
Salju telah berhenti sepenuhnya dan setelah membahas apa yang akan dilakukan. Dari kejauhan, di balik bayang-bayang pepohonan, kami mengamati sebuah bangunan yang berada di atas sebuah gunung salju.
“Itu bangunannya!”
Aku menunjuk tepat ke atas gunung bersalju dengan Fajar, Syah, dan Zia di belakangku.
Sebelumnya kami sudah mengamankan telur naga yang seharusnya kami jaga, dan juga aku meminta bantuan Lazy dari markas untuk membantu memantau dan mencari informasi dengan cepat menggunakan earpiece masing-masing.
“Kalian yakin mau maju cuman berempat?”
Tanya Lazy melalui saluran komunikasi earpiece kami.
“Uh-huh! Tenang, aku gak berencana untuk mengambil apapun di sana. Hanya penasaran saja.”
Sebenarnya tidak hanya itu. Jika memungkinkan, aku ingin mengetahui fasilitas tersebut milik siapa dan nama penembak jitu sebelumnya. Itu sedikit membuatku khawatir entah bagaimana karena kemampuannya.
“Wah parah!”
Aku hanya mengangkat kedua bahu dan tidak mengatakan apapun. Lalu melihat ke arah lain, mencari bukit, gunung, ataupun tebing yang sekiranya memiliki ketinggian sama dengan bangunan itu dan menemukan bukit yang kurasa cocok untuk tempat mengintai.
“Zia gak usah ikut, untuk gantinya, tolong ke sana!”
Aku menunjuk bukit yang kulihat sembari meminta dia untuk memantau dari sana karena dia menggunakan RF.
“Fajar sama Syah ikut aku! Karena kita gak tau ada jalan lain atau gak, jadi kita cuma bisa nunggu Zia.”
Setelah mereka bertiga mengangguk, Zia berlari menjauh menuju bukit yang kuminta dan kami menunggu dia sampai di titik yang aman.
“Ega, kenapa gak nyuruh Zia ke gunung itu aja? Tempatnya tinggi, jadi bagus untuk tempat pengintaian, kan?”
Syah bertanya sekaligus menunjuk gunung yang sedikit lebih tinggi dari bangunan itu.
“Memang bagus. Siapa pun pasti berpikir gitu, kan? Jadi ada kemungkinan kalau tempatnya menjadi perhatian.”
“Apa? Gimana? Oh, bentar. Ah, paham!”
Aku mengambil M4A1 milikku dan membuka pengamannya sebelum Fajar membicarakan suatu hal.
“Udah berapa lama yah kita bertiga gak bareng gini?”
Ada benarnya juga setelah mendengar Fajar. Sudah sangat lama terakhir kami bermain bersama.
“Iya juga yah, sudah berapa lama? Delapan bulan?”
“Satu tahun lebih deh seingatku.”
Jawab Syah pada pertanyaanku dan Fajar meresponnya.
“Aah… lama banget yah. Sudah mulai punya kesibukan masing-masing, sih.”
“Yah, soalnya aku sudah kuliah, kamu sudah menengah atas, terus si Syah kelas 9 dan persiapan ujian akhir. Jadi yah… wajar aja.”
Itu benar. Mereka berdua memang lebih muda dariku. Bahkan mereka pernah menghubungiku saat ulangan berlangsung untuk menanyakan jawaban pada soal yang mereka hadapi. Yah, tentunya aku membantu mereka.
Sebenarnya ada satu alasan lain kenapa kami sudah tidak pernah bermain bersama lagi. Apalagi saat melawan musuh ataupun penyerangan seperti saat ini.
Untuk beberapa saat kami membahas masa lalu saat masih sering bermain bersama. Itu adalah saat klan ini masih banyak anggota yang aktif. Tidak seperti sekarang ini.
Kami tetap di tempat untuk lima belas menit ke depan sampai Zia mengirimkan transmisi untuk menghubungi kami.
“Rei, aku sudah di tempat!”
“Oke! Dari sana tolong pastikan apa ada orang di luar bangunan. Semacam penjaga atau apalah. Kami coba maju perlahan.”
“Oke!”
Aku memberikan sinyal tangan pada mereka berdua yang berada di belakangku untuk mendekati bangunan tersebut secara perlahan dengan tetap berada di bayang-bayang pepohonan.
