
Sekitar pukul 4 sore, akhirnya hujan telah berhenti dan aku memastikan isi inventarisku karena berencana untuk memeriksa wilayah barat dari tempat kami sekarang. Aku sudah merencanakannya sejak tadi, hanya saja cuaca sedikit tidak mendukung.
Setelah memastikan segala yang kubutuhkan, aku menghampiri Dimas dan Novan dan berpamitan dengan mereka yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Dim, Van, aku mau ke wilayah barat dulu, yah. Mau melihat apa aja yang ada di bagian sana.” (Fadli)
“Silakan.” (Dimas)
“Hati-hati Fad, banyak nyamuk, loh.” (Novan)
“Nah, bener itu.” (Dimas)
Mendengar peringatan Novan, Dimas membenarkannya dan aku hanya kebingungan setelah mendengarnya.
“Lah, mana ada nyamuk dipermainan ini. Ada-ada aja kalian.” (Fadli)
Mendengar ucapanku, mereka berdua justru tertawa kecil.
Yah, sejujurnya aku tidak pernah menemukan nyamuk di dalam permainan ini, jadi aku tidak yakin apakah memang ada atau tidak. Tapi seandainya ada, aku hanya perlu menepuk mereka seperti biasa.
“Yasudah, aku berangkat.” (Fadli)
Setelah berpamitan, aku pergi meninggalkan tenda dan pergi ke arah barat sendirian. Tapi sebelum itu aku melihat sarang naga buatan kami dan memastikan keadaan telurnya. Setelah memastikan keamanannya, aku kembali berjalan ke arah yang kutuju.
Setelah berjalan beberapa saat, aku merasakan keanehan di wilayah ini. Entah bagaimana, wilayah di sekitar sini terlihat cukup kering padahal tidak lama sebelumnya hujan mengguyur.
Yah, mungkin saja hujannya tidak mencapai tempat ini. Itulah pikirku. Tapi setidaknya tempat ini akan terasa lembab meski sedikit, tapi itu tidak terjadi sama sekali. Tempat ini sangat kering, bahkan aku dapat mendengar beberapa suara serangga seperti jangkrik.
“Hmm…” (Fadli)
Aku menyentuh tanah, semak-semak, dan bahkan pepohonan untuk memastikan kelembaban permukaannya, tapi aku tidak merasakan kelembabannya.
Disaat yang sama selagi aku memeriksa keanehan sekitar, indra penciumanku mendapati bau yang tidak terlalu nyaman, tapi sepertinya aku pernah merasakan bebauan ini. Untuk memastikannya aku mencoba untuk menghirup udara lebih dalam.
“Bau ini… kayaknya pernah menciumnya.” (Fadli)
Dengan rasa penasaran, aku mencoba untuk mengikuti arah datangnya angin yang membawanya. Semakin pekat bau yang kurasakan, aku semakin yakin jika tempatnya tidak jauh dari sini, dan benar saja.
Tidak jauh dari tempatku sebelumnya, aku menemukan sebuah jurang terjal yang cukup dalam dan dari bau yang sangat pekat ini aku yakin sumbernya dari bawah sana. Selain itu, aku mengenal bau ini.
“Ahh… jadi ini alasannya wilayah ini terasa cukup kering padahal baru turun hujan. Tambang belerang, kah…” (Fadli)
Aku ingin mencoba untuk menelusuri tambang itu, tapi kuurungkan niatku karena jurang ini terlalu terjal dan aku tidak memiliki alat untuk menuruninya. Selain itu karena indra penciuman di dalam permainan ini dibuat sangat mirip seperti dunia nyata, kurasa akan berbahaya jika meneruskannya. Yah, meski aku menggunakan topeng yang sedang kugunakan ini, percayalah benda ini hanyalah aksesoris.
Aku membuka menu, kemudian memilih peta. Sebuah peta hologram muncul dihadapanku dan aku menandai tambang belerang itu di dalam peta. Aku juga melihat jam yang menunjukkan 30 menit telah berlalu sejak aku berangkat dari tempat persembunyian kami.
“Hahhh… padahal aku berharap bisa menemukan kolam air panas di sekitar sini. Tapi bau!” (Fadli)
Aku membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke tempat persembunyian. Dalam perjalanan aku menemukan sayuran dan buah-buah yang dapat dimakan, jadi aku mengambil beberapa.
Meski begitu aku harus sedikit berhati-hati agar tidak salah ambil karena di sekitar sini banyak sekali jamur yang sangat berbahaya jika dikonsumsi.
Sembari menikmati pencarian buah-buah dan sayuran dalam perjalanan, tanpa kusadari aku sudah sampai di markas sementara kami dan melihat Novan yang sepertinya sedang menyiapkan kayu bakar, sedangkan Dimas sedang menyiangi beberapa ikan dan sayuran.
