
Satu jam telah berlalu sejak terakhir kami berkumpul untuk membahas rencana ke depannya untuk menyelesaikan quest yang didapatkan Dimas. Sekarang semuanya telah berkumpul kecuali Syah dan Novan.
Sembari menunggu mereka kembali, aku menyuruh yang lainnya untuk pergi ke ruang penyimpanan dan mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa. Karena yang akan kami datangi adalah sarang semut, jelas senjata api kurang efektif di tempat tertutup seperti itu.
Maaf saja untuk Dimas yang lebih sering menggunakan senjata besar seperti tipe RF. Yah, meski senjata api tipe HG dan AR masih dapat ditolerir, tapi aku lebih menyarankan tipe senjata tajam.
Aku, Haqqi, dan Bang Sema sedang duduk di sofa ruang utama sembari menunggu mereka bersiap-siap. Setelah kurang lebih lima menit menunggu, pintu depan terbuka, lalu Syah dengan Novan memasuki markas.
“Oh, nih mereka! Sudah dapat barang\-barangya?”
Aku berdiri lalu menghampiri mereka. Novan terlihat membuka inventarisnya dan mengeluarkan barang yang kuminta lalu memberikannya padaku.
“Dua puluh, ‘kan?”
“Yup! Nih, punya kalian.”
Aku memberikan masing-masing satu ozyline pada mereka.
“Dah, sana ke ruang penyimpanan! Siap\-siap!”
Mereka pergi tanpa mengatakan apapun. Setelah itu aku memberikan ozyline kepada Haqqi dan Bang Sema, lalu pergi menuju ke ruang penyimpnan untuk memberikan ozyline pada yang lainnya, sekaligus mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa.
Sesampainya di sana aku memberikan ozyline pada mereka semua yang belum mendapatkannya.
“Ada yang belum dapat? … Okey.”
Karena mereka sudah tidak ada yang meminta, jadi kuanggap mereka telah mendapatkan masing-masing. Aku meletakkan sisa ozyline ke dalam kotak penyimpananku setelah mengambil satu dan mengambil beberapa barang di dalamnya.
Aku mengambil dua buah senjata tipe HG, Ar-15, lima buah granat, sebilah pedang dan tombak. Sisanya aku membawa beberapa persedian peluru. Dan saat itulah entah bagaimana aku memikirkan sebuah senjata yang tidak kupunya.
“Oi, ada punya flamethrower gak?”
Mereka mengatakan jika tidak ada dari mereka yang memiki senjata itu. Karena hal itu, aku meminta Lazy untuk memeriksa suatu hal.
“Hm… Laz, di data\-data Celestial ada cetak biru flamethrower gak?”
“Gak tau. Tapi kayaknyagak terlalu berguna. Lagian kita gak punya bahan untuk bikin amunisinya.”
“Ah, benar juga. Yasudah kita coba seadanya dulu. Jangan lupa bawa senjata tajam! Oya Laz, bawa kotak penyimpnan yang kosong sebanyak jumlah orang yang ikut!”
Dia memberikan tanda “Oke” dengan tangannya. Aku meninggalkan ruangan dan kembali ke ruang utama. Di sana aku duduk di sifa yang kosong dan mengeluarkan senjata-senjata api yang tadinya kuambil dari kotak penyimpanan milikku.
Aku memastikan semuanya terisi dengan peluru, lalu mengaktifkan pengaman. Ini masihlah senjata-senjata yang kupinjam dari Ilham. Semoga aku tidak mati dan kehilangannya karena aku berniat untuk mengembalikan mereka.
Setelah memasukkan kembali senjata-senjata apiku ke dalam inventaris, selanjutnya aku mengeluarkan sebilah pedang yang juga kuambil dari kotak penyimpanan. Aku belum pernah menggunakan pedang ini sebelumnya, jadi masih dalam keadaan yang bagus meski aku tidak pernah merawatnya.
Di lain sisi, aku melihat Haqqi dan Bang Sema juga mencoba melihat-lihat barang yang mereka pegang. Haqqi memegang katana yang biasa dia bawa, sedangkan Bang Sema terlihat hanya membawa sepasang sarung tangan yang terlihat seperti pesanan khusus.
Sepasang sarung tangan itu memiliki empat duri transparan di masing-masing sela atas jarinya, lal terdapat sesuatu yang terlihat seperti pelat transparan di punggungnya.
“Bang, itu bahannya besi?”
__ADS_1
“Hm? Oh, ini?”
Dia menunjukkan sarung tangannya padaku. Aku hanya mengangguk saat dia memperlihatkannya padaku.
“Ini bukan besi. Tapi polikarbonat super. Lumayan susah buat dapatin bahannya.”
“Ah, emh… aku paham!”
Bahan yang pada kepadatan khusus bahkan dapat menghentikan peluru 5,56mm dan memantulkan peluru 9mm seperti peluru karet. Mudah dibuat, tapi sulit untuk didapatkan.
Masalahnya, di Cluster Online hanya ada satu cara untuk mendapatkan barang itu. yaitu dari bos sektor satu. Selain itu, presentase untuk mendapatkannya hanya 1%. Menjadikannya salah satu barang paling mahal di sini.
Jika dilihat lagi, bahan baku kain yang digunakan untuk sarung tangan itu terlihat seperti Aramid. Material yang di dunia nyata ditemukan oleh Stephanie Kwolek dan merupakan akronim dari kata aromatic polymide. Yah, perlengkapan yang sesuai untuknya.
“Ngomong\-ngomong, long bow punyamu kenapa, Haq?”
