
Seouli tersenyum penuh kemenangan. Saking gembiranya ia langsung melemparkan lembaran kertas itu begitu saja lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Tuan Newyork tiba-tiba saja merasakan migrain tiap kali berurusan dengan wanita sinting tersebut. Akarta
yang melihat kondisi juru bicara kepala sekolah itu langsung bertindak sigap mengambilkan air minum untuk beliau.
"Akarta bagaimana mungkin Tuan Kepala Sekolah bisa mempekerjakan wanita sinting seperti itu di sekolah
'khusus' ini?" Tuan Newyork masih tak habis pikir.
"Mungkin karena bakatnya sehingga Tuan Kepala Sekolah mengizinkan dia untuk bekerja di sini sebagai
seorang guru. Tuan tolong diminum dulu airnya." jawab Akarta.
Tuan Newyork meminum airnya lalu membuang nafasnya dengan berat. "Meski pun bakatnya sangat luar biasa
namun etikanya sangatlah buruk. Ia bahkan kurang lebih mirip dengan pegawai negeri yang hanya doyan titip izin hadir namun tetap memperoleh gaji."
Akarta mengangguk. "Dia benar-benar contoh guru yang suka makan gaji buta." katanya menyetujui.
Tuan Newyork meminum kembali airnyalalu ia segera beranjak dari tempat duduknya. Sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit ia menyuruh Akarta untuk mengambil jasnya.
Akarta segera menurut dan mengambil jas Tuan Newyork. Setelah ia mengambil jas Tuan Newyork ia lalu mengatakan sesuatu hal penting pada Tuan Newyork. "Tuan Newyork, tadi sebelum saya datang ke sini saya sempat menemui Tuan Wakil Kepala Sekolah." katanya.
Tuan Newyork menatap Akarta seolah meminta penjelasan lebih lanjut. "Apa ada yang ingin disampaikan oleh Tuan
Wakil Kepala Sekolah pada saya?" tanyanya memastikan.
Akarta mengangguk. "Ada Tuan.Beliau tadi menyuruh saya agar Tuan segera memberikan salah satu pelatih khusus dari antara guru-guru di sekolah kita. Beliau meminta hal ini agar Tuan dapat segera melaksanakannya." ucap Akarta.
Kini gantian Tuan Newyork yang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ah masalah Bian ya? Itu sebenarnya saya
__ADS_1
sudah memikirkannya jauh-jauh hari untuk memberikannya seorang pelatih, namun rupanya Tuan Wali Kepala Sekolah lebih dulu memberi saya perintah sebelum saya melaksanakan rencana saya pada Bian." ujarnya.
Tuan Newyork berjalan menuju pintu keluar. Dan Akarta dengan sigap membuka pintu terlebih dahulu.
"Bian Sittichai memiliki arti nama anak laki-laki pendiam yang sukses. Sangat cocok dengan karakternya
ya." Tuan Newyork memberi pujian pada Bian.
Akarta lagi-lagi mengangguk meng-iyakan ia lalu berkomentar seperti ini. "Benar sekali Tuan. Selama
saya mengawasinya karakternya sangatlah mirip dan sesuai dengan namanya. Anak itu terkesan sangat tenang dan berusaha untuk tidak menonjol diantara anak-anak lainnya. Namun meski pun begitu bakat dan serta prestasinya dalam olah fisik terutama Muay Thai sangatlah luar biasa. Tak heran Tuan Wakil Kepala Sekolah
menyukainya dan berniat menjadikannya salah satu calon penerusnya." komentar Akarta.
"Bian hanyalah menjadi salah satu contoh anak berbakat yang dapat dijadikan investasi menguntungkan terutama
dalam dunia bisnis yang keras. Lagi pula masih ada anak-anak lainnya yang juga perlu diperhatikan." kata Tuan Newyork mengingatkan. "Akarta menurutmu bagaimana perkembangan dengan anak-anak lainnya yang berada di kelas A selain Bian? Seharusnya aku mendengar laporan perkembangan yang baik untuk
rokok.
Melihat Tuan Newyork akan merokok dengan cepat Akarta mengeluarkan pemantik dari saku kemejanya. Sembari memantik api Akarta menjawab pertanyaan Tuan Newyork. "Sejauh ini perkembanganmereka semua cukup baik Tuan. Terutama untuk Kurumi yang akhir-akhir kemampuanmemanahnya semakin jauh meningkat. Selain itu juga saya melihat sisi pemimpin dalam dirinya sangatlah bagus, dia dapat mengayomi anggota kelompoknya dalam
kelas tambahan dengan sangat baik."