“Oi…! Aku pulang… Oya tadi pas pulang ke sini, aku dapat buah-buahan sama sayuran.” (Fadli)
Sapaku pada mereka sambil membuka inventaris dan menunjukkan hasil jarah- ehem! Maksudku hasil panen yang kudapatkan dari hasil hutan.
“Ohh… selamat datang. Taruh di sini aja sayurannya. Biar sekalian kubersihkan.” (Dimas)
Aku mendekati Dimas sambil mengeluarkan sayuran yang kutemukan saat Novan menyapaku.
“Oh, Fad, kukira bakal makan di hutan, loh.” (Novan)
“Yah, kan kita memang di hutan. Gimana, sih.” (Fadli)
Aku membalas candaannya yang membuat Novan tersenyum tipis.
“Ya, iya sih, maksudku sendirian gitu. Gimana, dapat info soal wilayah di bagian barat?” (Novan)
“Iya, dapat, kok…” (Fadli)
Setelah meletakkan sayuran di dekat Dimas, aku melanjutkan jawabanku pada Novan.
“Wilayah sana lebih kering daripada di sini. Padahal tadi habis turun hujan, tapi permukaan tanah, semak-semak, sama pepohonannya sudah kering duluan.” (Fadli)
“Kok bisa?” (Novan)
“Yah, gak jauh dari situ aku nemu jurang. Nah, di dalamnya itu ternyata semacam tambang belerang.” (Fadli)
Mendengar itu, Dimas membalikkan badan dan mengucapkan sebuah kata yang sedikit tidak family friendly. Sebuah kata dengan empat huruf, berawalan “N” dan akhir “R”.
“Terus, gak diperiksa lebih lanjut tambangnya?” (Novan)
Ketika Novan kembali bertanya, aku kembali memikirkan pilihanku untuk tidak mencoba untuk memasuki tambang tersebut.
“Gak lah. Sudah terlalu sore, terus cukup bahaya kalau menghirup belerang terlalu lama. Selain itu jurangnya terjal.” (Fadli)
Sekali lagi Dimas mengucapkan kata yang sama seperti sebelumnya. Kata dengan empat huruf, berawalan “N” dan akhir “R” itu.
“Ohh… gitu, kah. Yasudah kalau gitu. Sekarang, ayok bikin makan malam dulu.” (Novan)
***
Pukul 9 pagi aku memasuki permainan. Sudah seminggu sejak kami membangun markas di sini dan menuggu telur itu untuk menetas. Dalam waktu itu juga banyak hal yang telah terjadi pada anggota klan yang lain. Aku mengetahuinya karena di grup chat sangat ramai membahas itu.
Aku keluar dari dalam tenda dan memeriksa tempat kami meletakkan telur naga. Di sana aku melihat Novan yang sepertinya juga sedang memeriksa keadaan telur dalam posisi berlutut satu kaki.
“Oh, Fad.” (Novan)
Karena sudah menyadari kehadiranku, aku berjalan ke arahnya dengan beberapa pikiran lain di kepalaku.
“Cepat, yah, kamu masuknya. Dimas mana? Belum bangkit dari kematian?” (Fadli)
“Katanya lagi ada urusan. Jadi baru bisa masuk nanti siang. Oya Fad, harusnya telur ini menetas hari ini, yah?” (Novan)
“Harusnya sih gitu. Bisa sore, bisa malam. Atau mungkin bentar lagi. Gak tau, sih.” (Fadli)
Setelah memastikan keadaan telur tersebut, kami berdua kembali ke dekat tenda. Di sana aku membuatkan dua gelas kopi, sedangkan dia mengeluarkan camilan berupa kacang-kacangan dari dalam inventarisnya.
Setelah selesai membuat kopi, aku memberikan segelas padanya.
“Ah, makasih.” (Novan)
Dia juga menyodorkan bungkus camilan kacang yang sedang dipegangnya padaku. Tentu aku menerimanya dengan senang hati.
Sembari meniup kopi yang masih panas, kemudian menyeruputnya, pembahasan di grup kembali ke kepalaku.
“Van, kamu ngerasa ada yang aneh gak?” (Fadli)
“Hm? Aneh gimana maksudnya?” (Novan)
Dia bertanya, kemudian mencoba untuk menyeruput kopi yang sedang dipegangnya dengan cangkir alumunium.
“Ya aneh gitu. Maksudku, tim lain punya masalah gitu. Timnya si Watuk diincar, terus si Reiga nyasar di gunung, terus kita nyantai di sini kayak kemping biasa. Jadi mirip pepatah yang gini, angin sepoi sebelum ba-” (Fadli)
“OI!! Jangan dilanjutin! Kita lagi di hutan, loh, jangan bicara aneh-aneh! Lagian si Watuk itu memang sudah sering punya masalah sama pemain lain, nah si Reiga mungkin memang cuma lagi sial aja ketemu pemain lain pas lagi berburu.” (Novan)
Yah, apa yang dia katakan memang ada benarnya. Lagipula, seharusnya sebentar lagi telur yang kami jaga akan segera menetas. Jadi ini akan menjadi misi yang mudah.
