Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 7 : Target dan Informasi


__ADS_3

Sudah sekitar tiga puluh menit setelah keberangkatan kami dari gerbang tenggara S73. Sepanjang perjalanan aku mencoba untuk mencari informasi\-informasi tentang semut raksasa yang dimaksud.


Tapi aku segera menyerah setelah lima menit pencarian informasi semut raksasa ini. Maksudku, quest tersebut tidak memberitahu dengan jelas jenis semut ini. Selain itu di indeks kategori monster pun terdapat banyak sekali monster dengan tipe semut.


Ditambah lagi dengan Syah yang terus-menerus bernyanyi dengan tidak jelas di kursi bagian depan.


“♪You are my friend~ aaa~ ano hi no koto~♪”


Dia menyanyikan salah satu lagu pembuka dari serial anime Naruto tersebut dan kesabaranku mulai menipis. Bukan karena lagunya, tapi suaranya yang tidak cocok untuk bernyanyi.


“Dim, bisa tendang dia keluar mobil gak? Ngeselin dari tadi nyanyi mulu!”


Tanpa memberikan jawaban, Dimas segera menendang-nendang Syah ke sudut pintu dan membuatnya berteriak histeris karena pintu yang tiba-tiba terbuka. Kurasa dia lupa untuk menguncinya.


“AAA!!! IYA IYA! AMPUN!!! AMPUN WOE!!!”


Tepat setelah Dimas menghentikan aksinya, Syah segera menutup pintu mobil yang sedang bergerak dengan wajah menyedihkan.


Sementara itu, kedua gadis yang berada di dekatku sedang membicarakan sesuatu yang tidak seharusnya didengarkan oleh laki-laki normal. Yup, mereka sedang membicarakan sesuatu seperti BL.


Aku merasa tidak nyaman, tapi aku juga tidak dapat melakukan hal apapun. Entah kenapa aku mulai merasa kecewa karena memilih duduk di antara mereka berdua.


“Btw cuy, gak nyari informasi monster semut ini dulu?”



“Hm?”


Dimas memberikan pertanyaan yang sebenarnya sudah kulakukan daritadi, hanya saja tidak membuahkan hasil.


Aku memilih untuk membuka indeks menu dengan kata “semut” sekali lagi. Lalu melemparkan hologram menu yang ada di hadapanku pada Dimas.


“Ini! Sudah kucoba untuk nyari, tapi nihil. Quest\-nya gak ngasih tau spesies semutnya. Sedangkan di indeks banyak banget monster tipe semut.”


Setelah dia menerima hologram menu indeks yang kuberikan, dia melihat-lihatnya. Yah, meskipun yang kuberikan hanyalah daftar nama monster dengan tipe semut.


“Aah… susah juga kalau gak ada info tentang semutnya.”



“Nah, itu dia! Dim, nanti kalau sudah mulai dekat sama sarangnya, kalau bisa jangan terlalu dekat. Sehabis bikin kabin, kita cari informasi lagi.”


Aku lupa jika ini adalah quest bintang 4. Sudah pasti penciptanya akan membuat quest dengan informasi yang sangat sedikit, dan membiarkan para pemain mencari informasi sendiri, huh? Jika quest bintang 4 saja sudah seperti ini, bagaimana dengan quest bintang 5?!


“Oya cuy, gimana kalau pakai alat yang itu?”


Mendengar hal itu dari Dimas, entah kenapa aku hanya dapat memikirkan satu alat yang mungkin saja dia maksud.


“Yang itu…? Ah, maksudmu yang itu?”



“Iya yang itu!”



“Yang bisa buka tutup itu? Yang sekali pakai itu?”



“Iya yang itu!”



“Aahhh… yang itu kah… aku lupa namanya, Dim!”



“Sama! Hahaha!”


Aku lupa dengan nama alat yang dia maksud. Tapi aku mengetahui cara kerja dan pakainya. Alat tersebut jika diberikan contoh dari monster maka akan menampilkan informasi lengkap dari monster tersebut. Meski begitu, alat ini hanya sekali pakai.


