
Setelah menemani Dimas mencoba senjata baru yang dia dapatkan tadi malam, kami berencana untuk segera kembali ke markas melalui jalan teraman yang dapat kami temukan sembari menghindari pemain lain dan monster.
Dalam perjalanan ke kota S36, tentunya kami berbicara satu sama lain. Lagipula, katakan saja aku sudah mengenal hampir semua member klan yang kubuat sendiri selama lebih dari satu tahun. Yah, meski hanya daring.
“Oya cuy, peluru AWMnya dapat dari mana? Atau beli?”
Aku menanyakan hal itu karena setahuku tadi malam dia hanya menemukan senjatanya saja tanpa persediaan amunisi apapun.
“Ah, iya, beli. Di S1 banyak BS yang bisa bikin. Lagian harganya juga lumayan murah. Sekitar seratus ribu kredit per dua puluh lima peluru AWM.”
BS, sebuah sebutan untuk para pemain yang memilih pekerjaan untuk menciptakan atau membuat barang sesuai kebutuhan pemain lain. Yah, itu juga sebenarnya hanyalah singkatan dari kata Black Smith, yaitu pandai besi.
“Weh, masih masuk murah tuh. Kalau aku yang beli mungkin bakal bisa lebih murah. Oya, Winchester atau Lapua?”
“Hm… Lapua kalau gak salah. 338 Lapua Magnum.”
Yang kutanyakan adalah jenis peluru yang digunakan AWM. AWM memiliki dua jenis peluru, 300 Winchester Magnum dan 338 Lapua Magnum. Jujur saja, aku hanya mengetahui sampai sejauh itu. Tapi kurasa masing-masing peluru memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.
“Kenapa gak nyoba pakai RF aja Rei?”
“RF, kah? Emh… aku kurang bisa. Lagipula perawatannya susah kalau RF. Aku lebih suka AR sama HG sih. Perawatannya lebih mudah.”
“Iya juga sih…”
Terdapat 6 jenis kategori senjata umum yang sering dipakai oleh pemain, yaitu HG, SMG, AR, RF, dan LMG. Selain itu, maka senjata itu jarang digunakan oleh pemain. Contohnya seperti tipe MG yang beratnya luar biasa atau bahkan hanya dapat digunakan di satu tempat dan sulit untuk dipindahkan apalagi dibawa, atau tipe GL, yang merupakan kategori senjata-senjata yang dapat melontarkan peledak seperti RPG dan MGL.
Tentu saja, tidak hanya jenis senjata api saja yang ada di dalam Cluster World ini. Hampir semua senjata yang ada di sunia nyata dapat diciptakan di dunia ini. Mau itu pedang, tombak, busur, dan yang lainnya. Hal ini juga berlaku untuk kendaraan.
Meski begitu, ada satu hal yang sangat mencolok antara senjata api dan senjata tajam yang ada di dunia ini, yaitu status senjata. Senjata api tidak memiliki fitur status ataupun sistem bantuan untuk membidik, melainkan kemampuan asli dari pemain. Sedangkan untuk senjata tajam memiliki atribut status di dalamnya, seperti kekuatan, kecepatan, dan efek lainnya.
Katakan saja untuk jenis senjata tajam akan lebih baik jika tempaan sendiri atau buatan pemain dengan pekerjaan BS karena dapat mengeluarkan potensi sesuai dengan kemampuan pemain. Dalam beberapa kasus, BS dengan level tinggi dapat mengisi atribut status senjata tajam sesuai dengan keinginan penciptanya. Tapi tetap saja ada batasnya.
Setelah beberapa saat, kami mencapai kota dan langsung menuju tengah kota untuk berpindah sektor.
“Oya Rei, kamu duluan aja ke markas. Aku mau ke S1 lagi. Pacarku mau ikut main, jadi mau nemanin dulu.”
“Hehh… okelah! Gak diajak masuk klan?”
“Sudah kuajak, tapi dianya gak mau. Jadi, yaahhh…”
“Iya iya. Yaudah aku ke S51 duluan. Mau naruh barang. Si Lazy ada mesan barang soalnya. Habis itu ke tempat teman.”
