Class 10 A

Class 10 A
19. No Sleeping Part 4


__ADS_3

*Flashback Dua Tahun yang Lalu**


Filip yang saat itu berusia masih dua belas tahun, hidup dengan bahagia di Manila bersama keluarganya. Filip kala itu yang mulai menginjak usia remaja awal dan mulai mengalami puber seperti remaja awal lainnya. Ia secara perlahan mulai menyukai lawan jenisnya, dan dari situlah semua masalah mulai muncul dan menghancurkan hidup Filip.


Saat itu Filip yang baru memasuki pendidikan menengah di tempat negaranya. Di sekolahkan di sebuah sekolah menengah biasa di Manila. Filip pun secara tak sengaja berkenalan dengan seorang anak perempuan cantik yang pada akhirnya menjadi cinta pertamanya serta mimpi buruknya.


********


Filip merasakan ada seseorang yang menarik tangannya dan nyaris membuat tubuh kecilnya terjungkal. Filip ingin marah pada orang tersebut sampai pada akhirnya. Ia menyadari bahwa orang yang telah menariknya tersebut adalah Nila yang menjadi cinta pertamanya di masa sekolah ini.


"Filip, minta uang jajanmu!" Nila menyodorkan tangannya pada Filip berharap pada anak laki-laki tersebut untuk segera memberikannya uang jajan.


Filip sendiri sadar bahwa dirinya sedang diperas. Namun berkat kepolosannya saat itu membuatnya rela menuruti segala keinginan sang pujangga hati.


"Aku hanya membawa uang sedikit. Kau tahu sendiri bukan ayahku sangat tidak suka memberikanku uang jajan." katanya sembari menyerahkan lima lembar uang kertas peso pada Nila.


Nila langsung merampas uang tersebut dari Filip, tanpa tahu malu. Nila menatap tajam pada Filip. "Kau yakin


hanya membawa uang sedikit? Apa kau tidak menyembunyikannya dariku dear...." Nila mencoba menelisik Filip.


Filip menggeleng ia lalu menjawab seperti ini dengan polosnya. "Tidak. Ayahku hanya memberikanku sedikit uang jajan. Tapi sebagai gantinya Ibuku membawakanku banyak bekal makanan. Nila apa kau mau bekalku?" Filip kemudian mengeluarkan isi tasnya lalu menyerahkan kotak bekalnya yang penuh berisikan dengan makanan sehat.


Nila menatap sinis ke arah kotak bekal tersebut. "Simpan saja untukmu gendut. Aku tidak suka makanan seperti itu." ujarnya.


Filip menatap sedih ke arah kotak bekalnya. Padahal ia sangat berharap bahwa Nila akan menerima bekalnya tersebut. Filip bahkan berniat mengajak Nila untuk makan siang bersama.


"Baiklah sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi padaku?" tanya anak perempuan itu sebelum pergi meninggalkan Filip.


Filip sebenarnya masih ingin mengajak Nila untuk pergi makan. Namun mengingat tawaran sebelumnya telah ditolak mentah-mentah membuat dirinya merasa tidak yakin bila ia terus tetap memaksa Nila.


Akhirnya Filip hanya diam saja dan membiarkan Nila pergi menjauh darinya.


Sementara itu Nila yang merasa sedikit kesal karena si gendut bodoh Filip tidak membawakannya banyak uang. Tidak mau ambil pusing ia lalu dengan segera menelepon teman-temannya yang berbeda kelas dengannya untuk makan bersama di kantin. Lagi pula uang hasil rampasannya tersebut masih bisa dibilang lebih dari cukup untuk mentraktir makanan kantin untuk teman-teman gengnya.


**********


"Filipinaaaa! Akhirnya aku menemukanmu... kau kemana saja tadi? Asal kau tahu saja tadi aku terus mencarimu." ujar seorang anak laki-laki berkacamata bulat yang tiba-tiba saja datang menghampiri Filip.

__ADS_1


Filip hanya diam dan sama sekali tidak berniat membalas temannya tersebut.


Temannya yang berkacamata itu tampak heran dengan kelakuan teman dekatnya tersebut. Tidak seperti biasanya temannya itu tampak terlihat sedih. Dia sangat yakin bahwa temannya itu pasti baru saja mengalami hal yang buruk. Pada pasalnya pagi hari tadi sebelum jam makan siang Filip tampak ceria dan terlihat normal seperti biasanya. Aneh saja bila ia tiba-tiba berubah menjadi pemurung seperti ini.


