Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 11 : Kredit Malam


__ADS_3

Saat waktu menjelang malam pada hari yang sama, aku melakukan Deep Dive setelah mendengarkan ceramahan ibuku sepanjang hari. Akhirnya aku dapat masuk ke dalam Cluster Online.


Setelah keluar dari kamar aku menemukan beberapa anggota yang sedang tertidur di ruang utama. Bang Sema dan Dimas yang sedang tidur di atas dua sofa yang berbeda, sedangkan Fadli, Novan, dan Syah tertidur di lantai dengan balutan selimut.


Kurasa mereka sangat kelelahan setelah semua yang terjadi sampai tidak keluar dari permainan dan memilih untuk tidur di sini.


“Oh, Kak Rei?”


Aku melihat ke arah suara yang terasa seperti memanggilku.


“Luna?”


Dia terlihat sedang membawa nampan dengan teko dan gelas di atasnya.


“Biar aku yang bawa.”



“Ah, makasih, Kak.”


Aku mengambil benda-benda yang dia bawa dan segera meletakkan di atas meja dan merapihkannya. Terdapat lima gelas kaca dan aku dapat mengetahui apa yang dibuatnya tersebut adalah teh hanya dari aromanya.


“Kak Rei, bisa bantu bawa makanan dari dapur?”



“Bisa kok.”


Aku mengikutinya ke arah dapur sambil membawa nampan yang baru saja digunakan untuk membawa teh.


Saat mencapai dapur aku dapat mencium aroma yang sangat nikmat dan segera mendekat ke arah panci yang tertutup di atas kompor elektronik itu dan membukanya.


“Mm-hmm… baunya enak! Apa ini, Lun?”



“Semur daging, Kak. Kudengar dari Puput kalian habis pulang dari quest. Jadi aku nyoba buat makanan.”


Puput? Ah, maksudnya dia Putri? Sungguh melegakan karena kami memiliki anggota yang sangat terampil dalam masalah rumah tangga seperti Luna.


“Makasih yah, Lun. Maaf kalau ngerepotin terus untuk masak-masak gini.”


Aku menutup kembali panci tersebut dan mengambil mangkuk berukuran sedang sebagai tempat semur daging tersebut.


“Gak masalah kok! Lagian aku suka masak. Terus, Kakak tau sendiri aku gak bisa ngebantu kalau masalah tempur.”


Itu memang benar jika dia adalah anggota dengan kemampuan bertarung yang sangat rendah. Jujur saja dia bahkan tidak pernah ikut sama sekali jika ada hal yang berkaitan dengan pertempuran. Dia juga tidak memiliki senjata apapun.


Yah, kurasa senjata terbaik baginya adalah pisau dapur. Kemampuannya dalam memasak juga bisa dibilang cukup hebat. Tapi tetap saja rasanya kurang nyaman jika terus-menerus membiarkannya melakukan hal ini sendirian.


Meski begitu, terkadang anggota yang lain mencoba untuk membantunya begitupun denganku sekarang.


Selagi aku memindahkan semur daging tersebut dari dalam panci ke dalam mangkuk yang telah kuambil, Luna menyiapkan beberapa piring, sayuran, dan makanan pokok, yaitu nasi dengan bakul berukuran besar.


“Ngomong-ngomong Lun, Putri mana? Tadi kamu bilang dikasih tau dia.”


Aku berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air dingin dan meminumnya.


“Puput sudah logout tadi. Katanya ada urusan, sih.”


Setelah meminum air dingin dan meletakkannya kembali ke dalam kulkas, aku menyiapkan alat makan seperti sendok dan garpu lalu meletakkan mereka di atas nampan yang tadi.


“Oya, Kak!”



“Hm?”


Aku menanggapinya sambil mengambil piring-piring yang sudah dia siapkan dan meletakkannya di atas nampan.


