Class 10 A

Class 10 A
03. Friend


__ADS_3

Dengan raut wajah yang terlihat jauh lebih bersemangat Manda membentuk tanda cinta dengan kedua tangannya yang ia letakkan di atas kepala. "Sayaaanng sama Mary. Ayo kita segera pergi berangkat sayangku." katanya kegirangan.


 Mary hanya bisa berdoa dalam hatinya meminta pada Tuhan agar temannya itu bisa sesegara mungkin diberikan azab atas dosa-dosanya yang suka memeras temannya sendiri.


Akhirnya Manda dan Mary pun pergi menuju ruang latihan khusus bagian tinju yang berada di sekolah mereka.


Sembari berjalan menunju ruang latihan Mary memutuskan untuk membuka pembicaraan.


"Manda apa kau yakin bahwa kau akan terus seperti ini saja? Bukankah sangat tidak aman jika berada di posisi tidak mengikuti kelas tambahan terus menerus seperti ini?" Mary terlihat khawatir.


Manda menaikkan kedua bahunya. Dari reaksinya terlihat bahwa ia sama sekali tidak mengkhawatirkan posisinya sendiri. "Itu sudah menjadi resiko." jawabnya singkat.


Mary mendengus kesal melihat reaksi teman sekelasnya yang terkenal sangat kelewatan santai. "Kau tahu meski pun kau dan aku masuk dalam peringkat sepuluh besar, bukankah tetap saja kita harus tetap mengikuti kelas tambahan karena tuntutan dari kelas kita sendiri. Kau sendiri tahu persis kelas kita sangatlah berbeda dengan kelas-kelas lainnya yang berada di sekolah ini. Bahkan pihak sekolah pun secara terang-terangan mengatakan bahwa mereka akan membunuh anak-anak kelas kita kalau sampai kitatidak bisa mempertahankan nilai kita." ujarnya penuh rasa takut.


Mendengar ujaran Mary yang terdengar penuh dengan rasa takut lagi-lagi membuat rasa muak Manda kembali bergejolak. Manda paling tidak suka saat ia mendengar ancaman dari pihak sekolah yang kerap kali memojokkan serta membuat anak-anak kelas A selalu merasa takut dan tunduk pada mereka.


"Kelas A seperti yang kau tahu, kelas kita dari luar terdengar seperti kelas unggulan namun yang terjadi sebenarnya adalah kebalikannya..." Marry sengaja menggantung kata-katanya.


 Manda terdiam. Sekilas ingatan enambulan lalu kembali berputar di memori kepalanya. Enam bulan yang lalu Manda mendapati dua luka tusuk di bagian punggung dan perutnya karena aksi heroiknya saat berusaha menyelamatkan teman sekelasnya.


Setiap kali memori itu muncul Manda bisa saja berubah menjadi orang yang cenderung temperamen. Manda benar-benar tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah berusaha melukai dan bahkan nyaris membunuh teman-teman sekelasnya pada saat itu.


Menyadari perubahan yang terjadi pada Manda membuat Mary menjadi merasa tidak enak. Sesungguhnya Mary sama sekali tidak berniat untuk menyinggung perasaan temannya itu.


"Manda... aku minta maaf... karena sudah membuatmu merasa tidak nyaman." Mary terlihat sangat gugup saat mengatakan hal itu.


Manda menarik nafas lalu membuangnyadengan sangat perlahan.Lalu setelah itu ia menoleh ke arah Mary. "Ck tidak apa. Tapi bisakah kita percepat jalannya sedikit?”


 Mary mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ah ya.” jawabnya singkat.


 Setelah itu keduanya berjalan dengan cepat menuju ruangan khusus latihan tinju.


*************************


Sesampainya di ruangan latihan.

__ADS_1


Mary tampak sangat antusias ia bahkan menyempatkan diri untuk pergi bertemu dengan Bian yang masih


mempersiapkan dirinya.


 “Bian…Bian. Mary ke sini mau nonton Bian.” Mary menghampiri Bian yang kala itu sedang mempersiapkan diri.


Bian tersenyum ramah ia lalu mengelus kepala Mary. “Mary. Aku sudah bilang padamu sebelumnya, untuk tidak


usah datang menonton ke pertandinganku.” katanya mencoba memperingatkan Mary


secara halus.


