Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 3 : Chrome


__ADS_3

Aku mengambil ikat pinggang holster dan holster paha. Keduanya tipe taktikal. Holster yang berada di pinggang dapat menampung sampai tiga buah sarung senjata tipe HG dan delapan buah magazen HG atau empat buah magazen AR, sedangkan yang berada di paha hanya dapat menampung satu sarung senjata dan sebuah pisau.


Aku mengambil empat buah senjata bertipe HG dengan jenis yang sama, yaitu FN-57 dengan masing-masing kupasangi peredam pendek tanpa tambahan yang lain. Satu magazen FN-57 normal dapat menampung hingga sepuluh butir peluru. Semua pengamannya sudah kuputar.


Setelah meletakkan keempat senjata tersebut pada masing-masing sarung, aku mengambil empat buah magazen yang telah diperpanjang hingga dapat menampung 15 butir peluru untuk FN-57 dan meletakkannya di holster pinggang bagian belakang kanan.


Aku mencoba untuk mencari senjata berikutnya yang kuinginkan, tapi tidak dapat menemukannya. Yah, bisa terbilang sulit untuk mencari senjata yang kau inginkan di tempat penyimpanan seperti ini.


“Cak, AR\-15 mana?”


Aku bertanya padanya karena tidak dapat menemukan senjata yang kucari.


“Coba liat di sana!”


Dia menunjuk dinding yang dekat dengan elevator. Tanpa bertanya kembali aku mengarah ke sana dan menemukannya.


“Nice…! My lovely AR\-15!”


Aku mengambilnya dari pajangan sembari melepaskan alat bidik yang terpasang. Aku pribadi tidak terlalu menyukai ketika menggunakan alat bidik. Bisa dibilang itu salah satu alasanku kenapa tidak bisa menggunakan senjata tipe RF.


Aku mengeluarkan magazennya untuk melihat isinya dan ternyata sudah terisi. Setelah memasang magazennya kembali, aku melipat popornya dan memasukkannya ke dalam inventaris tanpa mengunci pengaman dan mengambil dua buah magazen untuknya kemudia meletakkannya di sisa tempat holster yang ada.


Tiba-tiba mataku tertarik pada sebuah senjata yang berada tepat di dekat AR-15 tadi.


“M4 … mungkin lain kali.”


Aku berbalik dan mencoba mencari senjata yang lain untuk kubawa. Di sana aku mengambil dua buah senjata yang sama dengan tipe SMG, yaitu Vector. Setelah melepas kedua alat bidik dan melipat popornya, aku memasukkannya ke dalam inventaris.


“Emh… kurasa cukup. Tinggal pisau…”


Aku tidak terlalu mengambil pusing untuk jenis pisau. Jadi aku hanya memutuskan untuk mengambil bayonet biasa dan sebuah jam tangan yang unik. Cara memasangnya mirip seperti gelang biasa, namun memiliki dua sisi. Sisi atas adalah kompas, sedangkan sisi bawah jam biasa dengan fitur stopwatch. Yah, kedua sisi itu dapat berubah tergantung dengan posisi yang digunakan pengguna.


“Oi, Ega!”



“Hm?”


Sesaat setelah Ilham memanggilku, aku menuju ke arahnya dengan persiapan yang telah kubuat.


“Bawa ini!”


Dia menyerahkan dua buah benda. Satu berbentuk setengah bola dengan bagian datarnya terasa lengket, sedangkan satunya terlihat seperti sebuah remot alarm mobil dengan sebuah tombol berwarna merah di atasnya.


“Apa ini?”



“Udah, pokoknya bawa aja. Nanti tempelkan yang setengah bola itu di bangunannya, bagian mana saja terserah. Kalau sudah, tekan tombolnya.”


Yah, aku kurang mengerti. Tapi jika dia yang menyuruh, kurasa benda ini akan membantu.


“Makasih! Kalau begitu aku berangkat.”



“Tunggu sebentar! Sekedar info, kau tidak akan bisa melewati pinti depannya.”



“Bukan masalah. Sudah kupikirkan! Tolong selesaikan tombakku, ya!”


Aku berjalan menuju ke arah elevator meninggalkannya sendiri di ruangan ini. Setelah sampai di depan pintu elevator, ada suatu hal yang kubingungkan.


“Oi, cak! Ini gimana yang mau ke atas?!”


Dari kejauhan aku melihat dia melakukan sesuatu, namu aku tidak tahu pasti apa itu. Mungkin dia sedang menekan tombol lain yang berada di dalam laci itu jika hal seperti tombol yang lain itu ada.


