Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 16 : Daftar Hitam


__ADS_3

Tepat sehari setelah mendapatkan rekaman penembak jitu yang menembakku di Sektor 66, aku tidak bermain selama dua hari demi keamanan diriku di Cluster Online. Untuk menghindari pencarian terhadap avatarku.


Tentunya sebelum melakukan hal itu aku sudah meminta Lazy untuk mencari data mengenai penembak tersebut dengan hanya berdasarkan rekaman tersebut. Itulah alasanku memasuki permainan ini di hari ketiga.


Dan oh ya, telur naga yang Zia jaga telah menetas dan segera mengamankannya di markas ini. aku mendapatkan kabar dari Amou- atau lebih biasa kupanggil dengan nama aslinya, yaitu Faisal, jika telur naga yang dia beserta Bang Sema jaga sudah mulai memberikan tanda-tanda siap menetas.


Cukup mengejutkan mengetahui telur yang kami jaga lebih cepat menetas daripada telur merah yang Bang Sema dan telur hijau yang Fadli bawa. Jujur saja aku bersyukur karena menghabiskan waktu di tempat dengan suhu mencapai minus bukanlah pengalaman yang bagus.


Meski begitu, tiga hari yang kuhabiskan untuk tidak memasuki permainan ini sama sekali tidak membuahkan hasil karena saat ini aku sedang berada di Sektor 9 dan dikejar oleh tiga orang yang tidak kukenal di siang bolong.


Kota Sektor 9 ini sangat dipenuhi rumah yang kurang lebih mirip seperti kota Rio De Janeiro menurutku.


Aku berlari ke arah sebuah kotak kayu dan menjadikannya pijakan untuk melompat ke atap bangunan yang tidak terlalu tinggi dan kembali berlari.


“OI! BERHENTI!!!”


Salah satu dari mereka berteriak dari jalanan dan tetap mengejarku dari bawah. Sedangkan dua lainnya mencoba untuk menaiki atap rumah yang saling berdekatan satu dengan yang lain.


Sebuah tembakan dilepaskan oleh salah satu pria yang berhasil menaiki atas. Pelurunya meleset tapi menggores bahuku. Merasakan hal yang cukup serius ini, aku mengubah arah pelarianku dan melompat di atap bangunan satu persatu.


“Huff…!”


Sembari mengatur nafas, aku membuka jendela menu dan mengirimkan pesan pada klanku. Sekarang aku hanya berharap jika ada dari mereka yang sedang aktif. Sialnya aku tidak membawa earpiece dan senjata apapun. Saat ini inventarisku benar-benar kosong.


Aku kembali melompati atap rumah dan mendarat di atap rumah yang lain. Mencoba untuk melirik ke belakang, salah satu dari dua orang yang mengejarku di atas atap sudah sangat dekat.


“Cepatnya!!”


Karena tidak memperhatikan jalan, aku salah mengambil momentum untuk kembali melompat dan akhirnya terjatuh ke salah satu atap yang lebih rendah membenturnya dengan keras.


“Uhuk! Agh…”


Aku mencoba untuk kembali bangun tapi pria yang berada tepat di belakangku dengan cepat menyusul. Setelah sampai di dekatku, dia menarik pakaianku, membuatku bangun dan memukul perutku dengan sangat keras.


Dengan rambut coklat dan mata hitamnya, pria tersebut mengenakan pakaian berwarna dominan merah dengan detail biru serta garis kuning. Sekilas, aku melihat sebuah lambang di dadanya, tapi aku tidak mengenali lambang tersebut.


“Ahk…!”


Sekali lagi aku terjatuh dengan merintih kesakitan dan terbatuk-batuk. Dalam waktu itu, orang kedua telah mencapai atap yang sama dan tanpa sepatah kata apapun dia menendang perutku sampai membuatku terbalik.


Pria kedua mengenakan pakaian yang sama persis, hanya saja dia memiliki rambut hitam kecokelatan.


“Agh…! Uhuk uhuk!”


Mengambil nafas saja sudah terasa seperti menghancurkan paru-paru bagiku. Aku merangkak untuk mencoba mengambil jarak, tapi pria yang baru saja menendangku tadi menarik dengan kuat rambutku ke belakang.


“Aghh!!”


Dia menarik sebuah belati dan menempelkannya di leherku. Meski mataku terpejam menahan rasa sakit, aku dapat merasakan dinginnya besi tersebut.


“Sekarang apa?”


Aku membuka mata dan melihat pria yang menahanku bertanya pada pria yang berdiri dengan membuka jendela komunikasi miliknya.


