
Pukul 19.23 aku melakukan Deep Dive dan memasuki permainan Cluster Online. Kami akan melakukan rencana yang sudah disepakati bersama. Malam ini kami berencana mencari tempat mereka menyimpan telur-telur dengan hanya beberapa anggota saja.
Untuk penjagaan kabin, kami akan melakukannya bergiliran karena saat kami keluar dari permainan, bisa saja kabin yang telah dibuat justru diserang atau bahkan dijadikan potongan-potongan kecil oleh para semut dan dibawa ke dalam sarang mereka.
Aku keluar dari kamar yang menjadi tempat untuk meletakkan tempat tidur untuk anggota laki-laki. Sedangkan untuk Zia, Kireina, dan Puteri berada di lantai dua.
Aku melihat Zia yang sedang duduk di sofa sembari membersihkan laras dari sebuah senjata dengan tipe RF¹. Tanpa berlama-lama aku mendekat ke arahnya.
“Sekarang waktumu jaga ya, Zi?”
“Oh, Rei, yah? Iya nih. Ngomong-ngomong, giliranmu jam sepuluh malam nanti.”
“Eh…? Aku dapat giliran malam hari, yah? Yah, gak masalah sih.”
Jujur saja, aku membiarkan mereka yang menentukan giliran untuk menjaga kabin. Jadi wajar saja aku tidak mengetahuinya. Disaat yang sama mataku tertuju pada senjata yang sedang dibersihkannya.
“R93, yah? Kamu sama Dimas suka banget sama RF yah…”
“Emh? Memangnya kenapa?”
“Yah, bukan apa-apa sih. Menurutku klan ini cukup beruntung bisa dapat anggota perempuan yang bisa dibilang cukup ahli pakai RF.”
Setahuku hanya Zia anggota perempuan yang bisa menggunakan RF dan menjadi sniper. Untuk Puteri dan Kirena, mereka lebih memilih untuk tidak menggunakan RF. Sedangkan Luna bukanlah anggota garis depan.
“Hehe… iya dong!”
Dengan sombongnya dia memasang senyum lebar di wajahnya.
“Yah, meski kemampuan menembakmu lumayan, tapi kenapa gak bisa bikin keputusan yang tepat yah. Apalagi pas di tempat terbuka. Bukannya mencari tempat sembunyi, kamu malah terang-terangan nyerang musuh.”
“Ugh… ya maaf… kan aku gak terbiasa di garis depan.”
Yah, kurasa aku tidak perlu mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Seiring waktu aku yakin dia akan dapat membuat keputusan yang tepat. Meskipun hal itu pasti akan membutuhkan waktu.
“Oya, Zi. Yang lain ke mana?”
“Masih mau makan dulu kata mereka. Jadi logout dulu. Padahal Fadli sama Dimas sudah sempat masuk tadi.”
“Eehhh…!”
Mendengar itu, aku hanya dapat membuat wajah masam. Kenapa mereka tidak makan sebelum masuk dan lebih memilih masuk terlebih dahulu, kemudian keluar lagi? Ah, mungkin mereka memilih untuk mempersulit diri sendiri. Yap, aku yakin itu!
__ADS_1
“Zi, kamu tau di mana Dimas nyimpan deodorannya?”
“Coba liat di kotak-kotak itu!”
Dia menunjuk ke sudut ruangan di mana terdapat beberapa kotak penyimpanan diletakkan begitu saja. Yah, lagi pula kabin ini tidak memiliki ruang penyimpanan, jadi kupikir wajar saja jika mereka membiarkannya begitu saja.
“Oke, makasih!”
Aku menuju ke arah kotak-kotak penyimpanan tersebut dan memeriksa isi dalamnya secara bergantian sampai aku menemukan kotak dengan isi lima puluh kaleng deodoran yang masih penuh berukuran besar dan barang-barang lainnya.
Aku mengambil satu dan meyemprotkannya ke beberapa bagian pakaianku. Setelah itu aku memasukkannya ke dalam inventarisku. Aku juga mengambil sebuah senter dan memasukkan semua barangku ke dalam kotak penyimpanan sehingga hanya menyisakan senter tersebut dan sebotol deodoran.
“Zi, kalau ada yang nyari aku, bilang aja kalau aku ke sarang semutnya.”
“Sendirian?!”
“Iya. Lagian aku gak bawa apa-apa, jadi aman.”
“Ah, iya.”