Kami melihat sebuah pintu yang terbuat dari besi terbuka di bagian depan bangunan tersebut dan keluarlah dua buah snowmobile yang masing-masing dikendarai satu orang sebelum akhirnya kembali menutup. Mereka pergi dengan kecepatan tinggi menuruni gunung dan menghilang di kejauhan.
“Zi, kamu lihat dua orang barusan?”
Aku bertanya pada Zia dalam keadaan tetap berjalan sembari membungkuk untuk memotong jarak terhadap bangunannya.
“Iya. Dilihat dari arahnya mereka ke kota.”
Aku tidak dapat melihat dengan jelas ciri-ciri mereka karena jarak ini masih cukup jauh. Tapi kurasa itu membantu kami karena di dalam bangunan itu berkurang dua orang.
Sesampainya di depan pintu yang tadi terbuka, aku menyadari jika itu adalah pintu yang hanya akan terbuka dengan menggunakan semacam sensor.
Aku mencoba menyentuh pintu tersebut dan tentu saja tidak terjadi apapun karena aku tidak masuk dalam data sensor mereka. Selain itu, yang kurasakan hanyalah dingin di permukaan pintu besi tersebut.
“Mereka pakai semacam pintu yang menggunakan sensor. Laz, bisa kamu retas gak?”
“Mana bisa! Jangan bercanda! Kalau benar mereka pakai pintu yang ada sensornya, aku gak mungkin bisa mengurus ribuan kode sistem nya sendirian!”
“Yah, siapa tahu bisa. Jadi gak usah ngegas.”
Saat aku berbalik dan melihat ke arah Syah, tiba-tiba saja dia sudah memegang C4 beserta senyuman di wajahnya yang dapat dibaca dengan jelas seperti “Ledakkan?” begitu. Tentu saja aku menggerakkan jari telunjuk di depan leherku. Memberikannya tanda jelas jika aku akan membunuhnya jika melakukan hal itu.
Aku memberikan sinyal tangan pada Fajar dan Syah untuk memutari bangunan tersebut guna mencari jalan masuk lain.
“Rei.”
“Iya, Zi?”
Aku berhenti saat Zia memanggilku melalui earpiece.
“Dari posisi kalian, sedikit memutar ke kanan ada semacam pintu kecil di sana. Tapi dijaga satu orang. Perlu kubunuh?”
Aku mencari arah yang dimaksudnya dan segera mendekat. Benar apa yang dikatakan Zia. Terdapat sebuah pintu biasa di sana dengan seseorang yang sedang berdiri di sebelahnya sembari menghisap rokok.
“Jangan dibunuh! Bisa-bisa mereka tahu nantinya.”
Setelah memberikan sinyal tangan untuk menarik perhatian, Fajar mengambil segenggam salju dan membentuk bola sebelum akhirnya melemparkan ke arah yang berlawanan dengan kami. Mendengar suara itu, orang yang berdiri di dekat pintu tersebut mendekat ke arah titik di mana bola salju tadi jatuh.
“Apa itu?”
Setelah dia menunjukkan punggungnya, kami bertiga segera berlari ke arahnya dan aku menahan mulut beserta hidungnya, sementara Fajar dan Syah berada di sisinya untuk menahan kedua tangan dan kakinya saat meronta.
“Ssst-ssst-sst…!”
Setelah beberapa saat, dia tidak bergerak lagi tapi tubuh karakternya juga tidak menghilang. Itu benar! Kami tidak membunuhnya dan hanya membuat pemain tersebut tidak sadarkan diri. Kami menggeledah seluruh pakaiannya dan hanya menemukan kartu nama dengan barcode di permukaannya.
Melihat ke arah pintu tersebut, terdapat semacam alat di sampingnya untuk membaca barcode. Bukannya melebih-lebihkan, tapi bukankah tempat ini terlihat sangat dijaga ketat?!
“Ikat dia!”
Setelah meminta Fajar dan Syah untuk mengikat pemain yang tidak sadarkan diri itu, kami bertiga berdiri tepat di depan pintu tersebut.
“Gini, Syah, Fajar. Kalau semisalnya kalian berpikir untuk gak ikut masuk ke dalam, gak masalah. Aku sendirian gak masalah. Soalnya melihat tempat yang pakai sensor begini, aku gak yakin mereka ini orang sembarangan. Kita bukan Bang Sema ataupun Faisal, jadi kalau takut kehilangan barang-barang, pulang aja sana biar aku sendiri.”
