
Malam pun tiba, tepatnya pada pukul 18.15 WIB. Aku kembali masuk ke dalam permainan secepat yang kubisa setelah makan malam. Avatarku berada tepat di tengah hutan yang sangat lebat karena di sinilah terakhir aku keluar dari permainan.
Dengan menggunakan jubah yang kupinjam dari Lazy, aku mengambil risiko dan masuk ke dalam kota Sektor 51. Dengan semua pemain yang mengincarku, seharusnya memang tidak perlu karena mereka dapat membunuhku kapan saja.
Aku berjalan ke arah NPC untuk membeli sesuatu, namun ketika aku hendak membeli barang tersebut sebuah tulisan muncul di hadapanku yang bertuliskan “Akses Ditolak.”
“Huff…”
Kau tahu, ini adalah pertama kalinya aku menjadi seorang BP. Itu sebabnya aku tidak mengetahui jika seorang BP juga tidak diperbolehkan membeli dari NPC. Dengan cepat aku menyesali tindakanku karena membunuh pemain-pemain sebelumnya di Wilayah Aman.
Aku merasakan jika beberapa pemain menjadi curiga karena melihatku menggunakan jubah tertutup dan jadi tidak dapat melepaskan pandangan mereka dariku.
Mencoba mengabaikan hal tersebut, aku berjalan ke tengah kota. Kemudian dari sana aku mengarah ke bagian tenggara yang mana di sana terdapat sebuah taman dengan banyak tanaman dan pepohonan hias yang indah. Tidak lupa juga dengan lampu-lampu sebagai penerangan.
Banyak pemain lain yang juga ada di tempat ini. Sangat berisiko, tapi aku sangat ingin mengetahui tentang sesuatu, itu sebabnya aku harus menemuinya.
“Seharusnya ada di sini…”
Angin sepoi menerpa beberapa bagian tanaman yang layu dan menerbangkannya. Mataku yang melihatnya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di salah satu bangku taman di bawah sebuah pohon.
Seorang gadis yang memiliki rambut ponytail, menggunakan pakaian berwarna merah muda dan putih dengan bagian bahu yang sedikit terbuka, serta rok pendek dengan stocking yang mencapai atas lutut.
Sadar jika dia adalah gadis tadi pagi yang kuminta untuk bertemu di sini, aku segera mendekat dan duduk di bangku yang sama dengan sedikit jarak di antara kami dan membuka tudung kepalaku.
Kami tidak berbicara sedikit pun untuk beberapa saat karena canggung. Aku juga tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi ketika dia melihat ke arahku, aku tahu jika yang harus memulai pembicaraan terlebih dahulu adalah aku.
“Um…”
“Iya?”
“…”
Gawat! Aku benar-benar tidak tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana. Aku ingin langsung ke inti pembicaraannya, tapi kurasa itu sedikit tidak sopan.
Suara angin yang menerpa dedaunan di pohon dan bunyi gemerisik semak-semak terdengar cukup menenangkan. Tapi di lain sisi aku mengurungkan diri untuk menjaga sikap dan oleh karena itu aku bertanya langsung padanya tentang apa yang ingin kuketahui dengan wajah serius.
“Langsung saja, yang di Sektor 66 itu… apa itu klanmu?”
Dia menatap lurus pada kedua mataku untuk menjawabnya.
“Iya, itu klanku yang sekarang. Aku diajak teman untuk masuk.”
Sambil mendengar jawabannya, aku membuka inventaris untuk memeriksa sesuatu. Tapi aku baru ingat jika inventarisku hanya berisi sampah pemain-pemain yang tadi pagi kubunuh.
“Hm… jadi itu klanmu, yah. Kalau boleh tau, Dim-… pemain yang bernama Zatfley, kenapa kalian mengincarnya?”
Setelah menanyakan hal itu aku sadar jika tempat ini mulai didatangi oleh banyak orang secara berkala.
