
Dengkuran yang terdengar jelas, kilatan cahaya senter yang memantul, dan informasi yang muncul di alat yang kupegang. Semuanya menjadi sangat jelas. Kurasa dia sedang tidur.
Aku memberikan tanda kepada mereka semua untuk menunduk, menurunkan senter, dan untuk tidak bersuara terlalu keras.
“Ssssstt!”
Aku menggerakkan bibirku seperti mengucapkan “naga” tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sambil menunjuk ke arah pantulan cahaya senterku.
Kemudian aku mencoba untuk menyenter ke arah tempat kami turun. Karena di sana masih merupakan sarang semut, kurasa tidak ada gunanya kami kembali. Selain itu persedian magazenku sudah menipis.
Aku memberikan tanda dengan menggerakkan tanganku agar mereka menyusuri tempat ini secara menyeluruh untuk mencari jalan keluar tanpa membangunkan naga tersebut.
Sangat tidak memungkinkan untuk melawan seekor monster tipe Boss dengan peralatan seadanya dan jumlah pemain yang sangat sedikit. Selain itu kami sangat tidak diuntungkan karena tempat ini sangat gelap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah senter yang kami bawa.
Selagi aku berpencar dari yang lainnya, aku menyadari jika tempat ini dipenuhi dengan koin dan balok emas. Bayangkan saja berapa banyak kredit yang akan kudapatkan jika menjual semua ini.
“Yah, yasudahlah!”
Aku menghentikan pencarian dan memasukkan semua hal yang bisa kumasukkan ke dalam inventaris sebanyak yang kubisa. Dengan emas sebanyak ini aku tidak akan kesulitan untuk membeli senjata yang kunginkan dan memodifikasinya sesukaku.
Yah, meski begitu… di atas gunung harta ini, dia tertidur dengan lelap. Aku tidak berani untuk menyenter ke arahnya karena takut untuk membangunkannya.
Jujur saja ini pertama kalinya aku melihat monster Beast Level 5. Bahkan kebanyakan bos sektor saja hanyalah Beast Level 4.
Setelah selesai memasukkan emas sebanyak yang kubisa, aku mencoba untuk mencari jalan keluar lain sebelum akhirnya seseorang menyenter ke langit-langit sambil mematikan dan menyalakannya beberapa kali.
“Siapa itu?”
Aku mendekati arah cahaya senter itu dengan pikiran jika itu adalah tanda untuk berkumpul dengan mengambil jalan memutar. Benar saja, salah satu anggotaku sengaja memberikan sinyal. Dia adalah Lazy.
Untung saja anggota yang lain beranggapan sama denganku. Dengan begitu kami semua dapat berkumpul.
“Coba liat ini!”
Dia menyenter ke sebuah sudut di mana banyak sekali kerikil yang menumpuk sampai menjadi seperti bukit kecil. Di atasnya kami dapat melihat barang yang mengkilap karena pantulan cahaya dari senter.
“Bang, coba ikut bentar! Yang lain tetap jaga-jaga aja yah.”
Aku mengajak Bang Sema untuk menaiki kerikil-kerikil tersebut sampai saat kami berada di puncaknya, kami melihat tiga buah telur dengan warna yang berbeda. Hijau tua, merah gelap, dan biru muda yang terlihat seperti es.
“Telur, yah?”
Aku tidak menanggapi Bang Sema dan melihat ke arah sisi gelap di mana naga tersebut tertidur.
“Dia betina, yah?”
Aku kembali melihat ke arah ketiga telur tersebut dengan sangat kebingungan namun sekaligus memikirkan hal yang benar-benar gila.
“Bang, kamu bisa manjat talinya sendirian? Keluar dari sarang, terus coba lari ke kabin. Secepat mungkin.”
Dia melihat ke arahku yang tersenyum lebar dengan keringat dingin di seluruh tubuh dan menyadari maksudku menanyakan hal tersebut.
“Boi… kamu sudah gak waras yah?!”
“Kita semua udah gak waras pas nerima Quest Bintang Empat cuman bersebelas doang.”
Seketika dia melukis senyum yang sama sepertiku dengan rasa tertantang yang hebat.