Bukan berarti aku rela membuang segala yang kumiliki sampai saat ini. Hanya saja aku masih sangat ingin mengetahui nama penembak jitu yang menembakku karena rasa takut dan bukan penasaran belaka. Meskipun itu harus mengorbankan apa yang kumiliki.
Mendengar apa yang baru saja kukatakan, Fajar memegang salah satu bahuku dan tersenyum sambil berkata,
“Tenang! Kan ada Syah!”
Aku mengangkat kedua alisku dan menyadari jika hal itu ada benarnya.
“Iya juga yah! Yaudah, yok, Syah kamu duluan!”
“EEHHHH?!!”
Dia terlihat sangat panik bahkan tubuhnya mundur sedikit dari tempatnya berpijak. Tentu saja kami berdua tertawa karena hal itu. Tapi itu hanya sementara sebelum akhirnya aku meminta untuk serius.
“Hahaha. Sudah, sudah. Aku serius. Kalau takut kehilangan barang, pulang aja.”
Tidak satupun dari mereka yang beranjak. Jadi aku menganggap jika itu adalah jawaban mereka untuk tetap masuk ke dalam bangunan ini.
Dengan mengangkat kartu nama yang kupegang dan menghadapkan barcode pada alat yang berada di sebelah pintu, warna lampu menyala di atas pintu tersebut yang awalnya berwarna merah, sekarang menjadi hijau menandakan jika kami dapat memasukinya.
Aku membuka inventaris dan mengambil sebuah topeng. Itu adalah topeng yang sama saat aku bersama Haqqi. Sebenarnya aku sudah meminta seluruh anggota klan untuk memiliki topeng untuk menutupi identitas karakter mereka. Tapi tetap saja masih ada yang tidak menggunakannya atau bahkan lupa. Yah, aku juga sering lupa untuk menggunakannya. Tentu kali ini aku meminta mereka berdua untuk mengenakan topeng yang mereka miliki.
Membuka pintu tersebut, kami pun dengan perlahan memasuki lorong dengan pencahayaan yang cukup hanya melihat tangga di ujung lorong tersebut.
“Zi, tetap berjaga di sana, beri tahu kami kalau ada yang datang dari luar. Laz, tetap siaga. Kalau ada sesuatu mungkin kami akan menghubungimu.”
Dengan begitu mereka berdua serentak mengatakan “Oke!” dan kami pun menutup pintu dari dalam, meninggalkan pemain yang terikat membeku di luar.
“Kalian punya pisau, belati, atau senjata apapun yang punya peredam?”
Setelah menanyakan itu, Fajar menunjukkan P22 dengan peredam, sedangkan Syah dengan UMP45-nya yang juga sudah menggunakan peredam.
“Bagus!”
__ADS_1
Karena tidak memungkinkan untuk menggunakan AR seperti M4A1 di dalam ruangan, aku memutuskan untuk menggunakan belati yang kumiliki untuk membela diri.
Kami menyusuri lorong dan menaiki tangga memutar di sana. Kami tidak melihat seorang pun, tapi terdapat sebuah pintu yang tentu saja menghubungkan sebuah ruangan tepat di dekat tangga yang baru saja kami lalui.
Pintu kali ini tidak membutuhkan sesuatu yang rumit semacam sensor ataupun barcode jadi dengan mudah kami mengintip apa yang ada di dalamnya.
Seseorang sedang bersandar di kursi tempatnya duduk sambil mendengungkan lagu yang tidak kuketahui. Tapi mataku tertuju pada apa yang ada di hadapannya. Layar luar biasa besar dengan banyak sekali layar-layar kecil lainnya. CCTV?!
Dengan cara yang sama seperti sebelumnya, kami melumpuhkan pemain tersebut dan mengambil alih ruangannya.
“Laz, sekarang kami ada di ruangan CCTV mereka. Menurutmu ada sesuatu yang bisa diambil gak? Tadi ada satu orang yang jaga, tapi sudah kami lumpuhkan.”
“Gak ada. Lagian, kalau kalian sudah melumpuhkan pengamatnya, secara gak langsung kalian sudah mematikan mata mereka, kan?”
