Class 10 A

Class 10 A
11. Talk Part 6


__ADS_3

Berharap pria tersebut tumban akibat terkena teknik yang ku lancarkan padanya. Justru harus membuatku kecewa saat dengan mudahnya pria tersebut menghindari pukulanku tersebut.


"Mat soei/ Mat soi dao. Rupanya kau bisa menguasai teknik tersebut? Menarik... padahal kalau dilihat-lihat kau ini seorang amatiran atau lebih tepatnya tidak pernah bertarung sama sekali." kata pria tersebut.


Jujur saja saat mendengar perkataan pria tersebut aku sama sekali tidak mengerti dengan perkataanya. Saat ia mengatakan Mat soei atau Mat soi dao itu sebagai nama teknik aku benar-benar tidak mengerti sama sekali.


Pria itu kembali menendangku namun berhasil kuhindari. Entah kenapa tiba-tiba saja seolah bisa membaca gerakan pria tersebut dengan mudahnya membuatku menghindari serangan tersebut. Apakah ini yang dinamakan insting dari seorang petarung? Padahal aku tidak pernah sama sekali berkelahi sebelumnya. Tapi tetap saja aku merasa seolah dituntun oleh sesuatu yang tidak terlihat namun bisa kurasakan. Bahkan sekarang tanpa ragu tiba-tiba saja tangan kananku melayangkan pukulan luruh yang mengarah pada perut pria tersebut. Aku tidak yakin berapa kecepatan yang telah kulayangkan pada pukulanku tersebut tapi... aku bisa merasakan tanganku menjadi sangat begitu ringan saat melayangkan pukulan tersebut.


"Lumayan. Ternyata kau memang berbakat sama berbakatnya seperti 'dia'." Meski pun pukulan tepat mengenai pria tersebut namun sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa pria itu merasakan kesakitan akibat pukulanku tersebut. Apa jangan-jangan pukulanku terlalu lembek?


Mendapati reaksi tidak normal dari pria tersebut aku hanya bisa memundurkan langkahku dan membuat jarak yang sekiranya cukup jauh dari pria tersebut.


"Baiklah ku akui kau cukup hebat untuk ukuran anak kecil sepertimu. Tapi kalau kau bisa menghindar dari seranganku yang ini maka akan kuberikan hadiah yang jauh lebih besar dari uang yang telah kau curi sebelumnya." Pria itu kemudian mengambil langkah, melompat ke depan dan dari satu kaki menyerang dengan lutut kaki tersebut.


Aku yang melihat serangan maut dari pria tersebut tiba-tiba saja bergerak otomatis memajukkan siku milikku ke atas membentuk sebuah pertahanan diri begitu di serang dari atas.


KRETAK


Ku rasakan tulang siku milikku retak akibat ulah serangan pria tersebut yang terlampau amat kuat. Alhasil wajahku terkenan serangannya tersebut. Dapat ku rasakan tulang hidungku patah dan darah segar mulai mengucur dengan derasnya dari sana. Tidak sanggup lagi akhirnya aku jatuh tumbang dengan kondisi yang memprihatinkan.


"Pertahananmu sudah cukup bagus, hanya saja perlu lebih dilatih agar jauh lebih kuat." Pria itu kemudian melemparkan dua buah kartu ke arah ku yang sudah jatuh terkapar di atas jalan. "Ku berikan kartu ATM itu padamu untuk membayar biaya pengobatan adikmu serta dirimu yang terluka. Tenang saja uang dalam kartu itu sangat banyak kau tidak perlu merasa khawatir kehabisan uang. Selain itu ku berikan juga kartu tanda pengenalku padamu. Aku harap kau segera menghubungiku tidak lebih dari tiga hari. Aku menawarkan sesuatu yang sangat menarik untukmu." kata pria tersebut. "Oh satu lagi. Ini ku berikan untukmu!" ujar oria itu sembari melemparkan ponsel iknya ke arahku. Seolah mengetahui keadaanku yang terlampau amat miskin ia sudah menduga bahwa aku pasti tidak memiliki ponsel.


Pria itu kemudian berbalik lalu berjalan meninggalkanku seorang diri yang masih terbaring lemah di atas jalan. Sebelum benar-benar pergi pria itu sempat menoleh sebentar padaku lalu mengucapkan sebuah kata-kata penting. "Dengar apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah mau mendapat panggilan darimu jika lebih dari batas waktu yang telah ku tetapkan padamu. Tiga hari adalah waktu yang sangat cukup untuk berpikir mengambil keputusan yang sangat tepat. Dan aku harap kau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini." ucapnya sebelum berlalu meninggalkanku.


