Class 10 A

Class 10 A
24. Bullet


__ADS_3

Seon---sang---nim ka--la--u sa---ya bo---leh ta---hu a-pa ke---pan---ja--ngan da---ri P---D---B---M?" Phobos kembali bertanya pada Seouli namun kali ini ia bertanya dengan perasaan takut luar biasa.


"Eh? Kukira kalian semua sudah mengetahui kepanjangan mata pelajaran tersebut. Hm tampaknya kalian terlihat sangat awam ya. Baiklah kalau begitu biar kuberitahu apa itu kepanjangan dari PDBM. PDBM sendiri merupakan kepanjangan dari pelatihan dasar berbasis militer. Mata pelajaran ini akan menggantikan mata pelajaran kalian sebelumnya yaitu PDBH pelatihan dasar bertahan hidup." jelasnya.


Semua siswa kelas A terdiam. Padahal mereka sempat merasa senang karena sebelumnya dijanjikan tidak akan lagi mata pelajaran seperti ini PDBH namun kenyataan yang mereka dapatkan malah sebaliknya.


Seouli meletakkan senapannya di atas meja guru. Lalu ia menepukkan tangannya sekali ia kemudian berkata seperti ini pada seluruh siswa kelas A. "Baiklah perkenalan kita selesai. Untuk perkenalan khusus siswa aku sama sekali tidak membutuhkannya karena aku sudah mengenal kalian semua. Selain itu juga aku sudah mengenali karakteristik kalian masing-masing. Jadi jangan merasa heran bila ketika aku mengajar nanti ada siswa yang merasa dibedakan dari yang lainnya. Oke?"


Meskipun tidak ingin menjawab ya namun semua anak di kelas A sepakat untuk tidak membantah keputusan guru baru mereka tersebut. Karena tampaknya guru baru mereka tersebut sangat berbahaya. Mereka berpikir jika mereka melawan bisa-bisa saja kepala mereka menjadi sasaran peluru panas dari senapan wanita mengerikan tersebut.


"Baiklah apa ada yang masih ingin ditanyakan lagi?" Seouli kemudian memandangi seluruh isi kelas.


"Tidak ada seonsangnim." ucap anak-anak kelas A serempak.


Manda yang melihat reaksi teman-teman sekelasnya yang cenderung ketakutan hanya bisa merasa kesal. Ia paling tidak suka bila teman-temannya merasa terintimidasi hanya karena perilaku guru-guru di sekolah tersebut yang terkesan mengancam.


"Kalau begitu siapa ketua kelas di sini?" Seouli bertanya pada anak-anak kelas A.


Seorang gadis berambut putih mengangkat tangannya. "Saya seonsangnim." kata gadis itu sambil mengangkat tangannya.

__ADS_1


Seouli kemudian menatap ke arah gadis tersebut kemudian membulatkan mulutnya. "Oh rupanya kau. Ku kira yang menjadi ketua kelas di sini adalah gadis yang duduk di seberang sana." katanya sembari mengedikkan dagunya ke arah Manda.


Manda terdiam. Mendadak perasaan menjadi berubah tidak enak. Ia mulai menduga-duga bahwa Seouli akan mengungkit-ungkit insiden waktu itu.


Seouli berdecak. "Sudah diganti ya rupanya. Ya sudahlah kalau begitu." katanya acuh. Seouli kemudian berjalan mendekat ke arah Manda ia lalu berdiri di hadapan gadis muda tersebut. Tersenyum dengan cantiknya lalu mengatakan hal kejam seperti ini padanya. "Dan kuharap kau tidak akan pernah melupakan insiden waktu itu. Aku yakin kau pasti merasa bertanggung jawab dengan kematian salah satu anggota kelompokmu waktu itu. Bukankah seperti itu pendosa? katanya dengan sengaja.


Mendengar kata-kata tersebut. Tiba-tiba saja rasa takut sekaligus bersalah mulai menghampiri dirinya. Ia tahu bahwa kelemahan terbesarnya pada saat ini adalah membahas kematian salah satu anggota kelompoknya dulu.


Seouli tersenyum penuh kemenangan. Ia menepuk-nepuk kepala Manda lalu berkata seperti ini padanya. "Jangan terlalu dipikirkan. Kalau kau terus memikirkannya kau benar-benar tidak akan bisa mati dengan tenang." katanya tanpa rasa bersalah sama sekali.


Manda yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya kemudian mengeluarkan pistol Smith & Wesson 500 Magnum miliknya dari bawah laci meja belajarnya.