“Aku kurang tahu masalah itu. tapi yang kudengar dari anggota lain, dia membobol terus mencuri data yang sangat penting dari bekas markas di Sektor 36. CCTV merekam dia.”
Aku membuka mata dengan lebar ketika mendengar dia mengatakan tentang Sektor 36.
“Sektor 36 katamu?”
“Iya, tapi pencarian pemain Zatfley ini ditunda dulu. Kudengar Ketua sama Vice fokus untuk merekrut pemain yang namanya Watuk untuk event mendatang. Dia ada di Sektor 90-an setahuku.”
“Hah?!!”
Saking terkejutnya, tanpa kusadari aku sudah berdiri dari bangku yang kududuki. Aku berpikir untuk mencari permasalahan di sini sambil berjalan memutar.
Jika yang dibicarakan ini adalah Sektor 36, kemudian mereka mengincar Dimas karena sebuah data dari markas mereka yang sudah ditinggalkan, berarti yang mengincar kami adalah klan Celestial.
Kalau begitu fasilitas yang kutemui di Sektor 66 juga milik Celestial? Tapi aku sungguh tidak menduga hal itu. Maka bisa kuanggap jika itu hanyalah kebetulan. Tapi mereka juga mengincar Watuk-… yang berarti mereka ingin merekrut Bang Sema.
Data yang gadis ini maksud mungkin adalah mainframe yang kudapat. Aku juga sudah menyuruh Lazy untuk memeriksa secara keseluruhan, tapi karena dia belum memberitahuku tentang apapun, kurasa memang belum ada kemajuan.
Kuharap Dimas, Bang Sema, dan yang lainnya baik-baik saja karena mereka sama sekali tidak memberitahuku tentang keadaan mereka sekarang. Tunggu, event?!
“Kamu tadi bilang sesuatu tentang event, yah? Event apa?”
Seluruh konsentrasiku buyar ketika menanyakan hal tentang event tersebut.
“Eh? Kamu belum liat promosi videonya?”
“Hah?”
Melihatku tidak dapat mengikuti arah pembicaraan, gadis tersebut membuka layar hologram dan menampilkan sebuah video promosi padaku. Intinya, video tersebut menunjukkan jika dalam waktu yang singkat akan ada event besar.
Sebuah event tipe battleroyal dengan basis guild. Dengan kata lain, sebuah event tentang perang antar guild- atau biasa kusebut dengan klan.
“Guild… War… kalau begitu semua ini masuk akal.”
Mereka ingin merekrut Bang Sema karena dia memang salah satu pemain yang kuat. Kemudian karena Dimas satu-satunya dari kami yang tertangkap CCTV, mereka mengincar Dimas untuk mendapatkan kembali mainframe mereka yang kemungkinan ada sesuatu yang dapat membuat mereka menang.
Tapi aku masih belum mengetahui apa itu. Bisa saja sebuah senjata, informasi, cetak biru, atau bahkan Artefak. Tapi karena mereka lebih berfokus untuk merekrut Bang Sema, jelas bukan Artefak karena sangat tidak sebanding.
Lalu apa alasan mereka memburuku tadi pagi? Tidak mungkin mereka melakukannya hanya untuk membalas dendam karena fasilitas mereka yang kuhancurkan. Karena jika iya maka prioritas mereka benar-benar kacau untuk sebuah klan besar.
Aku ingin mencoba bernegosiasi dengan mereka. Tapi kurasa itu adalah hal yang sia-sia karena kami tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Karena menurutku, data yang kami ambil dan Bang Sema, tentu aku tidak akan melepaskannya.
Dengan Bang Sema sebagai kekuatan utama kami dan data tersebut untuk kemajuan klan kami kedepannya, tidak mungkin aku akan menyerahkannya begitu saja. Tapi aku belum tahu pendapat anggota lain karena bisa saja pendapat kami berbeda.
“Makasih untuk infonya! Untuk sekarang, bisa tinggalkan tempat ini?”
“Eh? Kenapa…?”
