
Setelah pulang dari warung, Filip memutuskan untuk mengantarkan Manda pulang ke kamarnya. Meskipun Manda sudah menolaknya namun Filip tetap bersikeras untuk mengantarkan Manda pulang ke kamarnya.
Di tengah perjalanan mereka menuju kamar Manda, Filip akhirnya membuka suara untuk mencairkan suasana. Lagi pula jika hanya saling diam saja seperti ini suasananya jadi terasa tidak nyaman.
"Kau suka mampir ke sana ya? Tampaknya mbok-mbok pemilik warung tadi sangat mengenalmu." ujar Filip mengawali percakapan.
Manda mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya... simbok dan aku sudah saling kenal semenjak aku masuk ke sekolah ini." katanya.
Filip membelalakan matanya. "Talaga?" Saking tidak percayanya si Filip sampai keceplosan menggunakan bahasa Filipina.
"Hmm iya. Kenapa kau jadi terlihat heboh sendiri seperti itu?" Gantian kini Manda yang merasa heran dengan kelakuan Filip.
Filip mendesah sebenarnya ia tidak ingin membahas masalah yang satu ini. Tapi entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman bila ia tidak menanyakan perihal hal ini pada Manda. "Uh... aku tidak ada maksud untuk bersikap posesif padamu. Tapi boleh, kan aku bertanya hal ini padamu?" pintanya.
Manda membentuk jari telunjuk dan jari jempolnya seperti huru O. "Tanyakan saja. Kau sama sekali tidak posesif kok." katanya dengan santai.
Filip menggigit bibirnya sendiri entah kenapa saat menanyakan hal ini, ia merasa menjadi tidak enak pada Manda. "Sebenarnya siapa saja laki-laki yang pernah kau ajak makan bersama di warung kecil tadi?"
"Eh? Itu... hm mungkin hanya kau dan Bian. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengajakmu makan di sana. Tapi tampaknya kau selalu sibuk dan baru kali ini aku bisa mengajakmu." jawab Manda.
"Bian? Kenapa bisa dengan dia? Bukannya kau jauh terlihat lebih akrab dengan Ipeh ketimbang Bian." Entah kenapa sikap posesif dan cemburu mulai menghantui Filip.
Manda hanya diam saja kemudian mengusap tengkuknya. Entah kenapa ia mulai merasakan aura dari Filip tampak berubah menjadi sedikit mencekam. Manda berpikir apa dia sudah mengatakan hal yang salah pada laki-laki tersebut.
Menyadari bahwa Manda tampak merasa tidak nyaman akibat ulahnya. Membuat Filip langsung tersadar sekaligus merasa bersalah pada gadis tersebut.
__ADS_1
"Ah maaf tampaknya aku sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Tolong maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud buruk padamu." Filip menyesali perilakunya yang posesif.
Manda mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Tidak usah dipikirkan. Ah tadi kau bertanya kan sebelumnya... baiklah kalau begitu biarkan aku sekarang menjawab pertanyaanmu. Sebenarnya waktu itu aku juga mengalami insomnia. Sama seperti yang kulakukan malam ini di malam waktu itu aku juga melakukannya yaitu berkeliling ke seluruh area sekolah. Ditambah pula waktu itu aku masih siswa baru dan belum terlalu tahu lokasi-lokasi di sini." Manda menarik nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan penjelasannya. "Kebetulan waktu itu tersesat dan Bian tiba-tiba saja muncul. Kemudian setelah bertemu dengan Bian dan dia ingin membantuku mengantarkan aku pulang ke kamar tiba-tiba saja secara tidak sengaja mataku melihat sebuah penerangan yang berasal dari warung simbok. Alhasil aku dan Bian pergi ke sana dan berkenalan dengan simbok." jelas Manda.
"Oh seperti itu. Tapi kenapa Ipeh tidak pernah kau ajak ke warung simbok?"
Manda memutar bola matanya malas. "Kau kan teman sekamarnya. Kau pasti tahu kebiasaan Ipeh yang suka tidur malam duluan. Lagi pula Ipeh itu kalau sudah tidur tidak akan bisa dibangunkan sampai keesokan paginya."
Terlintas di ingatan Filip sebuah ingatan bahwa Ipeh adalah satu-satunya anak laki-laki yang selalu tidur lebih awal ketimbang dengan anak-anak lainnya.
