Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 13 : Everlasting Winter


__ADS_3

Badai salju yang kami alami cukup buruk sampai membutuhkan sehari penuh sampai mereda sepenuhnya. Kondisi Zia juga telah membaik karena dia terus berada di dekat perapian.


Dari dalam kamar aku tahu jika hari baru menyingsing, begitu juga dengan saluran radio kami juga telah dinyalakan oleh seseorang dari markas. Aku tidak tahu siapa, karena itu tidak terlalu penting, tapi tetap saja aku berterima kasih untuk hal itu.


Dengan saluran radio kami yang telah dinyalakan, aku bertanya beberapa hal pada Fadli dengan menggunakan earpiece semalam. Salah satunya adalah cara menetaskan telur naga ini.


Yah, untungnya untuk kasus telur naga yang kujaga bersama Zia ini tidak membutuhkan syarat yang sulit. Cukup membawanya ke tempat dengan suhu di bawa nol derajat, itu sudah cukup. Bahkan di dalam kabin pun suhu tetap berada di angka minus, jadi tidak ada masalah.


Aku mengeluarkan koper putih yang sebelumnya kudapatkan di tempat Ilham setelah membeli beberapa senjata beserta alat lainnya. Aku meletakkannya di atas lantai dan membukanya dengan posisi berlutut.


Carcano, M4A1, serta alat-alat yang kubeli diletakkan secara terpisah di atas busa strerofoam berwarna hitam. Kemudian terlihat benda yang seharusnya tidak ada karena aku tidak memesannya.


“Apa ini?”


Aku menggapai dua buah benda yang seharusnya tidak ada di dalam koper tersebut. Sebuah peredam berwarna abu-abu dan kotak karton berukuran kecil dengan gambar peluru. Kurasa peluru tersebut untuk Carcano karena kalibernya sedikit lebih besar dari milik M4A1.


“Bonus? Kalau gitu mereka cukup baik untuk memberikan bonus seperti ini, bukan?”


Aku merakit M4A1 dengan aksesorisnya yang sudah ada seutuhnya, kemudian memasukkan peluru ke dalam magazen miliknya. Setelah semua selesai, aku memasukkan magazen cadangan ke dalam holster, sedangkan magazen lainnya kupasang pada M4A1. Tidak lupa untuk mengaktifkan pengamannya.


Selesai mengurus M4A1 yang kusayang, aku mengurus Carcano. Yah, tidak ada hal khusus yang kulakukan padanya karena aku hanya memasukkan peluru ke dalamnya. Sama seperti senjata rifle model lama lainnya, Carcano tidak memiliki magazen melainkan langsung memasukkan peluru ke dalamnya.


Dengan kedua senjata yang telah kupersiapkan dimasukkan ke dalam inventaris, aku keluar dari kamar dan melihat Zia yang sudah bangun terlebih dahulu di depan perapian dengan telur naga yang terus dipeluknya.


“Zi, aku mau keluar untuk liat wilayah ini, yah?”


Aku cukup penasaran karena Sektor ini belum pernah kudatangi sebelumnya. Juga aku ingin melihat habitat yang ada di sekitar sini.


“Iya. Hati-hati. Oh iya, ini …”



“Hm?”


Aku mendekat selagi dia mengeluarkan sebuah kardus berukuran sedang di hadapanku.


Setelah kubuka, dalamnya berisi dengan ransum murahan yang bisa dibeli pada NPC mana pun di kota.


“Ini makanan?”


Aku menunjuk tumpukan makanan ringan sereal dari gandum yang sudah dipadatkan dan air mineral tersebut.


“Udahlah gak usah pilih-pilih! Yang penting bar makanan sama minuman terisi!”



“Iya deh iya!”


Aku mengambil sebotol air mineral dan dua bungkus makanan ringan tersebut dan memasukkannya ke dalam inventaris.


“Yasudah, aku berangkat. Oya, snowmobile-nya kubawa yah! Kalau ada apa-apa, hubungi aja!”


Aku menunjuk earpiece yang selalu kupakai di telingaku untuk memberikannya isyarat.


“Iya.”


Dengan begitu aku keluar dari dalam kabin dan membiarkan Zia untuk merawat telur naga tersebut. Jujur saja aku sangat penasaran naga yang akan keluar dari dalam telur tersebut. Apakah akan mirip seperti Maga Antu? Yah, kurasa dia pasti akan sedikit mirip.


Dengan rasa penuh penasaran tersebut, aku semakin pergi ke arah utara dengan snowmobile sampai ke puncak salah satu bukit. Di atas sana aku dapat melihat sebuah dataran luas dengan danau dan pepohonan yang banyak di arah yang mengarah jauh ke utara.


Aku memutuskan melanjutkan perjalanan ke arah danau tersebut dan berhenti di tepinya.


Setelah turun dari snowmobile, aku berjongkok di dekat air dan menyentuhnya. Yah, jelas airnya membeku seluruhnya. Dari posisi itu juga aku dapat melihat beberapa rusa serta binatang lainnya dari kejauhan. Namun tidak menemukan monster satu pun.

