
Sektor 16, sebuah tempat bersalju di Server Indonesia.
“Ambil semua data Klan Celestial di markas yang sudah ditinggalkan!”
Seseorang memberikan komando dari earpiece. Terdapat empat orang sedang berdiri di atas tumpukan salju sembari bersembunyi di bayang-bayang pepohonan.
“Jam 02:13. Yakin ini lokasinya, Laz?”
Aku bertanya lewat earpiece untuk memastikan target kami malam ini.
“Iya! Memangnya ane gak bisa dipercaya yah?”
“Untuk kode nuklir, aku gak akan percaya. Tapi kalau masalah informasi, sepertinya tidak akan ada masalah!”
Aku berdiri sambil menggunakan teropong jarak jauh. Melihat sebuah bangunan besar di tengah-tengah tempat bersalju ini. Terlihat tidak ada pergerakan sama sekali d sana.
“LP, gimana? Ada musuh?”
“Gak ada Rei! Drone gak melacak apa-apa!”
“Oke! Ngomong-ngomong, kerja dibagian informasi sama Lazy gimana?”
“Pengennya sih ikut ke lapangan. Tapi gak apalah! Daripada jadi beban.”
Aku sedikit tersenyum tipis mendengar itu. Dia selalu mengatakan hal itu, bahkan tidak ada satupun dari kami yang menganggapnya sebagai beban. Yah, kurasa dia akan paham nantinya.
“Tetap lihat keadaan pakai drone. Sekarang, waktunya kita berangkat, Dim, Nov, Fad!”
Tiga orang yang awalnya sedang berjongkok di belakangku mulai berdiri dan kami berjalan perlahan di salju yang terbilang cukup dalam ini. Dengan pakaian serba putih dan gelapnya malam, kupikir ini sudah lebih dari cukup untuk kamuflase.
“Oya cuy, ngapain kita ke bekas markas Celestial?”
“Yah… siapa tau aja dapat sesuatu yang berharga. Siapa tau…”
Aku menjawab pertanyaan Dimas dengan sedikit ragu. Rencana ini awalnya dibuat oleh Lazy sendiri sesaat setelah dia mendapatkan informasi tentang tempat ini dan mengawasinya. Aku sendiri bahkan tidak mengetahuinya.
“Celestial itu… kalau gak salah, salah satu klan besar di Server Indonesia, 'kan?”
Mendengar kata-kata Novan, seketika aku membeku di tempat dan segera menghadap ke belakang.
“Serius?!”
Mereka bertiga mengangguk dengan kompak dan aku hanya memasang wajah kebingungan.
“Oi, Laz, Celestial itu klan besar yah?”
“Iya. Kenapa?”
Perasaanku seketika melonjak dan ingin berteriak sambil membanting earpiece. Tapi kuurungkan niatku dan hanya mengambil nafas panjang dengan gelisah. Kurasa ini juga salahku karena tidak mengetahui nama salah satu klan besar.
Tempat ini juga sudah ditinggalkan. Kurasa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Emh! Semoga saja.
Kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di depan bangunan super besar itu. Dinding besar yang mengelilingi bangunan menghalangi kami untuk memasukinya dengan mudah. Gerbang yang ada tertutup dengan rapat.
“LP, bisa liat posisi kami?”
“Sebentar… oh, ada! Empat hawa panas terdeteksi.”
“Bisa carikan jalan masuk lain dari atas sana?”
“Tunggu sebentar…”
__ADS_1
Sambil menunggu kabar darinya, aku membuka jendela inventaris dan mengeluarkan sebuah pistol otomatis berjenis USP 45 dengan peredam yang telah terpasang. Sambil memastikan peluru di dalam magazine sudah terisi, aku bertanya pada tiga orang yang berdiri di belakangku.
“Kalian bawa senjata, ‘kan?”
“Ah, santai… nanti dikeluarkan kalau sudah di dalam aja…”
Fadli menjawabku dan aku hanya memberikan respon dingin seperti ‘Hmm’ dan membiarkan mereka. Padahal aku bertanya seperti itu untuk berjaga-jaga.
