Class 10 A

Class 10 A
10. Talk Part 5


__ADS_3

Aku tahu pada dasarnya dunia ini bergerak dengan cara yang sangat kejam. Orang yang terlahir dengan harta kekayaan berlimpah dan memiliki segalanya tentulah kehidupannya akan jauh lebih berhasil. Sangat berbanding terbalik dengan kondisiku yang menyedihkan. Terlahir dari keluarga miskin membuatku benar-benar mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Aku tidak punya apa-apa dan hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Aku selalu iri dengan anak-anak orang kaya. Mereka bisa sekolah dan merasakan fasilitas yang memadai untuk menunjang pendidikannya sementara aku hanyalah anak orang miskin yang akan terus dijajahi oleh kebodohan. Orang sepertiku hanya akan menjadi beban negara.


Kapitalisme di antara si kaya dan miskin adalah kisah yang tertulis jelas dalam buku kehidupanku. Karena hanya akan terus menjadi orang miskin sampai kapan pun, aku hanya akan menjadi bawahan bagi si kaya yang memiliki harta berlimpah. Tidak! Bahkan orang yang tidak kaya sekali pun namun masih mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tetap menjadikanku sebagai sasaran empuk untuk mengalami penindasan.


Anak-anak di lingkungan sekitar tempatku tinggal sering menindasku. Mereka senang mengejekku karena kondisi keluargaku yang terlampau sangat miskin.


Benar keluargaku memang sangat miskin... ibuku adalah seorang TKI yang tidak pernah pulang ke negara asalnya. Pada mulanya aku percaya bahwa ibu telah bekerja keras di sana sampai-sampai ia tak sempat pulang ke Indonesia. Namun lambat laun muncul kabar bahwa ibuku telah meninggal di tempat negaranya bekerja. Banyak orang-orang yang mengatakan pada ayahku bahwa ibuku meninggal karena ia telah diperkosa lalu dibunuh oleh majikannya.Ayahku tentu saja tidak percaya dengan kabar buruk yang menimpa pada ibuku. Beliau tetap setiap menunggu ibu untuk pulang kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat.


Sama seperti ayah pada mulanya aku sama sekali tidak percaya dan menganggap semua orang telah berbohong pada keluargaku. Namun suatu hari aku tidak dapat membantah lagi mengenai kabar kematian ibuku. Karena... ibu benar-benar telah kembali ke Indonesia dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


Sedih dan menyakitkan ketika seorang anak mengetahui orang tua yang paling ia sayangi kembali pulang dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


Aku benar-benar merasa syok dengan kematian ibuku. Begitu pula juga dengan ayah. Beliau benar-benar syok dengan kematian istri tercintanya itu. Bahkan tidak lama setelah ibu meninggal, ayah pun juga akhirnya ikut meninggalkanku. Kala itu beliau mengalami serangan jantung saat melihat jenazah ibu. Rasa cinta ayah yang teramat besar pada ibu telah menghantarkan beliau pada ibu yang sudah berada di alam kematian.


Pada akhirnya yang tersisa hanyalah aku dan adikku yang masih sangat kecil. Sebenarnya saat itu aku benar-benar sudah sangat putus asa. Namun mengingat aku masih memiliki seorang adik kecil mau tidak mau aku harus tetap berjuang demi keluargaku satu-satunya yang ku miliki.

__ADS_1


Untuk memenuhi kehidupanku serta adikku aku bekerja sebagai pengangkut barang di pasar tradisional. Selain itu juga aku bekerja sebagai pemungut sampah untuk menambahi penghasilanku sebelumnya teramat sedikit. Setiap hari aku bekerja dengan sangat keras dan tidak kenal lelah demi mencukupi kebutuhan adikku. Namun meski pun aku sudah bekerja sangat keras, tetap saja kemalangan tak pernah berakhir dalam hidupku.


Suatu hari adikku mengalami sakit panas yang tak kunjung sembuh. Sudah hampir tiga hari adikku mengalami sakit panas dan tak kunjung sembuh juga. Aku yang tidak punya uang banyak hanya bisa membelikan obat warung pereda panas untuk adikku. Meski pun aku sudah memberikan obat tersebut pada adikku namun tetap saja adikku tak kunjung sembuh.


Melihat kondisi adikku yang semakin melemah aku benar-benar sudah sangat ingin menyerah. Nyaris tidak ada harapan lagi yang tersisa untukku. Jika adikku sampai meninggal mungkin aku akan pergi ikut menyusulnya. Aku tak akan ragu untuk bunuh diri, menyusul adikku.


Hidupku penuh dengan kemalangan yan tidak berkesudahan.


Tuhan... apa pernah sekali saja Engkau baik padaku? Aku mohon tolong berikan satu saja kesempatan lagi padaku, dan tidak akan pernah kusia-siakan kesempatan itu.


Akhirnya dengan rasa putus asa aku pergi meninggalkan adikku seorang diri di rumah dalam keadaan sakit. Aku memutuskan untuk pergi mencopet demi mendapatkan sejumlah uang yang lebih besar. Meski pun ini untuk pertama kalinya aku pergi mencopet, namun aku sudah kenal betul siapa orang yang akan menjadi korbanku. Hanya bermodalkan dengan rasa nekat dan keputusasaan yang tidak berkesudahan aku berniat untuk mencopet seorang pria kaya yang cukup ku kenali.


