Class 10 A

Class 10 A
23. New Teacher


__ADS_3

Ipeh menendang-nendang kursi Manda. Ipeh sengaja melakukan hal itu untuk  memanggil Manda. Ipeh memang memiliki posisi tempat duduk persis di  belakang Manda. "Sssssttt... Manda kau sedang apa?" tanya Ipeh.


Manda yang merasakan kursinya ditendang kemudian langsung berbalik  menghadap belakang. "Ck, aku sedang tidak melakukan apa-apa." balas  Manda dengan malasnya. Sejujurnya Manda sudah berpikiran untuk bolos


kelas hari ini karena tampaknya guru baru yang akan mengajar di kelas mereka sama sekali belum muncul.


"Hei Manda, tampaknya guru baru kita tidak akan masuk hari ini. Bagaimana kalau kita pergi ke kantin saja?" tawar Ipeh. Ipeh menaik-turunkan alisnya lalu berkata seperti ini. "Bukankah kita ini kelas unggulan tapi kenapa kita malah mendapatkan pelayanan buruk seperti ini. Selain itu juga memberikan diskriminasi pada kelas unggulan adalah hal yang tidak masuk akal." katanya.


"Aku setuju denganmu. Sekolah ini tampaknya benar-benar tidak memberikan keadilan sama sekali bagi murid-muridnya. Aku jadi penasaran dengan sosok dalang di semua ini." ujar Manda.


Ipeh menyenderkan kepalanya di atas meja lalu membalas seperti ini. "Apapun itu Manda tampaknya sekolah ini memang menyimpan banyak misteri. Yah meskipun kau ingin membongkar semua misteri di sekolah ini, aku berani jamin bahwa kau tidak akan bisa membongkarnya dalam waktu yang dekat. Ngomong-ngomong bisakah kita pergi ke kantin, kau mau ke sana atau tidak?" Ipeh menatap Manda dengan tatapan mata yang penuh harap. Ipeh sebenarnya sejak tadi ingin pergi membolos namun berhubung tidak ada satupun siswa yang keluar dari kelas ia pun mengurungkan niatnya.


Manda tersenyum lalu menepuk kepala Ipeh dengan gemas. "Ah iya... iya. Dasar kau ini." katanya gemas. Manda kemudian bangkit dari tempat duduknya yang diikuti pula dengan Ipeh dari belakang. Mereka berdua memang sangat cocok untuk urusan membangkang. Karena itulah mereka berdua sangat akrab karena sifat mereka yang sama-sama pembangkang.


Akhirnya Manda dan Ipeh berjalan menuju keluar ruang kelas.Ipeh yang tampak tidak sabaran berjalan mendahului Manda namun disaat Ipeh ingin membuka pintu kelas tiba-tiba saja pintu kelas terbuka lebih dahulu dari arah luar. Rupa-rupanya orang yang menarik pintu terlebih dahulu adalah sosok wanita muda berparas cantik yang memakai kemeja bermotif bunga mawar dan di tangan kanannya ia membawa sebuah senapan serbu yang menjadi kebanggan orang Korea Selatan.


Meskipun Ipeh merasa kagum dengan kecantikan wanita muda tersebut. Namun tetap saja rasa kagumnya tersebut terkalahkan dengan rasa ngeri yang dirasakannya ketika melihat wanita tersebut tengah membawa senapan serbu.


"Apa kau anak kelas A?" tanya wanita muda tersebut pada Ipeh.


Ipeh menjawab "iya" dengan suara yang terdengar sedikit bergetar. Tentu saja siapa yang tidak akan merasa takut ketika melihat seorang wanita membawa senjata mematikan ke dalam ruang kelas.


Wanita muda tersebut mengangkat sebelah alisnya lalu menatap lekat ke arah Ipeh. "Kalau begitu nak kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan sebagai murid ketika gurunya akan masuk mengajar." ucapnya memberi peringatan.

__ADS_1


Ipeh langsung menurut ia bahkan juga langsung menarik Manda yang berada di belakang tubuhnya untuk kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Dengan suara pelan Ipeh lalu berkata seperti ini pada Manda. "Sebaiknya kita harus berhati-hati dengan orang itu." Ipeh bermaksud untuk memperingatkan Manda agar berhati-hati dengan wanita muda tersebut.