“Sebentar! Aku coba hubungi Ban dulu.”


Saat itu juga, pria yang tadi mengejarku dari jalanan mencapai tempat kami berada setelah menaiki salah satu rumah. Tanpa ampun, sesaat dia mendekat, kakinya mendarat di wajahku dengan kuat beberapa kali sebelum akhirnya meludah.


Dengan pakaian yang juga sama, pria yang terakhir datang tersebut memiliki rambut berwarna merah gelap.


“Oi, oi! Jangan sampai dia mati! Kita masih di Wilayah Aman. Kalau dia mati, kau yang akan dapat masalah!”


Pria yang menahanku menghentikannya, tapi belati tersebut tetap menempel di tenggorokanku dan bahkan sempat menggores.


“Menyusahkan saja! Apa benar dia orangnya yang menghancurkan fasilitas komunikasi kita?”



“Ini mau kupastikan.”


Seseorang menerima panggilannya. Wajah penerima ditampilkan melalui hologram dan aku mengenali wajah tersebut dengan jelas.


“Kak Ban, maaf mengganggu. Apa benar orang ini yang menghancurkan fasilitas kita? Aku kurang yakin karena dia lemah.”


Pria yang memanggil memutar hologram tersebut dan mengarahkannya padaku. Membuat si penerima panggilan dapat melihat wajahku dengan jelas.


“Hmm… iya, dia! Meski sebelumnya dia memakai topeng, aku dapat dengan mudah mengenali wajahnya. Aku yakin saat itu dia juga bersama dengan teman-temannya. Bawa dia ke markas utama!”

__ADS_1


Penerima panggilan tersebut adalah pemain yang mengenakan armor norak di Sektor 66 sebelumnya. Sebelumnya saat kami sampai di markas setelah kembali dari Sektor 66, aku mencoba untuk memeriksa inventarisku tapi tidak menemukan armor miliknya. Itu berarti dia dapat selamat bahkan dari ledakan sebesar itu.


“Siap!”


Setelah menutup komunikasi, dia menyuruh kedua temannya untuk mengikat kedua tangan dan membawaku turun dari atap rumah ini dan berjalan ke tengah kota.


Dalam perjalanan, kami menjadi perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, jika kau melihat tiga orang yang sedang membawa seseorang lagi dengan cara menyeretnya di tengah kota. Coba tebak siapa yang sedang mereka seret. Tentu saja aku.


“Tch, diamlah!”


Tidak ada satupun dari mereka semua yang mencoba untuk menghentikan tindakan orang-orang ini. Entah karena takut atau alasan lainnya. Yang jelas mereka tidak ingin terbawa dengan masalah yang tidak mereka ketahui.


Aku mencoba untuk melepaskan diri dengan cara memberikan sedikit perlawanan. Tapi tentu saja itu mustahil karena perbedaan jumlah dan sejak awal mereka memang lebih kuat dariku.


Seandainya aku tidak mengosongkan inventaris ku, mungkin saja masih ada kesempatan sekalipun itu harus membunuh mereka dan menjadi Blacklist Player.


Seperti artinya, Blacklist Player atau biasa disebut BP di dalam permainan ini adalah pemain yang membunuh pemain lain saat berada di Wilayah Aman seperti kota. Sistem ini sangat merepotkan karena pemberitahuan akan dikirimkan kepada semua pemain yang aktif dan meminta untuk memburunya sekalipun di Wilayah Aman. Kemudian hadiah yang ditawarkan sistem juga cukup menggoda.


Karena permainan ini tidak menunjukkan nama dan kursor di atas kepala pemain, jadi sistem mengirimkan nama beserta foto pemain tersebut secara langsung.


Efek BP akan tetap ada selama tujuh hari penuh dan selama itu berapa kali pun pemain tersebut dibunuh, hadiah tetap tidak akan berkurang. Dengan kata lain, jika satu orang terus membunuh pemain yang memiliki efek BP bekali-kali, maka hadiahnya juga akan dilipat gandakan oleh sistem.


Aku yang sedari tadi melirik ke berbagai arah mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk pelarian tidak menemukan apapun. Namun ada suatu hal yang membuatku termenung sementara.


Dua orang pemain perempuan sedang berdiri di dekat alat perpindahan. Salah satunya adalah pemain perempuan yang kubunuh di tangga saat berada di Sektor 66, sedangkan satunya memiliki rambut hitam namun ini adalah kali pertama aku melihatnya.


“Ah!”


Aku menatap lurus ke mata pemain perempuan yang kukenal tersebut, tapi dia hanya memalingkan wajahnya.


