Class 10 A

Class 10 A
20. No Sleeping Part 5 End


__ADS_3

Filip... aku tahu kau sangat menyukaiku. Seandainya saja aku  menerimamu menjadi pacarku, apa kau mau berbuat sesuatu hal yang lebih  besar dari hanya sekedar membelikanku sebuah bunga?" Tiba-tiba saja Nila


membahas hal yang sangat sensitif pada Filip.


Filip tiba-tiba saja menjadi gugup sekaligus malu. Ia tidak tahu harus membalas seperti apa dan hanya bisa menahan rasa groginya yang kian menjadi-jadi. "Ke----napa tiba-tiba saja kau membahas hal sensitif


seperti ini padaku Nila?"


Nila tersenyum kemudian mendekat ke arah Filip lalu membisikkansebuah kata-kata manis di telinga Filip. "Kalau kau kuberikan kesempatan untuk kali ini saja apa kau akan menerimanya?" bisiknya dengan suara


lembut dan menggoda.


Filip kini benar-benar terbawa suasana. "Apa maksudmu itu Nila? Tolong katakan dengan jelas maksudmu itu,"


Nila mengedipkan sebelah matanya. "Bagaimana kalau kau menyatakan cinta di depanku sekarang? Percayalah aku tidak akan menolaknya.


Filip menganga ia nyaris tidak percaya dengan hal barusan yang ia dengar. "Sungguh?"


Nila mengangguk lalu berbisik di telinga Filip. "Asalkan kau menuruti permintaanku yang satu ini." Nila kemudian menyodorkan setangkai mawar berduri tersebut pada Filip. "Tusukkan tangkai mawar ini pada bola mata kirimu. Jika kau mau melakukannya untukku maka aku akan menerima pernyataan cintamu." ucapnya licik.


Filip tanpa ragu langsung mengambil setangkai mawar berduri tersebut lalu menusukkannya ke bola mata kirinya. Tangkai mawar tersebut sukses membutakan mata kiri Filip. Darah segar mulai mengalir dari bola mata kirinya. Ia merasakan sakit yang amat menyakitkan di mata kirinya tersebut.


"Apa sekarang kau akan menerima pernyataan cintaku? Aku sudah melakukan yang kau minta." katanya kesakitan.


Nila menggeleng. Ia lalu berkata lagi seperti ini pada Filip. "Sayangnya aku merasa masih belum puas. Lagi pula kau belum sepenuhnya bisa menyatakan rasa cintamu padaku." katanya tanpa rasa bersalah sedikit pun


Merasa masih belum puas Nila kemudian meminta Filip untuk menusukkan tangkai bunga tersebut ke bola mata kananya. Filip menolak karena ia sadar Nila sangat ingin mencelakainya.


Akhirnya Nila sendiri lah yang mengambil setangkai mawar tersebut yang masih tertancap di bola mata Filip. Nila kemudian menarik tangkai mawar tersebut lalu membuang kelopaknya satu persatu yang akhirnya ia tebarkan di wajah Filip yang berlumuran darah. Setelah membuang kelopak mawar tersebut, Nila kemudian menusukkan tangkai berduri itu ke bola mata kanan milik Filip. Ia dengan sengaja menancapkan tangkai berduri itu dalam-dalam pada bola mata kanan Filip.


Darah segar itu mulai mengalir dengan derasnya. Filip meraung-raung kesakitan rasanya ia sudah hampir gila akibat rasa sakit tak tertahankan tersebut.

__ADS_1


Nila tertawa puas begitu melihat reaksi Filip yang begitu menyedihkan. Nila kemudian mendekat pada Filip lalu memeluk tubuh anak laki-laki itu dengan sangat erat. Kemudian ia berbisik di telinga Filip seperti ini. "Terima kasih karena sudah memberikan hadiah terindah untukku. Tapi sayangnya... aku tidak akan pernah bisa menerima rasa cintamu. Filip bagiku kau itu tidaklah lebih dari sebuah boneka yang dapat kumainkan sesuka hati. Jadi keberadaanmu dalam hidupku sangatlah tidak penting." Nila lalu memandang wajah Filip yang berlumuran darah segar. Ia tersenyum sebental lalu mulai menjilati kedua mata Filip secara bergantian.


"Sana mamatay ka agad na mahal," bisik Nila di telinga Filip dengan seduktif. Setelah itu Nila kemudian pergi meninggalkan Filip seorang diri di sana. Pada saat itu kebetulan lokasi yang dijadikan sebagai tempat berjalan-jalan untuk Filip dan Nila sedang sepi. Hampir tidak ada orang lain yang melintasi tempat tersebut kecuali mereka berdua sebelumnya.


