
Pukul 19.45 WIB, aku melakukan Deep Dive ke dalam permainan Cluster Online. Tentu saja tempatku muncul adalah tempatku terakhir keluar, yaitu kasurku yang berada di dalam kamar laki-laki.
Hal pertama yang kulakukan adalah melihat daftar anggota klan. Cukup mengejutkan karena terdapat enam belas orang sedang aktif saat ini termasuk diriku. Aku baru sadar jika perlengkapan-perlengkapan sebelumnya masih terpasang di tubuhku.
Tanpa berpikir dua kali aku melepaskan semuanya dan memasukkan ke dalam inventaris kecuali holster yang berada di paha beserta isinya. Setelah itu aku memutuskan untuk pergi ke ruang utama.
Di sana aku melihat dua orang perempuan sedang duduk di atas sofa sembari menikmati kue kering. Mereka adalah Arlone, dengan nama asli Kireina, meski orangnya sendiri bersikeras untuk dipanggil dengan nama Rei. Dan yang duduk di sebelahnya adalah Puteri. Dia menggunakan nama asli.
“Ohh! Jarang\-jarang kalian diam di markas. Biasanya keliling server.”
Mereka melihatku, tersenyum kecil, kemudian kembali memakan kue yang tersedia di atas piring. Yah, aku mengabaikan itu dan duduk di sofa yang ada di depan mereka.
“Tahu yang lain ke mana?”
Aku bertanya tentang keberadaan yang lain. Yah, kurasa mereka keluar untuk mencari hiburan masing-masing. Bagaimanapun, ini tetaplah permainan.
“Lazy di ruang penimpanan, Zia sama Luna di dapur. Sisanya gak tahu. Pas login cuman lihat mereka aja.”
“Sama.”
Rei menjawabku dan Puteri juga memiliki jawaban yang sama. Bisa kusimpulkan mereka aktif pada waktu yang berdekatan. Untuk sekarang aku tidak memiliki rencana untuk melakukan apapun. Meski begitu aku memutuskan untuk pergi ke ruang penyimpanan.
Aku pergi meninggalkan mereka berdua yang masih menikmati kue kering. Saat ingin menuju ke ruang penyimpanan, aku berpapasan dengan Luna dan Zia. Masing-masing dari mereka membawa piring baru yang dipenuhi dengan kue kering.
“Oh, Kak Rei? Mau ke mana?”
Luna menanyakan tujuanku. Tentu aku menjawabya dengan sigap.
“Ke ruang penyimpanan. Kalian yah yang bikin kue?”
“Iya. Mau coba?”
Dia menawariku untuk mencicipi kue buatan mereka. Tapi aku menolaknya dengan halus. Setidaknya setelah dari ruang penyimpanan.
“Ah, makasih! Tapi nanti saja. Sehabis dari ruang penyimpanan.”
“Iya. Kami di depan yah!”
Aku mengangguk mengerti. Setelah itu kembali berjalan menuju ruang penimpanan tapi aku mendengar suara teriakan Luna dari ruang utama yang berada di depan.
“Ahh!!! Kenapa kuenya dimakan duluan?!!”
Aku sedikit tertawa medengar itu. Jelas sekali Rei dan Puteri memakannya tanpa izin.
Setelah mencapai ruang penyimpnan aku melihat Lazy sibuk dengan semua kotak yang ada.
“Lagi merapihkan, kah?”
“Hm? Ah, bukan. Yang kamu sama Haqqi dapat sudah gak perlu dirapihkan. Soalnya memang sudah rapih.”
“Hoo…”
Aku memasuki ruangan dan membuka kotak penyimpanan pribadi milikku dan memasukkan barang-barang yang sekiranya tidak terlalu penting di dalam inventaris milikku.
“Oya Laz, Haqqi ada titip barang gak?”
“Barang? Chrome maksudnya?”
“Nah, iya! Ada gak?”
__ADS_1
“Gak ada satupun. Haqqi sudah bilang kalau kamu butuh katanya. Tapi benar\-benar gak ada satupun.”
Yah, itu cukup mengecewakan karena aku tidak mendapatkan barang yang kuinginkan. Kurasa barang itu masih dipegang oleh pemain yang mendapatkannya. Yah, semoga saja ada lain kali.
