Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 12.5 : Searching and Nesting


__ADS_3

Point of View kali ini ada di karakter dengan nama Fadli.


Selamat membaca~


...***...


Setelah melaksanakan misi sebelumnya yang mengalahkan semut dan kabur dari kadal terbang, hari ini pada jam 9 pagi, aku kembali ke dalam permainan untuk memulai misi penting yang diberikan oleh kepala suku semalam.


Setelah melakukan Deep Dive aku terbangun di kamarku dengan meja kecil di samping kepalaku dan terdapat surat dari kepala suku yang bertuliskan, “Jangan lupa telur.”


Dalam hati aku berkata, “Siap, chief!”


Akupun mulai keluar kamar dan langsung menuju ruang penyimpanan klan, dalam perjalanan ke ruang penyimpanan, aku mencium bau sesuatu yang sangat enak dari dapur. Walau topengku berbentuk tengkorak, tapi kalau masalah makanan, penciumanku diluar nalar.


Aku mencoba cek ke dapur dan melihat salah satu pemain perempuan yang belum terlalu kukenal sedang memasak.


“Permisi, air.”


Lawakan paling umum yang sering aku gunakan kepada Novan dan 2 temanku lagi di dunia nyata ketika memasuki ruangan.


Pemain perempuan itu sedikit cekikikan sambil menutup mulutnya.


“Lagi masak apa?”


Aku bertanya sambil melihat-lihat kompor.


“Owh itu, semur daging sisa tadi malam. Untuk sarapan anggota yang lainnya nanti.”


“Ooh…”



“Hmm… ada apa?”


Pemain perempuan itu melihatku kembali dengan wajah penasaran.


“Ah iya, nggak, maksud aku, lanjutkan aja.”


Dengan senyum dari pemain itu, akupun kembali ke tujuan awalku.


Di dalam ruang penyimpanan terdapat banyak kotak-kota besar yang kokohdan kuat, semua itu ditata rapi oleh salah satu pemain yang suka bersih-bersih, yaitu Zia.


Aku melihat kotak yang paling kokoh di antara kotak-kotak yang lain, dimana telur itu disimpan.


Aku membuka kotak itu dan mengambil telur hijau besar, aku tidak mengambil dalam bentuk matriks, tapi dalam bentuk fisik, sehingga aku tau bentuk, rasa permukaan telur, dan berat dari telur itu.


Setelah mengetahui bentuk spesifiknya aku mengubah telur naga itu menjadi matriks dan menaruhnya di inventaris milikku. Saat naik ke lantai utama dengan bau makanan yang dibuat pemain perempuan itu, aku jadi tergiur untuk melakukan sesuatu di hutan.


Saat sedang memikirkan hal itu, Novan suda berada di ruang tengah sambil bersiap-siap, akupun bertanya keberadaan Dimas ke Novan.


“Dimas?”



“Baru bangkit katanya, ntar nyusul.”



“Oke, aku mau siap-siap di ruang persenjataan.”



“Sip!”


Aku berjalan menuju ruang persenjataan dan tak lama kemudian Dimas muncul di ruang tengah menyapa Novan, aku yang sudah jauh dari ruang tengah tidak terlalu mendengar perbincangan mereka.


Saatnya berfokus untuk apa saja yang harus dibawa, karena tempat yang kami tuju adalah sektor 59 atau biasa disebut Sector Nature. Tempat yang sangat aku sukai, begitu juga dengan Novan, karena dari situlah kami bisa merasakan sejuknya alam dan mencuci mata dengan kehijauan pepohonan.


Sektor 59 juga mempunyai kota kecil yang sama dengan kota-kota kecil di sektor lain, tapi uniknya, kota sektor tersebut menyatu dengan alam di sana, dan banyak pemain yang mendapatkan peliharaan dari sektor tersebut.


Yah, aku sudah mempunyai naga yang tidak lama lagi akan menjadi peliharaan klan kami. Lanjut ke persiapan persenjataan, aku memodifikasi AK-47 kesayanganku yang sudah banyak melalui pertempuran bersama. Aku mengganti muzzle, barrel, underbarrel, grip, laser, dan red dot scope mk6. Tidak lupa Onepunchman versi RF, yaitu SPR 2, dan Jagdkommando, pisau tentara paling sadis dan mematikan dengan bentuknya yang unik.


Setelah siap, aku kembali ke ruang tengah di mana Dimas dan Novan sudah menungguku dengan peralatan mereka yang juga sudah mereka sediakan dan siap untuk berangkat.


