
Manda berdecak kagum ketika mendengarnya. "Ou kalau begitu apa saja syarat yang perlu dikuasai untuk melakoni profesi ini?"
"Syarat yang perlu dikuasai untuk menjadi pemandu tur kuliner adalah memiliki wawasan yang luas untuk daerah yang akan dijelajahi. Setelah itu kau juga harus bisa mendapatkan izin untuk pergi ke dapur tempat pengolahan makanan yang akan kamu kunjungi sebagai bentuk pelayananmu pada wisatawan, tentulah para wisatawan akan mendapatkan kepuasan tersendiri saat mereka mampu melihat secara langsung pengolahan bahan makanan yang mereka santap. Dan selain itu yang terakhir ini sangatlah penting karena seorang pemandu tur kuliner sangat penting memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai sejarah kuliner. Rajin membaca buku serta rutin mencari informasi tentang berbagai kuliner akan menambah khazanah dalam mengisi tur yang lebih atraktif." jelas Ipeh panjang kali lebar.
Manda mengangguk menandakan bahwa ia sudah merasa puas dengan penjelasan yang diberikan oleh Ipeh.
"Bukankah setelah makan siang ini kalian ada kelas tambahan? Kenapa masih bersantai di sini, sebentar lagi jam makan siang akan akan berakhir." ujar seseorang yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Manda dan Ipeh.
"Kurumi-san... astaga aku benar-benar lupa soal ini. Ayolah apa sehari saja tidak bisa bolos?" Ipeh berusaha merayu Kurumi.
Kurumi menggebrak meja lalu dengan sangar dia menatap tajam ke arah Ipeh. "Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk ikut kelas tambahan ini? Tapi kenapa sekarang kau malah dengan seenaknya kabur dari tanggung jawabmu. Dengar Ipeh-san sekali saja kau bolos dari kelas ini maka akan kupastikan kau tidak akan pernah mendapatkan nilai bagus untuk mata pelajaran kebudayaan." ancam Kurumi.
Ipeh hanya bisa merengut kesal. Saat ini ia benar-benar merutuki keputusannya sendiri yang telah memilih kelas tambahan Kyudo.
"Seharusnya aku lebih memilih kelas tambahan untuk bagian mengulang materi pelajaran saja, bukannya malah memilih kelas tambahan untuk mengolah fisik." sesal Ipeh.
"Ck berharap saja kau ingin mengikuti kelas tambahan bagian materi pelajaran, nilaimu saja dibawah rata-rata. Kau sendiri tahu persis hanya merekalah dengan nilai rata-rata di atas standar serta peringkat sepuluh besar sajalah yang dapat mengikuti kelas tersebut. Dan untuk sisanya hanya bisa mengambil kelas tambahan bagian olah fisik serta olah ketrampilan saja." ujar Kurumi.
Ipeh yang mendengarkan ujaran itu semakin membuat perasaanya terpuruk. Ipeh sadar betul bahwa ia termasuk siswa dengan peringkat bontot yang membuatnya hampir tidak memungkinkan untuk mengambil kelas tambahan bagian materi pelajaran.
Manda yang melihat temannya yang tampak terpuruk itu hanya bisa menghibur dengan menepuk-nepuk bahunya. "Sudahlah Ipeh, mungkin ada baiknya juga kau semakin giat belajar untuk meningkatkan nilaimu. Siapa tahu setelah ini rangking bontotmu akan naik sedikit saja." hibur Manda. Meski pun berniat untuk menghibur mau bagaimana pun juga kata-kata Manda justru lebih terdengar seperti seseorang yang sedang mengejek.
Bukannya berhasil merasa terhibur Ipeh malah justru terlihat semakin pundung. "Baiklah kalian semua benar aku memang tidak pintar. Sebaiknya aku menyerah saja." ucapnya penuh keputus-asaan.
Melihat reaksi Ipeh yang semakin pundung justru malah membuat Manda dan Kurumi merasa menjadi tidak enak dengan Ipeh. Sepertinya mereka berdua menyadari bahwa kata-kata yang mereka lontarkan pada Ipeh justru membuat Ipeh merasa semakin putus asa.