***


Aku telah mencapai S20. Dalam perjalanan ke titik yang kuinginkan, kucoba untuk mengajak anggota klan yang lain. Aku melihat daftar anggota yang sedang daring sebelum mengajak mereka. Terdapat sembilan orang yang sedang daring.


Aku menandai mereka semua sembari menuliskan pesan ajakan untuk melakukan raid melalui pesan klan. Dimas menjawab jika dia tidak ikut karena masih menemani pacarnya. Syah dengan Fajar masih melakukan apapun yang sedang mereka kerjakan. Zia, Novan, dan Fadli mengatakan jika mereka juga sedang melakukan raid pada markas kecil di S7.


“Hmm… hampir semuanya nolak, kah.”


Untuk dua orang sisanya aku mengirim pesan pribadi. Dua anggota daring yang tersisa memiliki IGN Watuk dan Haqqi. Pesan pertama kukirim pada Watuk berisikan ajakan yang sama, tapi dia menolak dengan jawaban sedang melakukan farming untuk mendapatkan Credit.


“Farming, kah? Maksudnya ngebantai, yah?”


Akhirnya aku mengirim pesan pada anggota terakhir yang sedang daring, yaitu Haqqi. Awalnya dia hanya menanyakan tempat untuk dilakukannya raid. Aku hanya mengiriminya lokasi tepat aku akan melakukan raid. Tanpa kuduga dia menerimanya dan akan ikut. Yah, saat sampai di sana aku hanya perlu menunggunya di tempat yang tertutup. Itulah yang kupikirkan.


Tapi setelah mencapai tempat itu, aku tidak tahu harus bersembunyi di mana. Hanya ada bebatuan di mana-mana. Bahkan tidak ada satupun pohon di sekitar sini. Hanya ada sebuah bangunan yang terlihat seperti benteng di atas bukit batu dan hanya terdapat satu jalan masuk, yaitu melalui pintu depan.


“Sepertinya ini akan cukup sulit.”


Berdiam di sekitar markas mereka mungkin akan membuat mereka curiga jika terlalu lama. Jadi aku memutuskan untuk sedikit menjauh. Sebelum itu, aku mengeluarkan dua barang yang Ilham berikan padaku. Tanpa berpikir panjang aku melempar barang setengah bola itu sekuat tenaga ke arah markas itu. Kuharap itu sesuai dengan yang dikatakan Ilham.


Setelah menjauh aku hanya perlu menunggu Haqqi sampai dia datang di tempat terbuka ini. Kurang lebih sekitar sepuluh menit, ada seseorang berjalan ke arah markas besar itu. Aku menunduk dan mengeluarkan salah satu senjata api yang kubawa di holster.


Dia sedikit melihat ke segala arah. Terlihat seperti sedang kebingungan. Saat melihat ke arahku, dia menyadariku dan melambaikan tangan. Sadar akan hal itu aku berdiri dengan satu tangan di belakang sambil tetap memegang senjata.


Dia berlari kecil ke arahku dengan pelindung di seluruh tubuhnya.


“Owner!”


Hanya ada beberapa orang yang kukenal yang memanggilku dengan sebutan itu. Saat aku menyadari jika orang itu adalah salah satu anggota klanku, aku memasukkan kembali senjata ke dalam holster.


“Haqqi…? Aku gak sadar kalau itu kamu. Soalnya… yah…”


Aku melihat ke seluruh armor yang dipasangnya. Itu benar-benar lengkap.


“Bagus gak? Aku baru beli kostum set samurai ini.”



“Yah…bagus sih bagus. Cuman… terlalu mencolok.”


Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Armor samurai yang dikenakannya memiliki warna utama hitam dengan pola dan garis-garis berwarna kuning dari helm sampai pelindung kaki. Bahkan dia mengenakan topengnya. Untuk senjata, kulihat dia membawa katana, kemudian katana yang lebih pendek, dan sebuah busur panjang beserta anak panah di punggungnya.


“Kamu beli, Haq?”



“Iya. Di NPC pusat kota. Harganya dua ratus ribu.”

__ADS_1



“Credit?”



“Rupiah.”


Aku mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. Dia mengeluarkan uang asli untuk membeli set armor samurai? Yah, kurasa aku tidak perlu terlalu terkejut karena banyak pemain lain yang juga melakukan RTM di permainan ini untuk hampir segala hal.


“Yah, untuk sekarang fokus untuk markas itu.”


Aku melihat ke arah markas yang sudah jelas tidak perlu kutunjuk lagi. Hanya terdapat bangunan itu di tanah bebatuan ini.


“Cuman berdua?”