“Tau gak, kalau tadi siang semua orang yang daring dikirim paksa ke Sektor 73 untuk ngalahin apa gitu. Aku juga kebawa ke sana pas beli bahan-bahan makanan di Sektor 1. Tapi yah habis itu langsung balik ke Sektor ini tanpa mikir apa-apa.”


Aku melirik ke arahnya mendengar hal itu.


“Semua pemain?!”



“Iya! Semua pemain dari Sektor manapun dikirim paksa ke Sektor 73. Gak jelas banget ngirim semua pemain cuma untuk ngalahin monster!”


Yah, aku memang melihat sangat banyak pemain tadi siang. Tapi aku tidak mengira jika mereka adalah total pemain yang sedang aktif dan dipindahkan secara paksa ke sana. Apa kami tidak dipindahkan karena kami memang sedang ada di Sektor tersebut?


“Questnya Kakak di Sektor 73 juga yah tadi?”



“Hm? Ah, iya di sana juga. Kebetulan banget yah!”


Aku tersenyum masam ke arahnya sambil mengangkat nampan tersebut dan berniat mengubah topik pembicaraan.


“Ayok, Lun!”



“Iya.”


Sesampainya di ruang utama aku merapihkan barang-barang yang kubawa di atas meja. Begitu juga dengan Luna.


“Bangunkan mereka yah. Biar aku yang bawa ke belakang.”


Aku membawa nampan ke dapur setelah meminta Luna untuk membangunkan mereka yang tertidur. Setelah meletakkan nampan di tempat seharusnya, aku mengambil air dingin dengan botol besar dari kulkas. Itu adalah botol berbeda dari yang kuminum sebelumnya.


Setelah kembali ke ruang utama, hanya Bang Sema dan Dimas saja, sedangkan tiga lainnya masih tertidur.


Setelah meletakkan botol air yang kubawa, aku berjalan kearah Syah lalu menendangnya dengan pelan beberapa kali untuk membangunkannya.


“Oi, bangun, bangun! Bangun woe! Sahur!!! SAHUR SAHUR!!! Bangun woe!!! Sahur!”



“Emh-…! Tsk.”


Bukannya terbangun dari tidur, dia justru mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Sedangkan Fadli dan Novan terbangun hanya dengan suaraku.


Aku menarik selimutnya dan mengubah caraku dari menendangnya menjadi menepuk wajahnya sambil tertawa dengan apa yang kulakukan sendiri.


“Syah bangun Syah! Syah kebakaran Syah!!!”


Dia terbangun dengan cepat dalam posisi duduk dan mata terbuka lebar. Mencoba untuk melihat ke berbagai arah untuk memastikan.


Aku dan Luna tertawa terbahak-bahak melihat responnya yang lucu. Itu sungguh menghibur melihatnya terlihat terkejut.


“Heh?! Mana apinya?!”


Aku bahkan tertawa keras sampai kehabisan nafas sebelum akhirnya menarik nafas panjang.


“Hadeeeh… gak ada api. Makan tuh! Kalian makan juga tuh!”


Aku menyuruh Syah, Novan, dan Fadli untuk menyantap masakan yang telah dibuat oleh Luna. Sedangkan aku sendiri menyandarkan diri di sofa yang kosong.


“Loh, Kak Rei gak makan?”



“Makasih. Tapi lanjut aja dah. Nanti nyusul.”


Aku menolak ajakan Luna selembut yang kubisa. Bukannya aku tidak ingin makan, hanya saja aku merasa tidak ingin makan untuk malam ini.


“Bang Sem, AR-15 punyaku dong.”


Aku meminta senjata kesayanganku tersebut karena barang-barangku masih dibawa oleh Bang Sema. Dia mengeluarkannya tanpa berkata apapun dan melemparnya.


Sambil melihat mereka menikmati makan malam yang dibuatkan oleh Luna, aku membongkar AR-15 tersebut dimulai dari melepas magazen yang sudah kosong, kemudian dari laras dan bagian lainnya.


