Class 10 A

Class 10 A
21. Hello Morning


__ADS_3

Keesokan Pagi Harinya Di Ruangan Para Guru


Winchester menyantap muffinnya dengan sangat elegan. Meskipun ini hanyalah acara sarapan biasa namun , Winchester sendiri seolah membuat sarapan pagi kali ini terkesan mewah dan berkelas.Orang-orang yang


berada di sekitarnya merasa kagum dengan cara makan pria muda tersebut.


"Sungguh harus kuakui cara makannya sangatlah baik. Ia terlihat sangat elegan walaupun menu sarapan pagi ini sangatlah sederhana." puji Dubai.


Mendengar pujian dari Dubai, Tuan Okyo langsung mengatakan hal ini pada Dubai. "Maaf Dubai-sanĀ  tetapi alangkah baiknya anda bila tidak berbicara dengan suara yang terdengar keras. Karena itu adalah salah


satu bentuk dari etika orang makan orang Inggris." Tuan Okyo hanya ingin mengingatkan hal tersebut pada Tuan Dubai.


Dubai otomatis langsung merasa bersalah dan meminta maaf. Ia sendiri memang tidak terlalu tahu mengenai etika makan orang Inggris. Sungguh ia hanya ingin memuji Whincester karena pria tersebut makan dengan cara


yang terlihat sangat elegan di matanya.


"Tuan Dubai tampaknya sangat bersemangat pagi ini ya. Hahaha... ngomong-ngomong selamat datang kembali ke sini. Sudah cukup lama kau tidak mengajar dan sibuk dengan misimu." sambut Safran dengan suara yang


rendah. Tentu saja wanita itu menghormati etika makan yang diberlakukan oleh Winchester.


Dubai tertawa dengan suara pelan kemudian menanggapi sambutan Safran dengan penuh suka cita. "Terima kasih Nona Safran atas sambutanmu. Huft memang agak sedikit melelahkan ketika menjalankan misi yang diberikan


oleh Tuan Kepala Sekolah. Tetapi aku lebih menyukai untuk mengajar di sekolah ini ketimbang terus berurusan dengan misi-misi tidak masuk akal tersebut." Dubai sedikit mengeluh atas pekerjaan ekstranya yang terus


dilimpahkan pada dirinya.

__ADS_1


"Kinerjamu sangat bagus. Jadi tidak usah heran, bila kau yang paling sering dilimpahi tugas oleh si tua bangka itu." sela Seouli dengan tidak sopannya.


"Memang benar bahwa kinerjamu sangat bagus persis seperti yang diucapkan oleh wanita liar ini. Tetapi apa sebaiknya kau tidak menuntut si uban itu? Ouh Dubai harusnya kau itu sadar bahwa kau sudah dieksploitasi habis-habisan oleh si uban itu. Kalau kau mau mengkudeta si uban itu pun aku sama sekali tidak keberatan." Setelah menyelesaikan sarapannya mulut liar Winchester kembali bekerja dengan normal. Pria berusia dua puluh dua tahun itu hanya mampu bersikap sopan saat makan saja. Sisanya ia akan kembali berkata-kata kasar ditambah pula dengan sumpah serapahnya.


Dubai hanya bisa mengelus dada ketika dirinya harus diserang sekaligus oleh dua orang yang dikenal bermulut paling tidak beradab dalam ruangan ini.


Melihat ketidaknyamanan yang diterima oleh Dubai. Membuat Safran menegur kedua orang itu untuk lebih menjaga sopan santunya. "Dan aku sangat berharap bahwa Tuan Winchester dan Nona Seouli agar lebih dapat


menjaga mulutnya." tegur Safran.


Seouli tersenyum mengejek lalu membalas seperti ini. "Jika tidak? Apa yang akan kau lakukan pada kami berdua?" tantangnya.


Safran langsung mengeluarkan Desert Eaglenya. Ia lalu mengarahkan pistol tersebut ke arah Seouli dan Winchester secara bergantian. "Jika tidak maka kalian akan tahu sendiri resikonya."


tidak mau kalah.


Keributan kembali terjadi dan Tuan Okyo benar-benar merasakan vertigo dirinya mulai kambuh secara mendadak. "Setiap hari berurusan dengan anak-anak muda ini membuat umurku semakin pendek." keluh Tuan Okyo.


*********


Semenatara di Ruangan Kelas A.