Benar semenjak pertemuanku dengan pria aneh tersebut semua yang terjadi dalam hidupku berubah drastis. Adikku sembuh dan sekarang ia telah diadopsi oleh sebuah keluarga kecil yang bahagia. Sementara aku...


*********

__ADS_1


Ipeh mendengus kesal. "Kurumi-san kau curang!" katanya tidak terima dengan hasil yang di dapatkan.


Kurumi menurunkan busurnya lalu menoleh ke arah Ipeh. "Curang? Bagian mananya aku berbuat curang?" Kurumi tampak heran.


Ipeh memonyongkan bibirnya lalu mendumel. "Kalau lawannya Kurumi-san tentu saja aku pasti akan kalah. Kalau begitu tantangan ini sama sekali tidak adil." protesnya.


Kurumi menghela nafas. "Aku sama sekali tidak berbuat tidak berbuat curang. Lagi pula bukankah sebelumnya kau terlihat sangat sombong." ujarnya mengingatkan sikap Ipeh sebelumnya.


Ipeh merengut namun pada akhirnya memutuskan untuk tidak melawan. Ia benar-benar merasa malu akibat tindakan sombongnya sebelumnya.


Meski pun Ipeh sangat berbakat ia masih belum bisa untuk mengalahkan Kurumi. Kurumi tentulah tidak akan bisa dikalahkan dengan semudah itu. Selain bakat Kurumi juga adalah cucu dari pemilik seorang Dojo terkenal di negara asalnya. Sejak kecil Kurumi sudah dilatih dengan sangat keras oleh kakeknya yang sekaligus pendiri dari Dojo milik keluarganya. Karena itulah akan sangat sulit untuk mengalahkan Kurumi yang sudah terlatih sejak kecil.


"Sudahlah. Tidak perlu kecewa seperti itu. Lagi pula kau itu sangat berbakat hanya saja kemampuanmu masih belum terlalu maksimal, ditambah pula kau itu sering malas-malasan untuk pergi latihan. Kalau kau sedikit saja lebih tekun mungkin saja... kau akan dengan mudahnya menggeserkanku." ucap Kurumi perlahan. Kurumi sadar meski pun untuk saat ini ia berhasil mengalahkan Ipeh namun ia lebih menyadari bahwa bakat Ipeh jauh lebih besar dari miliknya. Dan Kurumi bisa merasakan jarak perbedaan yang cukup jauh di antara keduanya.


Ipeh mengerutkan keningnya. "Kenapa kau tiba-tiba berucap seperti itu?"


Kurumi menatap lurus ke arah Ipeh, ia kemudian berkata seperti ini pada Ipeh. "Ada di mana hari semua orang akan menyadari bahwa yang berbakat itu adalah kau bukan aku. Dan di hari itulah aku harus menerima semuanya dengan lapang dada."


"Tidak kau hanya belum menyadari jarak kemampuan di antara kita berdua...." ucap Kurumi sebelum akhirnya terdiam.


Ipeh mendesah kemudian ia menarik Kurumi dalam pelukannya. "Aku tidak peduli dengan kau ucapkan itu. Sampai kapan pun juga Kurumi adalah senior yang sangat kuhormati. Yah meski pun aku suka kurang ajar juga denganmu... tapi itu bukan berarti mengurangi rasa hormat sekaligus kagum pada perempuan setangguh dirimu." tuturnya dengan sangat jujur.


DEG... DEG... DEG


Sial setelah mendengar penuturan dari Ipeh justru malah membuat jantung Kurumi berdegup kencang. Dengan malu-malu Kurumi membalas seperti ini pada juniornya yang masih memeluk dirinya. "Kau kau baru saja mengungkapkan rasa suka padaku ya?"


"Eh?" Ipeh buru-buru melepaskan pelukannya dari Kurumi. Setelah melepaskan pelukannya Ipeh sedikit menjauh dari seniornya tersebut.  "Senior memangnya berpikiran apa? Tentu saja aku suka dengan senior ya sebagai seniorku yang kukagumi bakat serta keteguhannya. Memangnya senior mengira rasa suka yang mana lagi senior maksud?" katanya dengan perasaan bingung.

__ADS_1


Oke tampaknya terjadi kesalah pahaman di antara mereka berdua. Mendengar perkataan Ipeh membuat Kurumi merasa sedikit kecewa. Ayolah dia tampak memalukan untuk saat ini, mengira bahwa juniornya telah jatuh cinta pada dirinya dan tengah mengungkapkan perasaannya. Sepertinya Kurumi sukses telah membuat harga dirinya jatuh di depan juniornya itu.