Setiap senjata memiliki cara pembongkaran masing-masing. Tapi yang paling kupahami dari semua senjata yang kubisa hanyalah AR-15 dan M4A1, karena kedua senjata tersebut merupakan favoritku.


Aku melakukan pengecekan dari ujung laras sampai ujung popor senjata. Karena tidak menemukan karat sedikitpun, kurasa masih aman. Meski begitu, karena tadi pagi aku telah banyak menggunakannya, pemeliharaan harus segera dilakukan.


Tapi aku tidak memiliki alat untuk melakukannya. Jadi aku mengurungkan niat dan kembali menyatukan bagian-bagiannya hingga menjadi satu bagian utuh. Ditambah aku juga sudah kehabisan peluru.


“Hahh… kayaknya aku mau ke Cak Ilham aja dulu.”


Aku berdiri dari sofa setelah memasukkan AR-15 ke dalam inventaris lalu berjalan kearah Bang Sema.


“Bang, semua barangku dong. Mau beli kebutuhan sekarang.”



“Bentar…”


Dia mengambil segelas air dingin dan meminumnya. Setelah itu membuka inventaris.

__ADS_1


“Kamu yang terakhir titip, yah? Kalau gitu barang-barangmu ada di bawah.”


Dengan begitu dia mengeluarkan barang-barangku yang kutitipkan padanya. Termasuk balok dan koin emas yang berhamburan ke seluruh sudut ruangan. Tentu aku segera mengambilnya semua.


“Makasih, Bang.”


Aku berniat untuk pergi ke ruang penyimpanan dan mengambil sebuah koin hitam dengan lambang tengkorak dan ular. Setelah pergi ke ruang penyimpanan untuk mengambil koin tersebut, aku akan pergi ke tempat NPC, lalu ke tempat Ilham, tapi Dimas memanggil saat aku membuka pintu.


“Cuy!”


Aku menoleh ke belakang dan melihat ke arahnya langsung.


“Titip Lapua Magnum, seratus buah, bisa?”



“Uangnya?”


Aku menjulurkan tangan kananku meminta kredit yang akan kugunakan untuk membeli barang yang dipintanya.


“Pakai kreditmu dulu. Nanti kuganti.”



“Eeh…! Yasudah, jangan lupa ganti nanti. Kalau gitu, aku berangkat dulu!”


Aku menutup pintu dan segera mengarah ke kota untuk mencapai transporter dan pergi ke Sektor 1.


Sebelum mengarah ke tempat Ilham, aku mengunjungi NPC khusus untuk menjual barang-barang. NPC akan memberikan harga yang bagus dibandingkan pemain saat kalian menjualnya. Hanya saja mereka memberikan harga yang mahal ketika pemain ingin membeli sesuatu.


Itu sebabnya aku lebih memilih untuk menjual barang pada NPC, tapi membeli barang pada pemain yang menjadi BS.


Aku memutuskan untuk menjual semua balok dan koin emas yang kuambil dari sarang Maga Antu dan mendapatkan hasil yang sangat banyak.


“Tiga puluh satu, yah? Kalau dijumlahkan sama yang kupunya, sekitar seratus lebih. Yah, gak masalah.”


Aku menerima kredit yang diberikan NPC dan segera pergi dari tempat itu dan mengarah langsung ke tempat Ilham.


Setelah mencapai tempatnya, resepsionis yang sama masih berada di sana. Aku memberikan koin hitam yang kubawa dan masuk ke tempatnya dengan cara yang sama seperti sebelumnya.


Hanya saja, pada malam ini tempat tersebut sangat ramai dengan pemain yang melihat-lihat senjata. Mulai dari avatar laki-laki sampai perempuan, mereka melihat semua senjata yang dipajang di dinding, mau itu senjata tajam, senjata api, bahkan perlengkapan lainnya.


Aku terus berjalan lurus sambil melihat ke arah orang-orang yang tidak kukenali tersebut dan bertemu dengannya di belakang meja kerjanya yang sangat besar dan taktis tersebut.