Kamipun pergi ke sector yang dituju masing-masing. Dalam sekejap aku mencapai wilayah aman sektor 51 dan segera menuju ke markas yang tentunya berada di luar wilayah aman. Sesampainya di dalam markas, aku melihat dua orang yang baru saja keluar dari ruang penyimpanan.
“Oh, kalian aktif? Kupikir cuman aku sama Dimas yang daring.”
Mereka berdua bernama Fajar dan Syah. Sama sepertiku, mereka menggunakan nama asli dalam permainan ini. Untuk Dimas, IGN dia sebenarnya Zatfley, tapi aku lebih nyaman memanggil nama aslinya.
“Iya. Ini si Syah nggajak mabar untuk nyari kredit katanya.”
“Bilang aja pengen ngebunuh pemain lain supaya dapat kredit sama itemnya!”
“Hehehe.”
Fajar tertawa kecil mendengar apa yang kukatakan. Yah, itu adalah salah satu cara untuk mendapatkan kredit di dunia ini selain dari pekerjaan pemain, ataupun bisnis seperti BS. Bisa dibilang, ini merupakan cara paling cepat jika beruntung. Kekurangan dari cara ini adalah, jika menemukan pemain dengan kemampuan yang lebih tinggi dari diri sendiri. Bukannya mendapatkan keuntungan, justru akan kehilangan segala yang dibawa.
“Kamu dari mana Rei?”
Syah bertanya padaku.
“Hm? Dari… beli\- eh bukan. Ngambil barang pesanan Lazy.”
“Barang apa?”
__ADS_1
“3D printer. Ini mau naruh di ruang penyimpanan.”
Aku mulai berjalan dan merekapun tidak mengatakan apapun, tapi mengikutiku masuk ke dalam ruang penyimpanan. Terdapat beberapa lemari dan meja kayu yang tersusun rapi di sana. Di masing-masing lemari terdapat kotak-kotak yang menajdi tempat penyimpanan pribadi setiap anggota klan ini.
Setelah mengeluarkan barang itu dari inventaris, aku meletakkannya di atas salah satu meja kosong di sana. Yah, aku tidak mengerti cara penggunaannya, jadi kuletakkan saja di sini, sisanya biar Lazy yang mengurus.
“Itu buat apa memangnya?”
Mendengar pertanyaan Fajar akupun menjawabnya sejauh yang kutahu.
“Emh… intinya bisa ngebuat barang sesuai blueprint. Cara kerjanya sih aku kurang paham. Bukannya kalian mau keluar yak?”
“Ah, iya. Mau ikut gak?”
Dengan cepat aku menolak ajakan Syah.
“Gak! Pokoknya gak! Aku masih ingat pas kita bertiga terakhir main ama si Syah!”
“Astaga masih ingat aja, hahaha.”
Fajar tertawa meski aku mengerutkan kening. Sedangkan orang yang dibicarakan memasang senyum sok polos di wajahnya. Terakhir kami bertiga bermain bersama merupakan kekalahan yang tidak akan pernah kulupakan selama bermain Cluster World.
“Yaudah kami berangkat yak. By the way cuy, kamu dicari Zia sama dua member baru itu tadi. Coba Tanya lewat chat klan.”
Setelah mengatakan itu mereka berdua mulai berjalan meninggalkan ruangan dan pergi.
“Member baru? Apa maksudnya Fadli sama Novan?”
Aku membuka fitur chat klan dan ternyata mereka sedaritadi sudah menanyakan tentang keberadaanku. Aku tidak menyadari notifikasi apapun dari tadi. Selain untuk menanyakan keberadaanku, mereka mengajak untuk bermain bersama. Yah, untuk sekarang aku mengirim chat yang menolak ajakan mereka karena ada hal yang ingin kulakukan di sektor ini.
Aku mengambil kotak penyimpanan milikku dari salah satu lemari yang ada. Setelah membukanya, aku hanya mengambil sebuah koin berwarna hitam dengan lambang tengkorak dan ular di masing-masing sisinya, kemudian meletakkan kembali kotak tersebut ke lemari yang sebelumnya dan pergi meninggalkan markas, menuju kembali ke kota bagian perbelanjaan.
Tempat yang kudatangi adalah sebuah toko dengan armor kulit dipajang di setiap sisi ruangan. Sebuah tempat yang tidak nyama untuk dilihat sebenarnya. Tanpa berlama-lama aku berjalan ke arah seseorang yang sedang berdiri di belakang meja resepsionis dan terlihat seperti seorang penjaga toko ini. Dia seorang perempuan.
