Cluster Online : Great Tomb

Cluster Online : Great Tomb
Chapter 12 : Below Zero


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, pagi ini aku masuk ke dalam permainan Cluster Online tepat pada jam lima pagi dan melakukan persiapan untuk pergi ke Sektor yang bersalju. Sama halnya seperti Sektor 16 dan 36 yang pernah kudatangi.


Hanya saja aku tidak mendatangi kedua Sector tersebut dan memilih untuk mendatangi Sektor bersalju yang belum pernah kudatangi, contohnya seperti Sektor 66.


Tentu aku sudah meminta Zia untuk masuk ke dalam permainan pada jam yang sama. Tapi karena dia sudah melakukan persiapan sejak tadi malam, kurasa tidak akan masalah jika dia sedikit terlambat.


Setelah keluar dari kamar, kutarik kata-kataku tadi. Ternyata dia sudah masuk ke dalam permainan dan duduk di atas sofa sambil membuka inventarisnya.


“Eh, kupikir masih belum masuk.”


Dia melihat ke arahku sesaat aku mengatakan itu. Hanya saja dia tidak mengatakan apapun dan kembali melihat ke arah inventarisnya. Jelas, hanya kami berdua yang aktif karena masih terlalu pagi untuk anggota yang lain.


Karena hal itu aku hanya berjalan ke arah ruang penyimpanan untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan.


“Zi, kamu punya cetak biru kabin gak? Sama makanan untuk di sana.”


Aku sedikit meninggikan suara dari ruang penyimpanan untuk menanyakan hal tersebut padanya.


“Sudah kubawa semua. Kamu tinggal bawa yang mau kamu bawa aja. Semuanya sudah kusiapkan.”



“Ahh… yasudah.”


Aku hanya mengambil earpiece dan pergi dari ruang penyimpanan. Meski channel radio kami belum menyala karena Lazy ataupun LP belum masuk ke dalam permainan, setidaknya aku sudah meminta mereka melalui pesan WhatsApp.


Sesampainya di ruang utama aku memberikan Zia ozyline yang masih tersisa.


“Pakai tuh. Kalau sudah, kita berangkat.”



“Tunggu, telurnya?”


Aku mengeluarkan telur naga tersebut karena dia penasaran. Seketika dia mengambilnya dari tanganku dan memeluknya.


“Um… hati-hati! Jangan sampai pecah.”


Aku memperingatkannya karena dia terlihat memeluk telur tersebut dengan penuh semangat.


“Oya, Rei, aku gak punya baju yang tebal.”



“Yah, kan sudah ada pakai ozyline. Lagian kalau masih kedinginan… jadikan aku sebagai penghangatmu!”


Lagi-lagi aku tidak dapat mengontrol ekspresi yang sangat bersemangat. Maksudku, siapa yang tidak begitu jika kau harus pergi berduaan dengan seorang gadis seumuran terlebih di tempat yang tidak orang. Ini bukan salahku!


Tapi aku segera menghentikan itu saat dia mengangkat salah satu tangannya dan berniat menamparku.


“Becanda doang! Gak usah gitu juga!”



“Habisnya kamu gitu terus, Rei! Sudah tau aku punya tunangan!”


Yah, itu memang benar. Zia sudah memiliki tunangan. Tapi tetap saja!


“Yah, meski punya tunangan bukan berarti gak boleh selingkuh, kan?”


Sekali lagi dia mengangkat tangannya. Tapi kali ini terlihat seperti dia ingin memukul wajahku.


“Mulai…! Reiga mulai…!”



“Gak, Zi! Ampun! Dibilang cuma becanda doang.”



“Masalahnya, kamu kalau masalah mesum-mesum gitu kebanyakan serius!”


Aku hanya mengukir senyum polos di wajahku mendengar hal itu darinya.


Setelah itupun kami keluar dari markas dan pergi ke transporter yang berada di tengah kota untuk berpindah ke Sektor 66.

__ADS_1


Sesampainya di sana, hanya pemandangan kota yang baru kulihat. Karena ini pertama kalinya aku pergi ke Sektor 66, aku ingin memeriksa seluruh bagian kota. Hanya saja tidak ada waktu untuk hal tersebut.


“Ke arah mana nih, Rei?”



“Yah, meski ditanya, aku aja baru pertama kali ke sini. Mau beli peta dulu?”


Dia mengangguk setuju. Kami pun pergi menuju ke arah sosok yang berdiri di depan salah satu bangunan sambil membawa tas berukuran besar dan pakaian berbulu yang tebal. Saat kuperiksa, dia adalah salah satu NPC penjual di sini.