Aku berjalan keluar dari kabin, lalu segera menuju ke arah sarang semut dengan berjalan kaki. Lagipula, jaraknya kurang lebih hanya lima ratus meter saja, bukan? Hal itu tidak akan menjadi masalah.
Jarak seperti itu hanya membutuhkan waktu kurang lebih tujuh menit bagiku. Setelah mulai mendekati sarang, aku masih melihat banyak semut yang berkeliaran di permukaan.
Aku terus berjalan mendekati sarang mereka tanpa takut terbunuh. Jujur saja, meskipun aku terbunuh, aku tidak akan kehilangan apapun karena sudah mengamankan perlengkapanku di dalam kotak penyimpanan.
Beberapa semut sempat mendekatiku dan mencoba untuk menempelkan antenna mereka pada pakianku. Tapi tidak lama setelah itu mereka menjauh. Kurasa zat basa yang ada di deodoran itu bisa kuanggap berhasil untuk mejauhkan mereka.
Aku terus bergerak sampai akhirnya menemukan lubang yang cukup besar dan mengarah tepat ke bawah. Dengan banyak semut yang keluar dan masuk melalui dinging lubang itu, kurasa ini jalan masuknya? Yah, jika bukan, aku hanya perlu mencari nya lagi.
“Huuft… Baiklah!”
Sebenarnya, melihat ukuran dan jumlah semut yang berada di permukaan saja sudah membuatku merinding.
Aku melangkahkan kaki dan membiarkan diriku terjatuh ke dalam lubang sembari menahan satu tangan dan satu kakiku pada dinding pasir untuk mengurangi kecepatanku saat jatuh.
Setelah mencapai dasar di mana kakiku dapat berpijak, aku segera mengeluarkan senter dan deodoran untuk sekali lagi menyemprotkannya pada beberapa bagian pakaianku sebelum akhirnya kembali memasukkan botol kaleng tersebut ke dalam inventaris dan menyalakan senter.
Aku mengarahkan senter nya ke beberapa arah tapi hanya melihat sebuah lorong gelap yang berada di hadapanku yang dikelilingi pasir. Meskipun butiran-butiran pasir masih berjatuhan dari langi-langitnya, tapi entah bagaimana mereka dapat mempertahankan bentuk sarang ini.
Aku berjalan mengikuti arah lorong gelap yang dipenuhi dengan semut ini karena tidak menemukan jalan lain. Tidak ada hentinya para semut mencoba untuk mendekatiku, kemudian menjauh lagi.
“Rasanya jadi pengen balik aja dah…”
Sejujurnya aku merasa takut dikelilingi oleh banyak semut seperti ini karena aku tidak akan tahu kapan akan dibunuh. Yah, sekalipun aku mati tidak akan membuatku kehilangan barang berharga. Tapi tetap saja rasanya tidak nyaman saat semut berukuran raksasa dengan jumlah yang tidak dapat dihitung melaluimu setiap saat.
Tapi kurasa kembali pun juga tidak ada artinya mengingat bagaimana caraku untuk turun ke bawah sini dan tidak membawa perlengkapan untuk memanjat. Sama sekali tidak ada jalan untukku untuk kembali sekarang.
__ADS_1
“Ah, jalan bercabang?”
Semakin dalam aku memasuki sarang ini, semakin banyak jalan bercabang yang kutemui dan aku selalu mengambil jalan yang menuju ke arah kanan tanpa berpikir dua kali. Bahkan setelah menemui jalan bercabang sampai tujuh kali, aku terus mengambil jalan ke arah kanan dan akhirnya tersesat.
Aku bahkan tidak mengetahui ruangan apa saja yang seharusnya ada di dalam sebuah sarang semut.
“Hahh… gawat sih ini!”
Meski berpikir seperti itu aku tetap mencoba untuk menyusuri jalan yang kulalui tapi rasanya tidak ada habisnya. Entah aku memasuki jalan yang salah atau jalan di tempat ini hanya berputar-putar.
Karena pada awalnya aku hanya membawa dua barang dan sumber pencahayaanku dari senter yang kubawa. Aku tidak membawa barang yang dapat dijadikan tanda agar tidak tersesat.
Dengan begini aku hanya memiliki satu pilihan yang mungkin saja menjadi yang terburuk, yaitu mengikuti arus para semut. Aku tidak terlalu peduli dari mana arah mereka datang dan hanya mengikuti satu arah barisan semut yang membawa kaktus di rahang mereka sembari mengabaikan barisan semut yang lain.