Aku hanya menggaruk belakang leherku mendengar itu. Dia tidak salah, hanya saja kenapa aku tidak memikirkan hal itu yah?
“Yah, iya sih… ah, sebentar.”
Dengan menggunakan komputer yang ada, aku mencoba untuk mengunduh data rekaman yang ada karena beranggapan jika penembak jitu yang kuinginkan ada di salah satu kamera.
“Seharusnya ada … ah, ketemu!”
Sebuah kamera yang sepertinya ada di balkon merekam dua orang, yang mana salah satunya adalah penembak jitu yang kucari.
Gagang pintu tiba-tiba berbunyi. Tentu dengan reflex yang cepat, Fajar dan Syah mengarahkan laras senjata mereka pada pintu yang akhirnya terbuka tersebut. Seorang pemain laki-laki memasuki ruangan dengan membawa sebuah kotak berwarna putih.
“Oi, waktunya ganti-…an…”
Dia membeku saat melihat kami bertiga. Tanpa menunggu apapun aku menerjang pemain tersebut dan membuat diriku beserta dirinya terlempar ke lorong. Aku mencoba untuk mencekiknya karena posisiku lebih unggul darinya.
“Ack-!!”
Tapi hanya dengan menggunakan tangan kanannya, dia memukul leherku menggunakan pergelangan tangan, lalu membalikkan keadaan begitu meraih tanganku yang lain dan memintalnya ke belakang tubuhku serta belati yang kupegang terlempar menjauh.
“Ha-agh!!”
Tangan kirinya memintal tanganku, sedangkan tangan kanannya meraih leherku. Aku tidak dapat melihat dari posisi tersebut, tapi begitu tubuh pemain tersebut terpental, Fajar segera mengangkatku untuk membuatku bangun.
“Uhuk! Makasih!”
“Makasihnya nanti aja!”
Dia menembak salah satu kaki pemain tersebut beberapa kali di bagian lutut sampai hancur dan membuatnya tidak dapat bangun kembali. Sedangkan Syah segera bergerak dan menindih dadanya menggunakan lutut sementara mengarahkan laras pada wajahnya.
Aku mendekat sambil meraba leherku. Dia benar-benar tidak menahan diri, eh? Pemain memang tidak akan merasakan rasa sakit saat diserang atau terkena senjata apapun. Tapi hal tersebut tidak berlaku jika menggunakan tangan kosong. Intinya, selama terkena apapun yang masuk ke dalam kategori senjata, pemain tidak akan merasakan apapun. Tapi tidak jika dengan tangan kosong.
Tatapannya dapat kami rasakan jika dia benar-benar tidak menyukai kami. Bahkan giginya yang menggertak terdengar jelas.
Aku merendahkan tubuh dan tangan kiriku menggapai lehernya, sementara tangan kanan mengangkat kepalan kemudian menjatuhkan pukulan keras tepat ke wajahnya berkali-kali.
“Tidurlah, tidurlah, tidurlah, tidurlah, tidurlah!”
Setelah membuatnya tidak sadarkan diri, kami mengikat kedua pemain tersebut dan membiarkan mereka di dalam ruangan dengan mulut dipenuhi kain agar saat mereka bangun tidak dapat berteriak.
Setelah memindahkan rekaman pada diska lepas yang kutemukan di ruangan itu, aku berencana untuk keluar dari tempat ini bersama Fajar dan Syah karena setidaknya aku sudah mendapatkan gambaran orang yang ingin kuketahui. Tapi itu tidaklah cukup bagiku.
“Hei, masih ada yang mau kucari. Ikuti aku! Sebelum itu, Syah, kamu punya bom yang daya ledaknya besar gak? Kalau bisa ada penghitung waktu mundurnya.”
“Jelas ada! Pelajaran bom cepat. Tekan tombol hijau sekali, terus masukkan angka yang diinginkan, kalau sudah tinggal tekan tombol merah untuk memulai hitungan mundur.”
Aku mengangguk mengerti saat dia menjelaskan. Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan untuk mengaktifkannya.
Begitu Syah memberikan satu bom yang kuinginkan, aku mengajak mereka karena menyadari jika tidak mungkin untuk mengalahkan bahkan satu orang di sini tanpa bantuan mereka. Sebelumnya saja jika bukan karena Fajar, kurasa aku sudah mati.