Setelah beberapa saat, Novan meletakkan gelas yang dipegangnya dan berdiri sambil meregangkan sekujur tubuhnya.
“Ugh… okelah, aku udahan dulu soalnya ada urusan. Nanti sore aku main lagi. Titip telurnya!” (Novan)
“Oke sans.” (Fadli)
Novan sudah keluar dari permainan. Menyisakanku seorang diri di hutan yang lebat ini. Yah, jujur saja ini tidak terlalu buruk menikmati angin yang lembut. Serasa semua nostalgia saat aku masih kecil kembali lagi.
“Hmm… mancing kayaknya enak nih. Sekalian untuk bahan makan siang.” (Fadli)
Bangkit dari tempatku berada dan langsung mengambil alat pancing, tempat duduk, dan ember di dalam inventarisku, lalu pergi ke arah sungai untuk mencari tempat yang cocok untuk memancing.
***
Cukup lama aku memancing sampai tidak terasa matahari berada tepat di atas kepala. Karena populasi ikan di sini yang cukup banyak, mudah bagiku untuk mendapat banyak ikan.
“Hmm… kayaknya sudah cukup, yah.” (Fadli)
Aku membereskan peralatan pancingku dan ember yang hampir penuh berisi ikan itu ke dalam invetaris dan pergi meninggalkan tempat itu, mengarah tepat ke tenda.
Sesampainya di sana aku melihat Dimas. Karena dia baru saja keluar dari tenda, kurasa dia baru memasuki permainan.
“Oh, Fad, dari mana? Sudah dari tadi mainnya?” (Dimas)
“Sudah dari pagi, kok. Barusan selesai mancing. Mayan… dapat banyak ikan untuk makan siang.” (Fadli)
Aku mengeluarkan ember berisi ikan tersebut dari dalam inventaris dan memamerkannya.
“Wih mantap. Oya Novan mana? Katanya mau main duluan tadi.” (Dimas)
“Novan? Sudah keluar dari tadi. Katanya sih ada urusan. Cuman aku gak nanya. Sore katanya mau main lagi.” (Fadli)
Aku membawa ember tersebut ke tempat biasa di mana Dimas membersihkannya.
“Bersihkan ikannya, dong. Aku mau coba cari sayur-sayuran dulu biar lengkap.” (Dimas)
“Okeh.” (Fadli)
Setelah mengacungkan jempol, Dimas mengeluarkan sebuah pisau dari inventarisnya dan segera membersihkan ikan yang kudapatkan.
Jujur saja aku terkejut karena cukup banyak anggota klan ini yang bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi anehnya di markas utama hanya seorang pemain bernama Luna yang mengurus semuanya.
Dengan begitu, aku pergi ke arah timur. Berbekalkan sebuah keranjang, aku mencari sayuran yang cocok ketika dimakan dengan ikan. Sesekali, aku mengecek jebakan yang kami buat di sekitar sini.
Dengan meniru metode dari Watuk, kami menciptakan jebakan yang dapat menghasilkan suara ketika ada yang mengenainya. Tentunya, bukan jebakan namanya jika tidak tersembunyi. Selain itu, jika terlalu terbuka hewan-hewan akan mudah untuk tertarik dan mengenainya.
Setelah merasa mendapatkan sayuran yang cukup, aku segera kembali ke tenda. Sesampainya di sana aku melihat Novan dan Dimas yang saling berhadapan. Dengan wajah Novan yang tegang, dan Dimas yang mengerutkan kening, apa mereka sedang membicarakan hal yang serius?
“Ei… ngapain tuh… jadi homo kalian yah! Hehe…” (Fadli)
Mereka melihat ke arahku, tapi tidak merespon candaaanku. Saat itu juga aku sadar jika mereka memang sedang membicarakan hal yang sangat serius.
“Eh, ada apa?” (Fadli)
“Itu Fad, si Reiga jadi BP!” (Novan)
Jawab Novan dengan nada tinggi dan wajah tegangnya.
BP? BP…? Aku seperti pernah mendengar atau mungkin membacanya? Entahlah, jadi aku menanyakan hal itu pada mereka.
“BP itu apa?” (Fadli)
“Blacklist Player. Pemain yang membunuh pemain lain di Wilayah Aman.” (Dimas)
Seketika apa yang dikatakan Dimas serasa mengembalikan ingatanku tentang istilah itu, dan aku mengingatnya.
“Hah?! Lah kok bisa?! Tau dari mana itu?” (Fadli)
“Ada di bulletin, loh. Pas tau, aku langsung masuk lagi ke sini. Kalian gak periksa pesan masuk? Harusnya sistem ngirim juga.” (Novan)
Mendengar apa yang dikatakan Novan, kami segera membuka kotak surat dan benar saja. Ada sebuah pesan yang belum terbaca. Isi pesan tersebut mengenai pengumuman bahwa ada pemain yang menjadi BP.