“Menarik…”
“Coba suruh yang lainnya untuk titip barang-barang berharga mereka ke kamu dulu, kecuali C4. Terus naik lagi.”
“Oke!”
Sambil menunggu Bang Sema kembali ke atas, aku melihat ke arah telur-telur itu dengan tatapan bersemangat. Aku meminta Bang Sema untuk meminta mereka menitipkan barang-barang mereka padanya hanyalah untuk persiapan.
Tidak ada yang tahu apabila kami menyentuh telur-telur tersebut. Bisa saja ada jebakan, atau yang lebih buruk, sistem bisa saja membangunkan si naga, bukan?
Beberapa saat kemudian Bang Sema kembali mendaki ke atas dan mengatakan jika mereka sudah menitipkan apa yang menurut mereka berharga. Aku juga memberikan barang-barangku seperti senjata yang sangat kusayang seperti AR-15 dan semua Kreditku.
Jujur saja aku hanya menyisakan senter yang kupegang sebagai sumber pencahayaan.
“Sudah siap, Bang? Sesampainya di kabin, ledakkan semua C4 pakai detonatornya. Sebisa mungkin kami bakal nahan naganya.”
Yah, ke depannya kami hanya perlu berimprovisasi karena kejadian ini sama sekali diluar rencana.
“Bentar! … Ini ambil!”
Dia memberikan lima buah barang berwarna merah dengan bentuk silinder.
“Ini… suar?”
“Untuk narik perhatiannya. Kuharap bisa sih.”
“Makasih!”
Aku mengambil dan memasukkan kelimanya ke dalam salah satu kantong kosong yang berada di holster pinggangku.
Bang Sema membuka inventaris dengan tangan kiri dan tangan lainnya bersiap menggapai telur-telur tersebut. Dia terlihat mengambil nafas dalam sebelum akhirnya memasukkan ketiga telur tersebut ke dalam inventaris dan segera berlari ke arah tali tempat kami turun.
...[Maga Antu’s eggs has been stolen]...
...[00:00:59 before Maga Antu woke up]...
Pemberitahuan tiba-tiba muncul di hadapan kami semua yang berada di dalam tempat ini. aku tahu karena dapat melihat mereka yang berada di bawah terlihat panik.
Aku menuruni kerikil-kerikil tersebut dengan santai menuju ke arah mereka selagi melihat ke arah Bang Sema yang sudah mulai menaiki tali untuk mencapai atas sambil menggunakan mulutnya untuk menahan senter yang dibawanya.
“Oi, cuy…?! Kenapa Bang Sema naik sendirian?!”
__ADS_1
Meski mendengar pertanyaan Dimas, aku memasang wajah yang sama seperti sebelumnya. Hanya saja keringat dingin yang keluar semakin banyak.
“Artefaknya bisa kita tunda. Prioritas kita sekarang itu nahan naganya semampu kita sampai piala aman!”
“Piala?! Kak Rei, bukannya yang dibawa Kak Sema itu telur yah?!”
“Iya.”
Aku menjawab Puteri sambil melihat ke arahnya.
“Terlebih, ada tiga telur.”
Lanjutku sambil mengeluarkan salah satu suar yang tadi diberikan Bang Sema dan menyalakannya.
...[00:00:11 before Maga Antu woke up]...
“Kalian sudah nitip barang ke Bang Sema, kan? Harusnya sudah gak masalah. Lagian, ini cuma permainan. Aku punya satu perintah … Matilah!”
Aku mengangkat suar tersebut di atas kepala sambil melihat ke arah mereka dengan tatapan serius.
...[00:00:00 before Maga Antu woke up]...
Kilatan cahaya merah seketika terlihat seperti terbuka. Kemudian tempat berpijak kami mulai terasa bergetar bersamaan dengan cahaya merah tersebut terlihat menjadi semakin tinggi.
Saat aku melempar suar ke arah cahaya merah tersebut, aku menyadari jika itu adalah mata dari Maga Antu. Saat itu juga aku menyadari betapa besarnya monster yang ada di hadapan kami tersebut.
“Ah, dia jauh lebih besar dari dugaanku.”
