasi di kawasan sekitar sekolah namun untuk kali
ini ia baru saja mengetahui bahwa ada warung kecil yang tersembunyi
kawasan sekitar sekolah mereka.
Manda meniup-niup kuah mienya yang masih panas. Setelah dirasa mulai
mendingin Manda langsung menghirup kuah mie soto tersebut penuh dengan
khidmat. Gadis itu sangat menyukai mie rebus rasa soto yang dimasak di
warung 'tersembunyi' ini.
Filip yang melihat gadis tersebut makan dengan lahap tiba-tiba saja
hatinya berubah menjadi senang. Ah baru saja ia merasa kecewa namun
melihat gadis tersebut merasa senang seketika itu juga hatinya langsung
__ADS_1
berbunga-bunga bak taman bunga milik Bang Rhoma Irama.
"Aduh nak Manda, kok ndak lama ke sini? Simbok udah kangen." ucap mbok-mbok pemilik warung kecil tersebut.
"Manda sibuk akhir-akhir ini . Maaf ya simbok... oh ya simbok kenalin
ini teman sekelas Manda. Dia berasal dari Filipina." Manda mengenalkan
Filip pada simbok.
Simbok kemudian mengalihkan pandangannya pada si remaja laki-laki
asal Filipina tersebut. Dengan seksama simbok memperhatikannya dari
ujung kaki sampai ke atas rambut.
Filip yang merasa diperhatikan secara berlebihan seperti itu
membuatnya merasa tidak nyaman. Saking gugupnya Filip sampai tidak sadar
sudah mengunyah tiga buah cabai merah sekaligus.
Sudah puas memperhatikkan Filip, simbok langsung berkomentar dengan
penuh antusias seperti ini. "Oalah ganteng pisan. Memang ndak salah
pilih pacar ya si nak Manda ini. Aduh ganteng pisan... simbok jadi
pengen punya anak laki-laki." komentar simbok penuh antusias.
Filip yang mendengar komentar dari simbok terutama saat telinganya menangkap sinyal kata "pacar" membuatnya langsung tersedak kuah mie panas. "Uhuk... uhuk. Aduh simbok, kami berdua tidak punya hubungan
apa-apa kok. Kami murni berteman saja." sanggah Filip.
"Oalah pacaran juga ndak apa, simbok pasti tetap merestui hubungan kalian." kata simbok yang mendadak berubay menjadi agen biro jodoh.
Wajah Filip semakin memerah. Untuk mengalihkan rasa malunya Filip dengan sengaja menyibukkan dirinya sendiri.
Meskipun sedang dijodoh-jodohkan seperti itu. Manda masih tampak tetap tenang. Ia sama sekali tidak merasa salah tingkah seperti yang dilakukan oleh Filip.
"Simbok mah doyan banget menjodoh-jodohkan Manda. Simbok kalau lihat yang bening dikit aja langsung bawaanya pengen ngejodohin dengan Manda. Bukannya kemeren simbok pengen banget Manda pacaran sama Bian?"
"Nak Bian siapa ya? Memangnya simbok kenal sama anak itu?" Simbok tampak kebingungan.
"Simbok mah gampang lupa. Bian itu teman Manda yang suka mampir ke sini sama Manda. Bukannya simbok sendiri bilang Bian itu badannya mirip sama Mas Ade Rai... aduh simbok amnesianya suka kambuh." keluh Manda.
Simbok tampak berpikir sejenak ia berusaha mengingat siapa anak yang dimaksudkan oleh Manda. Terlintas di ingatannya ada seorang anak laki-laki bertubuh kekar yang doyan pesan mie goreng di warung kecilnya. "Oalah simbok udah ingat. Bian itu yang suka pesan mie goreng kan? Aduh piye ike simbok ini memang suka lupa." Simbok menepukkan tangannya ke dahi.
Filip yang tampak tidak mengerti dengan pembicaraan di antara Manda dan simbok hanya bisa merasa kebingungan.
*********
Sudah hampir setengah jam Manda dan Filip nongkrong di warung simbok. Dan tanpa sadar mereka berdua sudah melewatkan banyak jam tidur mereka.
"Oalah ini sudah jam setengah dua belas tengah malam. Kalian berdua tidak mau pulang?" Simbok menunjukkan arlojinya pada Manda.
__ADS_1
Manda dan Filip saling bertatap dan memberi kode bahwa mereka harus segera pergi dari sini. Manda kemudian menyerahkan dua lembar uang sebesar lima ribuan kepada simbok. Setelah menyerahkan uang tersebut pada simbok Manda dan Filip segera bergegas menuju kamarnya masing-masing.