Karena merasa bersalah akhirnya Kurumi berniat untuk memberikan sedikit kelonggaran pada Ipeh. "Dengar Ipeh-san karena kata-kataku tadi cukup menyakitimu sebagai bentuk permintaan maafku maka akan kuberikan kau sedikit kelonggaran. Kau boleh datang terlambat namun kau harus tetap untuk hadir dalam kelas tambahan." katanya.
"Apa sebaiknya bisa lebih dilonggarkan, bagaimana kalu sekalian saja tidak usah masuk kelas tambahan hanya untuk hari ini saja?" pinta Ipeh tanpa rasa bersalah. Bodohnya Ipeh malah meminta jantung saat ia diberikan hati oleh Kurumi.
Karena meras gemas dengan kelakuan kurang ajar Ipeh akhirnya tanpa sadar Kurumi memukul kepala Ipeh dengan nampan yang terletak di atas meja.
__ADS_1
Bruak
"Dikasih hati malah minta jantung, dasar kurang ajar kau Ipeeehhhh-san!" jerit Kurumi dengan perasaan yang begitu gemas.
Manda yang melihat aksi anarkis tersebut hanya bisa mengelus dada dalam hati sebenarnya ia ingin menolong Ipeh namun melihat keganasan dari seorang Kurumi seketika membuat nyalinya ciut seperti biji kacang kedelai malika.
Inilah pentingnya mengapa saat kita masih kecil perlu diberikan asli ekslusif bukannya malah diberikan air perasan jemuran. ucap Manda dalam hatinya.
Kurumi yang terlanjur marah kepada Ipeh akhirnya menyeret paksa Ipeh dari kantin dan segera membawanya pegi bersamanya.
Ipeh hanya bisa menjerit-jerit dan meminta tolong pada Manda yang sayangnya Manda sendiri acuhkan.
"Mandaaaa teman serumpunku, toooolooong akuuuuu dari iblis putih ini. Huwaaaaa...." jerit Ipeh sembari meronta-ronta berusaha melepaskan dirinya dari Kurumi.
Manda yang melihat kebodohan temannya itu hanya bisa terdiam dan berdoa dalam meminta pada Tuhan agar temannya itu segera diberikan rezeki berupa otak tambahan.
Kurumi menundukkan badannya ia lalu menyalami Manda dengan tatapan penuh arti. "Manda-san aku pinjam dulu temanmu ini. Semoga saja di kehidupan selanjutnya ia diberikan otak yang sedikit lebih pintar." ucapnya penuh penyesalan.
Dengan ekspresi wajah yang tak kalah serius Manda balik menyalami Kurumi. "Semoga saja Kurumi-san. Aku juga sangat berharap di kehidupan selanjutnya ia kebagian jatah otak yang lebih sedikit pintar." katanya tak kalah berlebihan.
Dengan berlinangan air mata Manda pun menyahut seperti ini. "Pergilah Kurumi-san. Kutitipkan teman rasa peliharaanku ini padamu. Tolong latih dia agar lebih sedikit beretika ke depannya." sahutnya tanpa rasa bersalah.
Kurumi menunjukkan jempolnya pada Manda lalu segera pergi dari kantin menuju ruangan kelas tambahan.
**********************************************
Setelah jam makan siang berakhir. Manda pun segera pergi dari sana untuk pergi ke suatu tempat yang menjadi kesukaannya di sekolah.
Berbeda dengan Ipeh yang mengambil kelas tambahan Kyodo yang bahkan sampai mendapatkan jemputan paksa an brutal, Manda justru tidak mengikuti kelas apa pun dan cenderung berleha-leha untuk menghabiskan waktunya.
