
Hari minggu pukul 08.30, aku memasuki permainan Cluster Online. Setelah pergi dari tempat terakhir aku berada di dalam permainan tadi malam, aku segera mengarah ke ruang utama. Di sana aku melihat Dimas sedang duduk di atas sofa dengan lima buah kotak berbentuk unik berada di atas meja.
“Weh, sudah masuk aja. Tumben masuk cepat.”
“Bukannya kebalik yah?”
Aku membalas perkataannya sembari mendekatinya sembari melihat kotak-kotak yang berada di atas meja itu. Kotak-kotak terrsebut berwarna hitam dengan garis tepi berwarna emas, kemudian sisi atasnya terlihat seperti sebuah batu permata berwarna merah. Kurasa aku mengetahui kotak apa ini.
“Kotak quest?”
“Iya, tadi pagi ada promo harga potongan 80% Quest Box, jadinya beli lima.”
Quest Box, atau lebih mudahnya disebut sebagai kotak quest merupakan barang yang dapat dibeli di NPC utama kota dengan harga seratus ribu kredit. Kotak quest dapat memberikan quest secara acak.
Umumnya quest dibagi menjadi lima bagian. Para pemain biasanya membedakannya dengan bintang yang akan muncul di atas kertas quest. Semakin banyak bintang, semakin sulit untuk menyelesaikannya, namun akan memberikan hasil yang bagus. Entah itu senjata atapun barang yang lainnya. Yah, dengan kata lain, gacha.
“Untuk apa beli sampai lima cuy? Mengingat quest di permainan ini susah parah.”
Seperti apa yang kukatakan. Quest dari permainan ini benar-benar sulit bahkan hanya untuk quest bintang satu.
“Yah… pengen aja. Mau coba buka satu gak?”
“Hmm… boleh, sih. Lagian aku gak keluar kredit, ‘kan?”
Aku duduk di sofa yang berseberangan dengan Dimas. Tapi sesaat setelah aku duduk, dia mengambil keempat kotak sisanya dan berdiri, lalu meninggalkanku untuk sesaat.
“Tinggu sebentar, mau naruh sisanya ke kotak dulu.”
“Oke.”
Saat dia pergi menuju ruang penyimpanan, aku mengambil kotak yang ditinggalkan dan melihat-lihatnya. Sudah lama sekali aku tidak melihat kotak quest karena tidak ingin membuang-buang kredit.
Aku memiliki cara tersendiri untuk mendapat kredit dari kotak quest. Mudahnya, jika aku mendapatkan quest bintang tinggi, aku bisa menjualnya ke pemain lain yang menginginkannyadengan harga mahal. Tapi itu sudah hal yang tidak pernah kulakukan karena rating untuk mendapatkan quest bintang tinggi sangatlah kecil.
Bintang satu memiliki rating 40% untuk mendapatkannya, bintang dua 30%, bintang tiga 17%, bintang empat 10%, dan bintang lima 3% untuk mendapatkannya. Itu sebabnya aku sudah tidak pernah membeli kotak quest.
Saat Dimas kembali dar ruang penyimpanan, aku meletakkan kembali kotak quest yang kupegang ke atas meja.
“Mau kuajak anak\-anak?”
Aku menyarankan hal itu padanya. Tentunya, anak-anak yang kumaksud adalah anggota yang lain. Mengingat tidak ada quest yang mudah di dunia ini, jadi kurasa jumlah bisa sedikit menutupi kekurangan daripada hanya melakukannya berdua.
“Boleh!”
Mendengar itu aku segera mengirimkan pesan dengan menandai semua anggota untuk mengajak mereka. Aku mengirim pesan melalui Whatsapps tentunya. Tidak membutuhkan waktu lama, beberapa dari mereka bermunculan menjawab ajakanku untuk ikut.
“Oke, ada yang mau ikut kok!”
“Bagus. Kalau gitu, kuambil questnya.”
Dia mengambil kotak quest yang ada dan menekan permata berwarna merah itu. Dalam sekejap kotak tersebut hancur lebur menjadi abu, kemudian memunculkan sebuah kertas gulungan yang terlihat sudah sangat tua.
Dimas membuka kertas gulungan itu dan terlihat sedikit terkejut.
“Woah…!”
“Apa?”
Aku berpindah tempat ke dekatnya untuk melihat gulungan itu dengan jelas. Yang pertama menarik perhatianku adalah sebuah lambang empat bintang di pojok kanan atas gulungan tersebut.