"Sudah jelas bukan?"
Ipeh mengangguk mengiyakan. "Tapi masih ada yang ingin kutanyakan satu lagi padamu. Manda apa kau menyukai Bian sebenarnya?"
Entah mengapa percakapan ini terdengar seperti percakapan sepasang kekasih yang saling menuding pasangannya. Selain itu pula suasananya terasa semakin tidak nyaman hanya karena membahas topik yang tidak diperlukan.
"Tidak... tidak apa-apa. Sebaiknya kita tidak perlu membahas topik ini lagi." Mood Filip sudah terlanjur hancur untuk melanjutkan percakapan.
Manda hanya menatap Filip dengan wajah yang terlihat bingung. "Kau ini aneh sekali hari ini. Kau terlihat tidak seperti biasanya." kata Manda dengan rasa curiga.
Mendapati sinyak kecurigaan dari Manda otomatis membuat Filip merasa was-was. Takut-takut saja perilaku posesifnya menjadi terlihat sangat kentara di mata gadis itu.
"Ah sudahlah Manda hal seperti ini tidak usah dibahas lagi. Manda tampaknya kau harus segera bergegas masuk ke dalam kamarmu." ujar Filip.
"Kenapa? Bukannya masih ja---" Kalimat Manda terputus begitu ia menyadari bahwa ia sudah sampai di kamarnya.
__ADS_1
Filip tersenyum mengejek. "Makanya mata itu digunakan. Bisa-bisa kau terus berjalan dan tidak menyadari bahwa kau sudah sampai."
Manda menggembungkan kedua pipinya. Ia merasa kesal sekaligus malu berkat tingkah lakunya tersebut.
"Sebaiknya kau cepat masuk. Besok pagi kita ada jadwal mata pelajaran baru untuk semester ini." kata Filip mengingatkan.
"Mata pelajaran baru? Kenapa aku tidak mendengar informasi ini? Ngomong-ngomong kau tahu siapa guru yang akan mengajar kita." Manda terlihat kebingungan. Seharian ini ia hanya terlibat dengan banyak masalah sehingga ia sama sekali tidak mengetahui adanya informasi baru.
"Ah itu sebenarnya informasi ini juga aku baru dapatkan dari Li. Kau tahu sendiri bukan Li itu bergabung dengan kelas tambahan membaca sastra. Biasanya anak-anak kelas tambahan membaca sastra akan diberitahukan terlebih dahulu oleh para guru, baru setelahnya mereka menyampaikan pada kita. Kalau untuk soal guru baru aku juga kurang tahu karena Li tidak memberitahukannya padaku." tutur Filip.
Manda mengurut-ngurut dagunya layaknya seperti memiliki jenggot panjang. "Misteri sekali ya sekolah ini. Semuanya serba dibuat tertutup terutama untuk kelas kita." katanya penasaran.
Filip kemudian mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. "Ya sudah tidak usah dipikirkan. Kalau kita membicarakan hal ini terus, mungkin kita berdua tidak akan pernah bisa pergi tidur." Filip mencoba mengingatkan waktu tidur mereka yang terisisa semakin sedikit pada Manda.
Manda yang sadar bahwa waktu tidur mereka tinggal sedikit lagi. Memutuskan untuk segera masuk ke dalam setelah Filip mulai beranjak dari depan teras.
"Hati-hati. Kau juga setelah ini langsung pergi tidur. Terima kasih karena sudah menemaniku untuk malam ini." ucapnya.
Filip tersenyum sebagai bentuk balasannya. Setelah itu ia segera pergi dari sana menuju kamarnya yang terletak lumayan jauh.
***********
Di tengah perjalanan menuju kamarnya. Filip sempat menatapi langit malam yang indah ditengah-tengah perjalanannya menuju kamar. Suasana untuk malam ini sangalah damai dan tenang. Terdengar suara khas binatang yang muncul saat di malam hari menjadi musik di kala bulan semakin menerang. Hembusan angin kini menyapa lembut kulit Filip yang membuat remaja laki-laki itu kini mulai merasa kedinginan.
Filip merapatkan jaketnya lalu berjalan semakin cepat untuk menghindari dinginnya angin malam. Entah mengapa suasana malam seperti ini mengingatkannya pada masa lalu kelam. Yang pernah terjadi pada dirinya beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1