Aku membuka inventaris dan mengambil sebuah belati berstatus rendah miliki salah satu dari mereka bertiga tadi pagi dan tetap membiarkan inventarisku tetap terbuka.
“Tolong… pergilah.”
“Baiklah, sebelum itu, kamu punya klan, kan? Apa namanya?”
__ADS_1
“…”
Aku menatap lurus padanya dengan sebuah senyuman tanpa mengatakan apa-apa. Tidak mendapatkan jawaban untuk pertanyaannya dariku, dia pergi dari taman ini meninggalkanku.
Orang-orang mungkin akan bertanya kenapa gadis tersebut dapat menjawab dan memberikan informasi tentang klannya padaku dengan mudah. Akan kutegaskan, jika kami ini saling mengenal. Itu saja.
“Sekarang…”
Mengalihkan pandanganku dari punggung gadis yang sedang berlari itu, aku berbalik dan melihat ke arah yang berlawanan dengan memegang sebuah belati.
“Sebelumnya, aku berterima kasih untuk tidak mengganggu waktu kami berdua. Sekarang keluarlah!”
Aku mengangkat belati tersebut ke depan tubuh dan bersiap. Sementara itu beberapa bayangan terlihat keluar dari gelapnya sisi lain pepohonan. Empat orang pemain lelaki berjalan mendekatiku dengan tangan kosong.
Mereka tadi menggunakan suara gemerisik dedaunan pohon untuk menyembunyikan suara saat bersembunyi. Dengan kata lain mereka sudah sering bermain dan terbiasa dengan hal semacam ini.
Pakaian mereka berbeda dari ketiga pemain tadi pagi. Jadi kurasa mereka bukan anggota Celestial. Kalau begitu mereka mengincarku karena aku adalah seorang BP, kah… yah, terserah.
Tadi pagi mungkin aku babak belur karena tidak membawa apapun di dalam inventarisku. Tapi kali ini tidak. Terlebih mereka memilih untuk menggunakan tangan kosong.
Mereka berlari dan langsung mencoba menghajarku di wajah. Aku menunduk dan menghujamkan belati yang ada di tangan kananku ke perutnya beberapa kali. Dengan tubuh yang belum menghilang, aku menjadikannya tameng ketika pemain lain ingin memukulku, namun mendarat tepat di wajahnya.
Setelah mendorong pemain yang baru saja kujadikan tameng ke depan dan menabrak rekannya, aku menusukkan belati ke lehernya kemudian secara horizontal memotong sebagian lehernya dan membuat tubuhnya menghilang. Lalu menendang ************ rekannya dengan sangat kuat. Saat dia tersungkur kesakitan karena tendanganku pada masa depannya, aku menancapkan belati tepat di atas kepalanya.
Setelah tubuhnya menghilang, dua pemain lainnya tanpa kusadari sudah berada di dekatku dan salah satunya mendaratkan pukulan tepat ke perut dan aku tidak sempat menghindarinya.
Mengabaikan rasa sakitnya, aku memberikan tendangan di dadanya dan dia terlempar. Disaat yang sama, orang keempat memukulku di wajah dan mengenaiku dengan keras. Aku membalas pukulannya juga tepat di wajah dan saat ingin kuayunkan belati yang berada di tangan kanan, dia menangkapnya dan memintal pergelangan tanganku, membuat belati tersebut terlepas dan jatuh.
Aku menendang selangkangannya, menarik kerah bajunya, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan posisi terlentang. Aku menahannya dengan cara mendaratkan salah satu lututku di dadanya dan mulai memukuli wajahnya meski dia mencoba untuk menutupinya.
Saat aku mencoba untuk menghabisinya, rekannya bangun dan berlari ke arah kami dan mencoba untuk menendang wajahku. Aku mencoba menahannya dengan menyilangkan kedua tangan, tapi tetap saja membuatku mundur dan pemain yang tadinya kutahan telah ikut bangun.
