
Aku melakukan login ke dalam permainan Cluster World dengan menggunakan Asset. Cara penggunaan alat ini juga terbilang mudah. Hanya perlu mengenakan segala alat yang tersedia dan membaringkan tubuh secara rileks, dalam lima belas detik para pemain akan memasuki dunia virtual tersebut.
Setelah tubuh avatarku terbentuk, aku membuka mata dan sadar sedang berada di salah satu ruangan markas klan kami. Aku keluar dari ruangan tersebut dan memutuskan untuk pergi ke ruangan komputer, tempat di mana kami memantau sekitar markas dan mencari informasi.
Ngomong-ngomong, semua barang yang ada di markas ini kami membelinya. Harganya juga murah karena mereka bukan benda yang dapat didapatkan di dunia nyata. Maksudku, berbeda daripada saat pemain membeli kaos di dalam permainan dan pihak pegembang benar-benar mengirimkan kaos tersebut ke alamat pemain yang membelinya. Yah, kami biasa menyebutnya dengan souvenir.
Saat membuka pintu rungan komputer, salah satu komputer masih menyala dengan keadaan ruangan yang gelap. Aku menyalakan lampu dengan menekan saklar yang berada di dekat pintu masuk ruangan. Seseorang dengan rambut hitam panjang sedang fokus melihat data di layar.
“Masih belum logout, Laz?”
“Belum. Dikit lagi.”
Aku mendekatinya dan berdiri di sebelah kursi yang sedang didudukinya dan melihat ke arah layar yang sama sambil mencoba untuk mengerti apa yang dilakukannya. Terlihat dia seperti sedang menyusun dan memilah data dari yang terlihat penting.
“Ada yang bagus?”
Aku bertanya singkat padanya.
“Banyak! Terutama ini…”
Dia menunjuk salah satu file dengan tangannya.
“…Mereka punya banyak Blueprint, terutama senjata sama amunisi. Tapi kita gak punya 3D Printer atau bahan untuk bikinnya.”
“Emh… ada gak toko NPC atau pemain yang jual?”
“Sebentar!”
Dia mencari di komputer tersebut. Sejak internet di dunia nyata dapat dijangkau melalui permainan ini, kurasa tidak akan sulit menemukan informasi jika ada pemain yang menjual barang yang kami inginkan.
“Ane cari di FB ada yang jual. Rumah avatarnya ada di S7. Mau ke sana? Kalau iya bakal ane hubungi orangnya.”
“Sektor 7 ya… Hubungi dia, aku bakal ke sana sekarang!”
Aku mengambil earpiece dan segera memakainya.
“Oya Laz, tau harga pasaran 3D Printer gak?”
“Kalau di NPC biasanya 15 juta Kredit. Kalau pemain rata-rata ada diangka 9 sampai 12 jutaan.”
“Okelah! Aku yang belikan untuk klan kita. Kasih tau kalau dia login lewat earpiece! Sekalian carikan Blueprint untuk M4A1 sama AR-15 kalau ada.”
“Ada kalau gak salah, nanti ane liat lagi.”
Setelah itu aku pergi meninggalkan markas dan menuju ke Sektor 7 melalui transporter yang berada di tengah kota. Setiap Sektor pasti memiliki kota sebagai wilayah aman dan transporter untuk memindahkan para pemain ke Sektor lain yang mereka inginkan. Markas kami berada di Sektor 51, untuk lokasi pastinya harus dirahasiakan.
Setelah sampai di Sektor 7, aku tidak merasakan perbedaan dari kota Sektor lainnya, meskipun ini pertama kalinya aku datang ke Sektor 7.
“Ada kabar dari orangnya Laz?”
“Ada! Dia bilang bakal login. Tempat pertemuannya di gerbang barat daya kota katanya.”
Aku sedikit mengerutkan kening mendengar itu.
“Di gerbang kota…?”
“Iya. Perlu gak ane suruh anggota lain nemanin?”
“Hoo… paham yak? Tapi gak masalah. Aku beli sendiri aja.”
“Yaudah. Ane off yak, dah ngantuk dari tadi malam begadang buat nyusun datanya. IGN dia Bajirot.”
“Oke, makasih.”
Aku pergi setelah sambungan terputus dan memasukkan kembali earpiece ke dalam inventaris, sembari memeriksa barang-barang yan ada di dalamnya.
“Hahhh… harusnya aku bawa senjata yang lebih bagus.”
