Class 10 A

Class 10 A
15. Dont Cry Baby


__ADS_3

Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Bian ia juga merasa tidak tega karena sudah menyakiti hati gadis tersebut. Ditambah pula ia membawa-bawa masalah gadis itu hanya untuk membuatnya menjauh dari dirinya.


Kini keduanya sama sekali tidak berbicara dan hanya terdengar isak tangis Mary yang kian semakin menjadi-jadi. Di satu sisi Bian mulai merasa khawatir melihat gadis itu tak kunjung berhenti menangis. Ditambah pula gadis itu mulai tampak terlihat seperti mengalami asma dengan nafas yang tersenggal-senggal.


Sadar keadaan semakin memburuk. Mau tidak mau Bian akhirnya terpakasa mengantarkan Mary untuk pergi ke kamarnya. Bian kemudian menggendong Mary


**********


Sementara itu di kamar perempuan


Setelah berdebat cukup lama akhirnya Manda, Moskow, Phobos dan Deimos malah berakhir dalam obrolan gosip. Mereka berempat hanyut dalam obrolan gosip dan tampak asyik menghibahi orang lain (tipe manusia-manusia bermulut lemes).


"Ngomong-ngomong Bian itu tampan juga ya kalau dilihat-lihat. Aku jadi penasaran apa dia sudah memiliki seorang pacar?" Tiba-tiba saja Phobos membuka topik pembicaraan baru.


Deimos melirik kesal kepada kembarannya tersebut. Kembarannya itu benar-benar genit dan sangat suka melihat laki-laki tampan. Kadang Deimos sendiri merasa jengah dengan kelakuan kembarannya tersebut. "Apa? Memangnya kalau dia belum punya pacar kau mau menembaknya?"


Dengan mantap, Phobos membalas seperti ini. "Selama janur kuning belum melengkung kenapa tidak? Ayolah lagi pula Bian itu selain tampan badannya juga oke. Uuuh... gagah banget." Tiba-tiba saja Phobos berubah menjadi seorang bucin kelas kakap.


Deimos hanya bisa memutar bola matanya malas. Ia sangat berharap bahwa Manda dan Moskow otaknya belum tercemar seperti milik kembarannya. "Abaikan saja topik ini! Kalian sendiri tahu bukan, kembaranku ini maniak laki-laki tampan." Deimos berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Eh. Tapi Bian memang benaran tampan. Yang dikatakan oleh Phobos tidaklah salah. Lagi pula Bian adalah primadona dari kelas kita." ucap Manda menyetujui pendapat Phobos.


Moskow mengangguk-anggukkan kepalanya. "Harus kuakui bahwa badannya adalah yang terbaik dari kelas kita. Bahkan bisa dibilang Bian adalah body goals untuk laki-laki lainnya." Moskow juga ikut berkomentar.


"Jadi model iklan susu El-Boy cocok juga. Badannya mantap begitu." ujar Manda sembari menghabiskan makanannya. Dan ini adalah piring kedua yang sudah ia habiskan.


"Stop kenapa kalian jadi membicarakan hal yang tidak penting seperti ini!" keluh Deimos.


Phobos memukul kepala saudara kembarnya tersebut kemudian ia mengomel seperti ini. "Jangan berisik. Kalau tidak mau ikut bergosip diam saja dipojokan sana."


Oke mendapati kegarangan saudara kembarnya yang kadarnya sudah tidak tertandingi membuat Deimos hanya bisa diam dan pasrah.


"Tapi Phobos kau mungkin hanya bisa menjadi penggemarnya saja." kata Manda tiba-tiba.


"Eh memangnya kenapa?"


"Bian hanya akan fokus pada study-nya kau tidak akan bisa berharap lebih padanya. Biann tidak mau kalau sampai beasiswanya dicabut." Manda berusaha memberi penjelasan pada Phobos.


"Tapi pasti ada cara lain kan yang membuatnya bisa pacaran meskipun tidak akan menganggu waktu belajarnya?" Phobos masih belum mau mengerti juga.


"Yang dikatakan Manda ada benarnya juga Phobos. Apa kau tidak tahu Mary juga sangat menyukai Bian. Bisa dibilang ia jauh lebih terobsesi dengan Bian." ujar Moskow.

__ADS_1


"Ya kalau kau tetap nekat untuk menyukai Bian. Kau juga akan menjadi saingannya Mary. Lagi pula sampai saat ini tidak ada anak perempuan lainnya yang berani menyatakan cinta pada Bian karena mereka sangat takut dengan Mary." kata Manda.


