
PRANG
Kaca jendela itu pecah berkeping-keping dan seluruh anggota dalam ruangan tersebut langsung terdiam dan menjaga mulutnya masing-masing. Sudah menjadi ciri khas bila terjadi sesuatu kekacauan dalam pertemuan haruslah di akhiri dengan kekerasan yang bersifat mengancam keselamatan semua anggotanya.
Melihat aksi pemuda tersebut Tuan Newyork yang bertindak sebagai selaku juru bicara kepala sekolah akhirnya memutuskan untuk mengakhiri rapat.
"Baiklah melihat kekacauan dan pertikaian di antara kelompok maka saya putuskan untuk membatalkan rapat hari ini. Silakan untuk tuan dan nona sekalian kembali ke ruangan guru. Dan bagi yang merasa memiliki waktu mengajar dipersilakan untuk segera pergi ke kelas. Sekian dan terima kasih." Tuan Newyork menutup rapat. Yang benar saja Tuan Newyork sama sekali tidak memulai rapat dan hanya menikmati sebotol bir Snake Venomnya saja, sejak awal rapat ini pastilah sudah berjalan dengan tidak beres.
Pria penengah yang bernama Akarta itu berjalan menuju pintu keluar lalu mempersilahkan anggota lainnya untuk segera pergi meninggal ruangan khusus ini.
"Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.Tuan dan nona semuanya semoga ke depannya kita dapat memulai relasi yang lebih baik dari ini." katanya sembari menahan pintu dan membiarkan satu persatu anggota meninggalkan ruangan tersebut.
Ketika semua anggota nyaris meninggalkan ruang tersebut dan kini hanya menyisakan Nona Seouli yang masih bertahan di dalam ruangan khusus tersebut.
"Anda tidak pergi dari sini Nona Seouli?" tanya Akarta dengan sopan.
Seouli mendecih lalu menunjuk ke arah Tuan Newyork dengan jari telunjuknya yang terlihat sangat lentik. "Dia menyuruhku untuk bertahan lebih lama di sini. Jadi wajar saja aku tidak pergi dari sini bukan?"
Akarta menunduk. "Maafkan saya Nona Seouli. Saya tidak tahu bila Tuan Newyork memberi perintah pada anda." katanya.
Seouli mengacuhkan pria muda tersebut lalu ia segera berjalan mendekat menuju Tuan Newyork.
"Ada apa anda menyuruh saya untuk tetap bertahan di sini? Apa ada sesuatu misi yang ingin anda berikan pada saya?" tanyanya antusias.
__ADS_1
Tuan Newyork menyerahkan beberapa lembar kertas yang merupakan berkas penting untuk di serahkan pada Seouli. "Misi yang kali ini diberikan oleh Tuan Kepala Sekolah sangatlah penting kuharap kau dapat menjalankannya dengan sangat baik." ujarnya sembari menyerahkan lembar kertas tersebut pada Seouli.
"Apa ini?" Seouli terlihat kebingungan saat menerima kertas tersebut.
"Kau punya mata kan?" sindir Tuan Newyork. Tuan Newyork tahu persis kebiasaan buruk Seouli yang selalu bertanya tanpa terlebih dahulu tanpa memperhatikan penjelesan yang sudah diberikan.
Seouli mendengus kesal. Ia lalu membaca isi berkas tersebut dengan perasaan kesal. Namun seketika perasaan kesalnya itu berubah menjadi rasa terkejut yang begitu luar biasa ketika ia melihat sekilas isinya.
"KAU SINTING? KENAPA MEMBERIKAN TUGAS MEREPOTKAN INI PADAKU!" jeritnya.
Akarta yang mendengarkan jeritan tersebut bahkan nyaris merasa tuli mendadak. Dengan sopannya Akarta berniat untuk menegur tingkah laku buruk yang telah dilakukan Seouli. Namun niat baik itu urung seketika saat melihat Seouli memasang wajah garang yang teramat mengerikan.
Sepertinya kadar testosteron wanita itu kini jauh meningkat pesat mengalahkan milik pria-pria yang doyan pergi nge-gym.
"Kau dipilih berdasarkan kemampuanmu serta negara asalmu yang memiliki sistem pendidikan yang bagus. Saya hanya bertugas untuk menyampaikan pesan ini padamu, jadi saya tidak menerima protes darimu. Jika kau mau protes silakan kau datangi Tuan Kepala Sekolah yang sudah memberikan kebijakan ini padamu." kata Tuan Newyork.