Tanpa rasa bersalah sama sekali Nila meninggalkan Filip begitu saja di sana. Sementara itu Filip yang sudah tidak tahan lagi akhirnya jatuh ambruk ke bawah. Secara perlahan kesadarannya pun mulai menghilang. Rasa sakit di kedua matanya kian menjadi-jadi. Filip sekarang sudah tidak bisa melihat apa lagi-lagi semuanya terasa gelap dalam penglihatannya.


Ditengah kesadarannya yang kian menipis. Filip hanya bisa menyesali perbuatannya yang sudah menghancurkan dirinya sendiri. Nila gadis pujaan hatinya rupanya adalah seorang iblis licik. Filip sadar bahwa ia telah salah karena jatuh cinta pada seorang iblis berparas rupawan. Kini Filip hanya bisa menyesali segala kebodohannya yang berujung pada malapetaka.


**************


Di tengah perjalanan menuju kamarnya. Filip sempat menatapi langit malam myang indah ditengah-tengah perjalanannya menuju kamar. Suasana untuk  malam ini sangalah damai dan tenang. Terdengar suara khas binatang yang  muncul saat di malam hari menjadi musik di kala bulan semakin menerang.


Hembusan angin kini menyapa lembut kulit Filip yang membuat remaja laki-laki itu kini mulai merasa kedinginan.


Filip merapatkan jaketnya lalu berjalan semakin cepat untuk  menghindari dinginnya angin malam. Entah mengapa suasana malam seperti  ini mengingatkannya pada masa lalu kelam. Yang pernah terjadi pada


dirinya beberapa tahun yang lalu.


Filip menyentuh kedua mata barunya. Setelah sempat mengalami kebutaan bersyukurlah pada akhirnya Filip mendapatkan seorang pendonor untuknya. Dan semenja ia mendapatkan donor mata tersebut kini Filip bisa melihat dengan jelas siapa pemilik kedua mata tersebut sebelumnya.


Filip tersenyum kemudian membalas seperti ini. "Aku jauh lebih senang karena melihat keadaanmu yang sekarang. Dulu kau bisa hidup dengan bebas namun sekarang kau tak lebih dari bayangan yang muncul di pikiranku." balasnya.


Gadis itu menatap sedih ke arah Filip. Ia memegangi dadanya sambil berkata. "Itu semua karena dosa-dosa yang kuperbuat di masa laluku. Aku sadar karena aku telah jahat padamu, karena itu sekarang aku pantas mendapatkan hukuman ini." sesalnya. Gadis itu bahkan hampir menangis.


Filip diam sejenak ia lalu maju langkah mendekat pada gadis cantik tersebut. Ia kemudian memeluk gadis itu dengan sangat erat lalu membisikkan suatu kata-kata di telinganya. "Aku memaafkanmu. Sekarang kau bebas... pergilah dengan damai lalu lupakan semua kenangan yang pernah terjadi." ucapnya dengan tulus.


Mendengar ucapan Filip gadis itu akhirnya menangis. Dia menangis sejadi-jadinya sembari memeluk Filip erat. Ia menyadari bahwa perlakuan di masa lalunya sangatlah buruk pada Filip. Berkat perilakunya yang buruk itu, ia tidak pernah bisa merasa tenang meskipun ia sudah tiada. Ia benar-benar menyesali semuanya. Filip yang dulu ia remehkan sebagai bocah bertubuh gendut yang tak lebih dari bonekanya kini telah tumbuh semakin dewasa dan gagah. Meskipun fisiknya telah berubah gadis itu tetap menyadari bahwa hati dari seorang Filip tidak pernah berubah untuk urusan kebaikan. Selalu tulus dan dengan lapang dada memaafkan kesalahan orang lain.


Filip melepaskan pelukannya dari gadis tersebut. Sembari mengusap air mata gadis tersebut Fili pun berkata seperti ini padanya. "Berbahagialah di kehidupanmu yang lain. Sekarang tak ada beban yang perlu kau tanggung lagi di dunia ini. Terima kasih untuk kedua matamu." ucap Filip dengan tulus.


Gadis itu tersenyum. Perlahan-lahan tubuh gadis itu mulai menghilang dan mengeluarkan cahaya kuning. Setelah itu cahaya dari tubuh gadis itu mulai menyebar layaknya kunang-kunang. Sebelum benar-benar menghilang gadis itu berkata seperti ini pada Filip. "Aku berharap kau bisa beruntung untuk kisah cintamu kali ini. Aku akan selalu mendoakanmu dari sana." katanya sebelum benar-benar menghilang. Akhirnya setelah mengatakan kata-kata terakhir itu. Tubuh sang gadis cantik itu pun akhirnya sekarang benar-benar menghilang bersamaan dengan cahaya kuning yang berasal dari tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Filip menghembuskan nafas lega lalu menatap langit malam dengan perasaan lega sekaligus bahagia. "Akhirnya aku melepaskanmu dari pikiranku Nila...." gumamnya seorang diri. Filip kemudian kembali berjalan menuju kamarnya. Ia sadar sudah melewatkan banyak waktu tidurnya untuk malam ini. Ia berpikir semoga saja di keesokan paginya ada seseorang yang mau membangunkannya dengan sukarela.