Ditambah pula pria itu sangat gemar mampir di kedai langganannya tersebut setiap pukul jam makan siang. Setiap hari aku melihat pria tersebut tengah menyantap mie rebusnya dengan rasa khidmat. Dan atas dasar pengamatan itulah aku nekat untuk mencopet pria tersebut. Kebetulan saat ini adalah jam makan siang. Aku sangat yakin bahwa pria tersebut pasti sedang berada di kedai mie tersebut.


Ku langkahkan kakiku dengan sangat cepat menuju kedai mie tersebut. Dan di saat aku sudah berada di luar kedai tersebut dengan sangat hati-hati aku mulai menjalankan aksiku. Setelah memastikan bahwa pria itu ada dan kebetulan juga melihat situasi yang tampak sunyi tanpa ragu aku mulai mendekati pria tersebut lalu mengambil dompet yang ia letakkan di atas meja. Aku tidak pernah habis berpikir bahwa ada orang yang dengan sengaja meletekkan dompetnya di atas meja meski pun dompet itu berada tidak jauh dari orang tersebut tapi bukankah itu sama saja dengan mengundang pencuri? Masa bodo yang penting aku sudah mendapatkan dompet pria tajir tersebut.


Karena di kedai mie tersebut tidak ada orang selain si pria kaya dan pemilik kedai yang tidak tampak. Membuat aksiku berjalan dengan sangat mulus. Oh iblis... tampaknya kau memudahkan jalanku dan membuatku jatuh ke dalam dosa.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga aku berlari meski pun tidak ada orang yang mengerjaku. Tetap saja aku merasa was-was karena ini kali pertama aku melakukan aksi pencopetan, yang anehnya semuanya tampak berjalan sangat mulus.


Ketika aku sudah berhasil menjauh dari kedai mie tersebut dan bersembunyi di sebuah gang kecil. Aku membuka dompet hasil curianku dan betapa terkejutnya aku saat melihat lembaran dollar serta uang rupiah bernilai seratus ribu berjejer dengan sangat rapi dalam dompet pria kaya tersebut. Dengan uang sebanyak ini tentu saja akan sangat cukup untuk membawa adikku pergi berobat ke rumah sakit. Yah meski pun aku merasa menyesal atas tindakan kotor ini tapi mau tidak mau aku harus melakukannya. Setelah melihat isi dompet pria tersebut dengan sangat hati-hati aku menyimpan dompet tersebut di dalam bajuku. Tentu saja aku tidak ingin ada orang yang menyadari hasil curianku tersebut.


Setelah memastikan uang curianku telah tersimpan dengan aman di balik bajuku, aku berniat untuk pergi meninggalkan gang kecil tersebut. Mungkin saja aku harus putar arah agar tidak melewati kedai mie tersebut.


Saat aku akan berbalik tiba-tiba saja ada seseorang bertubuh besar yang menghadang jalanku. "Nak kau boleh ambil uang itu. Asalkan kau dapat melawanku terlebih dahulu." ujar orang yang menghadangku.


Dengan tubuh yang bergetar hebat, aku berusaha menatap orang tersebut dan betapa terkejutnya aku saat mendapati wajah pria pemilik dompet yang ku curi kini muncul di hadapanku dengan wajah tersenyum yang nampak sangat mengerikan.


"Adikmu sedang sakit bukan? Kau pasti sangat membutuhkan uang itu. Kau boleh saja mengambilnya asalkan bisa melawanku, meski pun kau tidak menang asalkan kau mau mencoba menyerangku sekali saja maka akan kulepaskan dirimu beserta uang tersebut. Bagaimana?" tawar pria tersebut.


Aneh... mengapa dia memberikan tawaran yang sangat tidak masuk akal. Apa pria ini mengalami kelainan? Namun yang lebih aneh lagi kenapa dia bisa tahu dengan kondisi adikku yang tengah sakit.


"Tuan kau dari mana adikku sedang sakit? Lagi pula tawaran tuan sangatlah tidak masuk akal!" kataku pada pria aneh tersebut.


Pria itu merogoh saku bajunya lalu mengeluarkan sebatang rokok sekaligus pemantik apinya. Dengan santainya pria itu merokok di depanku. Setelah menyesap batang rokoknya dengan penuh rasa nikmat pria tersebut kemudian menghembuskan asap rokoknya lewat mulut.

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu masalah tahu. Sekarang kau hanya perlu melawanku!" Setelah mengatakan hal tersebut. Pria itu kemudian langsung menendangku dengan kaki panjangnya tepat di bagian ulu hatiku.


"Uhuk... uhuk... uhuk." Aku terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak sekali air liur dari dalam mulutku. Meski pun aku merasakan sakit yang teramat menyakitkan akibat terkena serangannya bukan berarti aku hanya tinggal diam saja. Aku tahu, aku memang tidak pernah berkelahi sebelumnya namun aku pernah melihat satu teknik ini. Tanpa pikir panjang aku mulai menyerang langsung pria di depanku ini dengan teknik tersebut.


__ADS_2