Maksud dari sekali pakai ini adalah, setelah menampilkan informasi dari contoh monster, maka dia tidak dapat mengidentifikasi contoh dari monster lain dan hanya terus menampilkan data monster sebelumnya.


“Yang ini?”


Seketika kami melihat ke arah benda yang dipegang oleh Syah setelah dia mengambilnya dari inventaris.


Benda itu terlihat seperti emas putih, dengan garis luar berwarna biru langit, dan bisa dilebarkan sampai 90 derajat seperi alat ukur jangka.


““Nah, yang itu!!!””


Aku dengan Dimas bersamaan menunjuk benda itu sembari berteriak.


“Dapat dari mana, Syah? Pasti nyuri yah!”



“Mana ada! Ini beli!”



“Ohh… kupikir nyuri. Gini dong, berguna sedikit lah!”



“Astaga…”


Aku tertawa kecil setelah sedikit mengejeknya. Meski begitu aku berterima kasih setelah mengambil benda yang ada di tangannya itu. Untuk sementara aku memastikannya, dan itu memang benda yang kami butuhkan.


“Oke, makasih! Untungnya kamu bawa.”


Aku mengembalikan benda itu pada Syah. Kubiarkan dia memegangnya karena sejak awal itu memang miliknya. Setidaknya, dia ambil dari inventarisnya.


Pada saat yang sama, humvee satunya mendekati humvee yang sedang kami kendarai dan Fadli bertanya dari dalam jendela humvee yang sedang dia kendalikan.


“Kok pintunya kebuka tadi? Ada apa?”



“Bukan apa\-apa! Cuma nendang Syah doang kok!”


Dimas menjawabnya dengan suara yang sedikit dinaikkan karena jarak dan kecepatan.

__ADS_1


“Jangan jahat ke Syah kenapa? Langsung dorong keluar aja, jangan ditendang\-tendang!”


Semua orang tertawa mendengar cadaan Fadli. Mungkin hanya Syah yang tidak tertawa. Justru dia hanya membuat wajah masam yang membuat kami semakin terbahak-bahak.


***


Kami berada di jarak yang cukup jauh dari tempat target yang diminta oleh quest, seharusnya. Sudah lebih dari 45 menit sejak kami melakukan perjalanan untuk mencapai sini. Atau mungkin lebih.


Setelah Dimas dan Fadli menghentikan masing-masing humvee, kami semua keluar dari kendaraan dan memperhatikan sekitar. Yah, tidak ada apapun di sini kecuali pasir di mana-mana.



“Di sini?”


Bang Sema segera bertanya setelah keluar dari dalam kendaraan


“Belum. Seharusnya masih di depan sana.”


Aku menunjuk ke arah seharusnya kami masih harus bergerak. Tapi sebelumnya aku sudah meminta Dimas untuk tidak terlalu dekat dengan sarang para semut.


“Dim, jarak kita dari sarang berapa?”


Sesaat setelah aku bertanya tentang jarak kami dari sarang, dia segera membuka menu pilihan quest. Setelah menerima quest, menu itu akan selalu muncul pada pemain yang menerima questnya hingga menyelesaikan atau menyerah pada quest tersebut.


“Kurang 512 meter untuk ke sarang.”


Aku tidak tahu apakah itu cukup jauh atau dekat untuk para semut, tapi setidaknya ini pilihan terbaik yang dapat kubuat.


“512 meter, yah…? Fad, jarak optimal indera semut berapa jauh?”



“Jauh.”



“…”


Jauh, hanya itu yang dia katakan. Aku bingung karena dia tidak mengatakan jarak pastinya. Aku hanya mengangkat kedua bahu dengan wajah kebingungan.


“Jauh.”



“Oke, gak usah bilang sampai dua kali! Kalau gini, sejauh apapun kita tetap bisa diincar, yah… yasudah, Laz, buat kabinnya di sini aja! Yang lain bantu siapin! Dimas, pinjam teropong optikmu dong.”