__ADS_1
Aku membacanya beberapa kali untuk memastikan hal tersebut. tapi berapa kali pun aku membacanya, nama dan foto avatar yang ada jelas adalah kepala suku kami.
“Astaga, kok bisa sih dia jadi BP. Aku mau ngirim pemberitahuannya dulu ke grup chat. Van, tolong bikinkan api unggun sama nih sayurannya.” (Fadli)
“Oke!” (Novan)
Setelah memberikan keranjang dengan isi sayuran itu, aku mengirimkan pemberitahuan yang kami dapat di dalam permainan ke grup chat WhatsApp, karena kemungkinan ada anggota yang belum mengetahuinya.
Intinya, setelah itu kami makan siang seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi di saat yang sama ada anggota yang menandaiku di grup chat dan memberikan informasi. Aku tidak sempat melihat nama pengirimnya, tapi informasinya kutangkap jelas.
Setelah makan siang yang hening, kami berkumpul di depan tenda sambil meminum teh hangat.
Sepertinya Dimas sedang menyusun kata, kerena dari tadi dia bergumam tidak jelas sambil menatap teh di dalam gelas yang dipegangnya itu.
“Hmm… gimana, Dim?” (Fadli)
Bukan hanya aku yang tidak sabar. Novan juga bertanya hal yang sama sambil memimun tehnya dengan perlahan.
“Jadi gini… aku dapat dua kabar buruk dari Laz.” (Dimas)
“Lah, dua?! Apa aja?!”, tanyaku.
“Sabar…” (Dimas)
Dia menghela nafas panjang, kemudian kembali meminum teh sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
“Pertama, markas yang Reiga temuin di gunung es pas bawa telur, itu ternyata punya klan Celestial. Ingat namanya? Itu klan yang sama pas kita menjarah bekas markas mereka di Sektor 16.” (Dimas)
“Kalau gak salah, si Reiga ngerusuh di sana sama Fajar, Syah, terus Zia, kan?”, tanyaku.
“Iya, meski mereka berhasil lolos, avatarnya Reiga itu ketahuan, makanya diincar. Alasan dia jadi BP itu karena tadi pagi dia dikejar anggota-anggota Celestial. Sialnya lagi, dia ngebunuh mereka pas masih di dalam Wilayah Aman.” (Dimas)
Mendengar penjelasannya, aku dan Novan hanya dapat tertegun mendengar itu.
Lagipula, jika mereka memang mengincar Reiga, maka masalahnya sudah sangat runyam. Bahkan Reiga sampai membunuh mereka di Wilayah Aman, berarti situasinya sudah di luar kendali dan mengharuskan dia membunuh mereka.
“Nah, tadi itu masalah pertamanya. Masalah keduanya itu…” (Dimas)
Aku dan Novan mendengarkan dia, menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
“Masalah keduanya itu… aku juga diincar.” (Dimas)
“…” (Novan)
“…” (Fadli)
Aku dan Novan tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun setelah mendengarnya.
“Masalah keduanya itu… aku juga diincar.” (Dimas)
““SUDAH DENGAR, JADI GAK USAH DIULANG!!!”” (Novan & Fadli)
Itu sangat mengejutkan. Karena sejak awal Dimas itu anggota garis belakang, jadi harusnya dia berada di garis aman. Sekalipun dia masuk ke garis depan, kurasa tidak akan ada orang yang akan membicarakannya karena penampilannya sendiri tidak memungkinkan untuk menarik perhatian.
“Gimana caranya kamu bisa diincar? Kan gak ikut Reiga sama yang lain pas ngerusuh di sana. Malahan itu kejadiannya pas kita sudah sampai di sini.”, tanya Novan.
“Nah, Novan benar tuh. Masa iya mereka ngincar pemain yang gak ikut pas ngerusuh di tempat mereka. Kan aneh.”, kataku.
“Bukan, bukan disitu. Ingat pas kita menjarah bekas markas mereka? Nah di sana ternyata ada CCTV, terus avatarku kerekam. Makanya mereka ngincar aku juga.” (Dimas)
.
.
.
Untuk beberapa saat kami semua terdiam, tapi keheningan itu pecah karena aku dan Novan yang tertawa sangat keras sampai perut kami sakit.
“Kok malah ketawa woi!” (Dimas)
Sulit untuk menghentikan tawa kami karena hal itu sangat lucu.
“Yah, habisnya… bisa-bisanya mukamu kerekam CCTV coba! Ahahaha!!” (Fadli)
“Ahah… sebagai sniper kamu gagal, Dim! Hahahaha!!” (Novan)
Aku dan Novan sungguh tidak dapat menghentikannya. Agh… perutku sampai sakit hanya karena tertawa. Mungkin saja aku bisa membuat perutku jadi roti sobek jika tertawa terus.