Kami keluar markas klan dan akan menuju Transporter di tengah kota Sektor 51 yang akan memindahkan kami ke Sektor 59. Aku memasukkan kode dan salah satu gerbang mulai mengeluarkan semacam vortex yang menggambarkan pepohonan Sektor 59.


Kamipun berjalan masuki dan tiba di tengah kota Sektor 59. Hawa sejuknya yang khas membuat kami semakin percaya diri dan semangat untuk misi menetaskan telur naga.


Sebelum memasuki hutan, aku berkata ke Novan dan Dimas.


“Van, Dims, sebelum kita masuk ke hutan mungkin ada baiknya kita cari info.”

__ADS_1



“Buat apa?”


Dimas bertanya kebingungan.


“Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menetaskan telur ini kan, emangnya kalian tahu harus diapain telurnya.”



“Dieramin.”


Jawab Novan.


“Ditutupin dedaunan.”


Jawab Dimas.


“Eeeehh….”


Jawaban mereka yang terdengar agak ngawur mempositifkan rencanaku untuk mencari info diperpustakaan Sektor ini. Aku menyuruh mereka berdua untuk mencari peralatan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di hutan dan membuat jadwal bertemu kembali setelah 2 jam pencarian dan pengumpulan di tengah Sektor.


Akupun pergi ke perpustakaan, sebagai lulusan jurusan Biologi, membaca buku tentang makhluk hidup itu seperti membaca buku cerita bagiku.


Pencarianku akhirnya membuahkan hasil. Aku menemukan buku mitos dan legenda Biologi, dan sangat beruntung aku menemukan halaman yang membahas naga. Tanpa pikir panjang aku mencari halaman yang membahas cara menetaskan telur naga hutan dan ketemu.


Hal yang harus aku lakukan adalah menemukan lokasi yang sangat unik, tempat itu haruslah di dalam hutan dan letakkan telur naga di atas lubang panas bumi.


Seuniknya tempat itu, pikiranku yang lain mengatakan,”Seharusnya mudah.”


Masih ada satu jam untuk menunggu mereka menyelesaikan mencari bahan-bahan untuk masuk ke hutan. Aku mulai berjalan-jalan di sekitaran tengah sektor 59 dan melihat pohon besar yang tinggi dan kokoh.


Bangunan-bangunan di sekitar yang melingkari pohon tersebut juga menyatu dengan alam, baik gedung itu menjadi rumah pohon, atau menjadi gedung pohon. Di sekitaran sini juga banyak yang menjual kebutuhan khusus seperti memasak, zirah, senjata, dan lain sebagainya.


Mengingat bau masakan yang dibuat pemain perempuan tadi, memberiku sebuah ide. Aku langsung menuju toko memasak dan membeli apa saja yang diperlukan untuk rencanaku nanti di dalam hutan.


Setelah 2 jam, akhirnya kita berkumpul dan pada saat ingin berjalan, langkahku terdiam.


“Kenapa, Fad?”


Novan bertanya.


Mereka berdua mengepal salah satu tangannya dan menepuk ke tangan sebelahnya yang masing-masing terbuka.


“Ah, masuk akal!”


Kamipun pergi menuju toko kendaraan dan memilih berbagai jenis kendaraan yang cocok untuk kami bertiga. Pandanganku langsung tertuju ke sebuah kendaraan berukuran sedang yang biasa disebut buggy, berukuran sedang, dapat berjalan dengan cepat dan salah satu kendaraan dari keluarga ATV atau All Terrain Vehicle. Aku bertanya ke pedagang dan kata pedagang tersebut, buggy itu dijual seharga 2 juta kredit.


Aku melihat inventaris keuanganku dan masih terlihat 5 juta kredit, hasil dari aku menabung yang lalu. Aku pun meminta Novan dan Dimas untuk patungan, yang mana aku akan memberikan 1 juta kredit, sedangkan Novan dan Dimas, masing-masing 500 ribu kredit.


Setelah sepakat dan terbeli, akhirnya kami menuju ke dalam hutan lebat, Novan yang sudah membeli holographic map mulai mencari tempat yang sudah aku beritahu ke dia. Tapi di pertengahan jalan aku melihat sesuatu yang bergerak dan menghentikan buggy. Aku langsung turun dan mengeluarkan panah berburu yang aku beli di kota tadi.


Aku berburu segerombolan rusa. Cukup banyak, sekitar 20 ekor, sisanya sudah melarikan diri. Novan dan Dimas yang baru tiba di tempatku dan mengetahui aku berburu begitu banyak rusa langsung mengomeliku habis-habisan.


