
Aku masih merasakan dingin, tapi terasa sedikit hangat. Tidak hanya itu, ini terasa lembut dan menggelitik kulit. Sesuatu terasa seperti terus menerus berayun di depan hidungku.
Aku membuka mata namun tidak dapat melihat apapun karena rabun. Memfokuskan indra penglihatan ku, aku seperti sedang berada di dalam sebuah gua karena aku melihat cahaya dan salju yang masih turun di luar sana.
“Huh…?”
Aku memperhatikan sekitar dan menyadari posisiku sedang bersandar pada sesuatu yang terasa hidup dan bernafas.
“Ah,”
Aku bersandar pada seekor serigala putih dengan tiga ekor serigala lain yang berwarna sedikit abu-abu gelap. Mereka berempat tertidur pulas.
Sedangkan terdapat seekor serigala lain yang berada tepat di hadapanku dengan jarak kurang lebih lima meter. Dia melihat tepat ke arahku.
Matanya yang memantulkan cahaya itu sedikit mengintimidasi. Percaya atau tidak, dia adalah serigala hitam sebelumnya.
Bangkit dari tempatnya berbaring, si hitam itu mendekatkan dirinya padaku dan mengendusku. Anehnya, kali ini dia tidak memamerkan taring menyeramkannya. Aku menarik wajahku mencoba untuk membuat jarak dengannya.
“Oh?!”
Menyadari jika sekarang tangan kiriku dapat digerakkan, aku memastikan kakiku yang juga sudah pulih. Dengan pakaianku yang masih dominan putih, dapat disimpulkan jika efek dye-nya masih ada.
“Dilihat dari cahaya di luar, kurasa belum malam. Tapi ini sudah pasti lebih dari tiga puluh menit tapi kurang dari dua belas jam.”
Beberapa bagian pakaianku sobek akibat dari peluru dan gigitan si hitam sebelumnya. Kurasa aku sudah tidak dapat menggunakannya lagi. Tapi aku juga tidak membawa pakaian ganti di inventaris sekarang ini.
Si hitam yang terus-menerus mengendus itu akhirnya merebahkan dirinya di dekatku. Aku ingin mencoba menyentuhnya, tapi mengingat apa yang terakhir dia lakukan padaku, membuatku tidak jadi untuk melakukannya.
“Hahh… kupikir aku bakal mati.”
Aku sedikit lega karena tidak harus kehilangan barang-barang dan kredit yang sudah kukumpulkan. Tapi, justru aku memiliki masalah baru kali ini.
Aku bangun dari si putih dan membangunkannya, tapi aku tetap mencoba untuk memisahkan diri dari mereka. Berjalan mengarah ke mulut gua sambil melihat stalagmit dan stalagmit yang ada di langit-langit dan lantai gua ini.
Angin dingin menerpa tubuhku diikuti salju yang masih turun. Saat itu juga aku sadar telah kehilangan ozyline. Itulah sebabnya angin yang kurasakan sangatlah dingin tanpa ozyline yang mengatur suhu.
“Udah dingin begini, aku juga gak tau di mana ini. Yah, seenggaknya gak badai sih.”
Aku ingin mencari jejak saat para serigala itu membawaku ke tempat ini meskipun tidak ada gunanya, Aku yakin jejaknya sudah hilang tertutup oleh salju.
Aku bahkan kehilangan earpiece untuk menghubungi mereka. Satu-satunya cara yang tersisa ada mengirimkan pesan pada mereka dengan meminta tolong untuk melacakku.
Yah, aku bisa saja menelpon salah satu dari mereka. Tapi mengirimkan pesan kurasa akan lebih cepat untuk jangkauan yang lebih banyak sekaligus.
Aku kembali masuk ke dalam gua dan membuka bajuku karena basah dan meletakkannya di atas sebuah batu dengan permukaan sedikit datar.
Empat ekor serigala abu-abu lain datang dari luar gua sambil menyeret bangkai seekor rusa kecil. Aku berjalan mendekat ke si putih karena tidak ingin menjadi yang berikutnya. Rusa yang malang.
“Ah!”
Aku membuka inventaris dan mengeluarkan bangkai moose yang sebelumnya kuburu. Melihat santapan berukuran besar, si hitam bergerak dengan cepat dan mengambil bagian pertama. Sedangkan sisanya hanya melihat.
“Ah… aku paham sekarang. Jadi kamu pemimpinnya, yah.”
Aku tidak sepintar Fadli dalam masalah ini. Tapi setidaknya aku mengetahui kebiasaan serigala di alam liar. Seekor Alpha harus mendapatkan bagian pertama dan setelah dia merasa cukup, maka yang lain akan mendapatkan sisanya. Kurang lebih begitu.
Aku menjauh dari mereka dan duduk di pojokan sambil mengonsumsi makanan ringan yang tersisa. Aku ingin mencoba untuk menyalakan api unggun. Tapi dengan situasi seperti ini, kurasa sangat sulit untuk mencari ranting-ranting kering untuk dibakar.