Tanpa mengatakan apapun, Dimas segera mengeluarkan dan meminjamkannya padaku. Aku mencoba untuk melihat ke arah seharusnya sarang berada di balik teropong optik itu. Namun tidak ada apapun meskipun aku telah mengubah arahnya.


“Ada?”



“Nah, itu dia yang jadi masalah. Gak ada apapun.”


Aku memberikan teropong optiknya kembali dan dia segera mencoba untuk melihatnya juga. Responnya juga tidak berbeda dariku, yaitu kebingungan.


“Fad, coba sini!”



“Hm?”


“Bentuk permukaan sarang semut itu gimana sih?”


Aku menanyakan hal itu pada Fadli karena dia yang lebih paham tentang semut. Karena dia kuliah di jurusan biologi dan dia bilang sendiri jika pernah melakukan penelitian pada koloni semut.


“Sebentar…”


Setelah melakukan hal yang baru saja kami berdua lakukan, yaitu memantau kejauhan menggunakan teropong optik, dia mengembalikannya pada Dimas.


“Masuk akal sih kalau gak keliatan apapun. Soalnya sarang semut itu ke dalam tanah.”



“Bukannya agak mirip kayak gunung gitu?”



“Ah, itu sih waktu mereka menggali sarangnya. Jadi tanah atau pasir yang dari dalam itu dikeluarkan sampai numpuk mirip gunung. Kalau semisalnya sudah gak ada, kemungkinan sarangnya sudah ada dari lama.”



“Aah… paham paham!”


Aku memahami apa yang dijelaskannya. Begitu juga dengan Dimas. Kupikir setiap permukaan sarang semut akan berbentuk seperti gunung tanah atau pasir seperti apa yang kubayangkan. Ternyata bukan, huh.


“Yasudah, yang penting sudah tau aja posisinya di arah mana.”


Aku membalikkan badan dan melihat Lazy telah menyiapkan kabin. Meski masih hanya terlihat hologramnya saja karena bahan-bahan yang dibutuhkan belum dimasukkan. Zia bersama dengan Rei terlihat memasukka bahan-bahan yang diminta oleh cetak biru yang dipegang Lazy.


Setelah dimasukkannya bahan-bahan yang cetak biru itu minta, maka sistem akan membuatnya secara otomatis dalam sekejap mata dan kabin tersebut selesai beserta bagian dalamnya. Kabin tersebut memiliki dua lantai dengan beranda di lantai kedua yang dapat terlihat dari luar.


“Yang lain istirahat aja duluan gak masalah. Fad, Syah, sama Haqqi, ikut aku!”


Aku menyuruh mereka untuk masuk ke dalam mobil dan menyuruh Fadli mengendarai ke arah sarang.


“Ngapain nih kita ke sarangnya duluan, Rei?”



“Untuk cari tau informasi lebih lanjut.”


Aku menjawab Fadli dengan singkat. Setelah itu tidak ada pertanyaan sama sekali. Tidak membutuhkan waktu lama kami mulai melihat beberapa semut raksasa berkeliaran. Ukuran mereka terbilang besar meski aku tidak mengetahui ukuran pastinya.


Tanpa ada aba-aba, Fadli tiba-tiba menghentikan kendaraan secara mendadak. Setelah itu kami memutuskan untuk keluar dari kendaraan secara bersamaan tapi aku meminta Fadli untuk tetap di dalam.


“Fad, tetap di sini! Syah, keluarin barangnya!”



“Oke!”


Beberapa semut melihat ke arah kami dan salah satunya mulai berjalan perlahan mendekati humvee. Setelah cukup dekat, aku menyadari jika semut itu berwarna merah dengan tubuh luarnya tertutupi sesuatu yang terlihat seperti cangkang tipis gelap dan berduri di setiap bagiannya.

__ADS_1


“Semut macam apa ini?!”


Aku mengeluarkan senjata HG dengan jenis FN-57 dan Haqqi segera menarik keluar katananya. Aku memberikan tanda agar tidak ada yang bergerak setelah meminta Syah untuk sedikit mundur dengan sinyal tangan.