Tidak perlu membutuhkan satu menit berjalan mengikuti mereka, aku menemukan sebuah ruangan raksasa yang mana menjadi tempat untuk semut-semut yang kuikuti menumpuk kaktus.
“Ini… kayak semacam gudang gitu?”
Karena di sudut ruangan manapun terdapat banyak kaktus, kurasa ini tempat bagi mereka menyimpan makanan. Jujur saja, tidak hanya kaktus melainkan terdapat banyak jasad semut yang sudah mati.
Aku mecoba melihat ke beberapa arah menggunakan sentar yang kupegang dan menemukan seekor semut yang membawa benda berwarna putih di rahangnya.
“Ahh!!!”
Aku tanpa berpiir dua kali segera mengejar dan mengikutinya dari belakang. Aku hanya berpikir jika yang dia bawa itu merupakan telur mereka. Itu sebabya aku segera mengejarnya agar tidak kehilangan jejaknya.
Benar saja seperti apa yang kupikirkan. Tidak lama setelah mengikutinya aku bertemu dengan banyak-… banyak sekali semut membawa benda yang terlihat sama persis. Sampai pada akhirnya aku menemukan ruangan raksasa lain yang lebih besar dari sebelumnya dan hanya berisikan benda-benda putih tersebut di semua tempat termasuk langit-langit.
“Ooooukeey… tempat telur sudah ketemu. Tinggal jalan untuk sampai ke sini. Emh?”
Saat aku berpikir untuk mulai mencari jalan keluar dari tempat ini, aku menemukan bagian ruangan yang terlihat hitam. Aku mendekat dan menyentuhnya. Bagian dinding tersebut bukanlah pasir, melainkan arang.
Setelah memerhatikan sekitar aku menyadari jika para semut tidak mendekati bagian ini. Bahkan mereka terlihat seperti tidak memperdulikan tempat tersebut. Seperti benar-benar tidak ada bagi mereka.
“Aneh… kalau pasir dibakar dengan suhu tinggi harusnya gak jadi arang, tapi sesuatu mirip kaca.”
Aku mengetuknya dengan sedikit keras dan mendengar gema di baliknya. Aku mencobanya kembali dengan memukulnya lebih keras sampai rusak dan semakin merusaknya sampai menembusnya.
Yah, aku tidak memiliki kesulitan saat merusaknya karena poin status dari karakterku bertipe Strength-Agility².
Setelah menembus tembok arang tersebut aku menemukan lubang yang sangat dalam sampai cahaya senterku saja tidak dapat menyentuh dasarnya. Sedangkan bagian atasnya hanya tertutup oleh arang.
“Apa-apaan nih? GM bikin tempat yang gak jelas nih!”
Benar-benar tidak ada jalan untuk keluar dari lubang yang dalam itu selain tempatku berada. Yah, tentu saja aku meninggalkan tempat itu karena itu bukan tujuanku. Tujuanku hanya untuk menemukan ruangan tempat menyimpan telur. Selain itu aku tidak mengetahui tempat apa itu.
Mencari jalan keluar sangatlah mudah. Aku hanya perlu menggunakan cara yang sama seperti saat menemukan kedua ruangan itu. Semut yang kuikuti adalah semut yang tidak membawa apa-apa. Begitulah caraku menemukan jalan untuk ke permukaan.
Yah, karena aku tidak membawa barang lain, memanjat pasir adalah hal yang mustahil. Dengan begitu aku sengaja menunggu sekitar 30 menit sampai efek deodoran yang kugunakan habis dan ajal pun menjemputku dengan sebuah gigitan dari salah satu semut.
Setelah hidup kembali di dalam kabin, aku segera memberitahukan mereka tentang benda apa saja yang perlu dibawa untuk besok dan mengirimkan pesan serupa untuk mereka yang tidak ada di dalam permainan.
Setelahnya aku hanya berganti giliran untuk menjaga kabin dengan Zia, bersama dengan Ar-15 milikku sambil mendengarkan lagu di balkon lantai dua kabin.
Catatan:
__ADS_1
¹: RF (Rifle), senapan berlaras panjang yang mengutamakan akurasi, senjata yang digunakan oleh penembak runduk (sniper).
²: strength-agility adalah status yang berpusat pada kekuatan dan kecepatan.