“Cak!”


Aku mengangkat tangan kananku sambil menyapanya.


Dia terlihat mengerjakan sesuatu, tapi menyempatkan diri untuk mengangkat kepalanya dan menyapaku balik.


“Oh, Ega? Tumben malam-malam gini. Ada apa?”


Dia kembali melakukan apa yang sedang dilakukannya di atas kertas itu. Aku tidak berniat untuk mengganggunya disaat sibuk seperti ini. Jadi akan kupercepat urusanku.


“Senjata-senjata sama peralatan yang kupinjam, mau kubeli aja. Sekalian minta tolong uruskan senjatanya.”



“Mau dibeli semua? Kalau ditotal sih itu sekitar empat juta tiga ratus. Terus, senjata yang mau dirawat mana?”


Aku berencana untuk memintanya merawat AR-15 saja, tapi karena aku sudah sampai di sini, jadi kurasa akan lebih baik jika senjata yang lain juga. Jadi aku mengeluarkan AR-15 dan FN-57 lalu meletakkannya di atas meja besar miliknya.


“Sekalian aku mau beli seratus peluru 338 Lapua Magnun sama M4A1 yang mau kumodifikasi langsung di sini. Gak masalah?”



“Gak masalah! Nuril mana? Nuril, sini!”


Dia terlihat memanggil seseorang yang sedang sibuk membersihkan dinding senjata yang kosong.


“Apa, bos?”


Pemain tersebut terlihat lebih kurus dariku tapi lebih tinggi.


“Tolong bantu temanku ini ke ruang modifikasi, ambilkan M4A1 yang masih baru, sama siapkan 338 Lapua seratus biji.”



“Siap! Ayo, ke sini.”


Dia mengajakku ke sebuah tempat dan meninggalkan Ilham dengan kesibukannya sendiri.


Kami memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi dengan perlegkapan yang dibutuhkan senjata api. Mulai dari alat bidik, magazen, popor, laras, dan yang lainnya.



“Ah, iya.”


Di ruangan ini bahkan tetap banyak sekali pemain yang melihat-lihat peralatan yang dipajang. Meski aku sering datang ke tempat ini, baru kali ini aku melihat pelanggan sebanyak ini.


“Oh!”


Saat aku berjalan untuk melihat-lihat alat bidik, ada yang menarik perhatianku. Tanpa pikir panjang aku mengambil dan melihat penjelasannya.


Di jendela penjelasannya tertulis jika alat bidik tersebut memiliki nama EOTech EPS3. Sebuah alat bidik tipe Holographic dengan magnifikasi satu kali, berat 11.2 oz, dan memerlukan batre CR123A.


“Pakai batre, kah… yah, tinggal beli aja sih untuk cadangan batrenya.”


Sembari membawa alat bidik tersebut aku pergi ke arah tempat yang memajang magazen dan yang lainnya. Tapi aku sama sekali tidak tahu harus memilih yang mana karena aku sama sekali tidak paham jika berkaitan dengan aksesoris sebuah senjata.


Karena aku tidak dapat memutuskan, akhirnya aku berakhir di sebuah kursi kosong sampai pada akhirnya orang yang disuruh Ilham menemaniku, Nuril datang dengan menggendong sebuah senjata dan membawa sebuah kotak besi berukuran sedang di kedua tangannya.


. “Sudah milihnya?”


Dia meletakkan kotak besi dan M4A1 yang dibawanya tepat di sebelahku.


“Yah, aku gak terlalu paham masalah aksesoris. Cuman nemu alat bidik yang menurutku menarik doang nih.”


Aku memberikannya pada Nuril untuk dilihatnya sebelum akhirnya dia mengembalikannya padaku.


“Jadi gak terlalu paham untuk aksesorinya, yah? Mau kusarankan yang bagus-bagus? Cuman, yah, agak mahal.”