Merasa jika tidak mungkin menang jika hanya mengandalkan tangan kosong, aku melirik belatiku yang tadi terjatuh, begitu juga dengan mereka yang memiliki pemikiran sama. Kami berlari ke arah yang sama, tapi karena posisi mereka lebih dekat dengan belati tersebut, salah satu dari mereka berhasil menggapainya lebih dulu namun aku menginjak tangannya.
Di saat pemain yang tangannya kuinjak sedang sibuk dengan kakiku, pemain lain mencoba menyerangku dalam posisi yang tidak dapat bergerak. Aku menangkap kepalannya dan memukulnya tepat di rahang bawah sampai dia terhuyung dan kehilangan keseimbangan.
Aku membuka inventaris dan menemukan sebuah senjata dengan tipe AK-47. Kurasa ini adalah milik salah satu dari dua pemain sebelumnya. Tanpa berpikir dua kali aku mematikan pengamannya dan menarik pelatuknya setelah mengarahkan pada pemain yang tangannya kuinjak. Tapi tidak terjadi apa-apa.
Setelah memeriksa isi magazen, ternyata isinya sama sekali tidak ada, jadi aku melempar magazen tersebut lalu membalikkan senjata itu sebelum akhirnya memukul pemain yang tidak dapat bergerak itu tepat di kepalanya beberapa kali sampai dia benar-benar terjatuh dan menghilang tanda dia sudah tewas.
Tanpa kusadari, pemain yang tadinya terhuyung ternyata sudah kembali sadar dan memberikan tendangan melayang padaku. Aku yang terlempar keras dan menjatuhkan senjata yang baru saja kupakai untuk memukul, namun aku dengan cepat bangun kembali.
Dia berlari ke arahku dan terlihat ingin melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Aku menghindar dan sempat memukulnya saat dia melayang melakukan tendangan itu dan terjatuh. Aku menyeretnya dengan cara menarik rambutnya sampai ke bangku taman meski dengan perlawanan.
Di sana aku meletakkan lehernya di sudut bangku dan memukul sisi kepalanya beberapa kali sampai terdengar seperti tulang leher yang patah, kemudian tubuhnya menghilang.
Tanpa berpikir panjang dan dengan tubuh yang terhuyung, aku mengambil kembali belati dan jubah yang tadinya kupakai lalu berlari ke arah tengah kota dan berpindah Sektor, pergi ke tempat Ilham. Sesampainya di tempat tersebut, aku bertemu dengan pemain perempuan yang menjaga tempat masuknya.
“Tolong panggilkan Ilham. Aku mau bicara ke dia. Aku tidak membawa koin hitamnya, jadi akan kutunggu di sini.”
Tanpa memberikan koin hitam yang seharusnya kuberikan padanya sebagai tiket masuk, aku meminta dia untuk memanggil Ilham dengan terburu-buru.
“Ilham? Sebentar, Kakak ini siapa?”
“Ilham, MONYET, bosmu! Sudah panggil aja dia cepat! Temannya di dunia nyata nyari, bilang gitu! Reiga, Ega, terserah sebut aku apa jadi cepatlah!”
Aku sedikit membentak sambil membuka jubah yang akhirnya membuat dia tidak memiliki pilihan lain selain masuk dan memanggil Ilham selagi aku menunggu di tempat itu sendirian.
Sadar jika yang sedang dilihatnya adalah pemberitahuan yang memberitahu pemain lain jika aku adalah pemain yang masuk daftar hitam, aku menghunuskan belati dan mengarahkannya pada mereka.
Mereka juga mulai mengeluarkan senjata masing-masing. Namun disaat yang tepat, Ilham datang menghampiriku dengan sedikit kebingungan karena situasi yang sedikit memanas. Dia ditemani pemain perempuan tadi.
“Um… masih mau lanjut? Kalau masih aku bisa ngasih waktu.”
“Oi, tunggu!”
Aku menahan Ilham yang benar-benar terlihat ingin meninggalkanku dengan kelima pemain tersebut.