Tidak lama kemudian muncul seekor beruang coklat besar berdiri mengintimidasi kami bertiga, tapi intimidasi itu tidak berpengaruh kepadaku, aku malah tergiur dengan beruang itu.


20 menit kemudian aku sudah mengumpulkan banyak tulang, jeroan, daging dan kulit dari 20 rusa dan beruang yang tadi. Walau merasa puas, aku masih saja merasa ada yang kurang, tapi daripada diomeli mereka berdua lagi, aku mencari alternatif yang lain.


Kami melanjutkan perjalanan menuju ke pedalaman hutan sektor 59.


Pedalaman hutan ini benar-benar lebat dan tidak ada tanda-tanda NPC atau pun pemain lain, semuanya serba pohon dan semak belukar. Untung kami membeli buggy sehingga perjalanan di hutan pun menjadi sangat mudah.


Tidak lama kemudian aku melihat asap putih yang halus menjulang tinggi ke langit, dan sepertinya itu adalah tempat lubang panas bumi berada, aku langsung menancap gas dan akhirnya sampai di dekat lubang panas bumi.


Tempat itu terlihat cukup bagus untuk menetaskan telur naga.


Kami turun dari kendaraan dan mulai mempersiapkan barang-barang, mendirikan tenda, membuat markas kecil, dan sentry gun untuk keamanan tempat kami dan telur naga berada.


Dimas mulai melihat, memeriksa, dan mempersiapkan jebakan ikan di aliran sungai terdekat dari panas bumi, untuk pasokan makanan kami dan naga nantinya. Novan mempersiapkan meja serba guna dan peralatan memasak. Sedangkan aku, membawa telur naga ini ke dekat panas bumi sambil memeriksa dan mencari cara supaya telur naga ini dapat berada di tengah lubangnya.


Aku melihat sekeliling dan mendapati banyak dedaunan berbentuk hati yang sangat lebar, daun itu bukan lain adalah daun yang suka dimakan ikan gurame, daun talas. Daun talas yang sangat besar dan kokoh. Aku meminjam pisau militer punya Novan dan mulai memotong, dan lagi-lagi…


“ELU MOTONGNYA KELEBIHAN BAGONG!!”


*BLETAK


Panci goreng dengan kecepatan tinggi terbang mengenai kepalaku dan meninggalkan gundukan benjol merah panas berasap.


Dimas yang baru selesai berurusan dengan sungai, melihat kami dengan kebingungan.


“Apa aku ketinggalan sesuatu?”

__ADS_1


Selesai menyusun dan membuat sarang naga, aku menaruhnya di tengah sarang itu tepat di bawah uap panas bumi, membuatnya seperti altar suci.


“Bagus juga.”


Singkat pujian Dimas, aku hanya menoleh sedikit dan kembali melihat sarang naga buatanku. Aku melihat sambil berpikir, naga macam apa yang akan keluar dari telur hijau ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang dalam permainan, kami bertiga duduk sambil memanggang dan memakan daging beruang yang tadi kami bunuh, cukup mengejutkan karena rasanya enak, lembut dan berlemak.


Kami mulai membicarakan perihal pemeliharaan naga, baik pada saat inkubasi dan setelah menetas nanti, tapi sebelum itu….


“Oi, menurut kalian naganya bakal kayak gimana?”


Aku bertanya kepada mereka sambil memakan daging beruang itu.


“Mungkin naga batu.”


Jawab Novan sambil mengambil air minum.


“Hmm… Batu, yah…?”



“Kayaknya sih gak batu-batu banget, yaaa… paling naganya rada kecil tapi gemuk dengan sisik hijau dan helaian-helaian yang menjulur panjang seperti daun.”


Dimas pun ikut memberi gambaran naga yang akan keluar dari telur itu.


“Menurutmu gimana, Fad?”


Diapun bertanya ke arahku, sambil meneguk air dan membersihkan kerongkongan, aku memberikan gambaran naga apa yang akan keluar.


“Menurutku, naganya gak bakal jauh beda bentuknya dari naga biasa, maksudnya, itu naga masih punyak sisik keras, ntah coklat atau hijau, dan mungkin quatropedal, punya sepasang sayap, dan menyembur api seperti naga pada umumnya.”



“Hm… gitu, yah…”


Mereka melihat ke arahku seperti tercerahkan pikirannya tentang naga. Mentang-mentang aku yang paling ahli dalam hal biologi di klan, aku sudah seperti profesor biologi untuk mereka.