“Mio? Sedang apa berada di sini?”


Pria yang berambut merah bertanya pada perempuan berambut hitam itu.


“Cuman disuruh memastikan.”


Gadis berambut hitam itu menatapku penuh amarah. Kurasa ini adalah pertama kalinya kami bertemu tapi entah kenapa aku merasa sangat dibenci di sini.


“Um… Mbakyu, ini pertama kalinya kita ketemu, kan? Kenapa tatapannya begitu?”


Aku mencoba untuk bertanya pada gadis berambut hitam itu dengan sopan. Tapi yang kudapat adalah tatapannya semakin tajam seperti sedang melihat sampah.


Tiba-tiba sebuah pesan ditampilkan di hadapanku yang berbunyi, “Tetaplah diam.” yang tentu saja membuatku tidak bergerak setelah membacanya.


Seketika bagian tangan hingga siku salah satu pria yang memegangiku terputus dan dia terlempar. Menggunakan kesempatan tersebut aku mencoba untuk berdiri dan dua pria lainnya langsung melihat ke arahku. Tentu aku tidak bisa kabur dan berhadapan dengan mereka dengan tangan terikat.


“Apa barusan!! Kamu apakan dia!”


Pria berambut cokelat itu berteriak padaku. Namun dari sisi lain alat pemindah, dua orang yang menutupi dirinya dengan jubah hitam dan menggunakan tudung berlari ke arah kedua pria yang tersisa.


Salah satunya menggunakan dua buah rapier, sedangkan satunya dengan sebilah pedang satu tangan. Kedua pria yang menangkapku menyadari keberadaan mereka dan dapat menghindari serangan mereka.


Serangan demi serangan dapat mereka hindari dengan mudah. Pertarungan dua lawan dua itu terlihat didominasi mereka yang menangkapku meski orang-orang dengan jubah itu menggunakan senjata.


Tanpa berpikir panjang, aku meregangkan tangan yang terikat dan mengangkatnya ke atas kepala. Sebuah peluru melintas tepat di antara tali yang mengikat kedua tangan dan aku pun terbebas.


Aku membantu orang-orang dengan jubah hitam tersebut dan menjadi pertarungan tiga lawan dua.


Aku berfokus pemain yang membawa pedang satu tangan itu. Dia melawan pria dengan rambut cokelat. Aku membantunya dengan cara menendang belakang lututnya, membuat dirinya kehilangan keseimbangan hingga berlutut dan pemain berjubah tersebut menendang wajahnya menggunakan lutut. Ketika pemain berjubah tersebut ingin menghabisinya, aku menangkap tangannya yang memegang pedang dan mengambil pedang tersebut secara paksa.


“Biar aku aja.”


Tanpa menunggu lama aku memenggal kepala pemain tersebut. Dengan menghilangnya tubuh pemain tersebut, seluruh barang dan uangnya masuk ke dalam inventarisku.


Player Reiga has became Blacklist Player


Estimination time : 6D – 23H – 59M – 58S


Pemberitahuan tersebut muncul di hadapanku dan mengabaikannya.


Setelah mengembalikan pedang yang kuambil secara paksa, kami membantu pemain berjubah satunya.


Pengguna rapier ganda itu terlihat kesulitan dan aku segera melakukan tendangan terbang setelah mengambil ancang-ancang ke arah sisi perut pemain berambut hitam tersebut. Membuatnya terjatuh dan menginjak perutnya sekuat yang kubisa.


“AHH!!!”


__ADS_1


“Hei… gimana rasanya pas menendangku? Apa rasanya nyaman?”


Dia tidak menjawabku dan hanya terbatuk-batuk menahan rasa sakit.


“Oi… jawab!!!”


Aku kembali menginjak perutnya sekuat tenaga. Membuatnya menjerit dan terus menerus terbatuk.


Salah satu pemain dengan jubah, lebih tepatnya yang membawa pedang satu tangan memegangi bahuku. Memintaku untuk segera pergi dari tempat ini.


“Waktumu gak banyak. Sebelum ada yang datang lagi. Ayo pergi!”


Aku juga menyadari jika pemain lain sudah mulai berkumpul untuk mencoba memburuku.


“Cih!”


Di waktu yang singkat itu aku menginjak kepalanya sampai dia mati dan tubuhnya menghilang.


Aku berjalan mendekati pemain yang kehilangan satu tangannya tersebut. Sepertinya dia pingsan karena membentur lantai cukup keras setelah terlempar. Aku melakukan hal yang sama seperti pada pemain barusan, yaitu menginjak kepalanya sampai tubuh pemain tersebut menghilang.


