
Jangan salahkan Moskow yang tiba-tiba saja menumpahkan semua lauk makan yang berada di piringnya ke tubuh si gadis cantik yang menyebalkan. Berkat aksinya itu keduanya sempat bergulat dan mengacau makan malam anak-anak lainnya yang sedang khidmat menyantap makanannya masing-masing.
Deimos hanya bisa berdoa dalam hati agar Tuhan mau menukarkan saudara kembarnya itu dengan makhluk yang sedikit jauh lebih waras dan jinak. Dia benar-benar sudah merasa lelah dengan kelakuan Phobos yang terlalu liar bak binatang buas.
**********
Deimos menundukkan badannya sebagai bentuk permohonan maafnya pada semua orang terutama pada Moskow karena telah mengacaukan acara makan malam anak-anak lainnya.
Setelah membereskan sedikit kekacauan dengan menanggung rasa malu yang teramat menyakitkan akhirnya Deimos membawa Phobos untuk pergi keluar.
Melihat Deimos akan membawa pergi Phobos, Moskow berniat mengajak kedua makhluk saudara kembar itu untuk menjenguk keadaan Manda. Phobos dan Deimos akhirnya tahu mengapa porsi makan Moskow melonjak secara drastis. Mereka berdua juga sudah tahu mengenai keadaan Manda yang sedang sakit.
"Hei kalian berdua mau menjenguk Manda? Aku tidak memaksa kalian untuk menjenguknya hanya saja kalau kalian punya sedikit empati kalian akan menjeguk teman sekelas kalian yang sedang sakit bukan?" Ajakan Moskow memang terdengar seperti sedang sedikit menyindir.
Phobos dan Deimos yang semula ingin pergi kini hanya diam dan mereka berdua tampak sedang berdiskusi secara singkat. Moskow yang melihat kedua saudara kembar itu sedang berdiskusi hanya bisa menunggu dengan tangan yang terasa pegal akibat membawa dua piring makanan yang kini porsinya jauh lebih banyak dari sebelumnya.
"Baiklah. Aku dan Deimos akan menjenguk Manda. Kami berdua tentulah masih memiliki rasa empati dan solidaritas sebagai teman sekelas. Mana mungkin kami sampai tidak peduli pada teman kami sendiri." kata Phobos mengiyakan ajakan Moskow.
"Kalau begitu cepat! Tanganku sudah pegal memegangi piring-piring ini." Moskow kemudian berjalan di depan sementaraa Phobos dan Deimos mengikuti dari belakang.
**********
Moskow menggeser triplek pembatas yang menjadi sekat antara ruang kelas dengan kamar siswi kelas A. Bisa kau bayangkan bahwa anak-anak kelas benar-benar mendapat fasilitas yang sangat-sangat buruk. Alih-alih para siswanya bisa tinggal dengan nyaman di dalam asrama mereka justru tinggal di dalam kelas yang mirisnya juga dijadikan sebagai kamar bagi siswinya.
Setelah menggeser pintu kamar Moskow kemudian menyuruh Phobos dan Deimos untuk meletakkan makanan di atas meja kecil dala kamar kumuh tersebut. Moskow memangn dengan sengaja menitipkan makanan Manda pada kedua makhluk kembar tersebut.
Menyadari bahwa ada orang lain yang masuk ke dalam kamar Manda segera bangun dari kasur lipatnya. Manda melihat ada dua orang lainnya dari belakang tubuh Moskow. Merasa penasaran dengan penampakan dua makhluk tersebut Manda kemudian memutuskan untuk bertanya pada si gadis Rusia. "Siapa di belakangmu itu Mos?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
Sembari mengambil piring yang sudah diletakkan di atas meja kecil, Moskow melirik kedua makhluk yang dimaksudkan oleh temannya itu. "Oh ini... oleh-oleh untukmu dari planet mars." jawabnya sembarangan.
Manda mengernyitkan dahinya. Ia merasa bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Moskow. "Oleh-oleh dari mars? Rasa-rasanya aku tidak memintamu untuk mengambilkan makanan di mars. Kenapa tiba-tiba saja kau bisa melancong ke sana." balasnya sama tidak beresnya.
"Sebenarnya aku hanya membawakanmu makanan dari mars saja. Tapi kebetulan dua satelit dari planet tersebut mau mengikutiku jadi ya, kubawankan saja untukmu sekalian." Moskow kemudian memberikan piring tersebut pada Manda.
Terus mendegar percakapan aneh dari kedua temannya itu membuat Phobos menjadi merasa gemas. Oh apa anak-anak dari kelas A itu selalu bersikap aneh?
"Permisi, bisakah kalian berdua hentikan percakapan tidak masuk akal ini. Kalian berdua sudah sama-sama melantur." Phobos menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah kedua temannya itu.