“Hmm… okelah.”
Aku mengambil senjata FN-57 yang berada di holster paha kananku dan memastikan isi magazennya masih terisi. Memang masih memiliki beberapa peluru, tapi aku memutuskan untuk menggantinya dengan magazen baru yang penuh dengan peluru, kemudian mengaktifkan pengamannya.
“Kalau memang butuh, kenapa gak beli aja?”
“Hm…”
Aku memasukkan kembali FN-57 yang kupegang ke dalam holster.
“…barang\-barang dari bos monster itu mahal. Jadi… ya, gitu. Daripada beli, mending ngambil dari pemain yang dapat.”
“Iya sih. Tapi biasanya kalau kamu yang beli bisa aja dapat murah, kan? Soalnya kalau nawar gak pernah ngotak sambil menyudutkan penjualnya.”
Jika kupikir kembali, itu memang benar apa adanya. Aku adalah tipe orang yang serakah dalam artian tidak ingin mengeluarkan uang banyak untuk barang mahal. Yah, selama penjualnya setuju, kurasa bukan masalah. Meski aku harus memojokkannya terlebih dahulu.
Tapi kembali ke awal, aku tidak ingin mengeluarkan uang yang banyak untuk barang yang berharga mahal. Dengan kata lain, aku tetap bersikeras sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan uang sedikitpun sebisa mungkin.
“Bisa aja, sih. Tapi aku lebih milih untuk ngambil sih, Laz. Udahlah, ayo ke depan!”
Aku memutus pembicaraan dengan mengajaknya ke ruang utama. Di mana empat orang perempuan sedang berada di sana. Yah, meski karakter Lazy sendiri terlihat seperti perempuan berambut panjang, dalamnya tetaplah laki-laki.
Aku mengirim pesan yang memberitahukan Ilham bahwa aku gagal untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Setelah sampai di ruang utama, mereka berempat saling berbicara satu sama lain. Apa ini yang disebut dengan girls talk itu?
Sementara itu pintu depan terbuka dengan cepat seperti didobrak. Kemudian Fajar masuk dengan wajah yang terlihat kesal. Lalu disusul oleh Syah, Dimas, dan Fadli. Tunggu sebentar, jangan bilang jika mereka masih bermain sejak tadi pagi!?
“Aku gak bakal mau main sama kau lagi, Syah!!!”
Aku dan Lazy yang masih dalam posisi berdiri bertukar pandang kebingungan, tapi entah kenapa aku bisa mengetahui apa yang telah terjadi. Hanya jika itu berkaitan dengan Syah.
Syah terlihat dengan sangat untuk meminta maaf tapi tidak dihiraukan sama sekali. Aku memutuskan utuk mendekati Fajar yang bergabung dengan para perempuan di sofa yang kosong.
“Ada apa?”
Aku mencoba untuk menanyakan masalah yang sedang terjadi diantara mereka. Aku hanya tidak merasa nyaman ketika ada anggota yang kurang akur.
“Bukan apa\-apa. Cuman tadi pas main sama Syah, bukannya nyerang musuh, malah\-…”
“Oke, berhenti!”
Aku memotong pembicaraannya. Bukan berarti aku tidak sopan, hanya saja, aku tahu apa yang telah terjadi. Jujur saja, ini tepat seperti bayanganku. Aku melihat ke arah Dimas dan Fadli lalu bertanya.
“Kalian dari mana?”
“Kota. Nemanin Dimas beli peluru. Terus ketemu mereka berdua, habis itu bareng dah.”
Dimas mengangguk setuju. Itu berarti mereka berdua tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang disebabkan Syah.
“Pembelaan terdakwa, bagaimana?”
Aku bertanya kepada Syah sambil mengarah ke piring penuh dengan kue kering itu dan mengambil satu untuk menikmatinya.
“Saya? Saya tidak melakukan apapun! Saya hanya\-…”
“Berhenti dulu!”
Aku memotong pembelaan Syah dan kembali mengambil satu kue lagi lalu melanjutkan apapun yang sedang kulakukan saat ini
__ADS_1
“Anda sopan kami curiga!.Jangan\-jangan anda Impostor! Ngaku anda!”
