
"Memang benar bahwa kinerjamu sangat bagus persis seperti yang diucapkan oleh wanita liar ini. Tetapi apa sebaiknya kau tidak menuntut si uban itu? Ouh Dubai harusnya kau itu sadar bahwa kau sudah dieksploitasi habis-habisan oleh si uban itu. Kalau kau mau mengkudeta si uban itu pun aku sama sekali tidak keberatan." Setelah menyelesaikan sarapannya mulut liar Winchester kembali bekerja dengan normal. Pria berusia dua puluh dua tahun itu hanya mampu bersikap sopan saat makan saja. Sisanya ia akan kembali berkata-kata kasar ditambah pula dengan sumpah serapahnya.
Dubai hanya bisa mengelus dada ketika dirinya harus diserang sekaligus oleh dua orang yang dikenal bermulut paling tidak beradab dalam ruangan ini.
Melihat ketidaknyamanan yang diterima oleh Dubai. Membuat Safran menegur kedua orang itu untuk lebih menjaga sopan santunya. "Dan aku sangat berharap bahwa Tuan Winchester dan Nona Seouli agar lebih dapat
menjaga mulutnya." tegur Safran.
Seouli tersenyum mengejek lalu membalas seperti ini. "Jika tidak? Apa yang akan kau lakukan pada kami berdua?" tantangnya.
Safran langsung mengeluarkan Desert Eaglenya. Ia lalu mengarahkan pistol tersebut ke arah Seouli dan Winchester secara bergantian. "Jika tidak maka kalian akan tahu sendiri resikonya."
Tidak mau kalah Seouli juga ikut mengeluarkan senapan kesukaanya Daewoo K2. "Sayangnya aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu." katanya
tidak mau kalah.
Keributan kembali terjadi dan Tuan Okyo benar-benar merasakan vertigo dirinya mulai kambuh secara mendadak. "Setiap hari berurusan dengan anak-anak muda ini membuat umurku semakin pendek." keluh Tuan Okyo.
*********
Semenatara di Ruangan Kelas A.
Beberapa siswa sibuk dengan urusannya masing-masing. Karena guru yang mengajar belum masuk ke dalam ruang kelas beberapa siswa asyik sibuk mengobrol dan melakukan kegiatan pribadinya masing-masing.
Manda menatap ke sekelilingnya dan memperhatikan beberapa teman-temannya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Jujur saja ia merasa bosan karena guru pengajar tak kunjung datang juga. Karena merasa bosan akhirnya Manda mendatangi, Phobos yang saat itu sibuk membaca majalah Vogue.
Memperhatikan sejenak temannya yang tengah fokus membaca majalah. Manda pun lalu memutuskan untuk menegur Phobos. "Ternyata kau suka baca majalah seperti ini rupanya." kata Manda.
__ADS_1
"Tidak juga sih. Sebenarnya aku membaca ini karena sedang melihat-lihat beberapa foto Deimos di sini." ujar Phobos yang masih fokus dengan majalahnya.
Manda mengerutkan dahinya. "Deimos? Memangnya Deimos bekerja sebagai model?" tanyanya.
Phobos kemudian menunjukkan salah satu halaman majala tersebut yang menampilkan wajah Deimos. Di foto tersebut Deimos tampak gagah sekaligus feminin secara bersamaan. Jas hitam yang dikenakan oleh Deimos membuatnya terlihat gagah namun lipstik merah muda yang juga digunakannya membuatnya terlihat cantik. Bisa dibilang seperti model androgini.
"Kau lihat sendiri bukan itu memang saudara kembarku?" katanya.
Manda yang melihat foto Deimos dalam majalah tersebut hanya bisa menganga lebar. Bukankah Deimos itu sangat pemalu dan berkebalikan dengan Phobos yang sangat percaya diri. Tapi kenapa tak disangka-sangka ia bisa menjadi seorang model dari majalah paling berkelas. Saking tak percayanya Manda merebut majalah tersebut dari Phobos. "Yak kalau dia seorang model mengapa aku baru tahu sekarang? Ini sulit dipercaya, bukannya saudara kembarmu itu sangat pemalu?" Manda masih belum mempercayainya.
Itu majalah edisi lama. Dia sekarang sudah tidak mau lagi bekerja sebagai model. Lagi pula itu foto lamanya, dia menjalani pemotretan itu saat berusia tiga belas tahun." kata Phobos sembari mengambil kembali majalahnya dari tangan Manda.
Manda terlihat tidak mengerti. "Aku tidak mengerti maksudmu. Bisa kau jelaskan." pinta Manda.
Phobos lalu menghela nafas sejenak sebelum memberi penjelasan pada Manda. "Deimos hanya menjadi model dadakan saat itu. Sebenarnya saat kami berdua masih tinggal Amerika, aku dulu sering dimintai menjadi untuk menjadi model. Dan kebetulan suatu hari datang sebuah tawaran dari pihak majalah Vogue yang memintaku untuk menjadi model untuk majalah mereka. Hanya saja ketika datang ke tempat pemotretan mereka malah jauh lebih tertarik dengan Deimos. Mereka merasa model seorang perempuan sudah terlalu biasa untuk menjalani pemotretan di majalah mereka. Karena itu mereka lebih tertarik pada Deimos. Selain itu Deimos juga memiliki perpaduan wajah yang tampan dan cantik ditambah pula auranya yang feminin membuat mereka lebih memilih Deimos." jelas Phobos.