Melihat aksi Manda yang nekat otomatis membuat seisi kelas mulai ribut. Filip bahkan berteriak untuk menyuruh Manda menurunkan pistolnya. "Hentika Manda kau akan melukai seonsangnim. Jangan melakukan tindakan bodoh." teriaknya. Filip benar-benar berharap Manda tidak melakukan tindakan bodoh dengan melukai guru baru tersebut.


Seouli tersenyum. Dengan sengaja wanita muda tersebut menempelkan dahinya ke arah pistol yang ditodongkan oleh Manda. "Kalau mau merasa tersinggung dengan perkataanku sebelumnya, kau bisa menarik pelatuk pistolmu tanpa ragu sayang." ucapnya .


Tubuh Manda semakin bergetar setengah mati ia berusaha mengendalikan dirinya sendiri.


Melihat reaksi Manda yang seperti itu membuat Seouli semakin menjadi-jadi. Cepat tembak aku. Kalau kau berhasil menembakku maka akan kuberikan nilai A untuk keberanianmu." tantangnya.

__ADS_1


"Cukup seonsangnim anda benar-benar sudah membuat kekacauan di sini!" Babafemi kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu menjauhkan kepala wanita muda tersebut dari pistol yang dipegang oleh Manda.


"Dan kau juga Manda, alangkah baiknya bila kau tidak bersikap tidak sopan seperti itu. Meskipun guru baru kita ini tidak mengetahui apa-apa mengenai masalah ini." kata Babafemi.


Manda menurunkan pistolnya lalu ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia tadi telah melakukan tindakan bodoh dan hampir mencelakai guru barunya tersebut. Manda tahu bahwa ia akan berubah menjadi sangat sensitif bila kematian salah satu anggota kelompoknya saat itu kembali diungkit dengan sengaja.


Setelah merasa dirinya cukup tenang, Manda dengan segera meminta maaf pada guru barunya tersebut. Dengan menundukkan kepalanya ia lalu berkata seperti ini di hadapan Seouli. "Maafkan saya seonsangnim. Saya tidak bermaksud untuk melukai anda, saya benar-benar minta maaf atas tindakan saya yang tidak sopan tadi." ucapnya penuh penyesalan.


Seouli mengangkat kedua tangannya lalu membalas seperti ini pada anak didiknya tersebut. "Wow tenang saja nak. Aku tidak akan mendendam padamu. Meskipun tindakanmu tadi benar-benar kurang ajar, aku bisa memakluminya. Anggap saja ini tidak pernah diantara kita. Bukankah semestinya kita harus bisa menjalin hubungan yang baik sebagai seorang guru dan murid hm?" Seouli tersenyum. Tampaknya wanita muda tersebut tidak telalu mempermasalahkan insiden kecil itu tadi.


"Ah iya. Terima kasih seonsangnim." Manda kembaliĀ  menundukkan kepalanya.


"Tidak jadi masalah. Pertengakaran adalah hal yang sewajarnya di kala waktu mengajar. Lagi pula aku sangat ingin berterima kasih pada anak ini karena ia sudah berhasil melerai kita." Seouli menunjuk Babafemi yang kini masih berdiri di samping dirinya. Seouli mengamati sebentar anak muridnya tersebut dan tampak ia menyukai pesona yang dimiliki oleh Babafemi. "Hei nak kau berasal dari mana? Kau sangat tampan dan juga berani." Tiba-tiba saja Seouli berubah menjadi genit.


Babafemi yang mendapati perilaku tidak beres dari gurunya tersebut hanya bisa menjauh dan segera pergi dari sana. Seouli yang mendapati respon seperti itu langsung mengancam Babafemi seperti ini. "Hei nak beritahu saja asalmu darimana jika tidak aku akan memotong poin nilaimu dari kelas yang kuajarkan di sini." ancamnya.


Babafemi hanya bisa mengelus dadanya. Ia benar-benar menyadari bahwa guru-guru di sekolahnya selalu saja tingkahnya tidak ada yang beres. "Saya berasal dari Kairo Mesir dan saya sangat berharap seonsangnim untuk tidak memotong poin saya hanya karena masalah sepele seperti ini." ucapnya dengan pasrah.


Seouli tertawa keras begitu mendapati respon muridnya tersebut. Ayolah anak-anak muda ini benar-benar masih sangat polos diancam sedikit saja langsung menurut. "Baiklah aku tidak akan memotong poinmu. Terima kasih kerena sudah merespon pertanyaan dariku." katanya.

__ADS_1


__ADS_2