Saat Maga Antu memamerkan taringnya, aku membeku hanya karena melihat ukuran dari salah satu taringnya setara dengan orang dewasa. Tapi jika begini kami tidak dapat memberikan cukup waktu untuk Bang Sema melarikan diri.
“Untuk semua yang masih punya C4, sebarkan di sekitar dia!!!”
Hanya membutuhkan satu kalimat, sebelum akhirnya mereka semua berlari memutar sambil membuka inventaris untuk mengeluarkan semua C4 yang mereka miliki. Meninggalkanku dan Fadli yang terus diawasi oleh mata yang sangat mengintimidasi tersebut.
“Kalau gitu, Rei. Aku duluan ke kabin. Mau dibuatin apa?”
“Ah, tolong teh aja deh.”
Aku menjawab pertanyaan Fadli dengan sangat santai seolah tidak akan terjadi apapun. Sebelum dia mulai berlari tepat ke depan Maga Antu sambil mengatakan “Oke!” dengan sangat jelas.
Aku berdiam diri sambil melihat mereka semua sembari menyalakan suar kedua. Aku melihat Dimas, Zia, Haqqi, dan Rei memutar dari sisi kanan sambil melempar C4. Sedangkan Novan, Putri, Lazy, dan Syah dari sisi sebaliknya.
Saat Maga Antu menyadari Fadli yang sedang berlari tepat ke arahnya, kepalanya turun dengan cepat dan menggigit Fadli seutuhnya. Tentu tubuh pemain yang mati akan segera hilang.
“Dia… cepat, yah. Meski ukurannya raksasa.”
Maga Antu meraung dengan sangat keras. Benar-benar sangat keras sampai menggetarkan sekitar dan bahkan aku melihat beberapa anggota yang terlalu dekat dengannya mati seketika. Aku mencoba untuk menutup telingaku, tapi sepertinya percuma.
Pada akhirnya mereka semua yang berlari di sekitar Maga Antu mulai terjatuh dan menghilang satu persatu dan menyisakan ku seorang bersama dengan naga raksasa itu.
Aku dapat selamat karena jarakku dengannya. Tapi tetap saja, kondisiku seketika tuli dan tidak dapat berdiri dengan ditambah kepalaku terasa sangat sakit sampai merasa ingin pecah.
Disaat aku tidak dapat bergerak, kepalanya menuju ke arahku sampai berada tepat di hadapanku. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa yang bahkan ini adalah kali pertama aku merasakannya.
Ada cairan yang terus keluar dari sela taring-taringnya. Itu bukanlah saliva, tapi sesuatu yang memiliki aroma seperti minyak tanah. Tanpa berpikir panjang aku melempar suar yang kupegang ke arah mulutnya.
Saat suar yang kulempar bersentuhan dengan cairan tersebut, api segera merambat ke dalam mulutnya dan membakar bagian dalamnya. Tapi dia terlihat seperti tidak merasakan apapun bahkan saat bagian dalam mulutnya terlihat terbakar.
Dia membuka kedua rahangnya dan aku dapat melihat pusaran api di dalamnya. Akupun sadar jika makhluk ini tidak dapat dilukai dari dalam maupun luar.
“Ah… ahaha! Sepertinya kau bukanlah bos yang mudah untuk dikalahkan, yah…”
Dia menyemburkan api yang seketika membuat tubuhku menjadi abu dan kembali ke kabin.
***
Saat aku membuka mata, yang kulihat adalah pemandangan kamar kabin yang terbuat dari kayu dengan gaya klasik di mana-mana. Di sana juga terlihat anggota laki-laki yang lain, kecuali Fadli dan Bang Sema.
“Selamat datang.”
Novan menyambutku dengan nada lucu, tapi aku mengabaikannya.
“Ayo keluar!”
Aku segera berlari ke luar ruangan dan melihat Fadli yang sedang memanaskan air.
“Oi, Fad, ngapain?”
“Um… teh?”
“Astaga beneran mau buat?! Keluar! Semuanya keluar!!”
Aku berlari ke luar kabin dan mencoba untuk melihat ke arah sarang berada. Terlihat dari kejauhan Bang Sema sedang berlari sekuat tenaga ke arah kabin. Aku mencoba mengayunkan tangan ke arahnya sambil berteriak.
