
"Ya memang kau tidak bisa melakukannya." ujar Kurumi.
Mendengar ujaran Kurumi seketika itu juga Ipeh menjadi senang. "Kalau begitu tidak usah dilakukan oleh orang sepertiku bukan? Baguslah." katanya dengan senang.
TAK
Kurumi memukul kepala Ipeh dengan sebelah tangannya. Kurumi benar-benar merasa gemas dengan tingkah laku juniornya tersebut. "Baka, justru itulah karena sulit dilakukan kau harus berusaha lebih keras lagi. Kau ini memang tidak sayang dengan kesehatan tubuhmu sendiri. Bukan berarti karena kau masih muda lalu bisa dengan seenaknya makan sembarangan, justru karena kau masih muda kau harus bisa merawat kesehatan tubuhmu agar di masa senja kau tidak mengalami kesulitan dalam masalah kesehatan." ujarnya.
"Tapi bagaimana mungkin metode keras seperti itu. Bisa dilakukan oleh orang sepertiku." protes Ipeh.
Lagi-lagi Kurumi mendengus dibuatnya. "Bisa saja dilakukan asalkan tidak malas. Begini saja mari kita buat taruhan kalau kau menang kau tidak usah mengikuti metode makana yang kuanjurkan padamu itu. Tapi kalau kau kalah, kau harus mengikuti metode tersebut." tantang Kurumi.
"Ah malas. Terlalu banyak tantangan yang sudah kau buat. Sebelumnya kau menyuruhku untuk bisa memanah 10 anak panah sekaligus dalam waktu 4,9 agar aku bisa pulang lebih cepat, sekarang kau menantangku lagi dengan embel-embel ingin mengatur pola makanku." keluh Ipeh.
"Kalau kau setuju dengan tantanganku sebagai gantinya aku akan membuatkanmu masakan Jepang setiap hari dalam porsi besar. Selain itu juga aku akan mentraktirmu makanan ringan setiap hari. Kau juga boleh memegang kartu black cardku." Kurumi bangkit berdiri lalu berjalan menuju lokernya untuk mengambil black card miliknya yang ia simpan dalam tasnya. "Ini lihat baik-baik! Ini adalah black card asli, kau bisa mendapatkan akses apa pun yang kau mau hanya dengan menunjukkan kartu ini." Kurumi memperlihatkan black card miliknya pada Ipeh.
Ipeh yang melihat black card tersebut hanya bisa meneteskan air liurnya. Ia bisa membayangkan membeli sebuah pabrik makanan atau pun restoran mewah dengan black card tersebut. Ah ia juga bahkan bisa menyewa beberapa koki dari restoran bintang mewah hanya untuk memenuhi asupan nutrisinya.
Apakah seperti ini rasanya memiliki sugar mommy? tolong jadikan aku sugar baby mu Kurumi-san. ucap Ipeh dalam hati.
"Hei kau ini kenapa? Sadarlah!" Kurumi membuyarkan lamunan Ipeh yang sudah mengkhayal ingin dijadikan sugar baby.
__ADS_1
"Oh... ehm. Aku baik-baik saja. I'm so fine. Baiklah aku setuju dengan tantanganmu itu." Ipeh membentuk huruf O dengan jari jempol dan telunjuknya yang ia satukan.
"Ya sudah. Sebaiknya kita berdua cepat menghabiskan bekal kita masing-masing." Kurumi berbalik ke arah lokernya lalu meletakkan kembali black card ke dalam tas miliknya yang ia simpan di sana.
Akhirnya Kurumi dan Ipeh sibuk menghabiskan bekal mereka masing-masing.
*********
"Ngomong-ngomong bagaimana kabar dengan si anak Malaysia itu? Namanya Ipeh bukan? Saya paling suka dengan anak itu, selera humornya sangatlah bagus selain itu dia sangat mengerti kesukaan saya dalam urusan kuliner. Hohoho... aku sangat merindukan anak itu." Di luar ekspetasi rupanya Tuan Newyork menggemari anak yang paling tidak menonjol dalam kelas A dan bahkan nyaris di depak dari kelas tersebut.