“Ya bukan aku yang salah woy! Kan aku maju sama kalian, loh, jadi posisiku bukan sniper saat itu. Lagian si Lazy gak becus. Bisa-bisanya dia ngebiarkan CCTV-nya tetap nyala.” (Dimas)
Untuk seseorang yang selalu berhati-hati dan bersembunyi dari pandangan musuh, hal ini cukup lucu bagi kami.
“Haduuh… perutku sakit. Ngomong-ngomong, yang kelihatan CCTV cuman kamu?” (Novan)
Mendengar pertanyaan Novan, aku juga berpikir jika itu akan menjadi masalah jika kami semua terlihat.
“Cuman aku, kok.”, jawab Dimas.
“Aahh… aman kalau gitu.” (Novan)
“Iyap, bakal gawat kalau kita semua kelihatan.” (Fadli)
Aku membenarkan Novan. Jujur saja aku tidak mau berurusan dengan klan besar karena sangat merepotkan.
“Aman gimana coba! Kita bertiga ngumpul di satu tempat loh. Lagian kalau aku diincar, otomatis kalian dong yang ada di depan nantinya.” (Dimas)
Apa yang dikatakannya memang benar. Jika Dimas diincar, jelas kami juga akan terlibat. Mengingat Reiga sendiri saja sampai menjadi BP, besar kemungkinan kami juga akan diincar.
“Kalau gitu kita harus siap-siap nih.” (Novan)
“Bener kata Novan. Minimal kita siapkan jebakan lain di sekitar sini.” (Fadli)
“Oke, aku bakal kasih tau yang lain lokasi kita.” (Dimas)
Dengan begitu kami membagi tugas. Aku dan Novan mengubah jebakan yang sudah ada, lalu mempersiapkan jebakan lain, sementara Dimas memberitahu informasi tentang lokasi kami pada anggota lainnya.
***
Malam pun datang. Setelah makan malam kami bersantai di bawah langit malam dengan ditemani kopi, yah meski Dimas berbeda sendiri karena meminum teh dan membicarakan kemungkinan yang bisa terjadi jika kami juga ikut diincar.
“Seriusan dah, ini telur lama banget yang mau menetas.” (Novan)
Keluh Novan sambil menyentuh permukaan cangkang telur.
Menurut prediksiku, seharusnya telur ini menetas antara sore sampai malam ini. Tapi bahkan sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan menetas. Kuharap bayi naga yang ada di dalamnya tidak merasa betah di dalam jadi dia tidak memilih untuk keluar.
“Apa jangan-jangan kita salah yah? tapi ini sudah seminggu loh. Kalau sampai salah sih kita benar-benar cuma buang waktu.” (Dimas)
“ Nah itu dia. Oi, Fad, gimana nih?” (Novan)
“Aku beneran gak tahu loh. Harusnya malam ini paling telatnya buat netas.” (Fadli)
Meskipun kami sudah menyiapkan beberapa jebakan di sekitar sini untuk mengantisipasi jika ada yang menyerang, tapi jika hanya kami bertiga dengan telur yang belum menetas, itu akan menjadi sangat sulit. Mengingat kami hanya anggota garis belakang.
Dimas juga sudah meminta bantuan anggota yang lain, tapi sepertinya mereka sedang sibuk dengan urusan di dunia nyata jadi tidak dapat memberikan bantuan. Ada yang tidak terlalu sibuk tapi lebih memilih untuk menjaga markas utama.
Dengan semua persiapan yang sudah kami lakukan tadi, aku jadi sedikit pegal dan akhirnya meregangkan punggung sambil menguap.
“Hahh… jadi ngantuk-”
*Kriiiiiiiiiing----
Suara berisik tiba-tiba muncul dari arah timur dan terdengar seperti tumpukan kaleng kosong yang saling dibenturkan. Tidak salah lagi, itu adalah salah satu jebakan suara yang kami buat.
“Tch! Mereka beneran datang dong. Dari arah timur yah.” (Dimas)
“Matikan apinya, buang tenda sama yang lainnya, terus kita cari tempat untuk sembunyi.” (Fadli)
Setelah memberikan instruksi sesuai rencana pada Dimas, aku mendekati Novan dan memintanya untuk mengamankan telur.
Setelah memadamkan api, Dimas segera merobek tenda dan membuangnya ke semak-semak terdekat yang lebat. Karena dia tidak memiliki waktu untuk merapihkan dan memasukkannya ke dalam inventaris, maka satu-satunya cara adalah dengan membuangnya.
Aku dan Novan segera bersembunyi di semak-semak yang berbeda, sedangkan Dimas segera memanjat pohon dan mempersiapkan senjatanya yang bertipe senapan dan memasang peredam suara.
Setelah memasang earpiece masing-masing dengan channel yang sudah ada, aku mengecek apakah berfungsi atau tidak.