Aku hanya memberikan koin hitam yang tadi kubawa tanpa mengatakan apapun. Dia melihatku untuk beberapa saat, kemudian memintaku untuk mengikutinya. Akupun mengikutinya tanpa bertanya apapun. Dia mengajakku ke sebuah ruang ganti yang sempit. Ruangan ini sedikit sempit untuk dua orang, tapi itu bukanlah tujuanku datang ke tempat ini.
Perempuan itu menarik sebuah tuas yang berada di kanan ruangan dan terlihat seperti gantungan baju. Kemudian secara perlahan, lantai pijakan ruang ganti itu bergerak menuju ke bawah layaknya elevator. Tidak membutuhkan waktu lama, kami sampai di sebuah ruang bawah tanah dengan warna hampir keseluruhan putih dan alat-alat yang tidak kupahami ada di segala tempat.
Sesaat setelah aku melangkahkan kaki keluar dari elevator, perempuan itu tetap berada di dalam dan sekali lagi lantainya bergerak dan sekarang menuju ke atas. Yah, aku tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap berjalan lurus sambil melihat ke segala sisi.
Aku melihat seseorang sedang mengerjakan sesuatu di atas mejanya. Apa dia sedang menulis? Setelah berada tepat di depan mejanya, aku dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dia kerjakan. Dia sedang membuat blueprint sebuah senjata yang terlihat seperti pedang.
“Apa itu, cak?”
“AHH!!!”
Aku bertanya dengan pelan, tapi itu membuatnya sedikit terkejut sampai alat tulis yang dipegangnya jatuh. Bukankah dia terlalu fokus sampai tidak menyadariku?!
“Ah, Ega. Maaf aku gak sadar.”
Dia membungkukkan tubuh untuk mengambil alat tulis yang tadi dijatuhkannya.
“Gak masalah. Eh\- jangan pakai panggilan “Ega” napa?! Malu tahu!”
Aku sedikit meninggikan suara karena dia memanggilku begitu. Itu panggilan yang biasa digunakan oleh orang tuaku saat di rumah, tapi dia justru menggunakan panggilan itu padaku saat mengetahuinya.
“Ngapain malu? Toh di sini gak ada orang lain.”
Yah, itu ada benarnya. Tapi tetap saja!
“Ya iya sih. Ngomong\-ngomong, gak biasanya di sini sepi. Ada apa?”
“Ah, kuliburkan hari ini.”
“Hee…”
Biar kuperkenalkan. Namanya Ilham, IGN dia MONYET saat berada di dalam permainan. Entah kenapa dia memilih nama itu. Yah, itu urusannya. Dia adalah pemilik tempat ini, memperkerjakan lebih dari 20 orang dengan pekerjaan BS, dia juga seorang BS dengan level tinggi. Aku mengenalnya di dunia nyata dan kamipun seumuran, meski dia sedikiit lebih tua dariku.
“Datang ke sini buat melihat pesananmu?”
__ADS_1
“Iya.”
Sambil mengangguk setuju aku melihat dia membuka inventarinya dan menarik sebuah tongkat kemudian memberikannya padaku.
“Desainnya sesuai yang kamu minta. Panjang 170cm tidak termasuk mata pisau, diameter 2,5cm, stabil, ringan, terbuat dari kayu ulin terbaik.”
Aku sedikit mengayunkan dan memutar-mutar tongkat kayu itu. Rasanya sangat pas dan permukaannya halus. Setelah merasa puas aku meletakkannya kembali di atas mejanya.
“Emh! Itu bagus. Rasanya sangat nyaman! Untuk jenis besi mata pisaunya…”
“Gimana kalau baja D2? Bentuknya bakal kusesuaikan supaya gak mengganggu mobilitasnya. Juga bakal kutambahkan gagang yang nyaman nantinya.”
“Aah… oke! Tolong, ya! Untuk status, isikan 100% PP juga cukup.”
“Gampang! Tapi aku kekurangan bahan untuk inti tombaknya. Untuk akan mengeluarkan potensi terbaik setiap senjata tajam, inti itu dibutuhkan. Chrome bagus untuk dijadikan inti, tapi bakal lebih bagus lagi Chrome Ingot.”