"Apa terjadi sesuatu? Ayolah Filip katakan padaku. Kau ini tiba-tiba saja berubah menjadi pemurung seperti ini." Temannya itu terus memaksa Filip untuk mengatakan hal tersebut padanya.


Filip mendesah kemudian ia menatap teman dekatnya tersebut dengan tatapan sedih. "Davao apa Nila, tidak akan pernah bisa menyukaiku dengan tulus? Padahal aku sudah memberikan semua yang kupunya untuknya. Aku rela membiarkan dirinya mengambil semua uang jajanku tapi tetap saja...." Filip merasa semakin sedih ketika mengatakan hal tersebut pada Davao.


Davao sendiri sebenarnya sudah lelah dengan tingkah laku dari temannya tersebut. Percayalah mulut Davap bahkan hampir berbusa karena setiap hari dirinya hanya mencoba mengingatkan kesalahan temannya tersebut. Lagi pula semua orang di kelas tahu bahwa Nila hanya memanfaatkan Filip karena Filip adalah anak orang kaya.


Tapi Filip terlalu bebal untuk diberitahukan kebenarannya.


"Berapa kali sudah kubilang padamu untuk menjauhi Nila! Filip astaga, kau kemanakan otakmu hah! Apa sekarang otakmu sudah pindah ke lemak." sarkas Davao. Davao sendiri sebenarnya paling tidak suka bila ia menghina fisik temannya tersebut namun kali ini ia sudah kelewat marah mendapati penyakit kebodohan Filip kian menjadi-jadi.


Mendengar kata-kata sarkas itu membuat Filip merasa sakit hati. Ia lalu bangkit dari kursinya dan berlari menuju keluar pintu kelas.


Sementara itu Davao yang melihat kepergian temannya tersebut hanya bisa diam. Meskipun ia sadar kata-katanya kelewat kasar namun ia lebih menyadari perilaku Nila jauh lebih buruk darinya.


*********


Filip berlari mencoba mengejar Nila yang berjalan di depannya. Dengan susah payah ia mencoba mencapai anak perempuan tersebut meskipun ia tampak kesusahan akibat tubuh gendutnya.


"Nilaaa tunggu aku!" teriak Filip. Otomatis Nila langsung menoleh ke arah sumber suara dan menghentikan langkah kakinya.


Dengan wajah yang terlihat malas Nila pun bertanya pada Filip. "Apa? Apa kau tidak tahu malu! Berteriak di tengah orang banyak seperti ini benar-benar membuatku malu. Orang-orang akan berpikir bahwa aku akan berkencan dengan seekor kudanil." Mulut kurang ajar Nila kembali bekerja dengan lincahnya.


Meskipun kata-kata itu terdengar menyakitkan, Filip merasa sama sekali tidak marah. Ia justru merasa senang ketika melihat gadis pujaan hatinya tersebut marah karena di matanya terlihat dua kali lebih menggemaskan.


"Apa sore nanti kau sibuk? Begini aku ingin mengajakmu pergi berjalan-jalan ke taman." tawar Filip.


"Boleh saja." Entah kenapa tiba-tiba saja terjadi keajaiban. Nila yang biasanya selalu menolak ajakan jalan dari Filip kini dengan entengnya mau menerima ajakan jalan tersebut. Tampaknya ada suatu hal aneh yang sedang direncanakan olehnya. Aneh saja bila tiba-tiba seseorang yang amat membenci kita tiba-tiba saja mau menerima tawaran kita. Bukankah itu adalah hal yang sedikit tidak masuk akal sekaligus perlu diwaspadai.


Namun Filip yang terlanjur buta akan cinta sama sekali tidak memiliki firasat buruk. Tampaknya benar seperti yang dikatakan oleh Davao sebelumnya bahwa otak milik Filip telah pindah ke bagian lemak tubuhnya.


"Sungguh? Kalau begitu jam tiga nanti aku akan menunggumu di taman Sandiego. Kalau kau ingin datang terlambat juga tidak apa. Terima kasih karena sudah mau menerima tawaranku kali ini." Filip ingin bersalaman dengan Nila namun sayangnya anak perempuan itu mengabaikan tangannya begitu saja.


"Hm ya. Kalau begitu sampai jumpa." kata Nila lalu meninggalkan Filip yang bodohnya malah tampak kesenangan.