“Baaaang!!! Detonator!!! Ledakiiiin!!!”
Aku dapat melihat dia membuka inventaris sambil berlari dan mengeluarkan detonator sebelum akhirnya mengaktifkan detonator tersebut.
Tanah kami berpijak bergetar dengan luar biasa. Bahkan dari kejauhan, kami semua dapat melihat efek ledakannya yang membuat pasir-pasir disana terlempar tinggi sampai seperti sebuah pilar pasir raksasa.
“Sekarang, gimana cara kita ngambil bagian ratu?”
Sesaat aku ingin menjawab pertanyaan Syah, dari arah asal ledakan tersebut keluar semut-semut yang tidak terhitung jumlahnya. Begitu juga sebuah longsor besar yang terlihat masuk ke dalam sebuah lubang raksasa.
Kami semua tidak dapat berkata apapun setelah melihat sesuatu berukuran raksasa yang mecoba untuk terbang dari kedalaman lubang tersebut.
“Gak mungkin dia masih hidup!!!”
__ADS_1
“Dia abadi atau gimana woe?!!”
Aku sendiri tidak dapat menanggapi respon Zia dan Lazy melihat makhluk tersebut mengepakkan sayap lalu mendarat di atas reruntuhan sarang semut dan membakar semua semut yang keluar.
“Maga… Antu…?”
Setelah Bang Sema mencapai tempat kami, aku menyuruhnya beristirahat sementara sembari kami melihat naga tersebut membakar setiap semut yang ada. Sebelum akhirnya dia memasukkan kepalanya ke dalam pasir dan menarik seekor semut berukuran raksasa dengan rahangnya.
Kami semua pun sadar jika itu adalah sang ratu. Namun dia memakannya, kemudian kembali membakar sisa semut yang ada.
“Mustahil ngelawan dia. Tingginya aja mungkin lebih dari 15 meter.”
Aku mengangguk setuju mendengar Bang Sema. Sekarang kami hanya memiliki ketiga telur yang kami curi dari sarang Maga Antu. Tapi bukan berarti tidak ada bekas dari ratu semut untuk dibawa pulang.
Para semut yang masih hidup mencoba untuk melawan dengan mengerubungi naga raksasa tersebut di tubuhnya. Namun entah kenapa kami melihat seluruh tubuhnya seketika memerah, lalu sepenuhnya terbakar dan membunuh semua semut yang ada di tubuhnya.
“Wah gak bisa! Dia gak bisa dikalahin itu!”
Tepat setelah aku mengatakan itu, dia melihat ke arah kami dengan tubuh yang masih membara.
...[Main Quest to all player has appear]...
...[Defeat Ancient Serpent, (Maga Antu) before reach (City of Sand) in Sector 73]...
“EH?! Quest utama?!”
Aku melihat ke arah yang lain dan terlihat mereka mendapatkan pemberitahuan yang sama. Sampai saat ini tidak pernah ada sesuatu seperti Main Quest. Tidak pernah, sampai hari ini.
Suara kepakan sayap raksasa mulai terdengar. Tentu mata kami hanya tertuju pada satu titik. Melihat Maga Antu yang mulai terbang ke arah kami dengan tubuhnya yang masih membara jauh mengintimidasi jika dibandingkan dengan sebelumnya.
“SEMUANYA MASUK KE DALAM HUMVEE!!!”
Dengan panik kami semua mencoba untuk masuk ke dalam Humvee dengan saling mendorong satu-sama lain. Untungnya naga tersebut tidak mendarat di dekat kami, melainkan terus terbang ke arah Barat Laut.
Meski begitu, saat dia melewati kamipun, humvee yang kami tumpangi cukup terbawa angin. Bahkan membakar habis kabin kami yang terbuat dari kayu hanya dengan caranya terbang.
...[00:09:47 before (Maga Antu) reach (City of Sand)]...
“Kak Rei, kayaknya kita sudah ngebawa malapetaka deh…!”
Aku menanggapi Putri yang kebetulan ada di dalam kendaraan yang sama denganku.
“Bukan kita yang ngebawa. Tapi dia itu sendirilah malapetakanya … Ah!”