Manda sempat mengira bahwa Phobos akan bereaksi marah dan menunjukkan rasa cemburunya namun yang ia dapati malah kebalikannya. Phobos malah sama sekali terlihat tidak marah dan tampak senang-senang saja.
"Tidak. Justru semenjak itulah aku merasa Deimos berbakat di dunia model. Malah aku senang mendandaninya dan memberikannya pakaian yang cenderung feminin. Tapi yah, sayangnya hal itu tidak bertahan lama.
Karena Deimos tidak mau lagi menjadi seorang model. Ia bahkan sempat memusuhiku ketika aku ingin mendadaninya lagi." tutur Phobos.
Dalam hati Manda hanya bisa berucap seperti ini. "Sableng ini anak. Jelas Deimos itu laki-laki tulen memangnya dia mau didandani layaknya anak perempuan." ucapnya dalam hati.
"Mandaaa!" panggil seseorang. Manda yang mendengar panggilan tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara. Ketika ia menoleh ke arah orang tersebut Manda menemukan Deimos berjalan menghampiri dirinya.
"Selamat pagi!" sapa Deimos pada Manda. Namun saat ia menyapa Manda, matanya tidak sengaja melihat ke arah majalah yang tengah dipegang oleh Phobos. Melihat majalah tersebut, Deimos tiba-tiba saja langsung merebut majalah tersebut dari tangan Phobos. "Sialan... Phobos kau mau mempermalukanku? Kenapa kau membawa majalah lama itu lagi!" Deimos terlihat sangat geram pada kembarannya tersebut.
__ADS_1
Phobos merebut kembali majalah tersebut dari tangan Deimos, ia lalu berkata seperti ini. "Memangnya aku salah?" katanya tidak terima.
"Jelas salah! Kau tahu bukan itu aibku. Uh... foto-foto di majalah tersebut sangat memalukan." keluh Deimos. Deimos benar-benar merasa malu tiap kali mengingat sesi pemotretan tersebut.
Phobos mencibir saudara kembarnya tersebut. "Itu hanya karena rasa percaya dirimu saja yang terlalu rendah. Tapi bukankah memang benar bahwa kau terlihat sangat cocok dengan lipstik merah tersebut?" Phobos tertawa begitu mengingat saudaranya tersebut menggunakan lipstik layaknya seorang perempuan.
Wajah Deimos memerah. "Kau itu kenapa sangat suka memperlakukanku seperti ini? Padahal aku ini saudara kembarmu." katanya dengan kesal.
"Aku tidak pernah memperlakukanmu dengan buruk! Kaunya saja yang sensitif. Padahal kau itu laki-laki. Dasar laki-laki peka." Phobos juga tidak mau kalah. Sudah dipastikan bila pagi ini akan menjadi perdebatan panjang untuk si kembar berbeda sifat.
"Benar-benar si kembar itu. Kupikir saudara kembar itu akan selalu akur, tapi untuk yang satu ini benar-benar luar biasa." kata seorang gadis berambut mint.
"Kurasa kita satu pemikiran Paris." Manda menyetujui pemikiran Paris.
Paris menghela nafas. "Kalau mereka berdua bertengkar terkadang, rasanya aku ingin melakban mulut mereka satu persatu. Ayolah Manda kau benar-benar bisa gila ketika mendengar suara pertengkaran mereka yang nyaring. Di tambah pula aku ini duduk tidak jauh dari mereka berdua." keluh Paris. Memang benar bahwa tempat duduk Paris berada tidak jauh dari tempat duduk Phobos dan Deimos. Bisa dibilang Paris itu duduk di tengah-tengah keduanya.
"Kurasa kau memang harus banyak bersabar Paris. Ngomong-ngomong di mana Athena?" tanya Manda. Manda merasa heran karena biasanya Paris akan selalu mengobrol dengan Athena setiap guru belum masuk ke dalam kelas.
Paris mengangkat bahunya. "Entahlah...." ucapnya sama tidak tahu.
"Uhm baiklah. Kalau begitu aku akan kembali ke tempat dudukku, semoga saja kau sabar dengan kedua makhluk tersebut." Manda kemudian kembali ke tempat duduknya.
********
Ipeh menendang-nendang kursi Manda. Ipeh sengaja melakukan hal itu untuk memanggil Manda. Ipeh memang memiliki posisi tempat duduk persis di belakang Manda. "Sssssttt... Manda kau sedang apa?" tanya Ipeh.
Manda yang merasakan kursinya ditendang kemudian langsung berbalik menghadap belakang. "Ck, aku sedang tidak melakukan apa-apa." balas Manda dengan malasnya. Sejujurnys Manda sudah berpikiran untuk bolos kelas hari ini karena tampaknya guru baru yang akan mengajar di kelas mereka sama sekali belum muncul.
__ADS_1