Saat Haqqi bertanya, aku hanya menganggukkan kepala, lalu menekan tombol di benda yang diberikan Ilham dan sudah kupegang dari tadi. Seketika benda itu menujukkan hologram struktrur lengkap bangunan itu tepat di atas tombolnya. Hologram yang ditampilkan sangat detail sampai menunjukkan setiap komponen yang ada.


“Owner, itu beli?”



“Um… bukan. Aku dipijamkan teman.”


Aku menjawab sembari memutar-mutar hologram yang ada di hadapanku untuk mencari jalan teraman dan prioritas awal.


“Ngomong\-ngomong, Owner, lagi butuh Credit, kah?”



“Bukan. Aku butuh barang yang namanya chrome. Sisanya boleh kau ambil saja.”



“EH?!! Seriusan?!”


Sekali lagi aku mengangguk. Setelah memperbesar hologram markas yang akan kami serang, aku menemukan sebuah ruangan penuh dengan kasur. Karena kasur dapat dijadikan perantara titik respawn, mungkin ini tempat mereka respawn jika mati. Kemudian ada ruangan penyimpanan dengan banyak sekali kotak di dalamnya.


Barang yang sedang kucari bisa saja ada di dalam ruang penyimpanan atau masih ada di inventaris pemain yang mendapatkannya. Kalau begitu, prioritas utama adalah kasur-kasur mereka terlebih dahulu.


“Haqqi, bawa barang apa aja?”



“Selain yang kupakai, cuma bawa ini.”


Dia mengeluarkan dua buah peledak C4, sebuah detonator, busur silang dan lima buat granat EMP.


“Baru kali ini aku melihat samurai bawa peledak sama EMP.”


Dia kebingungan dengan apa yang kumaksud sehingga hanya mengangkat kedua bahunya. Tapi ini akan sangat membantu.


“Biar aku yang bawa barang\-barang ini.”



“Iya.”


Aku memasukkan barang-barang yang dikeluarkannya ke dalam inventaris, sekaligus mengeluarkan sebuah barang, yaitu grappling gun yang menembakkan jangkar kecil dengan tali baja terpasang di belakang jangkarnya.


“Rencananya gini! Kita akan menaiki sisi dindingnya. Setelah sampai di atas, aku akan menggunakan zipline. Kita akan fokus untuk menghancukan kasur\-kasur mereka dengan C4, baru setelah itu kita kalahkan semua pemain yang ada. Kalau ada sesuatu yang sekiranya mengganggu, improvisasi. Paham?”


Dia mengangguk. Setelah itu aku mematikan hologram dan memasukkannya ke dalam kantong, barulah kamipun mendekati benteng Takeshi itu. Saat mencapai tebing yang terbilang tinggi untuk mencapai bangunan itu aku menembakkan grappling gun.


Saat jangkar mencapai puncak sisi tembok, aku mencoba menarik tali baja yang telah diikat itu beberapa kali untuk memastikan tidak akan terlepas saat kami memanjat nantinya. Kurasa ini sudah cukup!


“Haq, kamu duluan!”



“Oke!”


Aku memasukkan grappling gun ke dalam inventaris dan memulai memanjat saat Haqqi sudah mendekati puncak tembok. Aku mendapat bantuan darinya saat mendekati puncak. Setelah di atas, kami melihat lima pemain yang sedang daring dan berkumpul.


Sebenarnya ada alasan lain kenapa aku menyuruhnya menunggu. Karena armornya yang seperti itu, sudah jelas akan menimbulkan suara yang tidak perlu. Itu sebabnya aku menyuruhnya untuk tetap di tempat.


“Ruang kamar mereka ada di seberang. Kita tidak bisa menggunakan zipline di sini.”


Masalahnya, mereka berkumpul tepat di depan ruang kamar. Tentu tidak mungkin jika kami melakukannya terang-terangan.


“Atau kita bunuh mereka duluan?”



“Jangan! Kalau mereka mati, lalu respawn, bakal lebih repot nantinya.”



“Terus gimana?”


Aku melihat ke sekitar dan memutuskan untuk memutari markas melalui atas tembok. Sedikit sulit, tapi lebih baik dari pada membuat keadaan kacau. Yah, keadaan bisa saja berubah jika aku dapat melakukannya dengan cepat.


“Oke, Haqqi, kamu tunggu sini. Kita bakal menyerang mereka dari dua sisi. Tunggu tanda dariku!”



“Siap, Owner!”


Aku meninggalkannya dan memutari tembol melewati sisi belakang tempat ini sambil merendahkan tubuh. Setelah sampai di seberang, aku memberi sinyal pada Haqqi untuk memastikan lokasiku. Yah, meski sinyal yang kumaksud itu hanyalah lambaian.