__ADS_1


Sebuah cipratan air terdengar tidak jauh dariku. Mengikuti sumber suara, aku menemukan seekor kelinci terjebak di dalam sisi danau yang membeku sebagian. Menyebabkan lapisannya pecah dan dia terjebak.


“Ah, bentar, yah.”


Aku memukul bagian es di sekitar yang membuat tubuh bagian bawahnya terjebak hingga pecah, lalu mengangkat kelinci malang tersebut dari dalam air.


Karena sebagian tubuhnya terjebak di dalam air yang membeku, dia terlihat kejang-kejang dan tidak dapat bergerak.


Aku mengelus kepalanya dengan lembut sembari mengeluarkan sebilah belati dari inventaris dan menempelkan ujung belati tersebut di leher kecilnya.


Entah kenapa aku jadi teringat seorang karakter dari sebuah permainan yang juga merupakan ras kelinci kutub, kurasa. Karakter tersebut sangat dipenuhi kesedihan di cerita miliknya dan aku mengucapkan namanya secara tidak sengaja.


“Maaf yah, Frostnova.”


Aku menancapkan belati tersebut di lehernya dan membuat kematian seketika. Kuharap itu sebuah kematian yang tidak menyiksanya.


Mengingat peraturan yang ada, memburu secara berlebihan akan mendapatkan hukuman. Tapi yang kulakukan ini bukanlah berburu, melainkan membunuhnya dengan belas kasihan. Lagi pula jika tetap dibiarkan dia akan tetap mati dan tersiksa.


Karena merasa sayang jika ditinggalkan aku memutuskan untuk memasukkannya ke dalam inventaris kemudian melanjutkan perjalanan dengan perlahan menggunakan snowmobile dengan arah tetap ke utara.


Di dalam perjalanan tersebut aku mendengar suara lolongan yang cukup pelan.


“Serigala?”


Dari suaranya, lokasinya cukup jauh. Tapi di lain sisi aku berpikir, jika suaranya cukup jauh, bukankah berarti suaranya cukup keras?


Karena hal itu aku mengarahkan snowmobile ke arah datangnya suara lolongan tersebut. Benar saja, seekor serigala hitam terlihat dengan salah satu kakinya terkena jebakan beruang dan tidak dapat bergerak.


Setelah turun dari snowmobile dan berniat untuk menolongnya, aku menyadari jika ukuran tubuhnya tidak normal. Setidaknya tingginya saja hampir setara denganku.


Dia menyadari kedatanganku dan menggeram dengan memamerkan taringnya yang besar. Meski begitu aku tidak menghentikan langkahku dan terus mendekatinya secara perlahan tapi pasti. Tapi saat jarakku cukup dengannya, serigala tersebut mencoba menyerangku dengan cakarnya.


“Oi! Santai aja napa?!”


Yah, hal itu tidak mudah dari yang kupikirkan. Bahkan setelah sejam berlalu, dia tetap melihat ke arahku meski kali ini dia sedang berbaring. Aku mendekatkan diriku sedikit dan dia segera bangun.


“Oi, oi… ayolah…!”


Aku mengurungkan keinginan untuk mendekatinya dan tetap berada di jarak aman. Mengambil bangkai kelinci sebelumnya dari dalam inventaris, aku memberikan pada serigala hitam tersebut lalu meninggalkannya.


Bukan berarti aku sepenuhnya meninggalkannya, hanya saja aku mencoba untuk memberikan buruan yang lebih besar untuk mengalihkan perhatiannya, lalu mencoba untuk membebaskannya.


Lagi pula tidak ada gunanya membunuh serigala. Aku tidak mungkin akan mencoba untuk memakan binatang semacam itu. Maksudku, ayolah! Siapa yang ingin memakan hewan buas seperti itu?!


Melanjutkan perjalanan, aku memasuki wilayah hutan yang tidak terlalu lebat. Pepohonan cemara kering dan tinggi tanpa dedaunan menghiasi tempat ini. Karena sedikit tidak memungkinkan untuk menggunakan snowmobile di tempat ini, aku memasukkannya ke dalam inventaris dan mengeluarkan Carcano.


Salju kembali turun dengan cepat di wilayah ini bahkan nafasku saja sudah mulai menguap. Yah, bukan berarti aku terbiasa dengan cuaca seperti ini. Meski tidak sedingin di sini, setidaknya aku pernah merasakan dingin yang mendekati.


Saat itu aku dan beberapa teman ditemani seorang pengawas, kami pernah mencoba untuk mendaki gunung Semeru. Yap, kami mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut pada saat musim hujan. Aku basah kuyup saat mendekati pos terakhir tapi itu tidak menghentikan kami sekalipun dinginnya menusuk tulang.


Tidak lama setelah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, aku melihat dua ekor rusa besar yang sedang mengais salju, mencari rerumputan beku.


“Itu… moose?”


Dua ekor rusa moose berukuran besar berjarak kurang lebih lima puluh meter dari pandanganku. Aku mengangkat Carcano dan membidik salah satunya.