“Kalau masalah kredit gak usah dipikirin. Tolong kasih saran yang paling bagus.”


Aku memintanya untuk memberikan saran terbaik yang dimilikinya sekalipun itu harus membuatku mengeluarkan banyak kredit. Ini semua demi senjata yang kusuka!


“Hmm… kalau gitu, tunggu sebentar. Kuambil beberapa yang kusarankan.”



“Iya, tolong.”


Sekali lagi dia meninggalkanku untuk mengambil barang. Di waktu kosong tersebut aku meggapai M4A1 yang dibawanya dan mencoba mengangkat, mengubah posisi, dan mengokangnya untuk melihat kecocokannya padaku.


Benar saja, aku menyukai senjata ini. M4A1 dan AR-15 merupakan dua senjata yang sangat kusukai. Sangat kusukai!


Sedangkan kotak besi yang ada di sebelahku tersebut berisi dengan peluru yang kupesan.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Nuril kembali datang dengan membawa dua buah benda di masing-tangannya.


“Coba ini!”


Dia menyerahkan kedua barang tersebut padaku. Kedua benda tersebut adalah magazen dan senter taktikal.


“Um…”


Aku memasang kedua benda tersebut pada M4A1 dan mecobanya sekali lagi.


“Lancer L5 AWM. AWM yang dimaksud adalah Advance Warfighter Magazine. Magazen ini gabungan dari penggunaan metal dengan polimer di konstruksinya. Ringan dan mudah saat mengganti magazen.”


Aku mencoba untuk membuka lalu kemudian kembali memasukkannya dengan tetap memposisikan tubuhku seperti sedang menembak. Benar apa katanya, magazen ini ringan dan mudah untuk digunakan. Karena menggunakan polimer, seharusnya ini lebih kuat dari besi biasa.


“Lalu, SureFire M600 Scout. Alat ini standar emas untuk AR-15, tapi dapat digunakan untuk M4A1 juga. Satuan cahayanya bisa sampai 600, dilengkapi laser, dan cara menyalakannya juga mudah dengan hanya menekan satu tombol. Jenis batrenya sama seperti alat bidik itu tapi butuh dua biji agar bisa tahan sampai 1.5 jam.”



“Hmm… yah, aku gak paham sama sekali. Tapi kedengarannya keren, jadi kubeli!”



“Terimakasih. Apa ada lagi yang dibutuhkan?”



“Emh… buat magazennya jadi tiga, batre cadangan untuk alat bidik sama senternya masing-masing tiga, terus pelurunya 240 biji. Oya, Carcano M91/38 ada gak?”



“Kalau tidak salah, ada. Apa ada lagi?”

__ADS_1



“Sudah cukup. Kutunggu di tempat Ilham.”


Aku menyerahkan semua barang tersebut pada Nuril dan pergi ke tempat Ilham untuk membahas hal yang lain. Sesampainya di sana aku segera mengajaknya berbicara.


“Ngomong-ngomong, Cak, yang chrome itu gimana? Soalnya aku gak dapat.”



“Chrome? Ah, barangmu itu yah. Biar aku aja nanti yang nyari kalau ada yang jual. Kalau ada pasti kuhubungi.”


Dia menjawabku sembari terus mengerjakan apa yang menjadi kesibukannya. Yah, aku bukannya ingin mengganggu, hanya saja rasanya tidak nyaman jika tidak ada orang yang bisa kuajak bicara.


“Tumben yah, tempatmu ini jadi rame banget.”



“Gara-gara muncul bos monster di S73 itu. Sudah banyak yang gagal. Malahan kupikir, S73 bakal jadi Death Sector nantinya.”


Aku mengerutkan kening mendengar itu.


“Death Sector-… apa itu?”



“Sektor yang mati gitulah. Kamu tau kenapa S1 gak ada monster lagi, kan?”


Ah, aku pernah mendengar hal itu dulu. Saat masih Cluster Online pertama kali rilis.