Aku menanyakan hal itu karena dia tidak terlihat membawanya. Yah, mungkin saja dia memasukkannya ke dalam inventaris miliknya. Hanya saja, aku ingin memastikannya.
“Gak kubawa. Soalnya pas raid bareng Owner katananya gak sempat dipakai.”
“Cuma itu alasannya?”
Dia mengangguk. Aku terkejut dia hanya memberikan alasan semacam itu. meski begitu aku paham rasanya tidak sempat menggunakan senjata utama. Karena saat raid itu aku juga belum sempat menggunakan Ar-15 yang sangat kusukai.
Aku memeriksa status pedang yang kupegang. Karena aku belum pernah menggunakannya, jadi wajar saja aku tidak mengetahuinya. Dan ternyata status yang ada dalam pedang ini menambah 40 ASPD.
ASPD merupakan singkatan dari attack speed yang mempengaruhi berat senjata, ketajaman saat diayunkan, dan mobilitas. Meski statusnya sendiri memiliki arti kecepatan serang, kecepatan yang dimaksud bergantung pada masing-masing pemain. Dengan kata lain, kemampuan sesungguhnya seorang pemain.
“Sudah? Gak ada yang ketinggalan, ‘kan?”
Aku memberikan waktu untuk mereka memastikan inventaris mereka untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah itu kami pergi dari markas dan menuju kota. Sesampainya di sana kami berpindah ke sektor 73 dengan menggunakan transporter.
Segera setelah sampai di sektor 73, sinar matahari benar-benar terlihat sangat terang dan jika bukan karena ozyline, tempat ini akan terasa sangat panas. Meski ini pertama kalinya aku pergi ke sektor 73, sudah terasa sangat jelas jika sektor yang satu ini sangatlah ekstrim.
“Dim, ke mana sekarang? Aku lupa.”
“Tunggu…”
Dia mengeluarkan kertas questnya. Yah, bukan aku yang memegang kertas questnya, lagipula aku memang orang yang pelupa.
“…ke arah tenggara.”
“Oke!”
Setelahnya, kamipun menuju ke gerbang tenggara kota. Selama perjalanan ke sana, yang kami lihat hanyalah NPC. Tidak ada satupun pemain di sini. Yah, karena cuacanya seperti ini, tidak mungkin ada pemain yang ingin ke sektor ini.
Desain bangunan sektor ini kebanyakan terbuat dari bebatuan yang disusun seperti kebanyakan rumah-rumah kecil dari timur-tengah. Setidaknya, itulah yang kulihat di permainan lain.
Saat encapai gerbang tenggara kota, di luar hanyalah gurun pasir. Maksudku, benar-benar hanya gurun pasir dan tidak terlihat apapun sejauh mata memandang.
“Hm… ini kalau sampai kesasar, sudah baliknya.”
__ADS_1
Aku mengatakan hal yang mungkin saja akan terjadi pada kami. Tapi kuharap hal itu tidak akan terjadi.
“Dim, aktifkan questnya cuy!”
“Oiya belum yah.”
Dia mengeluarkan kertas quest tersebut dan mengaktifkan questnya. Cara melakukannya hanya dengan merima quest tersebut dengan cara merobek kertasnya secara vertikal. Setelah itu kertasnya akan terlihat seperti terbakar oleh api biru.
Cara menolak questpun hampir sama. Hanya saja, jika ingin menolak quest dari kertas quest adalah merobeknya secara horizontal. Dengan begitu api yang muncul untuk membakar kertas quest adalah merah.
“Syah, sekarang mobilnya!”
Aku menyuruhnya untuk mengeluarkan mobil yang seharusnya sudah dia beli menggunakan kreditku. Dia mengeluarkan dua buah mobil denga jenis yang sama.
“Humvee? Kupikir bakal beli yang sedikit lebih mewah. Yah, selama bisa offroad gak masalah.”
“Bisa kok ini!”
Jujur saja aku lebih mengharapkan mobil yang mewah. Tapi kurasa tidak mungkin mengingat medan yang harus kami lalui. Kurasa aku akan bersabar.
“Dimas sama Fadli bisa nyetir, ‘kan? Kalian yang nyetir! Sisaya masuk ke mobil yang kalian mau.”
“Cuy, aku cuman bisa sepeda motor loh!”
Dia mengangkat tangannya dan mengatakan jika dia tidak bisa. Tapi aku tidak memerdulikan hal itu.
“Ya ya ya. Anggap aja bisa! Malahan, aku tau kamu bisa!”
“Astaga…”
Aku tertawa kecil melihat responnya. Pada akhirnya, mobil yang kunaiki terdapat 5 orang, bersama Dimas sebagai supir, Rei, Syah, Puteri. Sedangkan sisanya di mobil yang lain.
Aku menyuruh Syah untuk duduk di depan bersama Dimas. Sedangkan aku duduk di belakang bersama dua orang gadis cantik dengan senyum lebar terpasang di wajahku. Sebelum kami berangkat aku bertanya pada mereka yang membawa kompas.
“Ada yang bawa kompas?”
Aku bertanya dengan nada yang sedikit ditinggikan.
“Ah, aku bawa!”
Lazy mengatakan jika dia membawa kompas yang kubutuhkan.
“Aku pinjam.”
Setelah mengambil kompas dari inventarisnya, dia melemparkannya padaku. Setelah itu aku segera memberikannya pada Dimas.
“Kita duluan cuy. Biar mereka ngikutin dari belakang. Jangan sampai salah arah yak!”
“Santai…!”
__ADS_1
Setelah Dimas menyalakan mesin, kamipun berangkat lebih jauh ke arah tenggara dengan kompas dan jarak atujuan 10km.