“Weh, bintang empat!”
Aku kembali ke tempat duduk awalku dan membiarkannya membaca quest itu terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, beberapa anggota lain mulai masuk ke dalam permainan. Pertama adalah Zia, kemudian disusul oleh Lazy, Fadli, dan Syah.
“Di mana questnya?!”
Syah bertanya sambil berteriak dengan sangat semangat.
“Sabar! Dimas masih baca tuh!”
__ADS_1
“Hmm…”
Setelah itu dia tidak berkata apapun dansegera duduk di sofa yang kosong. Begitupun dengan yang lainnya. Tidak lama setelah itu Dimas menyerahkan kertas quest padaku. Akupun membacanya.
“Mm\-hmm… hm… ini sih nyusahin!”
Quest tersebut meminta kami untuk pergi ke S73 dan pergi ke arah tenggara sejauh 10km untuk menemukan sarang semut raksasa dan membunuh sang ratu. Kemudian dapatkan bagian tubuh sang ratu untuk nantinya diberikan pada NPC utama di S1.
“Misinya apa Rei?”
Aku menjawab pertanyaan Zia sembari menggaruk kepalaku.
“Disuruh bunuh ratu semut raksasa di S73.”
“Lah, bukannya gampang? Cumin disuruh bunuh ratu semut, ‘kan?”
Semua orang yang berada di ruangan seketika memandangi Syah setelah dia mengatakan itu.
“Syah kayaknya gak paham. Gini nih yah, meski questnya cumin bilang untuk bunuh ratunya, jelas\-jelas ini quest tipe pembasmian! Lagian, semut yang lain pasti bakal ngelindungi ratunya!”
“Lazy benar! Lagian, semut itu peka. Peka dalam artial jejak, bukan kayak radar.”
Yah, yang dikatakan Fadli memang ada benarnya. Lagipula dia kuliah jurusan biologi kalau aku tidak salah. Dengan begini setidaknya kami bisa mendapatkan informasi dari orang yang lebih paham dibidangnya.
Disaat kami sedang mulai membahas masalah ini, beberapa orang yang ingin mengikuti quest ini muncul lagi. Mereka adalah Kireina, Novan, dan Puteri. Sekarang sudah sembilan orang. Untuk sesaat aku menjelaskan situasi sekarang kepada mereka yang baru saja datang lalu membagi tugas.
“Oke, sini ngumpul!”
Aku menyuruh mereka untuk mendekat ke meja agar lebih mudah melakukan pembagian tugas.
“Pertama\-tama, kita harus ke S73, tempatnya tipe gurun pasir. Terus jarak tempuh yang kita butuhkan 10km.”
“Kalau gitu, kita butuh kendaraan sama barang untuk ngehindari panasnya gurun?”
Aku membenarkan hal yang dikatakan Novan.
Ozyline adalah barang asli buatan permainan ini. bentuknya seperti sebuah pin untuk baju, namun kegunaannya untuk memberikan status yang dapat menyesuaikan suhu pakaian pemain yang menggunakannya.
“Untuk berjaga\-jaga, kita bakal bikin kabin kecil untuk ngebuat respawn point di sana. Jadi kita butuh bahan\-bahan untuk bikin kabin. Kuserahkan itu ke Rei sama Zia.”
“Beli di mana itu?”
Meski barang-barang seperti kayu dan batu bisa dikumpulkan sendiri, tapi kita akan memangkas waktu dengan membelinya pada pemain yang memilikinya.
“Cari aja di kota pemain yang punya. Kadang mereka memang ada yang sengaja menjual barang\-barang begitu. Paham?”
Setelah mereka mengangguk, aku memberikan kredit yang mereka butuhkan untuk membeli barang-barang tersebut. Setidaknya aku memberikan satu juta kredit untuk masing-masing orang yang kuminta.
“Sekarang, Laz! Kita punya cetak biru kabin sama kasur yang gak dipakai, ‘kan?”
“Kalau cetak biru kurang tau, nanti kulihat. Kalau kasur kita punya banyak.”
“Bagus!”
Untuk sekarang, masalah kita dalam kendaraan dan reset poin selesai.
“Apalagi yang kita butuhkan? Ada saran?”