Aku sadar jika mungkin… semoga saja masih ada sisa-sisa dari ratu semut yang dapat kami bawa ke Sektor 1 dan menyelesaikan quest gila ini.
“Kita coba ke sarang mereka? Berharap masih ada sisa-sisa yang kita cari.”
Mereka semua hanya mengiyakan saran dariku. Yang ada di dalam kendaraan ini selain diriku adalah Putri, Bang Sema, Zia, dan Fadli sebagai supir. Untuk sisanya ada di kendaraan lain.
Sesampainya kami di tempat yang telah rata dengan api tersebut, hampir tidak ada apapun yang tersisa. Beberapa bagian pasir bahkan telah menjadi kaca dan menjelaskan betapa panasnya nafas api miiknya.
Jujur saja aku sedikit merasa iba pada para semut yang telat rata diantara pasir, kaca, dan api yang masih menyala. Seperti biasa, disaat semua harapan hampir sirna, selalu saja ada yang bisa menemukan keajaiban diantaranya.
“Oi, ini bukan?”
Kami mendekat ke arah Zia yang memanggil. Dia mengambil sebuah kaki semut yang sudah gosong terbakar dan tidak memiliki bentuk lagi.
“Coba, pinjam.”
Aku mengambil kaki tersebut dari tangan Zia dan memanggil Syah.
“Syah, masih ada alatnya?”
Aku meminta alat yang sama seperti saat melihat informasi semut dan Maga Antu. Karena kami tidak dapat menilai hanya dengan melihatnya. Terlebih sudah gosong seperti ini.
“Masih ada di Bang Sema.”
Bang Sema memberikan alat tersebut bahkan sebelum aku memintanya. Sebelum aku menggunakan alat tersebut, aku mematahkan kaki tersebut menjadi dua dan menggunakan salah satunya untuk melihat informasi.
Kami beruntung karena itu adalah milik sang ratu. Jujur saja, meski aku berharap untuk dapat menemukannya, tapi setelah melihat hal seperti tadi sangat sulit untuk percaya jika masih tersisa bagian tubuhnya.
“Hahh… kita beruntung. Untungnya, ini bagiannya si ratu.”
Aku menghela nafas panjang lega lalu melemparkan bagian yang tersisa pada Dimas dan memintanya untuk menyimpannya di dalam inventaris.
“Ayo kita pulang! Kita susul Maga Antu, balap, terus masuk ke kota.”
“Habis itu?”
Aku melihat ke arah Syah yang menanyakan hal itu dengan wajah serius.
“Tentu … kabur! Lagian habis ngeliat hal semacam tadi, yakin masih mau melawan dia?”
Dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Yah, aku sudah menduganya. Setelah itu kami memasuki humvee dengan anggota yang sama seperti saat kami datang ke sini.
.
.
.
...[00:03:01 before (Maga Antu) reach (City of Sand)]...
Pada akhirnya kami berhasil menyusul Maga Antu dan melihatnya terbang tinggi. Sadar dengan kesempatan dia tidak akan menyerang kami dari ketinggian tersebut, aku meminta Dimas dan Fadli untuk menambah kecepatan.
Saat mendekati gerbang kota, kami dapat melihat banyak- maksudku, benar-benar sangat banyak pemain lain yang sudah berkumpul. Dimas dan Fadli mengabaikan mereka dan menyalakan klakson berkali-kali untuk meminta mereka tidak menghalangi jalan.
Kamipun terpaksa memasuki kota dengan tetap menggunakan humvee sampai ke tengah kota dan akhirnya turun.
“Balik ke markas aja dulu. Kita gak bisa tetap diam di sini. Paham?”
Setelah Syah mengambil kembali humvee yang baru saja kami gunakan ke dalam inventarisnya, kami kembali ke Sektor 51 dan memutuskan untuk menunda menukarkan bagian tubuh ratu ke Sektor 1.
Yah, lagipula aku sama sekali belum keluar dari dalam Cluster Online sejak tadi malam. Dan benar saja, setelah kami mencapai markas dan aku keluar dari permainan, aku dimarahi dan diceramahi oleh ibuku.
__ADS_1
...End of [Arc. Killer Ants]...