Aku membuka inventaris dan mengeluarkan sebuah topeng dan segera mengenakannya, lalu sebuah jangkar kecil dan tali baja yang lain. Topeng ini kupesan khusus dari Ilham. Yah, tidak ada status khusus di dalamnya. Benar-benar hanya untuk menutupi wajah.


Setelah menggunakan topeng dan mengaitkan jangkar pada tembok, aku memberikan sinyal pada Haqqi untuk bersiap menyerang. Sembari mengikat tali baja di sekitar pinggangku, aku melihat Haqqi menyiapkan busur panjangnya dan menarik anak panah, bersiap untuk melepaskannya.


Aku berdiri tepat di atas dinding sembari memegang sebuah senjata api yang kuambil dari holster kaki. Aku menuruni dinding perlahan sambil memberikan tanda untuk jangan menembakkan anak panahnya terlebih dahulu.


Saat berada sekitar dua sampai tiga meter di atas kepala mereka, aku memberikan sinyal untuk Haqqi melepaskan anak panahnya. Dengan kecepatan tinggi, hanya dengan sebuah anak panah namun dapat menembus dua orang pemain dan menghilang. Dengan cepat aku menembak pemain yang tersisa di kepala.


Setelah mereka menghilang, secepat yang kubisa aku melepaskan tali baja yang mengikatku dan segera menuju ruangan kamar mereka. Setelah mendobrak pintu, aku menemukan kelima pemain tersebut respawn kembali, namun kembali kutembak semuanya hingga kembali mati.


Aku membuka inventaris dan mengeluarkan detonator beserta dua buah peledak C4, tapi kemudia mereka kembali respawn. Seperti sebelumnya, aku kembali menembak mereka hinga mati. Tentu saja mereka respawn dengan keadaan inventaris telah kosong karena kami yang membunuhnya.


Aku mengaktifkan salah satu peledak dan melemparkannya ke sudut kiri ruangan. Saat aku mengaktifkan peledak kedua, mereka kembali respawn. Aku hanya menodongkan senjata ke arah mereka dan menyuruh mereka untuk pergi ke sudut kanan ruangan. Saat mereka membalikkan tubuh, aku mengganti magazen dan kembali menembak mereka, lalu melempar peledak kedua ke tengah ruangan.


Saat aku ingin meninggalkan ruangan, lagi-lagi mereka kembali respawn.

__ADS_1


“Oi! Kenapa kalian gak respawn di kota aja sih?!”


Ini sama saja dengan membuang-buang peluru jika terus berlanjut.


Aku keluar ruangan dan menutup pintu, menyingkir cukup jauh, lalu mengaktifka detonator dan seisi ruangan itu meledak. Ledakannya cukup kuat hingga menghancurkan pintunya. Saat semburan api akibat ledakan berkurang, aku kembali masuk untuk memastikan semua kasur mereka hancur.


“Oke! Bagus!”


Setelah memastikan semua kasur mereka hancur, aku mengeluarkan busur silang dan dengan menggunakan jangkar yang lebih kecil, namun tetap terikat tali baja, aku menembakkannya ke dekat Haqqi, lalu mengikat sisi lain tali baja ke tiang yang berada di dekatku.


Haqqi menuruni tali baja tersebut dengan menggunakan katananya sebagai pegangan saat meluncur ke arahku.


“Sekarang ke ruang penyimpanannya!”


Aku segera menyuruhnya untuk mengikutiku menuju ke ruangan penyimpana mereka. Lokasi ruangannya tidak terlalu, tapi kurasa pemain yang lain telah menyadarinya dan akan lebih baik jika kami bergerak dengan cepat.


Setelah berada tepat di depan ruangan penyimpanan, aku mendobraknya dan melihat sesuatu yang tidak kuperhitungkan. Garis cahaya merah bergerak mengarah ke wajah kami.


“AWAS!!!”


Aku mendorong Haqqi menyingkir dari depan pintu dan aku sendiri melompat ke sisi pintu untuk berlindung. Seketika rentetan peluru keluar dengan sangat cepat.


“Apa itu?!”



“Turret otomatis. Ada tiga.”



“Terus gimana?”


Aku meletakkan HG yang kupegang kembali ke holster dan membuka inventaris. Aku mengambil dua buah granat EMP dan AR-15 untuk digunakan. Aku menarik ping dari kedua granat EMP yang kupegang lalu melemparkannya ke dalam ruangan. Seketika dua kilatan cahaya keluar.