Seisi ruangan terdengar suara-suara tawa kecil. Bahkan terlihat di sana Puteri sampai tersedak saat menelan kue yang ada di mulutnya.
“Minum! Minum dulu!”
Luna memberikan segelas air kepada Puteri dengan sedikit menahan tawa. Bahkan Syah sendiri juga ikut tertawa. Sebenarnya, begitupun denganku.
“Seriusan aku gak ngapa\-ngapain cuy!”
Syah kembali menggunakan aksen yang biasa dia gunakan.
“Justru itu yang jadi masalah cuy! Kamu gak ngapa\-ngapain! Itu masalahnya!”
Aku sedikit meninggikan suara. Syah selalu seperti itu jika diajak bermain bersama. Dia benar-benar tidak melakukan apapun. Aku tahu karena aku juga pernah bermain dengannya dulu.
“Syah, memangnya pas main bareng teman, kerjamu apa sih? Masa iya Cuma diam aja.”
Dimas ikut ambil bagian dalam interogasi ini. Begitu juga dengan Fadli setelahnya.
“Kalau main bareng ya kerja sama, Syah. Jangan malah diam gak ngapa\-ngapain.”
Dengan kami bertiga melakukan introgasi, dia masih ingin membela dirinya.
“Kan aku baik… jadi aku gak nyerang musuhnya. Salah, yah?”
Aku menggelengkan kepala sambil melipat kedua tanganku di depan dada dan berbalik ke arah kue yang masih ada.
“Wah… udah cuy. Dia sama persis dah pas main sama aku!”
Aku mengambil kue ketigaku dan memasukkannya ke dalam mulut. Apa yang Syah lakukan pada Fajar mirip dengan apa yang dia lakukan padaku dulu.
“Oi, Reiga, emang dia pernah gimana pas main sama kamu?”
Aku menjawab pertanyaan Fadli setelah menelan kue yang ada di dalam mulutku.
“Persis dah cuy. Dia pas ada musuh benar\-benar gak ngapa\-ngapain. Disuruh ngelempar molotov ke musuh malah ke aku! Aku mati kebakar cuy!!”
Pelaku yang dibicarakan hanya berdiri tegak dengan senyuman sok polos dan tidak bersalah miliknya.
“Ya itu… kan sudah kubilang. Aku baik…”
Aku menatap tajam ke arah Syah setelah dia mengatakan hal itu tanpa merasa bersalah sama sekali. Aku mengambil langkah-langkah kecil ke arahnya dengan tangan yang meraih FN-57 yang berada di holster.
“Ha? Apa kau bilang? Baik?! Hah?!!”
Aku mengeluarkan senjataku dari holster dan mengokangnya, namun Dimas menahanku dari belakang, sedangkan Fadli mencoba untuk menahan tanganku agar tidak dapat membidik kepala orang yang berada di hadapanku ini.
“Sabar oi, Reiga!”
“Tahan emosi cuy!”
“Lepas! Beban dia itu! Pengen kutembak muka sok polosnya itu!!!”
Ditengah masalah yang terjadi, pintu depan kembali terbuka dan seorang pemain masuk. Bisa dikatakan, dia adalah salah satu anggota terhebat yang kami miliki. Dengan stamina yang tidak sedikit dan pengalaman bertarung yang sungguhan. IGNnya adalah Watuk.
“Mantap…! Farming seharian dapat dua juta credit! … Hm? Ada apa boy?”
Dia melihat ke arah kami, dan aku menjawabnya.
“Bang Sema? Bukan apa\-apa. Biasa… si Syah nyari masalah.”
Aku menunjuk pemain yang masih berdiri dengan wajah sok polos yang sangat ingin kutembak tepat di senyumannya itu.
“Ohh…! Sudahlah jangan basa\-basi. Tuhan menciptakan sepasang tangan dan kaki. Jangan banyak bicara langsung baku hantam aja. Aku mau logout.”
Tepat setelah mengatakan itu dia keluar dari permainan tepat di hadapan kami tanpa kembali ke kasurnya terlebih dahulu. Sedangkan kami hanya terdia kebingungan.
__ADS_1
Dan pada akhirnya malam itupun tidak terjadi sesuatu yang khusus selain masalah yang ditimbulkan satu orang dan berakhir dengan ketidaktentuan dari setiap pemain yang ada.