
"Apa kamu tahu? Kau itu sangat cantik persis seperti bunga mawar hitam." kata Manda sambil menyisir rambut seorang anak kecil yang berwajah sangat mirip dengannya.
Anak kecil itu merengut kemudian ia berbalik dan kini ia merebut sisir yang sedang dipegang oleh Manda. "Gantian. Aku juga ingin menyisir rambutmu." ujarnya sembari mengerucutkan bibir.
Manda tertawa lalu ia segera berbalik dan membiarkan anak kecil itu mulai menyisiri rambut panjangnya. "Kalau kau mau mengepangnya juga bisa? Aku tahu diam-diam kau belajar mengepang dari ibu bukan?" katanya usil.
"Diamlah! Aku tidak pernah belajar mengepang." Gadis kecil itu tampak kesal namun dengan cekatan ia mulai mengepangi rambut Manda dengan sangat rapi. Gadis kecil itu kemudian menepuk bahu Manda perlahan lalu mengatakan padanya bahwa ia sudah selesai mengepangi rambutnya. "Kuharap kau tidak menyukai hasilnya." katanya dengan malu-malu.
Manda mengambil cermin lalu melihat hasil kepangan dari gadis kecil tersebut. Sambil menyentuh hasil kepangan itu Manda berucap seperti ini. "Cantik. Aku menyukainya. Sudah kubilan kau itu sangat ahli mengepang rambut." ucapnya gemas lalu memeluk gadis kecil itu dengan sangat erat.
Si gadis kecil hanya pura-pura bertingkah kesal namun sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya ia merasa senang. Diam-diam ia membalas pelukan Manda dengan sangat hangat. "Kau ini dasar! Sedikit-sedikit suka memelukku. Kau kan sangat tahu bahwa aku paling tidak suka dipeluk." omelnya.
Mendengar omelan tersebut Manda justru semakin mengeratkan pelukannya pada si gadis kecil. Tiba-tiba saja ia merasakan kerinduan yang amat mendalam saat memeluk gadis kecil tersebut. "Kau tahu aku sangat mencintaimu, sangat dan sangat. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Kau adalah satu-satunya teman yang sangat berharga bagiku tidak! Bahkan kau lebih dari itu...." Seolah-olah ia mengatakan hal tersebut akan berpisah dengan sangat lama.
Gadis kecil tersebut mengelus lembut kepala Manda. Ia lalu berbisik seperti ini di telinganya. "Aku juga sangat mencintaimu, tidak pernah sekalipun aku bisa membayangkan hidup tanpamu. Kau itu seperti cermin bagiku." bisiknya dengan lembut.
Dengan wajah yang mulai memerah dan menahan air mata Manda lalu membalas seperti ini. "Kalau begitu berjanjilah padaku untuk tidak pernah meninggalkanku." ucapnya penuh harap.
Gadis kecil itu menggeleng. "Aku tidak bisa berjanji, lagi pula keadaan kita berdua saat ini sangatlah sulit. Orang-orang dewasa mencoba untuk memisahkan kita karena keegoisan mereka." ujarnya dengan nada yang terdengar sedih.
"Kalau kau tidak bisa berjanji. Maka akulah yang akan bersumpah pada Tuhan bahwa tidak akan ada satu orang pun yang benar-benar dapat memisahkan kita berdua. Saat kita berpisah kita akan terus bertemu kembali. Ikatan kita berdua tidak akan pernah bisa putus dengan begitu saja." Manda menatap lekat gadis kecil tersebut. Gadis yang memiliki rupa dan wajah yang teramat sangat mirip tiap incinya dengan wajahnya.
Gadis kecil tersebut tersenyum kemudian menyentuhkan kedua tangan mungilnya di wajah Manda. "Kau benar. Sampai kapan pun tidak akan pernah ada yang dapat memisahkan kita berdua. Karena aku adalah kau...." Gdis kecil itu menggantung ucapannya.
"Dan kau adalah aku." sahut Manda dengan cepat.
__ADS_1
Gadis kecil itu kemudian menutup mata Manda dengan telapak tangannya lalu mencium mata gadis tersebut yang telah ditutupi oleh telapak tangannya sendiri. "Aku mencintaimu untuk selamanya, tidak akan ada satu orang pun yang dapat memisahkan kita...."
Setelah itu semuanya menjadi gelap secara perlahan-lahan.
**********
"Kau baik-baik saja?" Seorang gadis berambut coklat tiba-tiba saja muncul dihadapan Manda.
"Memangnya apa yang terjadi padaku?" Manda masih belum terlalu sadar dan ia masih merasa bahwa semuanya baik-baik saja.
"Dasar bodoh! Kau tadi pingsan di depan ruangan wakil kepala sekolah. Kalau saja Bian tidak menggendongmu kemari kau bisa ditemukan tidak bernyawa keesokan harinya. Kau sangat tahu bukan bahwa ruangan wakil kepala sekolah itu sangat jarang dilalui oleh orang-orang. Aish kau ini." omel si gadis berambut coklat pada Manda.