Lagi-lagi Akarta hanya bisa terdiam. Dibandingkan dengan para petinggi sekolah lainnya yang lebih menyukai anak-anak yang memiliki prestasi serta bakat yang sangat menonjol Tuan Newyork malah menggemari anak yang paling terlihat biasa-biasa saja. Satu-satunya yang dapat Akarta toleransi untuk rasa suka Tuan Newyork pada Ipeh hanyalah karena mereka berdua sama-sama menyukai kuliner dari berbagai belahan dunia serta rasa humor yang sama-sama aneh. Tidak mengherankan karena Tuan Newyork sendiri terkenal dengan rasa humornya yang sangat begitu aneh serta lawakannya yang cenderung sukar untuk dimengerti. begitu aneh serta lawakannya yang cenderung sukar untuk dimengerti oleh kebanyakan orang.
"Kenapa kau terdengar pesimis saat melaporkan anak itu? Ku rasa bakatnya tidak kalah jauh hebat dengan anak yang kau laporkan sebelumnya." komentar Tuan Newyork.
"Kurumi maksud anda Tuan. Ah sepertinya anda sedikit salah paham mengenai soal ini. Tentu saja level di antara mereka berdua sangatlah berbeda jauh. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan anak itu tapi hanya saja memang benar bahwa anak itu sama sekali tidak berbakat." Tampaknya Akarta hanyalah tipe orang awam yang suka mengoceh banyak mengenai bakat seseorang.
Tuan Newyork yang mendengar hal tersebut sebenarnya tidak setuju dengan pendapat Akarta. Memang benar banyak orang yang meremehkan Ipeh namun Tuan Newyork sendiri yang memiliki mata tajam serta pengalaman tentulah tidak akan salah menilai bakat seseorang yang ditemuinya.
"Ku rasa keputusan Tuan untuk memindahkan Ipeh pada saat itu adalah kesalahan besar. Ipeh sendiri benar-benar tidak memenuhi kualifikasi yang ditetapkan pada anak-anak kelas A. Namun karena atas rekomendasi anda sendiri lah anak itu pada akhirnya tetap bisa memasuki kelas A." ujar Akarta merendahkan.
Tuan Newyork menghisap batang rokoknya ro dalam-dalam lalu menghembuskannya asapnya lewat mulut. Setelah melakukan itu ia lalu membalas ujaran Akarta. "Keputusan yang telah ku pilih tidaklah salah Akarta. Mungkin saja suatu hari nanti kau akan menyesal karena sudah merendahkan anak itu." balasnya.
__ADS_1
Akarta berusaha menahan tawanya ketika mendengar balasan dari Tuan Newyork. "Saya akan menanti kebenaran dari kata-kata anda tadi." katanya.
Sombong. pikir Tuan Newyork. Ia lalu kembali sibuk dengan rokoknya. Menikmati asap rokok yang dihisapnya itu memenuhi rongga dada miliknya.
"Tuan sebaiknya setelah ini kita harus pergi ke ruang latihan tinju untuk melihat hasil perkembangan latihan dari Bian. Saya dengar hari ini adalah hari pertandingannya melawan kelas B. Tuan Kepala Sekolah menyuruh anda untuk melihat sebentar pertandingan tersebut."
Tuan Newyork menghembuskan asap rokoknya. Ia lalu melirik ke arah pemuda tersebut. "Baiklah. Tapi sepertinya saya tidak akan bisa berlama-lama karena saya masih memiliki urusan lain." ucapnya.
Akarta mengangguk. Ia lalu berjalan berdampingan dengan Tuan Newyork menuju tempat latihan Bian.
*********
SAT
10 anak panah itu berhasil melesat dalam kecepatan 4,9 detik yang menandakan bahwa Ipeh sudah berhasil memenangi tantangan tersebut.
Kurumi yang melihat tantangannya berhasil dimenangkan dengan mudah oleh Ipeh membuatnya semakin bersemangat untuk melihat bakat Ipeh.
"Jangan terlalu cepat senang terlebih dahulu. Kau masih punya satu tantangan lagi dariku." Kurumi berjalan mendekati Ipeh.
Dengan wajah sumringah Ipeh berkata sepeti ini pada Kurumi. "Tantangan yang ada black card-nya kan? Tentu saja aku akan memenangkan ini dengan mudah." katanya dengan santai.
__ADS_1