__ADS_1


********


Di sore hari tepatnya di taman Sandiego


Seorang anak laki-laki bertubuh gendut duduk di salah satu bangku taman. Di tangannya ia membawa dua buah gelas plastik berisikan minuman rasa vanila kesukaan gadi pujaan hatinya. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu namun sosok yang ia sangat tunggu kehadirannya masih belum datang juga.


"Filippp!" panggil seorang anak perempuan dengan suara merdu yang khas. Mendengar namanya dipanggil Filip langsung mencari sosok tersebut dan betapa terpananya dirinya saat melihat Nila datang menghampirinya. Sore hari ini Nila berpenampilan sangat cantik di mata Filip. Gaun putih selutut bermotif bunga sederhana terlihat sangat cocok ketika membalut tubuh mungilnya tersebut.


"Sudah lama menunggu?" Entah mengapa tiba-tiba saja Nila berubah menjadi sangat ramah pada Filip. Bukankah ia sangat membenci Filip. Tapi kenapa ia malah bersikap ramah padanya.


"Ah tidak. Mau minuman ini? Kau kan paling suka rasa vanila jadi aku membelikan ini padamu." kata Filip sembari menyerahkan minuman gelas tersebut pada Nila.


Nila tersenyum kemudian meraih gelas tersebut dari tangan Filip lalu meminumnya. Ia bahkan memuji minuman tersebut. Padahal Nila hampir tidak pernah mau menerima satu pun pemberian dari Filip terkecuali hanya untuk uang saja. Benar-benar aneh tidak nampak seperti Nila yang seperti biasanya.


"Filip aku dengar di sekitar taman bunga ini ada sebuah toko bunga yang bagus. Kau tahu kan Filip aku sangat menyukai bunga. Bagaimana kalau kita pergi ke sana? Belikan aku sepucuk bunga mawar merah yang segar yang masih berduri, aku sangat menginginkannya Filip. Kumohon belikan untukku ya." pinta Nila dengan gaya manjanya.


Filip langsung mengiyakan permintaan gadis pujaannya tersebut. Tanpa perlu berlama-lama ia segera membawa Nila pergi menuju toko bunga yang sangat ingin didatangi oleh gadis tersebut.


**********


Sesampainya di toko bunga tersebut tanpa perlu berlama-lama Nila langsung mengambil setangakai bunga mawar berwarna merah segar sebagai bentuk pilihannya. Filip yang melihat Nila sudah mengambil bunga tersebut kemudian bertanya pada gadis pujaannya tersebut apakah ia masih menginginkan bunga lainnya. Namun Nila menggeleng lalu meminta Filip untuk segera membayarkan bunganya tersebut.


Filip pun menurut dan segera membayarkan bunga tersebut kepada kasir. Selesai membayar Nila ingin segera keluar dari toko tersebut dan mengajak Filip untuk berjalan-jalan di taman.


Sembari berjalan-jalan berkeliling taman. Nila terus memperhatikan bunga yang telah dibelikan oleh Filip. Anehnya Nila sama sekali tampak tidak memperhatikan pemandangan indah di sekita taman dan malah sibuk sendiri dengan bunga mawar miliknya.


Jujur saja Filip yang mendapati kejanggalan tersebut merasa sedikit aneh hanya saja ia tidak ingin mengomentari tindakan aneh dari gadis yang dipujanya tersebut.


"Filip... aku tahu kau sangat menyukaiku. Seandainya saja aku menerimamu menjadi pacarku, apa kau mau berbuat sesuatu hal yang lebih besar dari hanya sekedar membelikanku sebuah bunga?" Tiba-tiba saja Nila membahas hal yang sangat sensitif pada Filip.


Filip tiba-tiba saja menjadi gugup sekaligus malu. Ia tidak tahu harus membalas seperti apa dan hanya bisa menahan rasa groginya yang kian menjadi-jadi. "Ke----napa tiba-tiba saja kau membahas hal sensitif seperti ini padaku Nila?"


Nila tersenyum kemudian mendekat ke arah Filip lalu membisikkan sebuah kata-kata manis di telinga Filip. "Kalau kau kuberikan kesempatan untuk kali ini saja apa kau akan menerimanya?" bisiknya dengan suara lembut dan menggoda.


Filip kini benar-benar terbawa suasana. "Apa maksudmu itu Nila? Tolong katakan dengan jelas maksudmu itu,"


Nila mengedipkan sebelah matanya. "Bagaimana kalau kau menyatakan cinta di depanku sekarang? Percayalah aku tidak akan menolak untuk menjadi kekasihmu." ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2