Dan entah kenapa semut itu mendekat ke arahku. Sangat dekat hingga antenanya bergerak ke wajahku. Aku sedikir menarik kepalaku untuk menjauhi rahangnya yang sedikit menakutkan itu lalu memberikan sinyal kepada Haqqi untuk menyerangnya.


Hanya dengan satu ayunan, Haqqi memenggal kepalanya. Meski begitu, antenna dan rahangnya masih dapat bergerak, serta tubuhnya masih dapat berdiri dengan keenam kakinya.


“Cepat dibunuh aja! Soalnya semut yang sekarat bisa manggil temannya!”


Mendengar itu dari Fadli, aku tidak dapat mengabaikannya karena hal itu bisa saja menjadi semakin merepotkan.


Aku menembak kepala yang telah terpisah dari tubuhnya itu di antara kedua matanya. Hal yang mengejutkan karena rangka tubuhnya dapat menghentikan peluru dari FN-57 yang kugunakan. Meski begitu rangka tubuhnya tidak dapat menahan tembakan kedua yang kuarahkan ke salah satu matanya. Setelah itu dia tidak terlihat bergerak sama sekali.


Kurasa matanya tidak sekuat kerangka luar tubuhnya yang seperti cangkang. Selain itu melihat posisi Haqqi saat memenggal kepalanya, kurasa sela-sela bagian tubuh yang tidak tertutupi lebih mudah untuk dipotong.


“Syah.”



“Ah, iya!”


Dia paham dengan apa yang kumaksud setelah memanggil namanya. Dengan tanggap dia menggunakan alat yang dia pegang dan mendekatkannya pada kepala semut mati tersebut.


Terlihat seperti kepala tersebut hilang seperti sistem rusak dan alat yang dipegangnya menampilkan hologram data. Tanpa perlu melihatnya terlebih dahulu, aku menyuruh Haqqi dan Syah untuk masuk ke dalam mobil dan kami kembali ke yang lainnya.


“Rei, nih!”


Disaat perjalanan Syah memberikan alatnya padaku. Aku segera membacanya informasi dari semut tersebut. Tulisan yang muncul tentunya dengan bahasa Inggris dan sekaligus menampilkan hologram contoh semutnya.


Semut yang tadi kami bunuh memiliki nama Semut Api dari genus Solenopsis. Panjang semut pekerjanya mencapai 3 meter, sedangkan panjang ratu semut bisa mencapai 6 meter atau lebih, dengan jumlah koloni bisa mencapai 100.000 ekor.


Terlebih, semut api raksasa ini, meski hanya pekerjanya saja masuk ke dalam monster kategori level 3 dari total 5 level kategori. Bahkan beberapa kasus, terdapat semut yang dapat menembakkan asam dari perutnya.


Aku hanya mengedipkan mata beberapa kali dengan wajah masam yang kebingungan.


“Owner, mau liat dong!”


Aku memberikan alat tersebut pada Haqqi dan membiarkannya membaca informasi yang muncul. Sedangkan aku hanya mengusap wajahku dengan penuh perasaan yang aku sendiri tidak tahu cara menjelaskannya.


“Hmph…”


Haqqi sendiri hanya dapat menghela nafas panjang kemudian beberapa kali mengecap lidahnya sebelum akhirnya mengembalikan alat yang dipegangnya pada Syah.


Sesampainya di kabin, aku tidak tahu harus menjelaskan apa kepada mereka. Jadi aku meminta Syah untuk meminjamkan alatnya dan membiarkan mereka membaca informasi yang kami dapatkan selagi aku duduk di sofa yang telah tersedia.


Seketika seluruh anggota tidak dapat berkata apapun setelah mengetahui informasi itu. Aku memang menduga jika quest ini tidak akan mudah. Tapi ini jelas-jelas mustahil sekalipun hadiah yang ditawarkan adalah Artefak.


“Gimana nih, cuy?”


Aku bertanya kearah Dimas.


“Apanya?”