Saat aku menanyakan itu, mereka semua terlihat sedang memikirkan hal yang mungkin saja kami lupakan. Saat itu Puteri mengangkat salah satu tangannya sembari memberikan saran.
“Ah! Konsumsinya gimana?”
Ah, itu ada benarnya! Aku sampai melupakah hal sepenting itu.
“Kalau gitu, Puteri bisa urus hal itu? Uangnya nanti kukasih.”
“Kenapa gak bikin sendiri aja?”
__ADS_1
“Bakalan lama. Jadi beli aja. Lagian pakai kreditku kok.”
“Yaudah iya.”
Saat kami sedang melakukan pembagian tugas, dua orang memasuki permainan dan segera mencoba untuk membaur.
“Maaf! Agak telat soalnya masih ada panggilan alam tadi.”
Mereka adalah Haqqi dan Bang Sema.
“Masih bisa ngajak orang, ‘kan? Aku ikut!”
Aku mengangguk setuju untuk menerima mereka.
“Masih! Nanti kukasih tau situasinya. Untuk sekarang, yang tadi sudah kebagian tugas, selesaikan itu!”
Mereka yang sudah kuminta untuk membeli barang-barang yang kami butuhkan segera meninggalkan markas. Aku memberikan 200 ribu kredit pada Puteri untuk membeli konsumsi, kemudian dia meninggalkan markas.
Untuk Haqqi dan Bang Sema, aku ingin memberikan kertas quest itu pada mereka. Tapi pada saat yang sama, mataku tertuju pada kalimat terakhir yang memberitahukan hadiah yang akan kami dapat jika berhasil menyelesaikannya.
“Eh?”
Hanya terdapat satu hadiah saja dan tidak ada yang lain. Hanya saja, itu bukanlah barang yang biasa.
“Cuy! Dim! Pas baca sudah liat hadiahnya belum?”
“Hm? Gak tuh. Soalnya sehabis baca questnya aja dah hilang semangat.”
Aku menunjukkan kertas itu padanya dengan wajah pucat.
“Astaga… Cuma satu hadiah ternyata… hm? Apa ini? Artifact of Forcimidae? Hm … tunggu, HAH?!!”
Author's note : Forcimidae adalah famili serangga yang di dalamnya terdapat semut.
Seketika mereka semua terkejut dan mencoba untuk melihat hadiah yang tertulis di situ.
“Artefak loh!!!”
Artefak, adalah barang yang bisa dikatakan terkuat di dalam Cluster Online ini. Sebuah keberadaan yang dapat merubah tatanan sistem yang telah ada. aku sama sekali tidak pernah mendengar jika quest dapat memberikan Artefak!
“Cuy, keberuntunganmu parah yah kalau masalah gacha!”
Aku mengatakan itu pada Dimas dan dia hanya menatap kosong dengan mulut terbuka, kemudian tertawa keras.
Aku memberikan kertas quest tersebut pada Haqqi dan Bang Sema untuk mereka membacanya dan mengerti situasi quest yang akan kami hadapi nantinya.
“Fadli, kalau bisa sambil carikan informasi tentang semut. Misalnya mereka gak terlalu peka apa atau hal lainnya.”
“Gampang. Mereka gak terlalu peka sama kayu manis, cuka, kulit jeruk, bawang putih, sama sisanya lupa.”
“Hm… jadi mereka gak peka sama hal yang sifatnya basa?”
“Nah, iya! Soalnya semut itu kaya akan asam.”
Masuk akal! Meski aku mengetahui jika mereka tidak terlalu peka terhadap basa, aku tidak terlalu bisa melakukan banyak hal untuk itu. Bagaimana caranya agar bisa mendapatkan hal semacam itu?! Ah, kurasa ada!
“Dim, bisa minta tolong belikan deodorant? Yang banyak.”
“Untuk apa?”
“Kebanyakan barang yang sifatnya basa itu bakal bikin luka di kulit. Deodorant juga tipe basa kuat, tapi gak bakal melukai kulit.”
“Oke!”
Tidak membutuhkan waktu lama, Dimas segera pergi dari markas untuk membeli deodorant. Yah, barang seperti itu juga ada di sini. Entah bagaimana tiba-tiba aku memikirkan unsur Al(OH)3 yang terdapat di deodorant dan berniat untuk menggunakannya.
__ADS_1
“Haqqi sama Bang Sema siap\-siap aja duluan. Biar nantinya gampang.”