Kalau begitu kenapa Manda tidak mengambil kelas apa pun? Jawabannya simpel itu karena Manda masuk dalam peringkat sepuluh besar yang tandanya ia bebas untuk mengikuti kelas tambahan atau pun tidak dengan sesukanya. Padahal seandainya saja ia sedikit lebih rajin dan mau mengikuti kelas tambahan mungkin saja ia akan mendapatkan nilai tambahan sekaligus berbagai keuntungan dari kelas yang bisa ia ikuti. Tapi sayangnya karena jiwa pemalas Manda terlampau kelewatan akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengikuti kelas apa pun dan malah lebih bermalas-malasan.
__ADS_1
Benar-benar tipe siswa yang kurang ajar dan sama sekali tidak berniat memajukan bangsa. Jika hanya lebih memilih bermalas-malasan bukankah sebaiknya tidak usah pergi sekolah saja?
"Manda... Manda... Manda." panggil seseorang.
Manda menoleh untuk melihat siapa orang yang memanggilnya. "Siapa?"
"DOR! INI AKU MARY." kata gadis itu sambil memeluk Manda dari arah belakang.
"Mary? Ya ampun, kenapa kau tidak mengikuti kelas tambahan?" Manda merasa heran karena pada pasalnya Mary sendiri mengikuti kelas tambahan bagian keterampilan olah musik.
Mary melepaskan pelukannya dari Manda lalu ia mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Manda hari ini kelas tambahanku sedang libur. Kau kira cuma kau saja yang bisa merasa bebas, huh." ucapnya kesal.
Manda mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "I'm sorry I should have known that you could take a day off too." katanya sengaja dengan berbahasa Inggris. Berhubung Mary berasal dari Inggris jadi Manda iseng mengunakan bahasa Inggris.
"Huh suddenly using English, aren't we currently in Indonesia. Gunakan bahasa Indonesia saja!" Mary lebih suka menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Inggris.
"Oke... oke. Ngomong-ngomong Mary kenapa kau memanggilku?" Manda terlihat bingung.
Mary tersenyum kemudian membentuk kedua jarinya seperti huruf V. "Aku ingin mengajakmu untuk pergi menonton pertandingan tinju Bian Sitticha. Kau tahu bukan aku sangat hmm... menyukai Bian." katanya malu-malu.
Manda mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu kau bisa menontonnya tanpa bersamaku. Bukankah akan terasa lebih menyenangkan saat menonton seseorang yang amat kita sukai hanya dengan seorang diri?" balasnya acuh.
Mary melotot kesal. "Yak dasar kau ini tidak peka! Aku malu kalau aku harus pergi ke sana seorang diri. Karena itu lah aku memintamu untuk pergi bersamaku." katanya kesal.
Manda hanya mengorek-ngorek kupingnya lalu membalas seperti ini. "Aku sedang tidak berniat untuk pergi menonton Mary. Ah bukankah kau tahu persis bahwa hari ini adalah hari istirahatku."
Mary menggeram. "Kau itu setiap hari kerjaannya memang hanya pergi beristirahat terus. Ya ampun bagaimana mungkin orang sepertimu bahkan bisa mendapatkan peringkat sepuluh besar." gerutu Mary.
"Aku pun juga sama herannya dengan dirimu." balas Manda semakin acuh.
Mary berdecak lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah yang ia lalu serahkan pada Manda. "Terima sogokanku ini. Kalau kau mau menemaniku pergi menonton aku akan mentraktirmu sepiring nasi goreng pedas laknat kesukaanmu itu. Bagaimana?" Mary pada akhirnya mau tidak mau harus memberikan sogokan terlebih dahulu pada teman laknatnya itu. Mary sangat tahu karakter Manda yang harus diberikan sogokan terlebih dahulu agar mau melakukan sesuatu.
__ADS_1
Dengan raut wajah yang terlihat jauh lebih bersemangat Manda membentuk tanda cinta dengan kedua tangannya yang ia letakkan di atas kepala. "Sayaaanng sama Mary. Ayo kita segera pergi berangkat sayangku." katanya kegirangan.
Mary hanya bisa berdoa dalam hatinya meminta pada Tuhan agar temannya itu bisa sesegara mungkin diberikan azab atas dosa-dosanya yang suka memeras temannya sendiri.