*********


Keesokan Pagi Harinya Di Ruangan Para Guru


Winchester menyantap muffinnya dengan sangat elegan. Meskipun ini hanyalah acara sarapan biasa namun , Winchester sendiri seolah membuat sarapan pagi kali ini terkesan mewah dan berkelas.Orang-orang yang berada di sekitarnya merasa kagum dengan cara makan pria muda tersebut.


"Sungguh harus kuakui cara makannya sangatlah baik. Ia terlihat sangat elegan walaupun menu sarapan pagi ini sangatlah sederhana." puji Dubai.


Mendengar pujian dari Dubai, Tuan Okyo langsung mengatakan hal ini pada Dubai. "Maaf Dubai-san  tetapi alangkah baiknya anda bila tidak berbicara dengan suara yang terdengar keras. Karena itu adalah salah satu bentuk dari etika orang makan orang Inggris." Tuan Okyo hanya ingin mengingatkan hal tersebut pada Tuan Dubai.


Dubai otomatis langsung merasa bersalah dan meminta maaf. Ia sendiri memang tidak terlalu tahu mengenai etika makan orang Inggris. Sungguh ia hanya ingin memuji Whincester karena pria tersebut makan dengan cara yang terlihat sangat elegan di matanya.


"Tuan Dubai tampaknya sangat bersemangat pagi ini ya. Hahaha... ngomong-ngomong selamat datang kembali ke sini. Sudah cukup lama kau tidak mengajar dan sibuk dengan misimu." sambut Safran dengan suara yang rendah. Tentu saja wanita itu menghormati etika makan yang diberlakukan oleh Winchester.


Dubai tertawa dengan suara pelan kemudian menanggapi sambutan Safran dengan penuh suka cita. "Terima kasih Nona Safran atas sambutanmu. Huft memang agak sedikit melelahkan ketika menjalankan misi yang diberikan oleh Tuan Kepala Sekolah. Tetapi aku lebih menyukai untuk mengajar di sekolah ini ketimbang terus berurusan dengan misi-misi tidak masuk akal tersebut." Dubai sedikit mengeluh atas pekerjaan ekstranya yang terus dilimpahkan pada dirinya.


"Kinerjamu sangat bagus. Jadi tidak usah heran, bila kau yang paling sering dilimpahi tugas oleh si tua bangka itu." sela Seouli dengan tidak sopannya.


"Memang benar bahwa kinerjamu sangat bagus persis seperti yang diucapkan oleh wanita liar ini. Tetapi apa sebaiknya kau tidak menuntut si uban itu? Ouh Dubai harusnya kau itu sadar bahwa kau sudah dieksploitasi habis-habisan oleh si uban itu. Kalau kau mau mengkudeta si uban itu pun aku sama sekali tidak keberatan." Setelah menyelesaikan sarapannya mulut liar Winchester kembali bekerja dengan normal. Pria berusia dua puluh dua tahun itu hanya mampu bersikap sopan saat makan saja. Sisanya ia akan kembali berkata-kata kasar ditambah pula dengan sumpah serapahnya.


Dubai hanya bisa mengelus dada ketika dirinya harus diserang sekaligus oleh dua orang yang dikenal bermulut paling tidak beradab dalam ruangan ini.


Melihat ketidaknyamanan yang diterima oleh Dubai. Membuat Safran menegur kedua orang itu untuk lebih menjaga sopan santunya. "Dan aku sangat berharap bahwa Tuan Winchester dan Nona Seouli agar lebih dapat menjaga mulutnya." tegur Safran.


Seouli tersenyum mengejek lalu membalas seperti ini. "Jika tidak? Apa yang akan kau lakukan pada kami berdua?" tantangnya.


Safran langsung mengeluarkan Desert Eaglenya. Ia lalu mengarahkan pistol tersebut ke arah Seouli dan Winchester secara bergantian. "Jika tidak maka kalian akan tahu sendiri resikonya."


Tidak mau kalah Seouli juga ikut mengeluarkan senapan kesukaanya Daewoo K2. "Sayangnya aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu." katanya tidak mau kalah.

__ADS_1


Keributan kembali terjadi dan Tuan Okyo benar-benar merasakan vertigo dirinya mulai kambuh secara mendadak. "Setiap hari berurusan dengan anak-anak muda ini membuat umurku semakin pendek." keluh Tuan Okyo.


*********


__ADS_2