Karena hal itu kami dapat membeli peta Sektor dengan harga seribu kredit dengan mudah. Maksudku, karena kami tidak mengenal tempat ini, jelas kami tidak tahu lokasi-lokasi NPC di sini. Yang baru saja terjadi sungguh sebuah kebetulan saja.


Tidak lupa aku juga membeli sebuah dye berwarna putih. Mengingat pakaianku yang memiliki dominan warna hitam dan merah, kurasa ini hanya akan terlihat mencolok. Meski begitu dye hanya memiliki batas waktu 12 jam setelah digunakan. Setelah itu warna akan kembali seperti semula.


Aku hanya menggunakannya jika diperlukan saja dan bertahan dengan apa yang ada.


“Emh…”


Aku membuka peta yang baru saja kubeli dan memeriksa dataran-dataran yang digambarkan melalui warna di kertas lusuh tersebut. Peta tersebut hanya memberikan informasi dataran seluas 2.5km persegi.


“Kenapa gak beli peta yang lebih bagusan, sih? Malah beli peta yang murahan.”


Aku tidak memberikan respon yang berlebihan mendengar itu dari Zia setelah dia mencoba untuk melihat peta yang sedang kupegang.


“Yah, lagian cuman buat cek doang, kan? Akhirnya dibuang juga.”


Setelah beberapa saat melihat, aku dapat mengetahui jika arah barat dan selatan dari kota merupakan tempat dataran rendah, untuk bagian timur merupakan dataran yang landai, sedangkan utara terdapat pegunungan-pegunungan yang tinggi.


“Mau ke arah utara? Ada banyak pegunungan di sana, jadi mungkin bisa berpengaruh ke telurnya.”


Mendengar pernyataanku, Zia hanya mengiyakannya sembari terus memeluk telur naga sejak dari markas.


“Mau sampai kapan meluk telurnya? Kapan aku-…”



“Kalau kamu nanya kapan aku bakal meluk kamu, kali ini beneran bakal kupukul loh!”


Dia memotong pembicaraanku dan mengangkat kepalan tangan kanannya. Aku hanya dapat menutup mulut melihat itu.


“… gak jadi.”


Sesampainya di gerbang utara, segala yang ada di luarnya hanyalah salju sejauh mata memandang dengan pepohonan hijau dengan banyak bagian yang juga tertutup salju. Terlebih, salju sedang turun, hanya saja tidak memasuki wilayah kota.


“Ah…”


Aku melihat ke atas dan perbedaan kontras terjadi karena terdapat bagian yang sedang turun salju dan tidak. Benar-benar seperti batas yang tidak dapat ditembus.


Berbicara tentang batas kota, aku jadi teringat masalah Sektor 73 yang membuatku merasa bersalah. Meskipun begitu, aku tidak dapat melakukan apapun.


“Hahh… yuk, Zi.”


Aku mulai melangkah keluar dari gerbang kota dengan mengajak Zia.


“Mau jalan?”



“Eh?”


Aku berbalik dan melihat ke arahnya.


“Yah, mau pakai apa?”


Setelah menanyakan hal itu, dia membuka inventaris dan mengeluarkan sebuah kendaraan yang dapat dinaiki oleh dua orang.


“Snowmobile?! Beli di mana? Kapan?”


Aku terkejut melihat dia mengeluarkan kendaraan tersebut. Jadi itu sebabnya saat di markas tadi dia memintaku untuk membawa barang-barang yang ingin kubawa. Itu berarti dia sudah sangat siap.


“Tadi malam. Pas ngantar Dimas ngambil Artefaknya, aku beli sekalian. Banyak yang nemanin Dimas biar aman.”


Aku termenung mendengarnya. Aku tidak menyangka jika mereka memiliki niat sendiri untuk menemani Dimas meski aku sudah meminta Bang Sema dan Faisal untuk menemaninya.


“Ohh… aku tadi malam keluar duluan, jadi gak tau. Jadi, gimana Artefaknya si Dimas?”

__ADS_1


Aku menanyakan hal itu dengan penuh semangat. Maksudku, ini adalah Artefak! Barang yang bisa dibilang sangat kuat di dalam permainan ini. Aku sendiri bahkan tidak pernah melihat atau menyentuh satupun.


Karena benda tersebut sangat langka dan sulit untuk didapatkan. Karena sangat sulit, bahkan ada Klan terkenal yang tidak memilikinya. Sesulit itulah untuk mendapatkan sebuah Artefak. Bahkan kasus kami sampai mengorbankan Sektor 73 untuk mendapatkan salah satu.


“Itu sih rahasia. Tanya aja sama orangnya.”



“Eeeh…!”


Meski kecewa karena dia tidak memberiku satupun petunjuk, kurasa tidak akan ada masalah. Karena aku dapat bertemu dengan Dimas dan menanyakan tentang Artefaknya kapanpun setelah mengurus telur naga itu.