Kami mengikuti arah berlawanan dari arah datangnya kami. Meski menemukan banyak ruangan lain, aku memutuskan untuk mengabaikan dan akhirnya menuntun kami pada ujung sebuah lorong dengan pintu dua sisi. Tidak jauh dari tempat itu juga ada tangga memutar lain yang menuju ke atas. Sebenarnya berapa banyak lantai di tempat ini?!
Aku meminta mereka untuk menurunkan suara dan menguping apa yang ada di balik pintu tersebut. Kami tidak dapat mendengar dengan jelas karena berisik tapi dapat dipastikan banyak orang di dalamnya.
Aku sedikit mengintip untuk memastikan apa yang ada di dalamnya. Tapi yang kutemukan hanyalah pemain-pemain yang menghadap pada layar komputer mereka dan terdapat layar utama di tengah ruangan dengan ukuran luar biasa besar.
“Ap-?!”
Sekilas aku melihat foto wajah karakter Dimas di layar utama mereka dan sesuatu tentang Sektor 90 kurasa. Tidak terlalu jelas, tapi dapat kupastikan jika foto tersebut benar-benar Dimas.
Tidak hanya itu, aku juga melihat pemain yang melihat layar utama dengan dekat. Apa yang dikenakannya cukup mencolok. Seluruh tubuhnya tertutupi armor dengan warna utama ungu dan hijau dari kepala sampai kaki.
“Uwaaah…”
Aku seperti melihat Haqqi, hanya saja jauh lebih mencolok. Apalagi pemilihan warnanya yang… entahlah. Yang jelas, mereka memiliki data tentang Dimas dan aku tidak bisa membiarkan hal itu.
“Kak Ban, ini laporannya…”
Seorang pemain perempuan mendekati orang yang menggunakan armor mencolok itu dan memberikan piringan hologram padanya.
“Pemain yang namanya Zatfley ini ada di Sektor 59 sekarang bersama dua pemain lainnya.”, lanjut pemain perempuan tersebut.
“Tim pengintai kita ada tiga orang di sana, bukan? Suruh tujuh orang lagi untuk membantu mereka! Tangkap pemain Zatfley ini dan cari tahu markas mereka. Jangan sampai mereka tahu data-data yang kita miliki di Mainframe. Ketua, Wakil Ketua, dan KS sudah kembali ke markas utama. Jadi aku yang ambil alih sementara di sini.”
“Siap!”
Aku menutup kembali pintu dengan perlahan dan menghubungi Lazy.
“Laz, kamu dengar barusan?”
“Yah, kurang lebih. Ini aku coba untuk mencari data-data yang dia maksud. Tapi ada ratusan folder di sini jadi membutuhkan waktu untuk mencarinya.”
Aku memberikan sinyal tangan pada Fajar dan Syah untuk kembali ke tempat awal kami memasuki tempat ini.
“Ambil waktumu. Kami akan keluar dari tempat ini. Zi, tetap berjaga sampai kami keluar.”
“Oke!”
Fajar dan Syah berjalan di depanku dan kami mencoba untuk kembali dari arah kami datang, tapi ada hal yang sama sekali tidak kubayangkan terjadi. Seorang pemain perempuan menuruni tangga memutar dari atas dan melihat kami.
“Siapa- hah?! ADA PENYUSUP!!!”
Dia berteriak sangat keras dan jelas siapapun yang berada di ruangan sebelumnya akan mendengar pemain tersebut.
Aku melemparkan belati yang kupegang padanya. Benda itu menancap di perutnya, kemudian aku berlari ke arahnya, menarik belati tersebut dan menggorok lehernya.
“Eh?! Kamu-… ngapain di tempat ini?!”
Sebelum menjawabku, tubuh karakter perempuan tersebut menghilang bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka. Aku mengenali pemain perempuan barusan, tapi keselamatan Syah dan Fajar kali ini merupakan hal yang utama.
“Lari … LARI!!! KALIAN BERDUA KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA!!!”
Begitu Fajar dan Syah pergi meninggalkanku, aku kembali melemparkan belatiku pada orang pertama yang keluar dari pintu ruangan tersebut. Mengenai seorang pemain laki-laki tepat di keningnya.
Aku berlari menaiki tangga yang menuju ke atas begitu pemain lain keluar dari ruangan dengan membawa senjata api masing-masing. Deretan peluru terbang ke arahku tapi untungnya tidak ada yang mengenaiku.