Beberapa siswa sibuk dengan urusannya masing-masing. Karena guru yang mengajar belum masuk ke dalam ruang kelas beberapa siswa asyik sibuk mengobrol dan melakukan kegiatan pribadinya masing-masing.


Manda menatap ke sekelilingnya dan memperhatikan beberapa teman-temannya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Jujur saja ia merasa bosan karena guru pengajar tak kunjung datang juga. Karena merasa bosan akhirnya Manda mendatangi, Phobos yang saat itu sibuk membaca majalah Vogue.

__ADS_1


Memperhatikan sejenak temannya yang tengah fokus membaca majalah. Manda pun lalu memutuskan untuk menegur Phobos. "Ternyata kau suka baca majalah seperti ini rupanya." kata Manda.


"Tidak juga sih. Sebenarnya aku membaca ini karena sedang melihat-lihat beberapa foto Deimos di sini." ujar Phobos yang masih fokus dengan majalahnya.


Manda mengerutkan dahinya. "Deimos? Memangnya Deimos bekerja sebagai model?" tanyanya.


Phobos kemudian menunjukkan salah satu halaman majala tersebut yang menampilkan wajah Deimos. Di foto tersebut Deimos tampak gagah sekaligus feminin secara bersamaan. Jas hitam yang dikenakan oleh Deimos membuatnya terlihat gagah namun lipstik merah muda yang juga digunakannya membuatnya terlihat cantik. Bisa dibilang seperti model androgini.


"Kau lihat sendiri bukan itu memang saudara kembarku?" katanya.


Manda yang melihat foto Deimos dalam majalah tersebut hanya bisa menganga lebar. Bukankah Deimos itu sangat pemalu dan berkebalikan dengan Phobos yang sangat percaya diri. Tapi kenapa tak disangka-sangka ia bisa menjadi seorang model dari majalah paling berkelas. Saking tak percayanya Manda merebut majalah tersebut dari Phobos. "Yak kalau dia seorang model mengapa aku baru tahu sekarang? Ini sulit dipercaya, bukannya saudara kembarmu itu sangat pemalu?" Manda masih belum mempercayainya.


"Itu majalah edisi lama. Dia sekarang sudah tidak mau lagi bekerja sebagai model. Lagi pula itu foto lamanya, dia menjalani pemotretan itu saat berusia tiga belas tahun." kata Phobos sembari mengambil kembali majalahnya dari tangan Manda.


Manda terlihat tidak mengerti. "Aku tidak mengerti maksudmu. Bisa kau jelaskan." pinta Manda.


Phobos lalu menghela nafas sejenak sebelum memberi penjelasan pada Manda. "Deimos hanya menjadi model dadakan saat itu. Sebenarnya saat kami berdua masih tinggal Amerika, aku dulu sering dimintai menjadi untuk menjadi model. Dan kebetulan suatu hari datang sebuah tawaran dari pihak majalah Vogue yang memintaku untuk menjadi model untuk majalah mereka. Hanya saja ketika datang ke tempat pemotretan mereka malah jauh lebih tertarik dengan Deimos. Mereka merasa model seorang perempuan sudah terlalu biasa untuk menjalani pemotretan di majalah mereka. Karena itu mereka lebih tertarik pada Deimos. Selain itu Deimos juga memiliki perpaduan wajah yang tampan dan cantik ditambah pula auranya yang feminin membuat mereka lebih memilih Deimos." jelas Phobos.


"Ngomong-ngomong apa kau kesal kesempatanmu telah direbut oleh saudaramu?" Manda tiba-tiba saja berpikir bahwa Phobos mungkin saja menjadi sangat cemburu pada kembarannya tersebut.


Manda sempat mengira bahwa Phobos akan bereaksi marah dan menunjukkan rasa cemburunya namun yang ia dapati malah kebalikannya. Phobos malah sama sekali terlihat tidak marah dan tampak senang-senang saja.


"Tidak. Justru semenjak itulah aku merasa Deimos berbakat di dunia model. Malah aku senang mendandaninya dan memberikannya pakaian yang cenderung feminin. Tapi yah, sayangnya hal itu tidak bertahan lama. Karena Deimos tidak mau lagi menjadi seorang model. Ia bahkan sempat memusuhiku ketika aku ingin mendadaninya lagi." tutur Phobos.


Dalam hati Manda hanya bisa berucap seperti ini. "Sableng ini anak. Jelas Deimos itu laki-laki tulen memangnya dia mau didandani layaknya anak perempuan." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2