Tuan Newyork menyulut batang rokoknya lalu menghisap kenikmatan dari tembakau yang memiliki citra rasa mint
yang begitu kuat. "Selain anak itu apa ada anak yang menunjukkan
peningkatan di bidang lain?"
Akarta dengan terburu-buru segera menjawab. "Ada Tuan. Mary yang memiliki bakat di bidang musik juga sama
__ADS_1
mengalami peningkatan. Anak itu sekarang dapat memainkanĀ Beethoven - Sonata Hammerklavier opus 106 dengan sangat mahir. Kemampuan bermain pianonya meningkat pesat dalam satu bulan terakhir ini." jawab Akarta.
"Begitu... lumayan, sepertinya dia akan sukses besar bila diinvestasikan dalam bidang musik." Tuan
Newyork menghembuskan asap rokoknya. Tuan Newyork kemudian melirik sebentar ke
arah Akarta seolah meminta laporan lainnya pada pemuda tersebut.
Seketika Akarta berubah menjadi gelagapan. Karena pada pasalnya akhir-akhir ini anak-anak kelas A tidak
semuanya sedang mengalami peningkatan, hanya ada beberapa saja yang mengalami peningkatan pesat dan sisanya biasa-biasa saja. Rasa-rasanya Akarta tidak ingin melaporkan hal ini pada Tuan Newyork karena bisa-bisa saja pria paruh baya itu benar-benar akan murka pada dirinya.
Melihat Akarta yang tampak berubah menjadi gelagapan membuat Tuan Newyork menjadi bingung. "Akarta ada apa denganmu?" tanyanya penuh rasa khawatir.
"Tidak apa-apa Tuan. Hanya saja jika saya boleh jujur, sebenarnya dalam satu bulan terakhir ini hanya ada
beberapa anak saja yang mengalami peningkatan dan sisanya tidak mengalami kemajuan pesat. Tuan tolong maafkan saya yang tidak becus mengawasi mereka.Saya berjanji akan bekerja jauh lebih keras lagi ke depannya." ucap Akarta. Meski pun Akarta benar-benar merasa takut namun ia lebih tidak berani
bila ia harus berbohong.
Bukannya memperlihatkan wajah marah Tuan Newyork malah memperlihatkan wajah yang terlihat santai dan malah kelewat tenang. "Oh seperti itu rupanya. Yah mau bagaimana lagi Akarta, tampaknya pihak kita sendiri tidak bisa memaksakan hal tersebut. Lagi pula mereka masih sangat begitu muda. Mungkin saja selama ini kita yang kelewat kejam pada anak-anak tersebut. Akarta mungkin aku harus segera membicarakan kebijakan baru dengan Tuan Kepala Sekolah mengenai kelonggaran yang akan diberikan pada anak-anak kelas A." Tuan Newyork terlihat sama sekali tidak marah dan malah berpikiran untuk memberi kelonggaran.
Akarta terdiam ketika mendengarnya. Baru saja ia berpikiran hal-hal buruk pada Tuannya tersebut namun kenyataannya Tuannya malah bersikap santai dan tampak tidak ambil pusing dengan penurunan
prestasi anak-anak kelas kelas A.
"Ngomong-ngomong bagaimanakabar dengan si anak Malaysia itu? Namanya Ipeh bukan? Saya paling suka dengan anak itu, selera humornya sangatlah bagus selain itu dia sangat mengerti kesukaan saya dalam urusan kuliner. Hohoho... aku sangat merindukan anakitu." Di luar ekspetasi rupanya Tuan Newyork menggemari anak yang paling tidak menonjol dalam kelas A dan bahkan nyaris di depak dari kelas tersebut.
Lagi-lagi Akarta hanya bisa terdiam. Dibandingkan dengan para petinggi sekolah lainnya yang lebih menyukai anak-anak yang memiliki prestasi serta bakat yang sangat menonjol Tuan Newyork malah menggemari anak yang paling terlihat biasa-biasa saja. Satu-satunya yang dapat Akarta toleransi untuk rasa suka Tuan Newyork pada Ipeh hanyalah karena mereka berdua sama-sama menyukai kuliner dari berbagai belahan dunia serta rasa humor
yang sama-sama aneh. Tidak mengherankan karena Tuan Newyork sendiri terkenal dengan rasa humornya yang sangat begitu aneh serta lawakannya yang cenderung sukar untuk dimengerti. begitu aneh serta lawakannya yang cenderung sukar untuk dimengerti oleh kebanyakan orang.
__ADS_1