Karena kebiasaanku yang selalu menyisakan ruang inventaris sebanyak mungkin, akhirnya aku hanya membawa sebuah pistol dan sepasang belati sebagai persenjataan. Saat hampir mendekati gerbang yang mengarah ke luar kota, aku mengeluarkan pistol berjenis USP dan menyembunyikan dibalik badan.
Seseorang berdiri tepat di tengah jalan setapak dengan banyak pepohonan di pinggirannya. Dia terlihat sendirian dan hanya menunggu di luar gerbang. Aku mendekatinya dan berdiri tepat di garis akhir wilayah aman.
“Bajirot…?”
“Oh, lu yang mau beli 3D Printernya?”
Aku melihat-lihat sekitar dan tidak melihat adanya kehadiran pemain lain di sekitar kemudian menjawab pertanyaannya.
“Iya. Barangnya ada?”
Tanpa berlama-lama dia mengeluarkan benda seukuran brangkas besar dengan seluruh sisinya terlihat transparan kecuali bagian bawah, lalu ada banyak bagian lain di dalamnya yang tidak dapat kujelaskan.
Jujur saja, ini pertama kalinya aku melihat 3D Printer, bahkan aku tidak yakin jika itu adalah 3D Printer.
“Berapa harganya?”
“Nego di sini aja biar enak…”
Dia mengajakku untuk mendekatinya, tapi aku memilih untuk menolak.
“Nah, di sini juga gak masalah. Jadi berapa harganya…?”
“Gue masangnya diharga 13 juta.”
Emh… kurasa itu sedikit terlalu mahal untuk harga antara pemain. Jadi aku sedikit menurunkan harganya.
“7 juta gimana?”
__ADS_1
“Ngotak dikitlah bro, masa iya segitu…”
Baiklah aku sedikit tersinggung saat dia mengatakan itu.
“Gimana kalau-…”
Tiba-tiba seseorang dari belakangku menyenggol, dengan refleks aku menahan dan memintal tangan kanannya dengan tangan kananku ke belakang tubuhnya, sedangkan tangan yang lain menahan lehernya sementara aku berada di belakang.
Pemain dengan nama Bajirot itu sudah memegang sebuah senjata senapan serbu dan mengarahkannya padaku.
“Cih!”
“Informasi di FB bilang kalau rumahmu ada di sini, tapi kau lebih memilih melakukan trading di gerbang kota. Kau juga sudah memikirkan cara jika aku tidak keluar dari wilayah aman, maka rekanmu akan bertingkah seperti mendorongku tidak sengaja dan membuatku keluar dari wilayah aman. Hmm… rencana bagus, tapi sayang gak berhasil.”
Aku mengambil pistol yang berada di balik baju dan menodongkannya tepat di belakang kepala orang yang tadi menyenggolku.
“Aku datang ke sini untuk membeli. Karena kita berhenti saat bernegosiasi, akan kutawarkan sekali lagi. 3D Printer itu kubeli dengan harga temanmu, Bajirot.”
“Ha? Yakali gue ngasih barang mahal gini. Lu lepasin dia, lu bakal selamat.”
Dia mengangkat senjatanya dan mulai membidik.
“Ck ck ck, sekarang kau gak punya kesempatan untuk itu. Harusnya kau sudah tau kalau pemain yang mati di luar wilayah aman akan kehilangan seluruh perlengkapan di inventaris jika dibunuh pemain lain, dan pemain yang membunuh akan dapat semuanya.”
Pemain yang berada tepat di depanku mengangkat suaranya.
“Hah! Itu lu tau! Terus untuk apa kami nurut?!”
Mendengar itu aku segera melompat ke belakang sambil menarik pemain yang sedang kujadikan sandera, tepat setelah itu Bajirot sempat menembakkan beberapa peluru. Dia memang mengenai pemain yang sedang kusadera, tapi itu tidak berguna asalkan kami berada di wilayah aman.
“Jadi gitu… kalau kalian gagal, si Bajirot cuma perlu membunuhmu, supaya perlengkapanmu aman. Kayaknya kalian ini scammer kelas kakap yak…”
Tepat setelah aku megatakan itu, pemain dengan nama Bajirot itu mencoba untuk melarikan diri dan meninggalkan senjata serta 3D Printer yang telah dikeluarkannya.
“Oh… kau tidak bleh melarikan diri!”
Aku menembaknya beberapa kali di punggung sampai tubuhnya terjatuh dan segera menghilang.