“Cek cek, kalian dengar?” (Fadli)
““Dengar.”” (Dimas & Novan)
“Sip! Markas ada orang? Oi, Laz, aktif?” (Fadli)
“Iyap, dengar jelas. Mereka sudah datang? Berapa orang?” (Lazy)
Kami sudah meminta Lazy sebelumnya untuk menyiapkan jalur komunikasi agar memudahkan kami untuk megubungi satu sama lain. Tentunya dia juga sudah bersiaga dari tadi.
“Belum tau jumlah pastinya, tapi mereka dari arah timur. Dimas juga sudah menyiapkan senjatanya.” (Fadli)
Aku dan Novan bergerak perlahan untuk mengeluarkan alat nightvision kami dan mengenakannya. Begitu juga dengan Dimas.
Mereka bergerak perlahan dan menyebar. Meskipun sudah mengaktifkan jebakan suara yang sudah kami buat, mereka tetap memilih untuk tidak mundur, kah…
Novan mengeluarkan sebuah teropong kemudian mencoba untuk melihat ke arah mereka. Bersamaan dengan Novan, Dimas juga mulai memikul senjatanya dan melihat dari balik alat bidik.
“Kayaknya ada 10 orang deh. Empat di depan bawa senjata semacam SMG, terus tiga di baris kedua bawa AR deh. Baris ketiga ada dua orang… senjata apa sih itu? Aku gak tau loh. Aku bukan Reiga yang bisa tau sekali lihat.” (Novan)
“Empat di depan bawa UMP40, tiga di baris kedua bawa Gr G36, dua di belakangnya lagi bawa senjata kembarannya waifu si Reiga, R5 RGP yang punya sistem… apalah itu intinya bagus. Nah yang terakhir bawa HK416.” (Dimas)
Dengan penjelasan Dimas yang detail, aku dan Lazy dapat memahaminya. Dengan begitu Novan segera mengeluarkan senjata Vector miliknya. Berhubung aku juga sudah menyiapkan beberpa jebakan lainnya, kuharap ada yang mengenai mereka.
“Kita tunggu sampai dekat dulu, baru kita serang. Kalau cuman sepuluh, harusnya kita diuntungkan di sini.” (Fadli)
“Oi, Fad, senjataku ini untuk jarak pendek loh. Jadi cuman bisa bantu untuk pengalihan.” (Novan)
“Okelah.” (Fadli)
Kami bertiga hanyalah anggota garis belakang, meskipun aku masih dalam proses berlatih untuk pindah ke garis depan, hasilnya masih jauh dari memuaskan, jadi itu sebabnya kami harus membutuhkan usaha lebih di sini. Setidaknya di medan ini kami lebih unggul karena mengetahuinya dan sudah tinggal di sini sampai satu minggu. Jika masih tidak berhasil, kami hanya perlu mundur dan melarikan diri.
“Van, kamu ke tempat Dimas deh, titipin telurnya. Pelan-pelan, jangan sampai ketahuan.” (Fadli)
“Oke.” (Novan)
__ADS_1
“Dim, telurnya kami titipkan yah. kalau situasinya jadi buruk, langsung bawa telurnya dari sini dan jangan dimasukkan ke dalam inventaris supaya waktu netasnya gak direset.” (Fadli)
“Terus kalian gimana? Mau jadi tentara Jepang, kah?” (Dimas)
Tentara Jepang? Ah mungkinkah yang dimaksudnya itu adalah Kamikaze?
“Yah… gak gitu juga sih… tapi kurang lebih iya. Kamu bisa kabur, kan? Jelas bisa lah harusnya ya kan…” (Fadli)
“Gampang masalah itu mah. Kalian ada barang yang mau dititipkan?” (Dimas)
Yah, sebenarnya ada yang ingin aku titipkan untuk dibawa kabur olehnya. Tapi kurasa waktu yang kami miliki tidak banyak, jadi aku mengurungkan niatku.
“Gak ada.” (Fadli)
“Aku juga.” (Novan)
“Hm… yasudah, oke.” (Dimas)
Setelah menerima telur yang diberikan Novan, dia langsung mengambil sesuatu dari dalam inventarisnya. Itu terlihat seperti kain- bukan, itu jubah. Sesaat sesudah mengenakannya, seluruh tubuhnya yang tertutupi menjadi tidak terlihat dan hanya menyisakan kepalanya. Jujur saja itu cukup menggelikan untuk dilihat.
Karena posisi mereka datang dari timur, jelas mereka berada di seberang sungai kecil tempatku biasa untuk memancing. Mereka kembali berkumpul saat menyadari adanya sungai di hadapan mereka dan terlihat sedang berdiskusi akan suatu hal.
“Mereka lagi memastikan sesuatu atau memang ragu untuk menyebrangi sungainya?” (Fadli)
“Yah berdoa aja semoga mereka ceroboh.” (Novan)
Sungai yang memisahkan kami hanyalah sungai dangkal berbatu yang biasanya ada di hutan, meskipun di beberapa tempat terdapat rumput, tapi tempat itu terlalu luas untuk disebrangi, karena itu kurasa mereka akan menyebrang lewat tempat berbatu yang lebih sempit sungai nya.