Begitu mencapai lantai ketiga tempat ini, aku tidak melihat orang lain. Hanya saja, tempat ini hanya dikelilingi oleh kaca dan aku melihat balkon yang sebelumnya ada pada rekaman CCTV. Tempat ini lebih terlihat seperti sebuah cafeteria dengan meja dan kursi di segala tempat.
Bersembunyi di belakang salah satu pilar yang ada, aku mengeluarkan M4A1 dari dalam inventaris dan membuka pengamannya.
“Huff…!”
Aku mengintip dan menembakkan peluru pertama pada pemain yang baru saja menaiki tangga tapi sayangnya tembakan tersebut tidak mengenainya. Kembali menyembunyikan diri, aku menyadari jika sulit untuk keluar dari sini dengan selamat mengingat jumlah pemain yang naik ke lantai ini semakin banyak.
“Huufff… ahh, sial!”
“Rei, jangan bergerak. Tetap diam.”
Aku tidak dapat mengontrol pernafasanku. Jumlah mereka benar-benar banyak. Yah, jujur saja aku menyukai situasi yang dapat memicu adrenalin, tapi jika jumlah sebanyak ini sama saja dengan bunuh diri.
“Baiklah! Huff huff…”
Aku mengikuti arahan Zia untuk tidak bergerak. Tapi mereka mulai mengepung pilar tempatku bersembunyi.
“Ayok keluar! Kau sudah gak punya jalan untuk lari!”
“Keluarlah dan kami tidak akan membunuhmu!”
Aku sama sekali tidak menuruti mereka. Maksudku, mereka bilang tidak akan membunuhku tapi laras senjata mereka tetap mengarah padaku.
Suara kaca retak terdengar bersamaan dengan seorang pemain yang tiba-tiba terhempas ke arahku. Dia hanya terbaring sebelum akhirnya menghilang. Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menyadari jika itu adalah Zia.
“Oi awas ada sniper!! Buat pelindung!”
Seseorang bersorak sambil membalikkan meja dan berlindung di baliknya. Diikuti dengan pemain lainnya yang juga melakukan hal yang sama. Suara tembakan dari mereka terdengar dan aku sedikit mengintip.
Mereka menembakkan peluru ke arah yang acak tapi searah dengan datangnya peluru Zia. Aku membuka inventaris dan mengeluarkan bom yang sebelumnya diberikan oleh Syah dan memasang waktu satu menit tapi belum mengaktifkannya.
“Rei, bantuin.”
Seorang pemain lain terlempar lalu menghilang saat Zia kembali menarik pelatuknya. Aku merendahkan tubuh dan menembaki beberapa dari mereka tepat di punggung, membuat beberapa menghilang.
Disaat hampir seluruh pemain yang ada terus dibunuh oleh Zia, akhirnya pemain yang dipenuhi oleh armor tersebut menaiki tangga. Dia tidak membawa apapun sebagai senjata.
__ADS_1
“Oi, oi, oi… kalian benar-benar membuat jadwal kami tertinggal. Bisa-bisa Ketua akan marah kembali pada kami. Maka dari itu, setidaknya kau tidak akan kubiarkan kabur.”
Zia menembak pemain terakhir dan hanya menyisakan pemain yang dipenuhi armor tersebut. Aku keluar dari tempat persembunyianku dan mengarahkan senjata padanya.
“Kupuji keberanianmu karena maju tanpa senjata apapun.”
“Senjata? Ah-ahahaha maaf tentang itu. Tapi aku tidak membutuhkan senjata apapun.”
Dia memukul salah satu pilar yang terbuat dari beton dan menghancurkannya seakan itu bukanlah apa-apa.
“Jika aku bisa melakukan hal seperti ini padamu, untuk apa menggunakan senjata?”
“Ehh…”
Percikan api tiba-tiba muncul tepat di belakang helmnya dengan bunyi *Klank*
“Hm? Apa barusan?”
Dia meraba bagian belakang helmnya dengan ekspresi kebingungan.
“Gak mungkin! Peluruku memantul saat mengenai helmnya!”
Aku hanya dapat membuka mataku dengan lebar mendengar Zia mengucapkan itu dan kembali bersembunyi di balik pilar yang sama untuk mengelabuinya selagi aku mengaktifkan hitungan mundur bom waktu.