"Oh...em... bukan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aaaarggh sudahlah kita akhiri saja latihan hari ini. Ayo cepat berkemas." Kurumi seketika tampak berubah menjadi gelagapan.


Ipeh yang melihat kelakuan seniornya itu hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya yang terasa tidak gatal. "Senior baik-baik saja?" Ia berubah menjadi khawatir saat melihat seniornya tersebut berubah menjadi gelagapan.


Kurumi memukulkan tangannya ke arah wajah Ipeh. "Sudahlah cepat berkemas!" ucapnya malu-malu namun dengan ciri khas garang.


Ipeh hanya bisa mengelus dada untuk saat ini. Apa semua perempuan itu memiliki perubahaan mood yang sangat ekstrim seperti ini?  capnya dalam hati.


**********


"STOP! APA YANG KAU LAKUKAN? APA KAU INGIN MEMBUNUHNYA?" Wasit itu berteriak di hadapan wajah Bian kini penuh dengan luka babak belur serta noda darah.


Sementara itu lawan yang telah dikalahkan oleh Bian tergeletak lemas dalam keadaan tak sadarkan diri. Dua buah gigi depannya copot dan darah mengalir deras keluar dari mulutnya. Tidak hanya itu saja, tulang hidung lawannya itu pun juga tampak patah dan dari kedua lubang hidungnya keluar darah segar yang terus mengalir. Kondisi wajahnya benar-benar sangat hancur. Begitu pula dengan tubuhnya. Tulang rusuk dan tulang lehernya patah. Bahkan sebelum jatuh tak sadarkan dirinya lawannya itu sempat mengalami kejang-kejang.


Melihat kondisi lawannya yang memprihatinkan tak membuat Bian merasa iba padanya. Bian justru sedang menahan dirinya untuk benar-benar tidak membunuh lawannya tersebut.


Keadaan dalam ruang latihan tinju benar-benar sangat riuh dan kacau.


"JANGAN HANYA DIAM SAJA PANGGIL PETUGAS KESEHATAN!" teriak si wasit. Wasit itu sebenarnya tampak panik dan sangat ingin membawa lawan yang sudah jatuh terkapar tak sadarkan diri untuk segera dibawa ke bawa ruang kesehatan. Namun sayangnya ia tidak bisa melawan itu. Karena saat ini dirinya tengah berusaha menahan Bian yang masih ingin menyerang lawannya yang sudah jatuh tidak berdaya.


Suasana benar-benar menjadi sangat kacau. Manda dan Marry yang berada dalam ruangan tersebut benar-benar sangat syok dengan kejadian mengerikan tadi. Mereka berdua dapat melihat dengan jelas aksi brutal Bian saat menghabisi lawannya tanpa rasa ampun sedikitpun.


Mendengar teriakan wasit Manda segera berinisiatif untuk pergi memanggil petugas kesehatan. Sementara itu Marry yang duduk di sampingnya hanya bisa menangis dan merasa sangat syok begitu melihat orang yang dicintainya berubah menjadi seorang monster pembunuh.


Melihat kondisi Mary yang seperti itu, tentu saja membuat Manda tidak bisa mengajaknya untuk pergi memanggil petugas kesehatan. Akhirnya Manda pergi meninggalkan Mary lalu segera keluar dari ruangan menuju klinik sekolah. Namun saat dirinya hendak keluar dari ruangan tiba-tiba saja langkah kakinya berhenti begitu saja saat ia melihat kemunculan dua orang pria yang sangat dikenalinya masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Muncul dua orang pria dari arah pintu masuk. Dua pria berbeda usia itu adalah dua orang yang memiliki pengaruh cukup kuat dalam sekolah ini.  Manda sangat mengenali kedua pria tersebut. Saat melihat kedua pria itu masuk ke dalam ruangan seketika rasa amarahnya muncul secara tiba-tiba. Ia sebenarnya sangat ingin mengampiri kedua pria tersebut. Namun melihat situasi yang sudah sangat kacau membuat niatnya urung seketika. Ia hanya bisa menggeram dan menyumpahi kedua pria tersebut dalam hatinya.


"Penasihat Akarta dan Tuan Newyork mengapa kalian bisa kemari?" Wasit benar-benar mati kutu ketika mendapati dua pria tersebut kini berdiri di hadapannya dan tampak sangat kecewa terutama Tuan Newyork.


__ADS_2