“Mereka bergerak! Tiga orang yang di baris kedua tadi mencoba untuk menyebrang duluan.” (Dimas)
“Roger, siap di posisi, tahan tembakan sampai sebagian dari mereka sampai di seberang.” (Fadli)
““Roger!”” (Dimas & Novan)
Setelah mencapai seberang, tiga pemain itu mengeluarkan semacam kotak persegi panjang dari dalam inventaris mereka.
“Oi oi oi oi itu bukannya perisai?!” (Dimas)
“Hmm… kayaknya iya. Mereka punya persiapan matang rupanya.” (Fadli)
Setelah tiga orang tadi mengeluarkan perisa, empat orang lagi mulai menyeberang diikuti dengan tiga sisanya.
“Lepaskan pengaman! Dim, bisa incar pemimpinya gak?” (Fadli)
“Pemimpinnya? Yang mana?” (Dimas)
“Aku gak tahu sih. Mungkin yang bawa HK416? Kan biasanya pemimpin itu bawa senjata yang beda terus paling belakang. Biasanya loh…” (Fadli)
“Berarti si Reiga gak biasa dong? Kan dia yang di depan terus kalau main sama kalian.” (Lazy)
“Ah!” (Fadli)
Benar saja, tepat setelah membahas itu, mereka semua berhasil menyebrang dan membentuk formasi yang mengelilingi pemain dengan HK416 itu.
Kami dapat mendengar dengan jelas suara Dimas yang sedang menghirup udara dari mulutnya.
Dengan posisi musuh seperti itu, kurasa akan sulit untuk menembak-
*Brukk—
Suara seseorang jatuh terdengar jelas bahkan sampai di posisi kami dan dapat melihat pemain tersebut menghilang.
“Dapat satu.” (Dimas)
“Woah mantap!” (Fadli)
“Ah, tembakan bagus.” (Novan)
Dia menembak pemain yang berada tepat di tengah itu. Mereka segera menunduk dan menjadi semakin waspada. Dilihat dari sikap mereka, jelas mereka anggota yang memiliki banyak pengalaman.
Salah satu dari mereka yang menggunakan R5 RGP menunjuk ke suatu arah. Dan coba tebak, arah itu adalah arah pohon tempat Dimas.
“Woah… dia bisa nebak arah peluru datang cuma dari arah jatuh rekannya tadi?” (Fadli)
Aku tidak akan terkejut lagi jika mereka memang anggota elite.
“Dim, kalau ada celah, tembak yang pakai perisai! Nov, begitu masuk jangkauan, tembak!” (Fadli)
““Oke! / Roger!”” (Dimas & Novan)
Aku mengeluarkan Ak-47 jadi dalam inventarisku dan mulai membidik saat mereka masuk jangkauan kami agar tidak bisa menghindar. Dengan banyak pepohonan di sini, kami memiliki banyak tempat persembunyian, namun begitu juga dengan mereka.
“90 meter … 80 meter … 70 meter, tembak!”
Dalam sekejap suara rentetan peluru dan kilatan ketika peluru dimuntahkan terdengar berbenturan dengan perisai milih tiga orang yang ada di depan.
Dengan sigap, mereka berdiam dan saling merapatkan diri dengan tujuh orang di belakangnya mengintip dan membalas kami dengan hujan peluru.
“Cok!” (Fadli)
Kaget dengan hal itu aku segera berlari dan meloncat ke arah pohon terdekat dan berlindung. Novan yang merasakan panik juga melakukan hal tersebut.
“Aku gak nyangka mereka bakal nembak barengan loh! Itu peluru banyak bat!” (Fadli)
“As\*!” (Novan)
Dengan peredam suara yang sudah dipasang, Dimas melumpuhkan salah satu pengguna perisai yang mengganggu itu.
“Satu perisai mati. Peluruku bisa nembus perisainya.” (Dimas)
Mendengar itu aku langsung mengintip dan menarik pelatuk senjataku terus menerus sambil mengarahkannya pada mereka. Mungkin aku memang asal menembak, tapi tidak kusangka aku mengenai seseorang di belakang perisai itu, meski hanya menggores kakinya saja.
Namun dengan respon cepat, Dimas dapat menumbangkan pengguna perisai kedua saat dia lengah memerhatikan kakinya yang terluka.
“Dapat lagi satu perisai.” (Dimas)
Aku kembali bersembunyi dan mengganti magazen. Sekarang Novan yang mengintip dan menhujani mereka dengan peluru, tapi dapat dengan cepat habis.