“Hahh… Ega, Ega. Ngapain sih kamu! Kalian, jangan ada bisnis lain di tokoku atau jangan pernah lagi datang ke sini!”
Setelah mendengar kata-katanya, kelima pemain itu menurunkan senjata dan aku diajaknya masuk ke dalam tanpa memerlukan koin. Saat di dalam kami sama sekali tidak berbicara apa-apa sampai masuk ke dalam kantornya.
Dia memberikan segelas air. Tentu aku meminumnya tanpa meragukan apapun. Yah, meskipun begitu minum atau makan di dalam permainan sama sekali tidak mempengaruhi tubuh di dunia nyata dan hanya status di dalam permainan.
Dia duduk di kursi yang berada di belakang meja dan memintaku untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Setelah duduk, aku kembali meminum segelas air yang belum habis tersebut.
“Jadi?”
“Hm?”
Aku sedikit memiringkan kepala karena bingung dengan pertanyaannya.
“Kamu gimana bisa jadi BP? Ini pertama kalinya loh!”
Aku meletakkan gelas kaca yang kupegang ke atas meja dan mulai menjelaskannya dengan detail. Aku mulai menjelaskannya dari kami mengambil mainframe Celestial sampai akhirnya sampai di titik ini. Butuh beberapa saat sampai aku selesai menceritakan semuanya.
Setelah mendengar semuanya, Ilham bersandar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Ega, kamu tau gak kalau bakal ada event besar?”
Apa yang dimaksudnya tentang Guild War itu?
“Guild War itu? Aku aja baru tahu beberapa saat lalu.”
“Nah, iya. Aku sarankan kamu bicara baik-baik sama mereka. Entahlah, mungkin aja kalian bakal aman habis itu. Kalau bisa sebelum eventnya dimulai. Itu saranku.”
Dia melihatku dengan sangat serius.
“Kenapa harus kamu yang menetapkan batas waktu?”
“…”
Dia berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan ke sudut ruangan yang di sana terdapat sebuah meja lokakarya. Setelah kembali dari meja lokakarya tersebut, dia kembali sambil membawa sebuah koper berwarna putih dan memberikannya padaku sebelum akhirnya kembali duduk.
__ADS_1
“Ega, aku tahu kamu berjuang banget untuk tetap membuat klanmu berdiri. Tapi mulai sekarang, pilihan ada di tanganmu. Kuharap semuanya gak berakhir seperti klan yang sebelumnya.”
Aku menatapnya dengan tajam dengan semua kenangan kelam yang ingin kulupakan, seketika semuanya kembali secara paksa hanya dari kata-katanya.
“Yah, setidaknya mereka masih bermain berkatmu. Sekarang coba buka kopernya.”
Setelah lanjutannya, Ilham memintaku untuk membuka koper yang sedang kupegang.
Saat kubuka kubuka secara perlahan, pantulan cahaya ungu kegelapan keluar dari dalam yang dipancarkan oleh bola kaca transparan seukuran kelereng normal. Aku mengambil dan melihatnya lebih dekat.
Setelah diperhatikan dengan seksama, bola kaca tersebut tidak hanya mengeluarkan cahaya ungu kegelapan, tapi juga percikan listrik yang juga berwarna gelap.
“Aku gak bisa menemukan pemain yang menjual Chrome untuk senjata pesananmu. Jadi sebagai gantinya kamu bisa memakai itu sebagai intinya.”
“Apa ini?”
Aku masih tertegun melihat benda menakjubkan yang indah bagiku itu.
“Raksha’s Core. Kalau kamu masih ingat, dulu sekali, saat kita pertama kali main bersama, kita pernah menyelesaikan Quest Bintang Tiga, ingat?”
Aku masih mengingat saat-saat kami masih level kecil dahulu. Benar-benar hari yang melelahkan bahkan hanya untuk menaikkan satu level.
“Iya, aku ingat. Apa ini hadiahnya?”
“Iya. Aku menyimpannya sampai sekarang. Mengingat kamu dulu keluar dari permainan terlebih dahulu tanpa mengatakan apapun.”