Pemain berjubah yang menggunakan rapier ganda memberikanku sebuah jubah yang sama persis. Aku segera mengenakannya, kemudian berjalan ke arah kedua gadis yang berdiri di dekat alat pemindah.


Aku menunjuk ke arah gadis bernama Mio itu. Memberikannya tanda jika dia atau siapapun yang mengincarku ataupun anggota klanku, akan berakhir seperti mereka atau bahkan lebih buruk.


Sedangkan untuk gadis satunya, aku mendekatinya dan berbisik padanya.


“Malam ini, S51, tempat biasa, kutunggu.”


Setelah itu kami bertiga segera menggunakan alat pemindah dan pergi ke Sektor 51. Begitu sampai, aku bergegas meninggalkan kota dan berlari berlawanan arah dari jalur yang seharusnya kutempuh jika akan pergi ke markas. Mereka berdua mengikutiku dari belakang.


Setelah keluar dari wilayah kota, aku segera berlari tepat ke dalam hutan. Karena pada awalnya kebanyakan Sektor 50 sampai 59 adalah wilayah hutan, jadi menemukan hutan yang lebat adalah hal biasa.


Merasa sudah cukup memasuki hutan cukup dalam, aku berhenti dan melihat ke arah kedua orang yang dari tadi mengikutiku. Mereka membuka tudung kepala dan menghela nafas. Mereka adalah Lazy yang menggunakan rapier ganda dan Fajar yang menggunakan pedang satu tangan.


“Makasih sudah ngebantu, yah.”


Aku menemukan batang pohon tumbang dan menjadikannya tempat duduk sembari mengambil nafas karena kelelahan.


“Santai aja… tapi sekarang gimana? Kamu jadi BP loh!”


Mendengar itu dari Fajar, aku hanya menghela nafas sambil memikirkan apa yang harus kulakukan untuk seminggu ini. Tapi entah bagaimana aku sama sekali tidak dapat memikirkan apapun.


“Hahh… yah, bisa kupikirkan nanti.”


Aku membuka inventaris untuk memeriksa apa saja yang kudapatkan dari mereka bertiga yang sudah kubunuh. Cukup mengecewakan karena mereka tidak membawa persediaan yang kubutuhkan selama seminggu.


“Kalian pulang aja duluan ke markas. Aku gak bisa ikut, takutnya ada yang mengikuti nantinya. Intinya untuk seminggu ini jangan sampai ketemuan dulu yah.


Mereka melihat satu sama lain setelah mendengarku. Tapi kemudian Lazy memberikan beberapa barang.


“Yasudah, paling gak, ambil ini. Supaya bisa kulacak, terus kalau butuh apa-apa tinggal kirim pesan aja. Aku juga mau nyuruh Zia untuk pulang.”



“Oh, tadi yang menembak dari jarak jauh itu Zia?”


Dia menyerahkan sebuah earpiece dan pemancar sinyal.


“Emh! Makasih banyak.”


Setelah berterima kasih dan menerima kedua benda tersebut, aku segera memasukkannya ke dalam inventaris.


“Okelah, kami pulang dulu.”


Aku mengangguk setelah Fajar mengatakan itu. Setelah itupun mereka pergi meninggalkanku ssendirian


“Huff… sekarang…”


Aku membalikkan tubuh dan berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Ke tempat yang jarang di datangi pemain lain.


Sebisa mungkin aku harus menghabiskan banyak waktu di dalam permainan untuk segera menghilangkan efek BP ini. Sekalipun aku keluar dari permainan, akumulasi waktunya tidak akan berkurang karena sistem hanya akan menghitung mundur saat pemain aktif saja.


Yah, kurasa aku akan berlatih sendirian di tempat ini. Tentu saja setelah menanyakan apa saja yang harus kulakukan untuk bertambah kuat dari Bang Sema.


Aku menyadari jika diriku memang lemah. Itu sebabnya aku tidak dapat bertahan dari ketiga orang itu tanpa bantuan dari mereka.


Tidak hanya itu. Pemain bernama Ban itu… dia benar-benar mengincarku. Kurasa aku sudah mencari masalah pada seseorang yang tidak seharusnya kulakukan. Tapi jika tidak kulakukan, maka mereka akan mengincar Dimas. Itu sebabnya aku menghancurkan tempat mereka. Jadi kurasa ini impas.

__ADS_1


“Kurasa situasi kami di permainan ini menjadi cukup serius…”


__ADS_2