Aku menaiki snowmobile yang dikeluarkan Zia dan segera menyalakannya. Aku tidak pernah menggunakan kendaraan ini sebelumnya, tapi kurasa tidak akan berbeda jauh dari sepeda motor, bukan?


Benar saja, kendalinya tidak beda jauh dari sepeda motor dan kurasa aku dapat untuk mengendalikannya. Sudah kupastikan hal tersebut dan menyalakannya.


“Yok!”


Setelah Zia naik ke kursi belakang, aku menarik gasnya dengan perlahan sampai setengah dan kami pun mengarah tepat ke utara yang merupakan tempat pegunungan.


Setelah kurang lebih 15 menit sejak keberangkatan kami dari kota Sektor 66, kami dapat merasakan udara mulai menipis dan mulai sulit untuk bernafas. Sadar akan hal itu aku menghentikan snowmobile agar kami tidak pergi lebih jauh.


“Kita istirahat sebentar, Zi. Untuk membiasakan diri dulu, baru lanjut.”



“Ah, oke.”


Mengingat ozyline hanya ada untuk mengontrol suhu pakaian yang kami gunakan agar seimbang dan jika itu adalah masalah tubuh pengguna, ozyline tidak akan memberikan efek apapun.


Itu sebabnya aku memutuskan berhenti di sini sebelum semuanya terlambat. Cukup membiasakan sedikit saja, maka itu sudah cukup.


Setidaknya kami berhenti di tempat itu selama 30 menit, setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan. Meski begitu, kami melakukan cara ini sampai tiga kali sebelum akhirnya mendekati puncak salah satu gunung yang ada.


Cukup melelahkan untuk menaiki gunung sekalipun kami menggunakan kendaraan. Karena membutuhkan waktu untuk membiasakan diri di daerah pegunungan itu tidaklah mudah.


Kurasa kami sudah di ketinggian yang cukup. Tapi menemukan tempat yang cocok untuk membangun kabin cukup sulit karena tidak ada tempat landai yang dapat kami gunakan. Tapi setelah mencoba untuk mencari selama 15 menit ke depan, akhirnya kami menemukan tempat yang cukup landai.


“Di sini cukup?”


Aku menanyakan hal tersebut pada Zia yang tanpa kusadari tertidur dalam posisi bersandar di punggungku dan masih memeluk telur naga itu.


“Oi, Zi!”


Aku meninggikan suara dan akhirnya membuat Zia terbangun. Yah, jika cuaca seperti ini, kurasa jelas akan membuatmu tertidur. Tapi itu bukanlah tidur yang akan membuatmu sehat, melainkan sakit.


“Ah, maaf … apa?”



“…”


Kurasa memang sudah tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan.


“Yah, kurasa di sini cukup. Cetak biru kabinnya, Zi. Biar aku yang bawa telurnya.”


Setelah turun dari snowmobile, aku mengambil telur naga tersebut dari tangan Zia dan membiarkan Zia untuk mengeluarkan cetak biru dari kabin dan memasukkan bahan baku pembuatan yang membuat kabin tersebut selesai dengan cepat.


Tidak ingin berlama-lama di luar, aku mendorong punggung Zia untuk memberikan tanda agar dia masuk ke dalam kabin.


Kabin kali ini terlihat lebih biasa dari yang kami gunakan saat di padang pasir. Kali ini hanya memiliki satu lantai, perapian, dan beberapa kamar yang dapat digunakan. Beberapa furniture juga sudah ada seperti meja dan kursi yang terbuat dari kayu.


Aku mengambil salah satu kursi kayu dan meletakkannya di depan perapian, lalu menyalakan perapian tersebut.


“Sini!”


Setelah menyuruh Zia untuk duduk di kursi yang kuletakkan di depan perapian tersebut dan melepaskan ozyline miliknya agar dapat menghangatkan tubuhnya. Tidak lupa, aku juga meletakkan telur naga tersebut di dekapan Zia.


“Diam di sini aja kalau kedinginan!”


Aku berjalan mendekati jendela dan melihat ke arah luar. Terlihat tangkai pepohonan bergerak dan menjatuhkan salju yang menumpuk di atasnya dengan deru angin yang menggelitik di telinga.


“Anginnya mulai kencang.”


Membuka inventaris, aku mengambil earpiece dan menggunakannya. Tidak ada yang masuk, itu berarti Lazy atau LP belum masuk ke dalam permainan.

__ADS_1


Angin menjadi semakin kencang, suara gemerisik tangkai pepohonan cemara terdengar sangat jelas, dan salju turun semakin cepat.


“Hahh… semoga aja bukan badai yang datang.”


__ADS_2