“Ketemu! Di bagian belakangnya ada pintu kecil yang terbuka.”
Mendengar kabar dari LP, aku memberikan respon dengan cepat.
“Oke! Posisi kami ada di mana?”
“Di kanannya bangunan.”
Menerima kabar itu, aku mengajak mereka bertiga untuk sedikit memutari dan pergi ke arah belakang bangunan di mana terdapat pintu yang terbuka berdasarkan informasi dari LP.
“Uwah… beneran kebuka. Meski sudah ditinggalkan, mereka benar-benar ceroboh meninggalkan bekas markas begini. Atau memang sudah gak ada apa-apa di dalam?”
Aku tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membalas pertanyaan Novan. Tapi apa yang dikatakannya ada benarnya. Berarti mereka sudah sangat yakin tidak menyisakan apapun di bangunan besar ini.
“Antara ceroboh, memang kosong, atau jebakan…”
Kami semua terdiam dan sadar akan hal itu saat Dimas mengatakannya. Kami bertiga menghadap ke arahnya dan dia hanya memasang wajah yang biasa saja.
“Apa?”
“Yasudahlah, hati-hati aja!”
Aku memutuskan untuk tetap maju untuk memastikan segalanya. Mengingat bangunan ini adalah bekas klan besar, kurasa tidak mungkin jika tidak ada jebakan sama sekali.
“Um… LP, masukkan dronemu ke dalam, terus jalankan sensor penuh. Pastikan ada apa aja di dalam!”
Setelah drone yang dikendalikan LP dari jarak jauh memasuki bangunan melewati jendela dan menghancurkan kaca, kami hanya berdiam diri dan menunggu hasilnya dari luar. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu menit penuh bahkan lebih untuk memastikan segala yang ada di dalamnya.
“Sudah selesai! Kayaknya gak semua barang mereka bawa.”
“Ada alat elektronik? Komputer atau apapun?”
“Di pojok bangunan ada PC yang ditinggal. Di lantai dua ada banyak kotak penyimpanan. Mungkin ada barang bagus…”
“Oke! Tolong jaga di luar lagi, yah. Kalian bertiga cek lantai dua, aku bakal mencoba mengorek data!”
Mereka mengangguk dan kami berpisah. Setelah menuju tempat yang diberitahukan oleh LP, aku mengeluarkan sebuah alat yang dapat meretas alat elektronik apapun selama alat itu ada di dekatnya. Bentuknya sangat mirip seperti provider Wi-Fi hanya saja lebih portable.
“Laz, coba retas PC mereka! Mungkin aja ada data yang berguna.”
“Sebentar… coba nyalakan PCnya kalau masih bisa!”
Tanpa berpikir dua kali, aku mencoba untuk segera menyalakannya.
“Semoga bisa, semoga bisa, semoga bisa… yes! Bisa! Sudah nyala!”
“Sebentar …… woah… ane masuk ke Mainframe mereka!!!”
“Hah?! Salin semua yang ada!!!”
“Masih progress … sudah! Kita dapat Mainframe klan Celestial!!!”
“WOAH!!!”
__ADS_1
Perasaan senang sangat kurasakan malam ini. Tidak ada yang lebih berharga daripada Mainframe klan besar. Ini benar-benar kesalahan besar yang mereka lakukan! Kuharap mereka tidak dendam pada kami.
”Cepat balik! Takut ada apa-apa!”
Aku segera berlari ke tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua setelah mengambil kembali alat peretas yang tadi kugunakan.
“Yo, ayo keluar! Aku sama Lazy dah dapat data yang berguna banget!”
Saat saampai di atas, semua kotak penyimpanan sudah terbuka lebar dan mereka bertiga masih mencari-cari dengan teliti. Seperti seseorang yang sedang kehilangan barang berharga, itulah ekspresi yang terpasang di wajah mereka.
“Oi, ayo!”
“Sebentar! Si Dimas barusan dapat AWM! Mungkin aja ada yang lain!”