Sudah waktunya bagi kami untuk melakukan patroli, selain menghilangkan kebosanan, patroli ini juga dilakukan untuk lebih mengenal medan sekitar, supaya jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kami bisa bertindak cepat untuk melawan balik hal tersebut.


Dimas berjaga di markas sambil meminum teh buatanku, sedangkan aku dan Novan, mulai menyusuri sekitaran markas di bagian timur.


Daerah timur benar-benar tempat yang basah, hutan yang sangat lembab, entah apakah hutan ini habis hujan atau memang densitas tanaman lumutnya yang sangat banyak sehingga setiap tanaman yang kita pijak, pegang, dan lewati selalu dalam keadaan basah.


Aku dan Novan menuruni bukit kecil dengan meluncur melewati lumut di kaki kami. Aku melihat sebuah gua yang ukurannya cukup besar, walau aku menggunakan masker, tapi aroma unik yang sangat aku kenal menyuruh Novan untuk tidak melanjutkan ke dalam. Novan yang kebingunganpun bertanya.


“Kenapa?”



“Sarang kelabang, kelabang gede.”


Novan tidak berkata-kata dan kami berdua menatap tajam gua itu sambil berjalan mundur dan menyiagakan tangan kami disenjata AR.


Setelah melewati gua itu dan kembali menyisir daerah timur, Novan bertanya kepadaku, mengapa aku bisa mengetahui itu sarang kelabang bahkan sampai ukurannya dia tahu.


“Kok bisa tau?”



“Pengalamanku untuk menghilang di hutan kecil kota sangat sering waktu dulu, sehingga hal-hal unik seperti bau hewan dan serangga aku dapat mengenalinya, diikuti dengan kelembaban yang tinggi aku cukup mengetahui itu sarang serangga, tapi kelabang punya bau yang khas, dan dengan ukurannya yang sebesar itu, sangat jelas bau yang dikeluarkannya, dan juga aku melihat beberapa mayat hewan berserakan dilantai mulut gua.”


Novan yang mendengarkan penjelasanku terlihat takjub.


Kami menyisir hutan timur cukup lama dan akhirnya kembali di markas kecil yang kami buat, di mana Dimas sedang mengawasi kamera keamanan sambil memakan kue yang dibeli sebelumnya di kota.


Kami bertiga berkumpul dan merapat di meja sembari memberi informasi mengenai hutan sebelah timur.


Selama patroli berlangsung, bisa disimpulkan bahwa hutan timur adalah daerah dengan kelembaban yang tinggi, densitas lumutnya yang sangat tinggi diikuti dengan jamur-jamur besar yang sempat kami lewati, memperkuat pernyataan aku dan Novan, hutan itu basah dan lembab akibat aktivitas lumut dan jamur.


Hutan itu juga mempunyai sarang kelabang raksasa yang tertidur di dalamnya, terdapat aliran sungai dan keanekaragaman serangga yang banyak dan ukurannya yang besar-besar. Tapi ukuran semut di sini, walau besar tapi tidak sebesar semut pada misi sebelumnya, mendengar pernyataan itu Dimas menghela napas lega yang sebelumnya kaku saat mendengar kata semut tadi.


Aku juga menambah 3 kamera pengawas dan 3 alarm sensor gerak untuk menambah keamanan markas dan sarang naga.


Saat aku ingin membicarakan jebakan, Dimas memotong pembicaraanku dan mulai membicarakan perawatan telur naganya.


Mendengar itu aku mengeluarkan buku perpustakaan yang aku pinjam sebelumnya dan menaruhnya di tengah meja. Aku langsung membuka lembaran terakhir yang aku baca mengenai naga. Aku bilang kepada mereka, untuk menetaskan telur naga, membutuhkan waktu seharian atau bahkan sampai 3 hari, tergantung keadaan lingkungan dan faktor pengeraman telur.


Dimas dan Novan melihat lebih dekat ke buku untuk sekali lagi memahami apa yang harus dilakukan. Aku melihat ke arah barat dan instingku merasa tidak enak dan diikuti suara gemuruh dari langit, pertanda akan hujan.


Persiapan kami yang mapan menghiraukan suara gemuruh hujan itu dan memfokuskan untuk mempersiapkan merawat naga, jika sudah menetas. Sarang naga itu tidak aku tutupi, itu juga akan membuatnya terlihat alami. Tapi hal yang paling membuatku risih adalah wilayah barat. Setelah selesai basa basi di markas, aku akan langsung menyisir hutan selatan dan utara, sedangkan Novan membuat jebakan, dan Dimas tetap di markas untuk berjaga.

__ADS_1


__ADS_2