Setelah itu aku memasuki ruangan dengan bidikan besi AR-15 berada di depan mata. Ketiga turret otomatis tersebut telah mati. Atau lebih tepatnya dinonaktifkan secara paksa dengan ledakan elektromagnetik yag disebabkan granat EMP tadi.


“Haq, liat semua isi kotaknya! Kalau ada peledak lagi yang mirip C4 kasih ke aku!”



“Oke!”


Aku berbalik badan dan menutup pintu untuk mengamankan posisi kami. Dalam beberapa saat Haqqi memanggilku untuk mendekatinya,


“Owner! Di kotak ini!”


Dia menepuk sebuah kotak yang terbuka, lalu memasukkan kotak-kotak yang lain ke dalam inventarisnya. Kotak yang ditunjukkannya padaku berisi dua puluh lima stack C4 dengan satu stack berisi sembilan puluh sembilan C4.


“Astaga!! Nih klan kaya banget!”


Aku mengambil satu stack, memasukkannya ke dalam inventaris lalu menyuruh Haqqi untuk memasukkan kotak itu ke dalam inventaris miliknya.


“Haq, bawa ini! Terus buka gerbang utamanya buat kabur nanti! Tunggu aku di sana!”



“Oke!”


Saat dia keluar ruangan untuk menuju ke satu-satunya gerbang yang ada, sebisa mungkin aku mengelilingi markas ini dan meletakkan C4 yang kubawa di setiap sudut yang ada dan mengaktifkannya untuk siap diledakkan kapan saja.


Setelah mengabiskan sekitar 73 buah C4, aku berlari ke arah gerbang utama di mana Haqqi telah membuka gerbang dan kami berdua segera kabur dari tempat itu dengan rasa puas yang luar biasa.


“Oi, Jin Sakai! Ayo lari!”


Aku sedikit memparodikan namanya dari karakter utama dari permainan Ghost of Tsutsima karena penampilan mereka entah bagaimana mirip.


Saat kami telah berlari cukup jauh dari markas yang terlihat seperti benteng itu, aku mengaktifkan detonator dan meledakkan markas mereka sepenuhnya hingga runtuh dan menjadi tumpukan batu.


Kami benar-benar tertawa puas sampai mencapai kota, bahkan sampai kami mencapai markas sendiri di S51. Dengan hanya lima anggota yang kami temui, bisa dikatakan ini adalah offline raid dikarenakan banyak dari mereka yang luring.


Saat kami berdua berada di ruang penyimpanan, Haqqi mengeluarkan semua kotak yang diambilnya sembari aku membuka topeng dan memasukkannya ke dalam invetaris dan mengeluarkan sisa C4 beserta barang-barang yang kudapat dari pemain-pemain yang kubunuh tadi.


“Hahh…! Mantap, Haq!”


Aku membaringkan tubuh di lantai sambil mengangkat kepalan tangan. Dia membalas kepalan tanganku.


“Iya! Panen ini! Ahaha!”



“Ahahaha!!!”


Aku sedikit kecewa karena tidak dapat menggunakan semua peralatan yamg kupinjam dari Ilham. Tapi, yah, kurasa ininbisa dianggap sukses besar.


Aku yakin kami mendapatkan banyak barang, tapi aku tidak yakin jika barang yang kucari ada di salah satu kotak itu. Yah, untuk sekarang, kurasa ini bisa menjadi kemajuan bagi klan kami. Aku bangun dari posisiku dan ingin pergi ke kamar sendiri.


“Haq, tolong rapihkan yah. Aku cumin butuh chrome aja. Sisanya terserah kamu. Disimpan sendiri ya gak masalah, disimpan untuk kepentingan klan, ya... makasih.”



“Sans, Owner! Lagian aku gak mungkin makai semua barang ini.”


Aku tersenyum mendengar jawabannya.


“Kalau gitu aku mau ke kamar yah.”


Aku meninggalkan ruang penyimpanan dan mengarah ke kamar khusus laki-laki. Di sana aku membaringkan tubuh. Berlari-lari seperti tadi sungguh membuatku kelelahan. Saai itu juga ada anggota lain baru memasuki permainan.


“Oh, Laz?”



“Lah, masih aktif? Sudah jam dua belas siang, lho!”



“Eh?! Sudah jam segitu? Yaudah mau off, belum sarapan. Oya, baranmu ada di ruang penyimpanan tuh. Sekalian bantui Haqqi kalau bisa.”



“Bantuin apa?”



“Liat aja!”

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun lagi, aku keluar dari permainan dan berencana untuk bermain lagi saat malam hari.


__ADS_2