Setelah itu aku berlari ke pilar lain sembari menembakinya sampai magazen yang mengisi M4A1 milikku habis. Benar saja, tidak ada satu pun peluru yang melukainya dan hanya memantul bagaikan peluru karet.
“Yang benar saja!”
“Huaaaah…! Sudah?”
Dia menyepelekan dan menghinaku dengan cara menguap dengan santai. Aku menurunkan senjata dan mengganti magazennya.
“Namamu Ban, yah? Aku mendengarnya saat kalian ada di ruangan tadi. Ban seperti ban kendaraan?”
Mataku melirik untuk memastikan berapa banyak lagi waktu yang kumiliki.
“Ban itu sebenarnya hanya panggilan. Banner yang benar, seperti Bruce Banner. Dan juga, menguping itu bukan kebiasaan yang baik, kau tahu?”
“Hmm… begitukah? Ngomong-ngomong, aku mengaktifkan bom di sana. Kau tidak ingin keluar dari tempat ini?”
Aku menunjuk bom yang kumaksud.
“Tunggu sebentar, kamu barusan ngasih tahu dia?”
“Yah, itulah yang kudengar.”
Aku tertawa kecil saat mendengar Zia dan Lazy kebingungan melalui earpiece.
“Gak usah khawatir tentangku. Kalau mau kabur silakan. Tapi kurasa tidak akan semudah itu. Lagi pula ledakan sekuat apapun tidak akan menembus armorku.”
Dia berjalan mendekati tangga dan menghalanginya. Sekarang aku tidak dapat melalui tangga tersebut. Baiklah satu-satunya jalan keluarku sudah tidak ada sekarang.
“Umm… Rei. Ada lima humvee yang baru datang dan mereka berhenti tepat di kaki gunung bangunan itu.”
Bantuan? Masalah ini jadi semakin panjang dan sulit saja. Aku melihat ke arah Zia dan membulatkan tekad jika ingin keluar dari tempat ini.
“Gak perlu repot-repot untuk jaga tangganya. Aku menemukan jalan keluar lain.”
“Wha- WOI!”
Dengan tetap memegang M4A1 di tangan dan menjadikannya tameng, aku berlari tepat ke dinding kaca yang telah mendapat banyak lubang tembakan tersebut dan memecahkannya dengan cara melompat ke luar bersamaan dengan bom yang telah kupasang tersebut meledakkan lantai kedua dan ketiga bangunan tersebut.
Beruntungnya aku mendarat di salju yang cukup dalam dan terus meluncur ke bawah tanpa pengaman apapun.
“Oh, astaga!!”
Mencoba untuk berhenti dengan kecepatan tinggi saat meluncur seperti ini bukanlah sebuah pilihan. Tapi di bawah sana aku dapat melihat humvee yang diberitahukan Zia dan mereka yang berada di luar mulai menembaki ke arahku.
Dengan memposisikan tubuhku, aku membuat keadaan di mana memungkinkan untuk membalas tembakan mereka. Karena tidak memungkinkan untuk menstabilkan tembakan, aku memilih untuk menembak secara beruntun.
“GAAAAHHH!!!”
Setelah merasa jarakku cukup dekat dengan salah satu dari mereka, aku mencoba untuk mengarahkan diriku dan menabrak salah satu pemain tersebut dengan menjadikan M4A1 dan dirinya sebagai bantalan. Kami membentur salah satu humvee dan pemain tersebut menghilang.
“Ah!”
Disaat pemain lainnya tetap menembak, aku berlari ke belakang humvee dan bersembunyi. Suara *klik* terus berbunyi saat kucoba untuk menarik pelatuk senjata namun tidak dapat mengeluarkan peluru lagi.
“Ayolah jangan rusak sekarang! Sialan!”
Aku memukul senjataku namun tidak membuahkan hasil karena hal tersebut sia-sia.
Sebuah suara tabrakan yang cukup keras terdengar dari atas gunung, tepatnya pintu besi tempat bangunan tersebut berada. Sebuah kendaraan dengan suara mesin yang berat keluar dan turun dengan cepat lalu menabrak humvee tempatku berlindung.
Aku sempat menghindari hal tersebut. Tapi saat pintu kendaraan tersebut terbuka, aku dapat melihat Syah di kursi supir dan Fajar di sebelahnya.