“Quest\-nya. Masih mau lanjut? Soalnya ini questmu, jadi kamu yang putuskan.”



“…”


Apapun jawabannya aku akan mengikutinya. Lagipula ini adalah quest miliknya. Jadi pilihan ada di tangannya. Untuk beberapa saat Dimas terus memikirkannya selagi anggota lain melihat ke arahnya.


“Lanjut aja dulu. Seenggaknya kita coba dulu. Kalau memang gak bisa, yasudah.”



“Lanjut?”


Aku menanyakan hal itu sekali lagi untuk memastikan jawabannya. Setelah dia mengangguk, aku berdiri dari tempat dudukku dan mengeluarkan semua persenjataan yang kupunya dan menyuruh mereka berkumpul.


“Sini semuanya!”


Aku mengeluarkan salah satu peluru dari magazen AR-15, begitu juga dengan FN-57. Kemudian mengambil alat milik Syah yang tadinya untuk melihat informasi semut api tersebut dan meletakkannya di atas meja.


“Peluru 9mm parabellum gak bisa menembus rangka tubuhnya, tapi bisa menembus matanya. Jadi kupikir kalau pakai peluru 5,56mm atau 7,72mm mungkin bisa nembus. Terus, kalau pakai senjata tajam, kusarankan untuk mengincar sela\-sela tubuhnya.”


Aku memperbesar hologram semut yang ada dan mencoba untuk menunjukkan sela-sela yang mudah untuk diincar.


“Leher harus jadi incaran utama kalau dapat kesempatan. Tapi kusarankan untuk mengincar kakinya dulu.”


Kali ini aku memperkecil hologram gambar semutnya dan memperbesar hologram datanya.


“Koloni mereka bisa mencapai seratus ribu. Tapi kita gak perlu ngebunuh mereka semua. kita cuman perlu ngebunuh sang ratu, mengambil bagian tubuhnya, lalu kabur. Yah, aku tau itu gak bakal semudah yang kubilang. Jadi kita harus mengakali masalah itu.”



“Kalau gitu kita cari cara untuk menghentikan perkembangbiakkan mereka. Idealnya, telur semut bakal menetas dalam waktu tujuh sampai empat belas hari. Terus masa hidup semut api yang kutau itu tiga puluh sampai enam puluh hari. Kalau tempat tinggalnya ideal. Sedangkan sekarang habitat mereka di gurun yang panas, yang seharusnya lembab untuk idealnya habitat mereka.”


Mendengar penjelasan Fadli yang membantuku, aku merasa berterima kasih saja akan kurang. Tapi hal itu bisa dilakukan di lain waktu. Setelah itu aku mengambil keputusan setelah mendengar apa yang dijelaskannya.


“Kita akan anggap kalau telur mereka menetas setiap dua minggu, terus masa hidup setiap semut antara sebulan. Kita hancurkan siklus perkembangbiakan mereka untuk memberikan waktu untuk membunuh sebanyak yang kita bisa.”



“Tapi Kak Rei, bukannya si ratu bakal bertelur lagi?”


Mendengar pertanyaan Puteri, aku mengangguk setuju akan hal itu.


“Memang, soalnya tugas ratu itu cuma untuk memperbanyak koloni mereka. Itu sebabnya kita hancurkan ruangan telurnya untuk ngasih kita waktu. Bagaimana caranya? Itu yang harus kita cari!”


Puteri dan yang lainnya mengangguk setuju. Dan pada saat yang sama, Syah mengangkat tangan sekaligus mengeluarkan sebuah barang dari inventaris miliknya.


“Rei, gimana kalau pakai ini?”


Aku tidak tahu harus berkata apa setelah melihat apa yang dia bawa. Tapi kurasa barang itu bisa memecahkan masalah kami untuk menghentikan siklus perkembangbiakkan mereka untuk beberapa hari.


“Syah!”



“Iya?”


__ADS_1


“Bawa berapa banyak?”


Dia tersenyum lebar saat aku menanyakan jumlah barang yang dipegangnya itu.


__ADS_2