Kembali melihat para serigala yang sedang memakan bangkai moose pemberianku, sekaligus berpikir bagaimana aku bisa berakhir di tempat ini. Mengingat sifat hewan di dalam permainan ini diambil secara langsung melalui contoh data hewan aslinya, aku yakin juga mereka dapat merasa iba, begitu juga sangat liar dan penuh kekerasan, sama seperti manusia.
Untuk sekarang ini, aku merasa bersalah karena meninggalkan Zia sendirian di dalam kabin itu. Dan juga, aku sedikit penasaran terhadap bangunan di mana ada penembak jitu yang melukaiku. Aku juga merasa jika dia sengaja tidak membunuhku dan hanya mempermainkanku.
“Yah, mana mungkin aku bisa ke tempat itu sendirian. Lagipula aku gak sekuat Bang Sema. Setidaknya, belum…”
Aku meraih dan menggenggam kalung dogtag dengan lambang utama klan kami yang selalu menggantung di leherku. Benda tersebut adalah pemberian teman bermainku terdahulu.
Dengan sedikit sentuhan dan modifikasi, aku menambahkan logo kami salah satu sisi. Sedangkan logo lain di sisi lainnya.
“Aku senang karena bisa bergabung di dalam klan ini. Tapi entah gimana, rasanya klan ini sudah mencapai batasnya. Dari 34 anggota, yang aktif bahkan bisa dihitung dengan jari.”
Dengan perasaan untuk menghidupkan kembali klan yang kutempati sekarang, aku terus mencoba untuk berbaur kepada semua anggota. Hanya saja hal seperti itu lebih sulit dari yang bisa kupikirkan.
Aku juga ingin menambah anggota baru, tapi klan kecil dan tidak memiliki apa-apa seperti kami, siapa yang ingin bergabung pada klan seperti itu?
Saat sendirian seperti ini dengan pemikiran seperti itu, sebenarnya hal itu membuatku sedikit tenang. Aku bisa menjadi diriku sendiri dengan tetap sambil memikirkan mereka.
__ADS_1
Si Putih mendekat dan berbaring tepat di sebelahku dengan nyaman. Aku meraih kepalanya dan mengelus bola bulu raksasa itu dengan lembut meski awalnya ragu untuk melakukannya.
“Tapi, yah, akan kuusahakan untuk tetap membuat klan ini berdiri. Meskipun harus berjuang sendiri. Bukan sebagai ketua, tapi sebagai salah satu teman mereka. Bukankah begitu?”
Aku bertanya pada si Putih meski aku tahu dia tidak akan merespon apapun.
“Hm?”
Sebuah jendela panggilan masuk muncul di hadapanku. Pemanggil tersebut bernama Fajar dan aku mengangkat panggilannya.
“Fajar?”
“Aku sudah dapat lokasimu, cuy. Kami segera ke sana yah. Tungguin aja!”
“Ah, emh, oke! Eh?”
Dia menutup panggilan tersebut. Dan dari suaranya entah kenapa dia terdengar sangat terburu-buru. Lalu, dia mengatakan “kami”, dia akan berangkat bersama siapa? Yah, aku akan mengetahuinya setelah dia sampai.
Aku mengamankan carcano di dalam inventaris dan mengeluarkan M4A1 lalu memeluknya.
“Yah, selingkuh dari AR-15 untuk sekarang gak masalah, kan? Ehehe…”
Pelukanku pada M4A1 semakin kuat sembali menunggu Fajar.
***
Satu jam berlalu sejak Fajar memutus panggilannya. Akhirnya dia kembali menghubungiku dan memintaku untuk keluar dari dalam gua. Tentunya setelah menggunakan pakaianku yang setidaknya sedikit kering meski masih terasa lembab sambil menggendong M4A1.
Dengan dua ekor serigala abu-abu mengikuti langkahku dari belakang, aku menemui Fajar di depan gua dengan menggunakan snowmobile. Setelah melihat ke berbagai arah, aku tidak menemukan siapapun di sekitarnya.
“Sendiri?”
Dia membuka inventaris dan mengeluarkan beberapa barang selagi menjawabku.
“Gak kok. Sama Syah, tapi dia ke tempatnya Zia.”
Itu membuatku tenang karena Zia tidak akan sendirian. Tapi yang membuatku tidak tenang adalah yang menemaninya itu Syah. Orang itu Syah loh!
Fajar mengeluarkan dua buah benda dan langsung memberikannya padaku. Sebuah earpiece dan kertas hijau berukuran seperti sebuah tiket dan bertuliskan “Quick Repair”. Benda tersebut dapat memperbaiki pakaian rusak dalam sekejap.
Meski begitu tiket QR hanya dapat digunakan pada pakaian dan tidak dapat digunakan untuk senjata ataupun peralatan lain. Harganya cukup terjangkau.