“Hai, Cowok, mau ikut?”
Syah mengajakku dengan senyum dan suaranya yang sengaja dibuat berat.
“Najis! Tapi aku ikut!”
Aku melompat ke dalam dan dengan segera Syah kembali menjalankan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi.
Kendaraan tersebut adalah H&H Ripshaw. Singkatnya, kendaraan ini adalah tank ringan dengan senjata pelontar granat di atasnya. Empat humvee lainnya mulai mengejar dan tetap menembaki kami dari belakang.
“Kalian gak pernah bilang kalau punya kendaraan seperti ini!”
“Yah, kami memang gak punya. Kami menemukannya di garasi mereka.”
Fajar menjawabku. Tapi hal yang menarik ada pada supirnya.
“Aku baru tahu kamu bisa nyetir, Syah.”
“Aku mana bisa! Ini aja asal-asalan yang penting jalan.”
Aku mengerutkan kedua kening mendengar itu. Yah, yang penting kami dapat pergi dari tempat itu. Tapi keempat humvee yang tersisa masih mengikuti.
“Bawa mereka keluar dari wilayah ini ke arah danau!”
Aku menunjuk ke arah yang kuinginkan pada Syah.
“Senjata ini bisa gak?”
Aku bertanya pada Fajar tentang pelontar granat yang ada di atas kendaraan yang kami naiki.
“Mana kutahu! Coba aja.”
Aku berpindah ke kursi tengah dan berdiri. Setengah tubuhku berada di luar langit-langit mobil sembari mencari tahu cara menggunakannya. Tanpa kuketahui aku sudah mengokang senjata tersebut dan menembakkannya tepat ke depan kendaraan kami. Ledakan dan asap sedikit membuat terkejut Syah dan Fajar.
“Maaf!”
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya kami mencapai danau yang kumaksud dan keluar dari areal hutan. Aku memutar senjata tersebut sampai benar-benar mengarah ke belakang kami di mana keempat humvee masih mengikuti dan menembaknya.
“Matilah kalian!!”
Aku berteriak dan menarik pelatuk yang mana memicu senjata tersebut meluncurkan peledak ke arah mereka. Tembakan pertama dan kedua tidak mengenai mereka karena mekanisme senjata yang belum kupahami.
Tapi dengan begitu aku mencoba untuk menaikkan elevasi senjata dan tembakan tersebut mulai mendekati mereka. Tapi humvee yang mereka kendarai mulai melakukan gerakan zigzag.
Aku hanya menaikkan kedua bahu dengan wajah datar.
“Persetan dengan akurasi!”
Dengan begitu aku terus menahan pelatuk dan membiarkan pelontar tersebut memuntahkan granat terus menerus sampai mengenai dua humvee yang kemudian menjadi tiga dan membuat kendaraan tersebut meledak seketika.
Sedangkan humvee yang tersisa terlihat seperti membanting setir dan terbalik di atas lapisan es.
“Hah! Syah, berhenti!”
Begitu Syah memberhentikannya, aku menaikkan elevasi pelontar dan mencoba mengarahkannya pada humvee yang terbalik itu.
“Makan ini.”
Beberapa pemain mencoba untuk merangkak keluar dari dalam sebelum akhirnya kuhujani dengan granat dan menghabisi mereka semua. Bahkan sampai kendaraan mereka tidak memiliki bentuk lagi.
“Kurasa mereka yang terakhir.”
Kami keluar dari dalam kendaraan dengan rasa puas yang tidak dapat ditampung. Jika itu aku sendiri, sudah pasti aku mati bahkan sesaat memasuki tempat tersebut.
“Sudah aman?”
Aku melihat ke arah Fajar yang menanyakan hal itu dan menjawabnya.
“Kurasa sudah. Sini kalian! Lain kali kutraktir karena berhasil! Aku juga dapat rekaman orang yang kumau.”
Aku merangkul keduanya dengan erat. Tapi rasanya aku melupakan sesuatu yang sangat penting.
“Oya, Rei. Zia gimana?”
__ADS_1
Mendengar itu dari Syah, aku dan Fajar hanya dapat terdiam dengan mata terbuka lebar. Sepertinya aku ingat apa yang sangat penting itu.
“Ow … sepertinya kita dalam masalah.”