“Gegara banyak pemain yang ngebunuh monster sama hewan secara berlebihan itu? Aku pernah dengar. Terus apa hubungannya?”



“Monster sama hewan di Cluster Online bukan respawn, tapi berkembang biak. Kalau mereka diburu secara berlebihan, tentunya semua hewan sama monster di S1 punah. Itu sebabnya S1 cuma jadi Sektor khusus jual-beli. Beda nya S1 sama S73, kemungkinan S73 gak bakal bisa ditempati lagi kalau naganya itu ngebunuh semua NPC. Yah, kurang lebih gitu.”


Banyak hal yang kurang jelas, tapi kurasa aku memahaminya. Intinya, Death Sector yang dimaksudnya adalah matinya sebuah Sektor dengan alasan tertentu sehingga tidak dapat ditinggali atau ditempati.


“Gara-gara itu, tepat setelah S1 mati karena gak ada monster atau hewan lagi, pihak pengembang membuat peraturan untuk pemain yang berburu berlebihan bakalan dapat hukuman.”


Lanjut Ilham dengan matanya yang masih fokus pada kertas dan tangannya terus menulis sesuatu.


Aku tidak pernah menduga jika hanya dengan sebuah Quest Level Empat yang Dimas dapatkan, kami bisa membuat sebuah Sektor mati. Ini benar-benar diluar perkiraan yang ada.


“Kalau gitu ini masalah kami.”


Aku berbisik sendiri dengan rasa bersalah.


“Hm? Bilang apa?”



“Hm? Aku gak bilang apa-apa kok.”


Untungnya Nuril datang diwaktu yang tepat dengan membawa koper taktikal putih berukuran besar namun tipis dan 2 kotak besi berisi dengan peluru tentunya.


“Berapa semuanya, cak?”


Aku menanyakan total semuanya sembari membuka inventori untuk mengambil kredit selagi Nuril memberikan Ilham secarik kertas.


“Ini yang dibeli.”



“Satu M4A1, tiga magazen Lancer L5 AWM, satu SureFire M600 Scout, satu EOTech EPS3 Holographic Sight, sembilan batre CR123A, dua ratus empat puluh biji 6.56 x 45mm NATO, seratus biji 338 Lapua Magnum, sama Carcano M19/38.”


Meski dia terdengar seperti hanya menyebut semua yang kubeli, sebenarnya dia menggunakan kalkulator untuk menghitung total harga.


“Totalnya 7.3 juta kredit. Ditambah 4.3 juta untuk yang sebelumnya, sama 100 ribu untuk perawatan AR-15 sama FN-57. Jadinya 11.7 juta.”


Lanjutnya. Aku mengeluarkan kredit sembari mengecap bibir beberapa kali dengan berat hati setelah mendengar harga itu. Tapi ini demi M4A1 dan AR-15! Apa boleh buat!


Di tempat ini aku tidak bisa menawar karena harga yang sudah mereka tetapkan tidak akan berubah. Sungguh disayangkan karena aku tidak dapat menawar untuk harga yang sedikit lebih murah.


“Ini.”


Aku menyerahkan kredit dengan jumlah besar tersebut dan mengambil koper beserta kotak besi yang dibawa oleh Nuril lalu memasukkannya ke dalam inventaris.


“Oke, makasih yah! Kalau ada yang jual chrome, kabarin yah, cak!”



“Iya iya!”


Setelah itu aku pergi meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke Sektor 51 menuju markas.


***


Aku segera masuk ke dalam markas sesaat setelah mencapainya dan menemukan Bang Sema, Dimas, Novan, Syah, dan seseorang yang belakangan ini tidak terlihat sedang melihat tiga buah telur berukuran besar di atas meja.



“Oh, Faisal? Kok lama gak main?!”