“Ah…”
Aku meletakkan kembali bola kaca tersebut ke dalam koper dan menutupnya.
“Kamu pernah pakai Artefak, Ega?”
Aku menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya.
“Gak pernah sama sekali. Anggotaku ada yang punya, tapi aku sama sekali gak pernah punya. Tunggu, jangan bilang ini Artefak?!”
“Bukan, itu bukan Artefak. Lagipula, mana ada Quest Bintang Tiga yang ngasih Artefak.”
“Iya juga yah-”
“Tapi!”
Saat dia memotong kalimatku, aku tahu jika dia mengatakan hal tersebut dengan serius jadi aku meresponnya dengan serius juga kata-katanya.
“Itu memang bukan Artefak. Tapi setidaknya dengan pengolahan yang benar, kamu bisa membuat senjata setingkat Artefak.”
“Tunggu, maksudmu- hah?!”
“Umumnya, kelangkaan senjata dibagi jadi lima bintang, yaitu bintang satu Common, bintang dua Rare, bintang tiga Epic, bintang empat Legendary, lalu bintang lima Mythic. Tapi dengan itu, kamu bisa menembus batasan yang hanya segelintir pemain yang tahu. Jadi yang kumaksud adalah…”
“Relik, bukan? Atau biasa disebut Seri Bintang Hitam.”
Dia mengangguk dan seketika itu tanganku sedikit gemetar karena ini pertama kalinya aku melihat barang seperti ini.
“Jadi, berapa harganya?”
Saat aku menanyakan hal itu, dia langsung menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
“Pakai itu untuk membuat senjatamu. Maaf saja, tapi level BS-ku yang sekarang masih belum cukup untuk mengelolanya. Tapi setidaknya, kamu bisa, bukan?”
“Hah? Yah, mana bisa-”
“Bukan akun yang sekarang, yang kumaksud. Tapi akunmu yang satunya…”
Aku melihat lurus pada kedua matanya dengan serius dengan perasaan sedikit marah.
“Cak, berhenti disitu! Aku gak mau pakai akun itu lagi!”
“Yah, aku gak maksa. Itu sebabnya tadi kubilang kalau kamu yang menentukan. Ingat, musuhmu itu klan besar. Ya kalau mereka mau melepaskan kalian, itu hal yang bagus. Tapi semisalnya tidak? Apa kamu mau klanmu yang sekarang bernasib seperti yang dulu?”
Aku memukul meja yang ada di hadapanku dengan sangat keras sampai terdengar sampai seisi ruangan. Tapi aku sama sekali tidak dapat membalas kata-katanya.
“Kuh-…!”
Sejak awal aku tidak pernah membahas tentang akunku yang satunya karena memang tidak ingin memakainya lagi. Seharusnya dia tahu! Tapi kenapa kali ini dia membahasnya?! Kurasa kejadian kali ini tidak sampai mengharuskanku menggunakan akun itu lagi. Tapi jika iya…
“Kalau memang sampai sebegitunya kamu menolak, tidak masalah. Maka kuambil lagi barangnya.”
Saat salah satu tangannya mencoba meraih koper yang berada di dekatku, aku menahan koper tersebut.
“Oh? Jadi apa jawabanmu, Ega?”
“Sialan! Hahh… akan kupikirkan. Tapi biar aku yang membawa barangnya.”
Seketika dia tersenyum, kemudian tertawa dengan sangat keras.
“Itu dia! Memang seharusnya kamu memakai akunmu yang lama daripada yang sekarang. Yah, intinya kuharap kamu membuat jawaban yang tepat. Lagipula, aku mau melihat sosok yang pernah menduduki Leaderboard 0.1% dari semua server yang ada. Bukankah begitu, Ega- bukan, Sorata?”
__ADS_1
“Cih!”
Aku meraih koper tersebut dan membawanya keluar dari tempat itu dengan rasa kesal yang luar biasa.