“Seharusnya kalau mau lari mending ke arah hutan, bukannya malah lurus!”
Aku mendorong pemain yang sedang kusadera ke luar wilayah aman dan menembaknya di kepala.
“Padahal aku mengharapkan barter yang normal…”
Aku melangkahkan kaki ke luar wilayah aman untuk mengambil 3D Printer itu dan meletakkannya ke dalam inventaris. Lalu senjata yang Bajirot tinggalkan juga kuambil tentunya.
“AK-47? Bukan tipeku, tapi kurasa bisa dijual kembali dengan harga murah.”
Aku membuka inventaris dan melihat apa saja yang kudapatkan dari kedua pemain barusan. Sayangnya tidak ada barang yang bisa dibilang sangat bagus.
“Sampah doang… hahh…”
Pesan tersebut ditunjukkan di jendela hologram tepat di depanku dan pengirimnya dari Dimas. Pesan singkat yang bertuliskan, ‘Mabar? Di S36.’. Aku membalas pesannya dengan jawaban, ‘Kuy! Bawakan perlengkapanku sekalian di kotak penyimpanan.’, kemudian dia kembali membalas, ‘Otw.’.
Aku pergi ke tengah kota dan berpindah ke Sektor 36. Ini pertama kalinya aku pergi ke Sektor ini. Ternyata tidak berbeda dari Sektor 16, Sektor 36 merupakan wilayah bersalju. Bahkan di kotanya pun sudah tertutupi oleh salju.
Aku membuka daftar teman dan mengundang Dimas ke party. Tidak butuh waktu lama dia menerimanya, dua menit kemudian dia mencapai Sektor 36 dan berpapasan denganku.
“Yo!”
Aku menyapanya, dan dia membalas juga dengan sapaan.
“Yo’i!”
“Wilayah salju ternyata S36. Aku gak tau cuy, mana gak punya perlengkapan kamuflase.”
Sambil membalas pernyataanku, dia memberikan semua perlengkapanku yang kutinggal di markas dengan fitur barter yang sudah ada.
“Gimana kalau beli dye aja? NPC biasanya jual meski harganya seratus ribu kredit.”
“Hmm… agak mahal, sih… tapi okelah!”
Aku menyetujui sarannya dan pergi ke salah satu toko NPC untuk membeli item yang dapat merubah warna item lain, yaitu dye. Meski begitu, dye hanya akan dapat mengubah warna selama 12 jam. Setelah itu kembali ke warna semula.
Setelah membeli dye, aku segera mmenggunakannya. Item tersebut berbentuk bulat dan memiliki warna sesuai dengan yang diinginkan pemain.
“Sekarang ke mana nih?”
Aku menanyakan tujuan kami karena aku benar-benar tidak tahu harus ke mana untuk melakukan perburuan. Selain itu, aku juga belum mengetahui apa yang Dimas ingin lakukan.
“Selatan aja. Di sana banyak sumber kristal ingot. Mungkin aja bakal banyak orang.”
“Oooh…PvP nih?”
“Iyap. Sekalian mau ngetes AWM yang baru dapat sih, hehe…”
Aku juga jadi sedikit tertawa mendengar itu. Kupikir dia ingin mencari item yang sedang dia butuhkan. Ternyata hanya untuk mencoba senjata baru. Yah, aku akan ikut jika itu berkaitan dengan memburu pemain lain. Meskipun ada seseorang yang jauh lebih menyukai hal semacam ini di Klan kami.
Setelah persiapan singkat yang kulakukan selesai, kami mengarah ke arah selatan dan mencari dataran tinggi sebagai tempat mengintai. Tepat sesaat kami mencapai titik yang kami rasa pas, Dimas mengeluarkan senapan yang baru dia dapatkan tadi malam.
“Sebentar!”
Aku menyuruhnya untuk menghentikan seluruh aktifitasnya dengan nada yang sedikit tinggi.
“Apa?”
“Gak pakai peredam? Yakin?”
__ADS_1
Dia beberapa kali melihat ke arah senapan yang dipegangnya, kemudian ke arahku.
“Santai… aku bawa Optical Camouflage kok.”
Aku mengerutkan kening mendengar itu.
“Apa itu?”
Dia tidak menjawabku, melainkan mengeluarkan sebuah barang yang terlihat seperti sebuah jas hujan berwarna putih. Sesaat setelah dia mengenakannya, tiba-tiba barang yang terlihat seperti jas hujan berwarna putih itu terlihat menghilang-… mungkin lebih tepatnya transparan.