Phobos meneguk air liurnya. "Apa yang kau katakan itu sungguhan?" Phobos masih belum terlalu percaya.


Manda mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan sebuah foto yang diambil dari kamera ponselnya pada Phobos.


"Kau bisa lihat sendiri bukan? Mary itu sangat terobsesi pada Bian." katanya sembari memperlihatkan foto tersebut pada Phobos.


Phobos merasa sangat terkejut ketika melihat foto yang ditunjukkan oleh Manda pada dirinya. Di foto tersebut memperlihatkan sosok Mary yang tengah mencium pipi Bian dengan wajah yang penuh luka lebam.


"Coba kau perhatikan pergelangan tangannya Mary!" suruh Manda.


Phobos langsung menurut dan ia kini semakin terkejut. Ketika melihat pergelangan tangan Mary yang mengeluarkan darah cukup banyak.


"Apa Bian yang melakukan semua ini pada Mary?" Phobos mengira bahwa Bian lah yang membuat Mary tampak seperti baru saja mengalami kekerasan fisik.


Manda menggeleng. "Bukan. Bian tidak akan pernah sudi melakukan hal kotor seperti itu pada seorang gadis. Sebenarnya Mary sendiri lah yang melukai tubuhnya sendiri."


"Kenapa Mary melakukan itu?" Phobos masih terlihat tidak percaya.


"Mary sengaja melakukan itu untuk memaksa Bian agar menciumnya. Bian terpaksa melakukannya dan ya... seperti yang kau tahu Bian pun dengan terpaksa mencium Mary." ujar Manda.


"Asal kau tahu saja Mary itu sebenarnya mengalami gangguan kejiwaan. Dia kadang akan berubah menjadi liar dan lepas kontrol bila keinginannya tidak terpenuhi. Namun pada fase normal atau sedang merasa tidak terancam dia akan bertindak normal seperti biasa." tandas Moskow yang tiba-tiba saja bersuara.


"Itu lebih tepatnya rahasia umum." tukas Manda cepat.


BRUAK


Triplek pembatas yang menjadi pembatas ruangan tiba-tiba saja terjatuh. Otomatis semua orang yang berada di dalam kamar merasa terkejut.


"Jangan-jangan maling. Moskow coba kau lihat sana!" suruh Phobos. Phobos memang mudah merasa panik.


Sementara itu Manda hanya bisa was-was dan matanya terus mengawasi. Ia sendiri juga merasa takut-takut kalau-kalau saja ada sesuatu yang membahayakan tiba-tiba saja muncul.


Deimos langsung berdiri dan maju untuk memastikan keadaan. Diikuti pula oleh Moskow. Sementara Phobos berusaha melindungi Manda yang masih lemah.


Saat kedua orang itu maju untuk memastikan. Tiba-tiba saja keduanya langsung merasa terkejut melihat sosok Bian yang tengah membawa Mary dalam gendongannya.


Oke... kali ini entah kenapa semuanya langsung terdiam. Terutama ketiga gadis dalam kamar tersebut, yang tadinya sibuk bergosip mengenai Bian. Entah kenapa tiba-tiba saja mereka merasa tidak nyaman saat sosok yang digosipkan tiba-tiba saja bisa muncul di hadapan mereka.


lagi sakit begini saja, masih sempat-sempatnya aku terkena sial. ucap Manda dalam hatinya.

__ADS_1


Melihat semua orang tampak diam saja membuat Bian memutuskan untuk membuka suaranya.


"Permisi, kalian semua baik-baik saja bukan? Bisakah aku minta tolong pada kalian." Bian berharap masih ada orang di dalam kamar ini yang  cukup waras untuk menolong dirinya.


Tersadar akhirnya semuanya lalu membantu Bian yang tampak sedang kesusahan.


"Apa yang terjadi Mary? Mary kau baik-baik saja." Phobos tampak panik. Sementara itu Deimos kembarannya tampak kesusahan ketika menurunkan Mary dari gendongan Bian.


"Paniknya nanti saja dulu. Kalian di sini ada yang menyimpan obat asma?" Bian meminta obat asma.


Moskow terburu-buru membongkar tas obat miliknya. Setelah dia menemukan inhaler miliknya ia lalu segera memberikannya pada Bian.


"Tolong bantu aku mendudukan Mary." pinta Deimos yang kini tengah memapah tubuh Mary.