Manda hanya menggaruk-garukkan tengkuknya yang terasa tidak gatal lalu menatap sekitarannya. Dengan wajah terlihat bingung ia lalu bertanya pada gadis berambut coklat asal Rusia itu. "Moskow di mana yang lainnya? Kenapa di sini terlihat sangat sepi." tanyanya penasaran.
"Ini sudah jam tujuh malam. Yang artinya ini sudah jam makan malam... dari pada memikirkan hal yang tidak penting sebaiknya kau urus saja dulu dirimu." Moskow kemudian menyodorkan segelas air putih pada Manda. "Kau juga jangan lupa makan. Oh ya tadi aku sudah meminta Babafemi untuk meminta obat dari klinik." katanya pada Manda.
"Kalau kau melarangku untuk bangun, apa kau bisa membawakanku makanan?" Manda meminta Moskow dengan wajah yang terlihat sangat memelas.
Bisa kau bayangkan betapa gemasnya dirimu saat melihat seekor bayi ular tengah memelas meminta makanan padamu. Katakanlah ini sangat berlebihan tapi Moskow benar-benar tidak bisa membandingkan Manda dengan hewan lainnya karena ia sangat menyukai ular terutama yang berbisa.
"Baiklah. Kau tunggu saja di sini, biar aku yang akan ambilkan makananmu." Moskow berdiri lalu pergi untuk mengambilkan makanan pada si bayi ular.
**********
Di dapur kecil yang merangkap sebagai ruang makan anak kelas A
__ADS_1
Moskow sibuk mengambilkan berbagai macam lauk untuk diberikan pada si bayi ular.
PUK
Seseorang menepuk bahu Moskow dan nyaris membuat Moskow menjatuhkan piring yang berada di tangannya. Namun sebelum piring itu terjatuh ada orang lain yang dengan sigap menahan piring tersebut agar tidak terjatuh dari tangannya.
HAP
"Hampir saja kau menjatuhkan piringmu Moskow." ucap seorang remaja laki-laki yang berhasil menyelamatkan piring tersebut sebelum terjatuh ke atas lantai.
"Moskow kau ceroboh sekali. Padahal aku hanya ingin menyapamu saja. Ngomong-ngomong selera makanmu meningkat drastis ya, bisa-bisanya kau menghabiskan dua piring porsi penuh hanya untuk makam malam saja." kata seorang gadis berambut pirang.
Remaja laki-laki itu kemudian berjalan mendekati gadis berambut pirang lalu berdiri di sampingnya. Saat berdiri bersampingan seperti ini maka semua orang akan tahu bahwa mereka berdua adalah anak kembar berbeda jenis kelamin. Rupa mereka berdua sangatlah mirip yang membedakan hanyalah dandanan mereka yang menyesuaikan dengan gender mereka masing-masing.
"Phobos kau seharusnya tidak mengejutkanku seperti itu. Bisa-bisa saja aku melemparkan piring itu ke wajahmu bukannya malah jatuh ke atas lantai." Moskow terlihat sedikit geram dengan gadis cantik tersebut.
Phobos menyilangkan tangannya di depan dada kemudian menjulurkan lidahnya pada Moskow. Gadis cantik itu sama sekali tidak berniat untuk minta maaf dan malah dengan sengaja memancing emosi Moskow.
Deimos yang merupakan saudara kembar dari Phobos menegur saudaranya tersebut untuk leboh menjaga sikapnya. "Phobos kau tidak boleh berbicara seperti itu! Dan Moskow tolong maafkan ulah kakak kembarku ini." pintanya.
Berkebalikan dengan Phobos, Deimos adalah tipe anak yang tidak suka mencari masalah dengan orang lain. Tata kramanya pun jauh lebih bagus ketimbang kakak kembarnya tersebut. Meskipun Deimos adalah seorang laki-laki sifatnya jauh lebih ramah dan sopan.
Moskow hanya bisa mengelus dada dan berusaha memaafkan kelakuan Phobos yang durjana. "Tenang saja Deimos, aku memaafkan kembaranmu yang kelewat durjana itu. Biarkan azab suatu hari nanti menghampiri dirinya." kata Moskow memaafkan.
Phobos hanya bisa mendumel kesal lalu mulai meracau seorang diri. Sementara itu Deimos yang masih berdiri di samping saudara kembarnya kemudian bertanya perihal porsi makan Moskow yang tiba-tiba saja melonjak drastis. "Uhm... begini. Sebenarnya aku tahu pertanyaanku tidak sopan sebelumnya.Tapi Moskow aku masih merasa sedikit penasaran padamu, mengapa tiba-tiba saja selera makanmu melonjak drastis seperti itu? Padahal biasanya kau kan yang paling jarang makan." Deimos merasa tidak enak ketika bertanya hal tersebut pada Moskow.
__ADS_1
Moskow hanya bisa mengelus dada kembali. Ketika orang-orang kembali menuduhnya sebagai orang yang terlihat sangat rakus pada makanan. Moskow menatap Deimos kemudian membalas seperti ini padanya. "Deimos yang tampan. Dengar, aku mengambilkan dua porsi makanan ini bukan untuk diriku melainkan untuk seseorang." balasnya.
"Seseorang yang ia maksud itu adalah cacing-cacing dalam perutnya!" tukas Phobos secara tiba-tiba.