Aku merobek tiker tersebut yang memang begitulah cara pakainya. Dengan sekejap, seluruh bagian pakaianku yang hancur kembali seperti semula seperti tidak pernah terjadi apapun. Aku juga memakai earpiece di telinga kananku.
“Oya, Jar, punya ozyline lebih?”
Aku bertanya jika dia membawa ozyline juga. Karena aku menjatuhkan yang sebelumnya, aku masih merasa kedinginan di sini.
“Gak bawa. Cuma satu, itupun dipakai.”
“Aahhh… yasudah.”
Sayang dia tidak membawa lebih. Yah, aku yang salah karena tidak meminta dia untuk membawakannya saat menghubungiku.
“Ngomong-ngomong… mereka siapa? Daritadi rasanya aku gak diterima di sini.”
Dia melihat ke arah sisiku di mana kedua serigala abu-abu itu menggeram sambil memamerkan taring milik mereka.
“Ah… ceritanya panjang. Intinya aku diselamatkan mereka, gitu.”
“Eh?! Apa mungkin sudah kamu jinakkan?”
“Mana mungkin! Yah, yah, kukasih tau nanti aja. Sekarang kita ke tempat Zia dulu. Kamu yang nyetir!”
__ADS_1
Aku melihat ke dalam gua dan memandang Si Hitam dan Putih secara bersamaan kemudian sedikit tersenyum. Setelah itupun kami menaiki snowmobile yang dibawanya menuju ke arah Zia dengan peta hologram terus terbuka di depan Fajar sambil melacak keberadaan Syah.
“Oya, kenapa tadi pas panggilan kamu kedengaran buru-buru, Jar?”
Aku bertanya saat kami dalam perjalanan.
“Soalnya lokasi itu dekat sama tempat Bos Server.”
Ah, aku tidak mengetahui hal itu. Yah, sejak awal aku memang tidak mengetahui apapun tentang server ini.
“Iya? Memangnya lokasinya di mana?”
“Aku gak tau arahnya, tapi semacam danau luas yang beku gitu. Nah, di situ tempatnya Bos Server. Terus bos itu Beast Level 5 loh! Makanya aku cepat-cepat ke sini.”
Eh? Danau beku? Apa maksudnya danau beku yang ada di arah utara itu? Aku tidak melihat apapun di sana.
“Aku sudah ke sana, tapi gak ada apa-apa loh!”
Mendengar itu, tentu dia ikut terkejut.
“Lah?! Kok bisa?! Gak ada pemberitahuan bosnya pernah dikalahkan loh! Kalaupun iya, memangnya klan besar mana yang sanggup mengalahkan BL5?!”
“Ya mana kutahu!”
Yah, mungkin aku saja yang tidak menyadarinya karena danau tersebut cukup luas. Tapi kurasa itu sedikit mustahil. Tapi, entahlah.
Sesampainya di kabin, kami tidak melihat sesuatu yang mengejutkan. Hanya Zia dan Syah yang sedang duduk di depan perapian dengan telur yang masih ada di tangan Zia.
“Lah, gak ada apa-apa yah? Padahal aku berharap si Syah ngelakuin hal yang senonoh terus Zia membuat dia babak belur.”
“Ah, aku setuju sama Fajar!”
Aku mengangguk setuju mendengar itu. Maksudku, itu Syah! Itu Syah loh!
Aku mendekat ke arah Zia dan melihat telur yang dipeluknya.
“Ada perubahan?”
“Gak ada. Tapi aku sudah menyuruh Lazy untuk cari cara supaya cepat menetas. Ternyata gak ada. Cukup di tempat yang suhunya minus, sudah cukup. Sisanya tinggal nunggu sampai seharian penuh.”
“Ah, lumayan cepat, huh. Ah, ngomong-ngomong, jauh di utara ada semacam bangunan gitu.”
“Bangunan?”
Aku membenarkan pertanyaan Zia yang langsung kulanjut dengan penjelasan.
“Iya! Terus ada penembak jitunya. Bahkan menurutku kemampuannya melebihi Dimas. Kemungkinan di dunia nyata orang ini sering melakukan kontak dengan senjata asli, atau lebih buruk, dia tentara.”
“Hm… sehebat itukah kemampuannya?”
“Itu menurutku pribadi. Yah, aku juga bisa salah.”
Zia menunduk seperti memikirkan hal itu. sedangkan Syah melipat kedua tangan di depan dadanya.
“Cuy, kamu terlalu banyak basa-basi. Coba langsung ke inti masalahnya aja!”
Mendengar itu dari Fajar, aku tersenyum penuh makna dengan kedua tangan di pinggang.
“Mau raid?”
__ADS_1
Itulah pertanyaanku sebelum akhirnya mereka segera menganggukkan kepalanya dan kami pun mencoba untuk menyusun rencana.