Mendengar itu dari Fadli, aku melihat ke arah Dimas, dan dia mengangguk setuju. Mereka benar-benar menemukan senjata yang tertinggal?! Betapa beruntungnya! Aku juga ingin mencoba mencari, tapi kurasa ini terlalu membuang-buang waktu.
Mereka tetap mencari-cari selama beberapa menit tapi tidak menemukan senjata api lagi, melainkan senjata tajam. Akhirnya kami kembali ke tempat persembunyian dan berkumpul di sebuah ruangan yang mana hanya terdapat sebuah meja di tengah-tengah ruangan tersebut.
Enam orang mengelilingi meja tersebut. Disaat yang lain sedang menunggu, aku mengeluarkan alat peretas yang tadi kugunakan untuk meretas dan menyimpan semua data yang ada di dalamnya dan meletakkannyadi atas meja.
“Malam ini kita beruntung banget! Kita dapat Mainframe klan Celestial yang kuyakin banyak data penting di dalamnya. Laz, nanti tolong periksa yah!”
“Siap!”
Setelah meminta Lazy untuk memeriksa setiap data yang telah kami dapatkan, aku meminta yang lainnya untuk mengeluarkan semua barang-barang yang telah mereka temukan dan meletakkannya di atas meja.
Terdapat sebuah senjata api berjenis rifle dan lima senjata tajam yang terdiri dari sebuah tombak, dua bilah belati, dan dua bilah machete. Aku mengambil rifle tersebut dan melihatnya dengan seksama.
“Ini yang didapat Dimas?”
Sembari memutar-mutarnya, melihat dari segala sisi kemudian menemukan sebuah tulisan di bagian popornya.
“L96A1…? Hmm… yasudah. Yang penting malam ini bisa panen data penting. Untuk rifle sama yang lainnya, yang menemukan yang menyimpan!”
Aku mengambil alat peretas dan memberikannya pada Lazy.
“Tolong yah…”
“Tenang! Besok pasti sudah selesai.”
Senang mendengar itu. Setelah itu aku pergi meninggalkan ruangan.
“Anggota yang lain gak ada yang online yah…?”
Ah, aku ingat. Sudah tengah malam, mana mungkin mereka login dijam seperti ini. Kami login dijam seperti ini untuk memastikan tidak ada yang mengganggu saat penyusupan tadi berlangsung.
“Oi, cuy! Aku mau logout, sudah ngantuk. GGWP¹!”
Aku melihat ke arah belakang dan Dimas sudah bersiap untuk keluar dari dalam permainan.
“Ah, emh! GGWP!”
Tubuh karakternya menghilang seperti ditelan digital dengan cepat. Setelah itu aku juga keluar dari permainan ini dan tidur sembari menunggu pagi hari dan bersiap memainkannya lagi.
Permainan ini diciptakan oleh sebuah perusahaan independen luar negeri dengan menggabungkan segala genre yang pernah ada. mulai dari olahraga, aksi, musik, RPG, FPS, dan masih banyak lagi.
Bahkan menurutku, ini sudah bukan permainan lagi, melainkan sesuatu seperti simulasi kehidupan dunia nyata. Para pemain dapat bekerja layaknya di dunia nyata dan mendapatkan bayaran dari sistem dengan menggunakan mata uang dalam permainan, yaitu Kredit.
Meski aku mengatakan semua genre disatukan, ada beberapa genre permainan yang tidak ada di dalam permainan ini, seperti sihir dan skill. Yah, kurasa itu akan membuat permainannya tidak seimbang dari segala aspek jika menambahkan bumbu tersebut.
Pemain dapat memainkan permainan ini layaknya mimpi dengan fase yang disebut Deep Dive dengan bantuan alat yang bernama Asset. Permainan ini hanya dapat dimainkan di server di mana pemain tersebut tinggal. Lebih tepatnya, negara tempat mereka tinggal. Masih banyak lagi fitur dari permainan ini, hanya saja mungkin membutuhkan banyak waktu untuk menjelaskan segalanya. Dan nama permainan ini adalah Cluster World, kami biasa menyebutnya dengan CW.
__ADS_1
**Note :
¹ : Good Game Well Played**