“Fad peluruku habis! Aku cuma bawa satu magazen ternyata!” (Novan)
“Lah, woe! Lagian kenapa cuma bawa satu magazen coba! Aku gak punya peluru untuk SMG loh!” (Fadli)
“Yasudah, semangat!” (Novan)
“Wah parah!” (Fadli)
Selagi aku dan Novan berbicara, Dimas sudah menghabisi pengguna perisai terakhir tanpa kami sadari.
“Semua perisai sudah mati.” (Dimas)
Seketika pemain yang tersisa berpencar mencari pohon untuk dijadikan tempat berlindung.
“Bagus, mereka sekarang terdesak--” (Fadli)
“Woahh!!!” (Dimas)
Mendengar Dimas yang berteriak, aku dan Novan langsung mengkhawatirkannya. Lebih tepatnya yang kami khawatirkan adalah telurnya.
“Kenapa, Dim? Dim?!” (Fadli)
“Kena tembak, kah, Dim?!” (Novan)
“Bukan, tapi telurnya mau menetas! Barusan aku hampir jatuh dari pohon.” (Dimas)
Sadar akan keadaan yang semakin gawat, aku mencoba untuk berpikir dan satu-satunya yang terlintas di kepalaku adalah membuat Dimas dapat melarikan diri seorang diri. Karena Novan sudah kehabisan peluru, Dimas juga tidak mungkin dapat menembak dengan keadaannya yang sekarang, aku juga tidak mungkin kuat melawan tujuh orang sekaligus.
“Nov…” (Fadli)
“Apa?” (Novan)
“…” (Fadli)
Aku menatap lurus ke matanya. Seakan pahan dengan maksudku, dia mengangguk dan mengiyakan sesuatu.
“Aku siap, Fad.” (Novan)
Aku mengangguk dan berdiri membelakangi pohon tempatku bersembunyi. Melihatku, Novan juga melakukan hal yang sama dan dia membuang senjata kosong yang dipegangnya.
“Dim… lari!” (Fadli)
“Hah?” (Dimas)
Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, aku dan Novan mulai berlari meninggalkan tempat tersebut dan masuk semakin dalam ke dalam hutan sambil menembakkan senjata yang kupegang ke udara dan membuat suara yang berisik.
“DI SINI!!!” (Fadli)
Dengan suara rentetan senjata dan teriakanku yang sangat berisik, kami mendapatkan perhatian mereka bertujuh dan mulai mengejar kami ke dalam hutan, meninggalkan tempat kami sebelumnya dan Dimas.
Kami terus berlari sambil menghindari semak-semak dan meloncati beberapa pohon tumbang. Namun mereka menembaki kami sambil berlari yang akhirnya mengenai Novan dan membuatnya terjatuh.
“LARI DIM!!!” (Novan)
“Maaf! Jemput aku di kota S51 langsung habis ini!” (Dimas)
Dengan Novan yang berteriak ke arahku, mereka pikir yang dimaksud Novan adalah diriku sebelum akhirnya mereka menembak Novan di tempat sampai mati dan aku terus berlari dan tetap menembaki peluru yang masih tersisa.
Saat peluru senjata yang kupegang habis, aku membuangnya dan berlari semakin cepat. Tapi salah satu peluru yang mereka hujankan ada yang mengenai kakiku dan membuatku terbentur dengan keras di atas tanah.
“Agh-!” (Fadli)
Aku tidak dapat bangun lagi setelah melihat kakiku yang ditembak. Dengan cepat mereka mengelilingiku dan mengarahkan masing-masing moncong senjatanya pada wajahku selagi salah satu dari mereka memfoto wajahku dan memberikan laporan pada seseorang di earpiece mereka.
“Apa dia orangnya, Vice Leader? … Bukan? Tapi kami hanya menemukan dua orang. … Lalu apa yang harus kami lakukan ke orang ini? … Siap!” (???)
Aku tidak tahu apa yang sedang dibicarakannya. Tapi begitu percakapan orang itu selesai, dia mengarahkan senjata miliknya juga pada wajahku dan hal terakhir yang kulihat hanyalah kilatan cahaya sebelum akhirnya melihat ruangan yang sangat kukenal.
“Ini… kamar di markas? Ah!”
Aku segera berlari keluar kamar dan di sana sudah ada Novan, Syah, Fajar, dan anggota dengan seluruh tubuhnya yang tertutupi oleh armor samurai. Lazy juga keluar dari ruangan komunikasi dan langsung melemparkan sebuah earpiece padaku yang tentu saja kutangkap.
“Ayo kita jemput Dimas!” (Lazy)
__ADS_1
Kami berenam bergegas menuju tengah kota dan menemui Dimas yang berhasil pergi dari hutan itu, dia sudah tidak menggunakan jubah miliknya, dan sambil memeluk telur yang sudah menetas sekitar seperempatnya.
Aku yakin kepala suku pasti akan senang mendengar berita ini. meskipun aku dan Novan mengorbankan beberapa barang kami, tapi itu tidaklah seberapa. Kurasa kami bisa mengatakan jika misi kali ini sukses.