 Mary merengut. “Kenapa Bian seperti ini? Mary datang ke sini karena Mary mau melihat Bian bertanding.” ucapnya


kesal.


Bian menghela nafas. Saat itu Bian menoleh dan tidak sengaja melihat sosok Manda yang tepat berada di balik tubuh Mary. Menyadari kehadiran Manda di sini Bian berniat untuk membicarakan suatu


hal dengan gadis itu.


Mary mengibaskan tangannya. “Tidak biarkan aku menunggu kalian di sini saja. Kalian pasti tidak akan lama


berbicara bukan?”


Bian menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal. “Ah iya….” jawabnya dengan perasaan yang tidak enak.


“Ayo bukankah tadi kau ingin mengajakku berbicara? Sebaiknya kita harus cepat menyelesaikan pembicaraan kita


karena tampaknya sebentar lagi pertandinganmu akan dimulai.” Manda sengaja


memperingatkan Bian agar tidak membuang-buang waktunya.


“Uh baiklah.” Bian lalu mengajak Manda pergi ke salah satu sudut ruangan yang terletak agak sedikit jauh


posisinya dari Mary berasal.

__ADS_1


“Manda, apa Mary yang mengajakmu ke sini?” tanya Bian.


“Uh ya. Memangnya kenapa? Kau sendiri tahu persis bahwa Mary sangat menyukaimu.” kata Manda.


Bian menghelas nafas ia lalu berkata seperti ini. “Manda sebenarnya aku sangat tidak ingin Mary datang ke sini untuk melihatku bertanding. Sejujurnya aku merasa risih dengannya.” Ucapnya.


Manda mengerutkan keningnya. “Kenapa? Apa kau sebenarnya kau memang tidak menyukai Mary?” tuding Manda.


“Harus kuakui Mary itu cukup menganggu kosentrasiku. Aku tahu persis bahwa dia menyukaiku. Tapi terlepas dari rasa sukanya itu padaku aku sejujurnya merasa tidak terlalu nyaman dengannya.” tutur Bian.


“Kalau begitu kau bisa abaikan saja dia. Anggap saja dia seolah tidak ada. Kalau kau merasa tidak nyaman seperti


ini mungkin lain kali aku akan mencegahnya untuk datang ke sini.” Manda


berusaha memberikan penyelesaian pada Bian.


“Terima kasih atas pengertianmu Manda.” ucap Bian.


“Tapi apa sungguh kau tidak menyukainya? Soalnya kau benar-benar terlihat risih dengan kehadirannya.” Manda terlihat penasaran.


Lagi-lagi Bian menghela nafas. “Seperti yang kau tahu Manda posisiku di sini hanyalah sebagai anak penerima beasiswa. Tidak seperti kalian yang mampu membayar uang sekolah aku hanya bisa mengharapkan uang


beasiswa agar tetap dapat bersekolah di sini.” ucapnya tiba-tiba.


“Kau kenapa tiba-tiba mengucapkan hal seperti ini?”


Bian menatap sedih ke arah Manda. “Justru karena posisi itulah aku harus tetap mempertahankan posisiku ini. Mary itu hanya akan menjadi salah satu batu sandungan dalam hidupku. Karena itu aku tidak terlalu menyukainya. Di otaknya mungkin hanya ada percintaan remaja saja, ia pasti tidak akan pernah bisa merasakan kesulitan hidup sepertiku.”


Manda terdiam mendengarnya. Meski pun dalam kehidupan sekolahnya saat ini ia tidak terlibat dalam urusan asmara namun ia merasa tersindir dengan kondisi yang terjadi pada Bian. Ia sadar betul bahwa kemalasannya itu sangat berbanding terbalik dengan usaha keras yang tengah diperjuangkan oleh Bian.


“Manda….” panggil Bian. Melihat Manda yang terus terdiam membuat Bian merasa tidak nyaman.


“Apa aku menyinggungmu?” Bian merasa takut kata-katanya membuat Manda merasa tersinggung.


“Tidak apa-apa Bian. Yang kau katakana tadi ada benarnya juga untukku. Masalah Mary biar aku yang mengurusnya nanti. Tenang saja Bian mulai sekarang fokuslah pada studimu.” kata Manda.

__ADS_1


 Bian tersenyum lalu menepuk bahu Manda. “Terima kasih kau memang teman yang bisa diandalkan.” ucapnya.


__ADS_2