Chrome? Barang yang dijatuhkan bos monster sektor 20 kalau tidak salah. Respawn bos monster hanya terjadi sebulan sekali. Sedangkan setahuku bulan ini sudah ada yang mengalahkannya.
“Dari sektor 20, ya? Bukannya sudah ada yang mengalahkannya? Harus nunggu bulan depan. Selain itu untuk mengalahkan bos monster butuh pemain yang banyak.”
“Tidak juga. Kau hanya perlu mengalahkan orang\-orang yang mengalahkannya. Aku tahu keahlianmu, Ega!”
“…owh.”
Yah, dengan cara itu mungkin bisa saja. Mencari keberadaan mereka kurasa bukanlah hal yang sulit. Ada sebuah batu di S1 yang bernama Hero Stone dan memunculkan nama dan lokasi mereka tinggal setiap orang yang mengalahkan bos setiap bulannya. Yang menjadi masalah adalah siapa yang mendapatkan barag itu. Karena tidak mungkin setiap orang akan mendapatkan barang yang sama.
Saat aku memikirkan itu, Ilham berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah gulungan dari sebuah lemari di sana dan kembali padaku sembari menunjukkan benda apa itu. Terlihat jelas itu sebuah peta daerah. Dan dari apa yang kulihat di ujung kanan lembaran itu bertuliskan S20. Apa ini peta keseluruhan S20?
Sama seperti peta pada biasanya. Warna dapat mewakili tinggi atau rendahnya suatu daerah di tempat aslinya. Dan yang terlihat di peta ini, terlihat jelas jika S20 kebanyakan memiliki dataran rendah.
“Sebenarnya yang mengalahkan bos S20 itu satu klan. Kalau tidak salah, markas mereka ada di sekitar sini.”
Dia menunjuk sebuah titik di luar wilayah aman. Jika itu berada di luar wilayah aman, kurasa tidak akan ada masalah. Hanya saja, yang ditunjuknya adalah sebuah dataran tinggi dengan kedua sisinya dataran rendah. Terlihat perubahan warna yang sangat kontras.
“Ini… daerah tebing?”
“Iya. Sampai tiga hari lalu, jumlah anggota mereka masih 34 orang. Mungkin ada perubahan hari ini. Apa kau bisa?”
Hmm… jumlahnya bukanlah masalah. Hanya saja aku memerlukan benda yang dapat digunakan untuk memanjat. Karena tidak mungkin untukku melewati pintu depan markas mereka. Kalau begitu hanya antara melewati sisi samping atau belakangnya saja. Yah, kurasa aku memiliki benda yang pas untuk situasi ini di inventarisku sekarang.
“Kurasa bisa. Sekarang juga bisa, tapi aku butuh senjata.”
“Itu yang mau kudengar. Berapa banyak?”
“Banyak.”
Dia tersenyum, kemudian menarik laci meja dan menekan sebuah tombol yang berada di dalamnya. Dalam sesaat, seisi sisi ruangan putih tersebut terbalik dan banyak sekali senjata terpajang. Dari senjata api senjata tajam, bahkan alat peledak.
“Kau punya segala yang kau butuhkan di sini. Untuk tombakmu, ada yang perlu kutambahkan selagi kau pergi?”
Aku berhenti untuk memikirkannya sejenak selagi dia mencatat apa yang kuminta. Ini senjataku untuk pertarungan jarak dekat. Mungkin akan lebih baik jika ada yang bisa dijadikan senjata pendukung. Karena ini adalah tombak, maka aku membutuhkan sesuai yg kecil dan cepat. Jika menggunakan HG mungkin bisa tapi kurang efektif. Kalau begitu…
“Bisa buatkan pisau lempar yang taktikal? Kurasa akan cocok.”
“Tactical throwing knife? Bisa! Untuk tombak, selain yang tadi, ada yang mau dimbahin lagi?”
“Hmm… apa yah…”
‘Kurasa untuk sekarang sudah cukup. Jika terpikirkan sesuatu yang lain aku hanya tinggal menghubunginya saja.’
Seketika mataku tertarik pada blueprint yang tadi dia kerjakan dan terpikirkan sesuatu.
__ADS_1
“Kalau begitu… Morpher!”