“Apa itu?!!”
Siapapun pasti terkejut melihat barang seperti itu, tidak terkecuali diriku. Terlebih ini pertama kalinya aku melihat sesuatu seperti itu.
“Hehe… bagus, ‘kan?”
Aku hanya menggeleng keheranan.
“Harganya berapa tuh cuy?”
Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan hal semacam itu, tapi aku sangat penasaran dengan harganya.
“Sekitar 28 juta kredit kalau gak salah…”
Tidak lain dan tidak bukan hanya ekspresi masam yang kutunjukkan sambil mengusap dada perlahan.
“Jiwa miskinku tersiksa mendengar itu…!”
Dia hanya menunjukkan wajah sombong. Jujur itu sedikit mengganggu. Jika itu aku, mana mungkin akan menggunakan 28 juta kredit hanya untuk satu item. Saat kepalaku masih dipenuhi angka yang sangat mahal itu, lagi-lagi dia mengambil sebuah alat dari dalam inventaris dan memberikannya padaku.
“Apa nih?”
“Bantuin ngukur jarak sama elevasi musuh pakai ini… nama barangnya lupa.”
Senyum masam terpasang di wajahnya. Aku hanya mengambil barang yang berbentuk alat bidik di tangannya itu dan tidak bertanya apa-apa. Setelah itu Dimas memposisikan tubuh dan senjatanya dalam posisi tengkurap.
“Gak dingin?”
“Gak kok. Kan gak langsung nyentuh saljunya. Ada Optical Camouflage, jadi gak dingin.”
Sepertinya kekhawatiranku tidak diperlukan sama sekali. Jujur saja, Dimas yang sekarang hanya terlihat kepala dan senjatanya saja, dan itu sedikit tidak nyaman untuk dilihat. Tapi sebagian diriku menganggap hal ini lucu.
Tanpa mengatakan apapun aku duduk di sebelahnya dan menggunakan alat yang diberikannya tadi di depan mata kananku sambil mencari pemain lain. Alat ini memiliki fitur pengukur jarak, suhu, ketinggian, arah, sudut elevasi, dan penghitungan otomatis di optiknya.
“Bagus juga nih…”
“Jelas! Gak nanya harganya?”
“GAK!!!”
Jika aku bertanya tentang harga, hal itu pasti hanya akan menyakiti diriku sendiri, terlebih bagian finansialku.
“Oh, kayaknya ada pemain!”
Aku melihat dua orang sedang berjalan bersama dengan pakaian tebal dan posisi dataran mereka sedikit lebih tinggi dibandingkan tempat kami. Saat Dimas menanyakan tentang perhitungan, saat itulah aku hanya perlu memberinya informasi yang sudah ada di alat optik
“Arah?”
“172 derajat.”
“Jarak?”
“218 meter.”
“Elevasi?”
“0,4 ke atas.”
Dimas terlihat sedikit mengatur jarak pandang alat bidik senjatanya.
“Oya cuy, belakangan ini grup chat jadi sepi banget yak?”
Aku melihat ke arahnya sebentar, lalu kembali melihat ke arah alat bidik.
“Ya… gitulah. Mau gimana lagi? Aku ada rencana buat nyari member baru sih. Tapi belum untuk sekarang…”
“Hmm…”
Dia tidak mengatakan apapun lagi setelah itu dan hanya menarik pelatuk. Seketika salah satu pemain yang berada jauh di sana terhentak dan tubuhnya segera menghilang.
“Kalau butuh bantuan bilang aja. Nanti kubantu nyebar link grup.
Sambil mengatakan itu dia bangun dari posisinya dan memasukkan semua peralatannya ke dalam inventaris. Aku juga ikut berdiri karena tubuhku mulai merasa kedinginan.
“Sudah nih…? Bukannya masih ada satu orang?”
“Sudah, cuma mau nyoba sekali aja kok.”
Dia sekaligus memintaku untuk mengembalikan alat yang tadi diberikan. Ternyata dia tidak memberikan, melainkan hanya meminjamkan.
“Sebentar… berarti aku ngehabiskan seratus ribu kredit buat dye, Cuma untuk sekali coba?!”
“Lah, iya. Dah yuk, balik ke markas aja.”
Aku hanya memasang senyum masam dengan kedua tangan menggenggam dan terpaksa menerimanya.
“Oke.”
__ADS_1
‘Dasar sultan!’