"Memangnya apa yang berbahaya dari wanita tersebut? Bukankah dia guru baru kita." Dengan polosnya Manda berucap seperti itu.


Ipeh menepuk jidatnya. "Astaga memangnya kau tidak melihat dia membawa senapan?" tanya Ipeh.


Manda menggeleng. "Aku tidak melihat wanita tersebut membawa senjata. Aku tadi berdiri di belakangmu. Jadi aku tidak terlalu melihat dengan jelas wanita tersebut." katanya.


"Ck. Pokoknya kau harus berhati-hati dengan wanita tersebut. Guru macam apa yang membawa senapan serbu ke dalam ruangan kelas? What the hell, sekolah ini benar-benar sinting rupanya." gerutu Ipeh.


"Sinting-sinting juga kau tetap bersekolah di sini bukan?" timpal Manda.


"Diam kau!"


Guru baru mereka telah berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya dengan cara ekstrim. Sambil merokok guru baru tersebut memperkenalkan dirinya sendiri kepada siswa kelas A. "Selamat pagi maaf. Sebelumnya  karena aku datang terlambat untuk mengajar hari ini. Ngomong-ngomong aku tidak akan menggunakan bahasa formal saat mengajar jadi harap maklumi saja bila aku nantinya banyak mengucapkan sumpah serapah. Baiklah cukup basa-basinya dan biarkan aku memperkenalkan diriku pada kalian semua." Guru baru tersebut membuang rokoknya sembarangan kemudian berdehem sebelum memulai perkenalan dirinya. "Baiklah namaku Lee Seouli aku berasal dari Korea Selatan, mulai sekarang aku akan mengajar menjadi guru mata pelajaran baru untuk kalian semua." katanya.


"Seonsaengnim, apakah saya boleh bertanya?" Phobos mengangkat tangannya.


Seouli menoleh ke arah asal suara. "Ya silakan." katanya mempersilakan.


"Seonsaengnim, saya ingin bertanya memangnya mata pelajaran baru apa yang akan seonsaengnim ajarkan pada kami?"


Seouli mengangkat senapannya lalu menunjukkannya pada seluruh siswa kelas A. "Mata pelajaran yang akan aku ajarkan pada kalian adalah mata pelajaran PDBM."

__ADS_1


Seluruh siswa tercengang ketika melihat senapan tersebut. Mereka semua menyadari bahwa mata pelajaran yang akan diajarkan oleh guru baru mereka bukanlah sembarangan mata pelajara.


"Seon---sang---nim ka--la--u sa---ya bo---leh ta---hu a-pa ke---pan---ja--ngan da---ri P---D---B---M?" Phobos kembali bertanya pada Seouli namun kali ini ia bertanya dengan perasaan takut luar biasa.


"Eh? Kukira kalian semua sudah mengetahui kepanjangan mata pelajaran tersebut. Hm tampaknya kalian terlihat sangat awam ya. Baiklah kalau begitu biar kuberitahu apa itu kepanjangan dari PDBM. PDBM sendiri merupakan kepanjangan dari pelatihan dasar berbasis militer. Mata pelajaran ini akan menggantikan mata pelajaran kalian sebelumnya yaitu PDBH pelatihan dasar bertahan hidup." jelasnya.


Semua siswa kelas A terdiam. Padahal mereka sempat merasa senang karena sebelumnya dijanjikan tidak akan lagi mata pelajaran seperti ini PDBH namun kenyataan yang mereka dapatkan malah sebaliknya.


Seouli meletakkan senapannya di atas meja guru. Lalu ia menepukkan tangannya sekali ia kemudian berkata seperti ini pada seluruh siswa kelas A. "Baiklah perkenalan kita selesai. Untuk perkenalan khusus siswa aku sama sekali tidak membutuhkannya karena aku sudah mengenal kalian semua. Selain itu juga aku sudah mengenali karakteristik kalian masing-masing. Jadi jangan merasa heran bila ketika aku mengajar nanti ada siswa yang merasa dibedakan dari yang lainnya. Oke?"


Meskipun tidak ingin menjawab ya namun semua anak di kelas A sepakat untuk tidak membantah keputusan guru baru mereka tersebut. Karena tampaknya guru baru mereka tersebut sangat berbahaya. Mereka berpikir jika mereka melawan bisa-bisa saja kepala mereka menjadi sasaran peluru panas dari senapan wanita mengerikan tersebut.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2