Phobos membantu saudara kembarnya tersebut kemudian ia membantu Deimos untuk memposisikan Mary agar duduk dengan tegak.


Bian kemudian mendekat pada Mary lalu membantunya untuk memberikan inhaler pada gadis tersebut. Setelah berhasil memberikan inhaler tersebut. Kini kondisi Mary sudah membaik.


"Syukurlah kau baik-baik saja." Kini Bian dapat bernafas lega ketika melihat kondisi Mary yang sudah membaik.


Melihat kondisi yang sudah membaik membuat Moskow bertanya seperrti ini pada Bian. "Ngomong-ngpmong apa yang menyebabkan asma Mary menjadi kambuh? Dan lagi kenapa hanya kau saja yang bersama dengannya... aku tidak bermaksud menuduh yang macam-macam. Tapi bukankah ini sudah malam." Moskow tampak sedikit merasa curiga pada Bian.


"Ceritanya panjang. Mungkin lain kali saja aku menceritakannya pada kalian. Tolong jaga Mary karena aku harus segera kembali ke kamarku." Bian beranjak pergi dari sana. Namun sebelum benar-benar pergi Bian berkata seperti ini pada Deimos. "Kau juga harus segera kembali ke kamar Deimos. Tidak baik terlalu lama di kamar perempuan meski pun ada kembaranmu di sini." katanya mengingatkan Deimos.


Mendengar hal itu lantas membuat Deimos sadar dan langsung berpamitan pada semua gadis dalam ruangan tersebut. Deimos kemudian mengikuti Bian keluar dari ruangan tersebut menuju kamar mereka.


Khusus untuk anak laki-laki mereka semua tidur di dalam gudang bekas di sekolah mereka. Gudang bekas itu disulap menjadi kamar khusus untuk anak laki-laki kelas A. Karena tidak diberikan kamar asrama akhirnya anak laki-laki kelas A saling bekerjasama menyulap gudang bekas milik sekolah mereka menjadi sebuah kamar yang bisa ditinggali dengan cukup nyaman.


Jujur saja ketimbang anak perempuan yang harus tidur di dalam kelas yang disekat untuk dijadikan kamar. Anak laki-laki sedikit lebih beruntung karena mempunyai tempat tinggal yang cukup layak. Ketimbang dengan kamar kelas yang dihuni oleh anak perempuan.


Meskipun begitu gudang bekas yang ditinggali anak laki-laki juga sama memiliki kekurangan yaitu letaknya cukup jauh dari ruang kelas A. Mereka harus terlebih dahulu melewati lapangan besar untuk menuju tempat tinggal mereka. Namun beruntunglah karena mereka semua adalah laki-laki tulen tentulah hal ini bukan menjadi masalah besar. Justru berkat hal inilah mereka bisa meningkatkan kebugaran fisik mereka dengan berolahraga.


"Malas juga sih kalau berjalan cukup jauh hanya untuk pulang ke kamar. Tapi ya kalau dipikir-pikir rasanya kamar kita lebih layak ketimbang anak perempuan." kata Deimos membuka pembicaraa. Saat ini dirinya dan Bian tengah berjalan bersama-sama menuju kamar mereka.


"Iya." jawab Bian dengan singkat. Mood Bian tampak sedang buruk berkat insiden Mary tadi.


Deimos mendecak kesal ia lalu dengan sengaja memukul bokong Bian lalu menggodanya seperti ini. "Ck. Sudahlah lupakan saja yang tadi. Kau ini kenapa sih gampang sekali murung." katanya.


Bian hanya bisa mengoceh kesal kemudian mengacak-acak rambut Deimos yang bertubuh jauh lebih pendek dari dirinya. "Berisik cebol! Jangan sok dulu, tubuhmu itu masih pendek." ucap Bian tak kalah usilnya dengan yang dilakukan oleh Deimos sebelumnya.


"Kau yang harusnya sadar diri raksasa. Badanmu itu tidak sesuai pertumbuhan. Terlalu besar untuk ukuran remaja, kau itu lebih mirip dengan om-om preman pasar." ejek Deimos tak mau kalah.

__ADS_1


"180 cm di usiaku sekarang sangatlah normal Deimos. Lagi pula aku ini masih di masa pertumbuhan. Seharusnya kau yang lebih memperhatikan pertumbuhanmu. Kurasa kau masih agak pendek tinggimu saja hanya 170 cm, bisa-bisa kembaranmu yang perempuan itu nanti menyusulmu." Bin


__ADS_2