Rusa yang masuk pandanganku menggerakkan telinganya dan mengangkat tinggi kepalanya. Terlihat seperti sedang merasakan ancaman dan mencoba untuk mencarinya. Hanya saja jariku sedikit lebih cepat saat menarik pelatuk dibandingkan instingnya.


Sebuah tembakan terdengar keras karena Carcano tidak memiliki peredam. Rusa yang tertembak terjatuh kaku dengan keempat kakinya tetap lurus, sedangkan satunya lari menjauh dengan cepat.


“Huff…”


Aku mendekati rusa yang telah kutembak tersebut sebelum akhirnya aku mendengar sesuatu di salju tidak jauh dari tempatku berpijak. Aku melihat ke arah permukaan salju sekitar dan tidak menemukan apapun.

__ADS_1


“Kayak suara sesuatu jatuh? Yah, palingan cuma imajinasi.”


Aku kembali melangkahkan kaki. Setelah berdiri di dekat bangkai moose tersebut, aku memasukkannya ke dalam inventaris dan suara yang sama terdengar, hanya saja kali ini aku menemukan sebuah lubang tepat di dekat kakiku yang tadinya tidak ada.


“Eh?”


Aku merendahkan tubuhku untuk melihat dengan jelas ke lubang yang kulihat, sebelum akhirnya sebuah proyektil melesat dengan kecepatan tinggi menyerempet bahu kiriku yang juga membuatku terjatuh.


“Ap-?!”


Menyadari apa yang baru saja menabrakku, aku segera berbalik dan berlari secepat yang kubisa. Tapi hal yang sama tersebut datang kembali dan kali ini mengenai kaki kananku.


“Agh-!!!”


Aku terjatuh dan berguling ke balik sebuah pohon berukuran sedang dan membuka inventaris untuk mengambil dye dan segera menggunakannya.


Aku melihat ke arah bahu kiriku yang hancur dan kaki kananku putus.


“Sniper, kah?! Sialan!!”


Aku mengintip dari balik pohon dan dari kejauhan, tidak terlalu jelas karena salju, tapi aku yakin sedang melihat sebuah bangunan di atas sebuah bukit.


Dengan cara memaksakan diri, aku mencoba menjauhi tempat tersebut dengan cara melompat hanya dengan satu kaki. Meski sangat melelahkan karena terus-menerus melompat, akhirnya aku keluar dari hutan tersebut dan segera menggunakan snowmobile untuk kembali.


Tidak ingin mati di tempat seperti itu, aku menarik gas sekuat tenaga dan merasakan badai salju akan kembali datang. Disaat genting seperti itu juga bahan bakar snowmobile yang kugunakan habis di tengah jalan.


“Oi, oi, oi jangan begini WOY!!! Sialan!!”


Aku memukul kemudinya dengan keras karena kesal. Mencoba meraih telinga untuk mengaktifkan earpiece, aku hanya dapat terdiam karena hal itu.


“Zi! Aku-… eh?!”


Earpiece yang selama ini menggantung di telinga kananku hilang


.


“Apa mungkin jatuh pas aku berguling tadi? … Eh?”


Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Karena hal itu aku hanya menjatuhkan diri dari berbaring di atas salju dengan cuaca dingin yang semakin tidak dapat kutahan karena badai.


Menggunakan tangan kananku untuk mengusap wajah karena rasa sesal yang sekarang kualami karena tangan kiriku tidak dapat digerakkan.


“Tau gini mending gak pergi terlalu jauh.”


Butuh tiga puluh menit untuk memulihkan bagian tubuh pemain yang hilang. Meski begitu aku tidak yakin dapat bertahan hidup.


“Hahh… selamat dari peluru, mungkin bakal mati gara-gara kehabisan darah atau cuaca di sini, yah… haha… hahh…”


Grrrrr----!!


Aku mendengar suara geraman di dekatku. Setelah melihat ke arah datang suara tersebut, aku melihat serigala hitam yang terjebak tersebut lagi. Aku tidak menyangka akan berhenti di tempat seperti ini.


“Oh, hai! Kita ketemu lagi. Sekarang opsi kematianku bertambah jadi tiga. Kehabisan darah, cuaca, atau dibunuhmu.”


Setelah mengatakan itu, aku menyeret tubuhku ke arah jebakan beruang di kakinya dengan sisa tenaga yang ada. Setelah meraih jebakan di kakinya, serigala tersebut menggigit dengan kuat bahu kiriku yang sudah hancur.


Aku mengabaikan gigitannya dan tetap berusaha untuk membuka jebakan beruang tersebut dengan tangan kanan dan wajahku sendiri untuk menahan salah satu sisinya sebelum akhirnya terbuka.


Setelah kakinya terbebas, dia melepaskan gigitannya di bahuku dan berlari menjauh.


“Oi… seenggaknya bunuh aku dulu… dingin cuy… di sini…!”


Aku mulai sulit untuk mempertahankan kesadaran dan akhirnya tidak sadarkan diri di tempat tersebut.

__ADS_1


Sungguh disayangkan karena aku akan kehilangan M4A1 kesukaanku. Tanpa ada kesempatan untuk mencobanya, aku juga akan kehilangan banyak sekali credit. Sungguh hari yang sial bagiku.


__ADS_2