Moskow melirik Phobos dengan malas. "Padahal kau sendiri justru lebih aneh dari kami berdua." ucapnya.
"APA?!" Phobos nyaris mengamuk sebelum akhirnya ditahan terlebih dahulu oleh Deimos kembarannya.
"Phobos tolong jangan membuat keributan lagi. Oh ya Tuhan, tolong sekali saja Engaku berikan kewarasan pada kembaranku ini." Deimos benar-benar hampir sudah menyerah jika menyangkut urusan kebinalan kakak kembarnya itu.
"Yang salah itu memang kau. Aku sendiri bingung kenapa bisa kau yang menjadi kakak. Padahal Deimos jauh terlihat lebih dewasa dan bijaksana darimu." kata Manda sembari mengambil piring yang diberikan oleh Moskow.
Phobos merengut kesal ia lalu berteriak dengan suara yang keras. "DASAR KALIAN JAHAT!" teriaknya.
Manda, Moskow dan Deimos hanya bisa menutup kuping mereka masing-masing. Dalam hati mereka serempak mendoakan gadis gila tersebut agar segera diberikan kewarasan oleh Yang Maha Kuasa.
*********
Di taman belakang kelas
Bian sedang duduk memandangi langit malam yang bertaburan dengan bintang yang sangat indah. Kebetulan malam itu sedang tidak mendung sehingga langit malam tampak cerah berhiaskan bintang-bintang yang memancarkan sinar.
__ADS_1
Sejujurnya Bian merasa menjadi sedikit terobati setelah melihat keadaan langit malam yang indah seperti ini. Rasa frustasinya menjadi sedikit berkurang dan pelan-pelan ia mulai merasakan lega di hatinya.
Keadaan hari ini sangatlah kacau. Semenjak ia kehilangan kontrol dirinya tiba-tiba saja ia berubah menjadi sosok monster pembunuh. Pikirannya kacau dan hanya diliputi oleh nafsu untuk membunuh yang sangat besar. Ditambah pula ia tadi harus berurusan dengan wakil kepala sekolah. Dan semua itu menambah daftar beban dalam hidupnya. Selain itu juga ia merasa sedikit khawatir dengan Manda yang tiba-tiba saja ia temukan pingsan di depan pintu ruang wakil kepala sekolah. Jujur saja Bian tadi merasa sangat panik namun disatu sisi ia juga merasa beruntung karena ada Moskow yang menolongnya tadi. Bian hanya bisa berharap semoga Manda akan baik-baik saja.
Sibuk melamun Bian sampai tidak sadar ada orang lain yang berdiri di depannya. "Kau baik-baik saja Bian?" tegur orang itu dengan lembutnya.
Otomatis Bian langsung menatap orang tersebut dan memperhatikannya sebentar. Sebelum akhirnya ia mengenali sosok itu lalu membuang mukanya untuk menghindari tatapan iba dari orang tersebut.
"Pergi!" Bian sangat tidak menginginkan sosok tersebut untuk terus tetap bertahan di sana.
"Apa aku membuat kesalahan padamu?" Sosok itu terlihat sedih begitu Bian menyuruhnya untuk segera pergi.
"Aku tidak membencimu, tapi aku sedang tidak ingin melihat wajahmu."
"Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu Bian! Apa kau tidak pernah mau bila seseorang benar-benar peduli padamu."
Bian mengusap wajahnya frustasi. Lalu menatap tajam lawan bicaranya tersebut. "Satu-satunya yang perlu dikhawatirkan di sini adalah dirimu sendiri Mary!" gertaknya.
Mendapatkan gertakan dari orang yang sangat dicintainya membuat Mary meneteskan air matanya. Dengan air mata yang menetes Mary berucap seperti ini pada Bian. "Apa kau juga akan sama seperti yang lainnya menganggapku sakit?"
Bian menggeram berusaha meredam emosinya. Bagaimana pun juga dia tidak boleh bersikap kasar pada seorang gadis. "Kalau kau tidak mau dianggap sakit, berhentilah mengkonsumsi obat 'itu'. Tinggalkan sekolah ini dan pergilah ke psikiater! Aku mengatakan hal ini demi kebaikanmu."
"Aku tidak bisa meninggalkan sekolah ini karena...." Mary menggantung kata-kata terakhirnya.
"Karena kau menyukaiku kan? Berhentilah bertindak bodoh seperti ini. Lupakan aku dan fokuslah pada pengobatanmu. Lagi pula sekolah ini tidak akan cukup aman untuk keberadaanmu." tandas Bian.
Mary hanya diam sembari berusaha menahan tangisannya. Ia benar-benar merasa kecewa dengan perlakuan buruk yang diberikan oleh Bian.
__ADS_1