“Yah… sibuk di IRL. Maaf maaf…”


Biar kuperkenalkan. Namanya adalah Faisal, dengan IGN avatarnya bernama Amou. Belakangan ini aku tidak pernah melihatnya bermain lagi. Tapi, yah, jika itu urusan di dunia nyata, aku tidak dapat berkomentar tentang apapun.


“Yah, gak masalah. Ngomong-ngomong kalian ngapain ngeliat telur-telur itu? Jangan bilang mau dimakan!”


Aku memberikan tatapan sinis pada mereka semua.


“Bukan! Justru kami nunggu kamu balik. Ini mau diapain?”


Tanya Syah selagi aku mengeluarkan kotak peluru yang dipesan oleh Dimas lalu memberikannya.


“Diapain…? Yah, kita tetaskan aja. Siapa tau bisa jadi peliharaan. Patut dicoba tuh.”



“Kami juga dah mikir gitu. Tapi tiap telur ini tempat untuk menetasnya beda-beda. Kami sudah baca masing-masing penjelasan. Yang hijau di hutan, merah di lava, sama biru di es.”


Mendengar yang dikatakan Novan, itu cukup merepotkan jika kami harus bergantian untuk menjaganya di tiga tempat yang berbeda. Tapi entah bagaimana aku berpikir untuk membagi mereka menjadi tiga tim


“Yasudah, kita buat tim aja biar mudah. Contohnya, habitat yang lava. Tempatnya kan keras, jadi pemain yang cocok itu mungkin Bang Sema, gitu?”



“Iya, aku sudah nyarankan gitu.”


Setelah Bang Sema mengatakan itu, seharusnya mereka sudah membentuk tim. Aku tidak harus mengatakan hal itu jika mereka memberitahuku sebelumnya.


“Ah, um… yasudah, gitu aja. Aku ambil yang es aja.”


Setelah itupun mereka mulai memilih tim masing-masing. Bang Sema akan bersama dengan Faisal di habitat lava. Fadli, Novan, dan Dimas akan menjaga yang di habitat hutan. Sedangkan Syah, entah kenapa sedaritadi dia melihat ke arahku.


“Aku sendirian aja. Aku gak mau sama orang itu!”


Aku menunjuk ke arah orang yang terus menerus melihat ke arahku.


“Hm? Ada apa nih?”


Zia keluar dari kamar perempuan dan menanyakan hal itu. Setelah Dimas menjelaskan apa yang akan kami lakukan, seketika Zia tertarik untuk ikut.


“Ikut aku mau?”


Aku menanyakan hal itu dan dengan cepat dia memberikan jawaban dengan mengangguk.


“Boleh! Lagian di sini gak ada kerjaan.”


Entah kenapa aku tidak dapat mengontrol ekspresi setelah mengetahui akan berduaan dengan seorang perempuan di tempat antah barantah. Ah, gawat! Bahkan sekarang pikiranku tiba-tiba kacau.


“Ah… ehehe! Yasudah, kalau gitu timnya sudah dibentuk. Besok tinggal persiapan untuk berangkat. Oya, Dim, kamu belum menyelesaikan quesnya, ‘kan?”



“Belum.”



“Bahaya kalau ada yang tau kalau kamu dapat Artefak nanti. Ajak Bang Sema sama Faisal. Terus, jangan sekarang. Kalau bisa tengah malam aja biar amannya.”


Dia mengangguk setuju. Aku juga memberikan saran lain untuk mereka.


“Oya, minta LP atau Lazy untuk terus mengaktifkan channel radio kita supaya bisa komunikasi pakai earpiece. Dan itu aja sih.”


Setelah itu kami semua membawa telur yang akan kami jaga. Aku mengambil yang biru, Bang Sema membawa yang merah, dan Fadli mengambil yang hijau. Lalu semua orang meninggalkan ruang utama untuk menyiapkan apa yang akan mereka bawa esok hari.


Meninggalkan Syah yang membisu kebingungan di sana sendirian.

__ADS_1


“Eh, aku gak diajak?”


__ADS_2