Seouli menggeram. "Saya tidak menerima penambahan jam mengajar. Lagi pula saya tidak digaji untuk hal-hal seperti ini."
"Itu karena kau selalu bolos saat jam mengajar dan lebih memilih pergi keluar bersama teman-temanmu. Bukankah guru di Korea Selatan bisa dianggap setara dengan 'orang suci' tapi kenapa karaktermu cenderung berbalik dengan cerminan pengajar khas negaramu?" Tuan Newyork merasa heran dengan karakter buruk yang dimiliki oleh Seouli. Dalam pikirannya ia terus bertanya-tanya mengapa Tuan Kepala Sekolah bisa mempekerjakan wanita ini dengan karakter serta etikanya yang sangat buruk.
"Saya hanya akan mengajar Bahasa Korea saja selebihnya bukan tanggung jawab saya lagi. Lagi pula jatah saya mengajar hanya untuk kelas C bukan untuk kelas A." protes Seouli.
"Kalau begitu apa susahnya tinggal mengatur ulang jadwalmu. Lagi pula kau sengaja ditugaskan di kelas C hanya untuk mengisi kekosongan waktumu, karena kalau tidak mengajar kerjamu hanya menganggur seharian saja di kantor. Itu pun juga kau sering bolos saat jam mengajarmu tiba. Aku bahkan tak habis pikir kenapa Tuan Kepala Sekolah tidak segera mendepakmu dari sini." keluh Tuan Newyork.
__ADS_1
Seouli diam sejenak tampak ia sedang memikirkan suatu hal di dalam otak liciknya yang bagaikan rubah. "Begini saja naikkan gajiku maka aku akan mengajar kelas A sekaligus menjadi guru mata pelajaran yang diinginkan oleh Kepala Sekolah. Bagaimana?" tawar Seouli.
Tuan Newyork menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya gajimu sebelumnya masih di bawah umr?" Tuan Newyork tidak habis pikir melihat sifat serakah wanita asal negeri ginseng tersebut. Pada pasalnya wanita itu sudah menerima sekitar US$ 78 ribu atau sekitar Rp 1,12 miliar per tahun.
Seouli mendecak. "Ck, apa salahnya meminta kenaikan gaji? Lagi pula aku akan mengajar di kelas 'khusus' dan mata pelajaran yang kuajarkan pun juga bukan mata pelajaran sembarangan. Wajar saja jika aku meminta kenaikan gaji." tuntut Seouli.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Seouli bahwa kelas 'khusus' hanya bisa diajarkan oleh guru-guru yang dipilih langsung oleh kepala sekolah -guru yang mengajar di kelas itu akan mendapat tunjangan hidup yang bukan main-main serta mendapatkan hak spesial untuk menuntut langsung kepala sekolah atas jam mengajar yang telah mereka berikan.
"Anggap saja aku sedang menuntut hak spesial milikku Tuan Newyork." kata Seouli mengingatkan.
Tuan Newyork tampak berpikir sejenak kemudian langsung menjawab seperti ini. "Baiklah Nona Seouli sesuai kebijakan yang telah disepakati bersama sebelumnya, saya akan langsung menyampaikan hal ini pada Tuan Kepala Sekolah."
Seouli tersenyum penuh kemenangan. Saking gembiranya ia langsung melemparkan lembaran kertas itu begitu saja lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Tuan Newyork tiba-tiba saja merasakan migrain tiap kali berurusan dengan wanita sinting tersebut. Akarta yang melihat kondisi juru bicara kepala sekolah itu langsung bertindak sigap mengambilkan air minum untuk beliau.
"Akarta bagaimana mungkin Tuan Kepala Sekolah bisa mempekerjakan wanita sinting seperti itu di sekolah 'khusus' ini?" Tuan Newyork masih tak habis pikir.
"Mungkin karena bakatnya sehingga Tuan Kepala Sekolah mengizinkan dia untuk bekerja di sini sebagai seorang guru. Tuan tolong diminum dulu airnya." jawab Akarta.
Tuan Newyork meminum airnya lalu membuang nafasnya dengan berat. "Meski pun bakatnya sangat luar biasa namun etikanya sangatlah buruk. Ia bahkan kurang lebih mirip dengan pegawai negeri yang hanya doyan titip izin hadir namun tetap memperoleh gaji."
Akarta mengangguk. "Dia benar-benar contoh guru yang suka makan gaji buta." katanya menyetujui.
__ADS_1